***
Pagi sekali ponsel Icha sudah berdering. Dering ponsel yang nyaring layaknya alarm bangun pagi itu membuat Icha terlonjak dari tidurnya.
"Astaghfirullah!" seru Icha lalu melirik kekiri dan kekanan, matahari pagi sudah mulai naik. "Aku kesiangan lagi," lanjut gadis itu dengan raut wajah kusut ala bangun tidur.
Ponsel Icha masih berdering, gadis itu mengintip layar ponselnya dan menemukan panggilan telepon dari nomor asing. Saking penasaran akhirnya Icha menekan tombol hijau dan menerima telepon itu.
"Hallo?" gumam Icha.
"Hallo, Cha! Ini Om Randy, maafin Om udah nelpon pagi-pagi sekali." ucap Randy.
"Oh... iya, Om. By the way... ada apa ya? Pagi-pagi banget gini, pasti mau ngomong sama papa tapi ponsel papa mati, kan?" tanya Icha.
"Begini, Cha... soal ganti rugi masalah mobil Vic itu sudah Om anggap lunas ya," ujar Randy yang membuat Icha menganga enggak percaya.
"Tapi... Om, enggak bisa gitu juga, aku sama Vic punya dokumen perjanjian di atas materai." jelas Icha.
"Hah? Beneran?" tanya Randy.
"Beneran dong, Om... kalo Om Randy enggak percaya, Om Randy bisa ngecek sendiri sama Vic," jawab Icha.
"Oke... Oke, Om percaya... Om nelepon cuma mau memberitahu Icha soal itu saja, jadi mulai sekarang tidak ada lagi namanya ganti rugi." jelas Randy.
"Oke, Om Randy... terima kasih banyak."
"Sama-sama Icha, Om tutup ya teleponnya." tany Randy.
"Iya, Om. Bye, Om Randy!" ucap Icha
Segera setelah telepon itu berakhir, icha bergegas ke kamar mandi. Hari ini ia harus masuk kelas. Sudah lama gadis itu absen dari dunia perkuliahan.
"Gimana mau cepet wisuda kalo banyak bolosnya gini," gumam Icha.
***
VROOOM... suara mobil Vic yang memasuki area parkiran tempat biasa ia nongkrong dengan teman-temannya. Disana sudah ada sekitar belasan mobil sport terparkir berjejer dengan rapi, termasuk mobil berwarna silver milik Aiden. Para pria tampan duduk berkumpul di depan mobil-mobil yang terparkir dengan cantik. Mereka dikenal dengan sebutan, Monsters.
"Hey guys!" sapa Vic ketika ia berjalan kearah kawanannya.
"Victory!" Seru salah satu kawanan bernama Raden.
Vic menyalami semua anggota Monsters yang diakhiri dengan Aiden. Aiden kemudian mengikuti Vic dan duduk bersama di salah satu sisi perkumpulan itu.
"Gimana kabar Icha?" tanya Aiden ketika mereka duduk.
"Baik, mungkin hari ini dia mulai masuk kampus lagi," jawab Vic sembari melepas kacamata hitamnya.
"Oh, baguslah... gue bersyukur dia sudah kembali beraktifitas," ujar Aiden.
"Lo gimana? kapan mulai kerja bareng bapak
lo?" tanya Vic.
"Enggak tau juga sih, kayaknya gue mau istirahat sejenak dulu setahun, oh ya... lo beneran tunangan sama si Icha?" tanya Aiden.
Raut wajah Vic berubah. "Ya... seperti yang gue bilang, coba lo lihat berita online deh," saran Vic kepada Aiden.
Vic berbohong lagi, ia sudah paham arah pembicaraan bertele-tele ini karena Vic yakin Aiden pasti tertarik dengan Icha. Ia sudah menduganya sejak pertemuan mereka di McD waktu itu.
"Terus sekarang Monic gimana?" tanya Aiden.
"Enggak tau juga, tapi dia udah enggak pernah hubungin gue lagi sih akhir-akhir ini," jawab Vic.
"Sebenernya gue tertarik sama Icha, eh nggak taunya malah tunangan lo, sisain yang lain buat gue napa bang?" Aiden terkekeh setelahnya.
"Ada noh, yang suka mangkal di depan," ledek Vic.
***
Di kelas Icha duduk termenung sambil memainkan ponselnya, gadis itu kembali membuka galeri foto di ponselnya ketika teringat akan Daniel dengan seorang gadis di rumah sakit waktu itu.
"Siapa cewek ini?" tanya Icha pada dirinya sendiri sembari memperbesar foto itu.
Gadis bersurai cokelat dan bergelombang, Icha merasa agak familiar dengan sosok itu namun ia tidak bisa mengenalinya. Wajah yang tertutup masker membuat Icha kesulitan mendiagnosa foto dalam ponselnya itu.
Gadis itu bergegas menyimpan kembali ponselnya ketika melihat Rere dan Ririn yang datang menghampirinya.
"Hey, Cha! Udah sehat?" tanya Rere lalu memeluk Icha sebentar, diikuti oleh Ririn.
"Iya... lumayan, tapi enggak boleh lari-larian dulu," jawab Icha.
"Hari ini dosennya ada kan?" tanya Ririn.
"Yes! Bentar lagi Pak Agus pasti nongol deh," jawab Icha.
Dan benar, lima menit kemudian Pak Agus dosen yang mengajar mata kuliah seni musik tiba di kelas mereka. Icha, Ririn, dan Rere pun mengikuti kelas mereka dengan serius hari itu.
***
Vic yang baru saja pulang nongkrong dengan teman-teman geng mobil sportnya itu merebahkan diri di ranjangnya. Ia mengecek ponselnya yang sepi. Tidak ada notifikasi dari siapa pun, Vic pun akhirnya mengirimi Icha pesan singkat.
Ke : Icha
Cha, mau coklat enggak?
Sepuluh menit kemudian barulah pesan itu dibalas oleh Icha.
Dari : Icha
Enggak, aku baru habis sikat gigi.
Ke : Icha
Ya udah, ku kasi ke cewek lain aja
Dari : Icha
Okay
Ke : Icha
Eh enggak deng, becanda
Namun pesan itu didiamkan oleh Icha. Vic jadi kesal sendiri, ia jadi menyesal kenapa malah meledek Icha.
“Pasti lagi PMS nih kalo kayak gini,” gumam Vic.
Ke : Icha
Cha? PMS ya kok marah?
Dari : Icha
Apasih, yaudah jangan ganggu lagi
Ke : Icha
Iya maaf
Icha tidak membalas pesan singkat Vic setelahnya, Vic membanting kecil ponselnya di atas ranjang sebelum akhirnya ponsel itu berdenting lagi. Dengan cepat Vic mengeceknya, berharap balasan dari Icha.
Dari : Monic
Vic, tolong aku dong, aku ngerasa enggak enak badan, enggak bisa jalan juga.
Ke : Monic
Okay, Aku kesana.
Vic mendengus, ia sebenarnya mau mengabaikan Monic namun gadis itu mengaku sedang tidak berdaya saat ini. Vic juga tidak bisa membiarkan Monic sendirian di tempat itu karena orang tuanya dan keluarga Monic yang berada di luar negeri. Pernah Vic menyarankan untuk mengambil pembantu namun ia tidak mengindahkan saran Vic.
Vic paham dengan maksud Monic yang bersikeras hidup sendiri di Indonesia, hal itu agar Vic selalu menjaganya. Vic sudah pernah berjanji untuk menjaga Monic ketika mereka masih di bangku sekolah dasar dulu. Janji itulah yang membuat Vic merasa ia harus menolong Monic saat ini. Selain mantan tunangan Vic, Monic juga adalah teman semasa kecil Vic, mereka juga selalu bersekolah di sekolah yang sama.
Vic melajukan mobilnya menuju ke penthouse milik Monic. Tak lupa ia mampir membeli makanan karena ia tau Monic hanya selalu memesan makanan, bukan gadis itu tidak bisa memasak, tapi mungkin begitulah hidup orang kaya. Ada yang gampang mengapa harus mencari yang sulit?
Ting Tong!
Vic membunyikan bel di depan pintu Monic. Tak lama dan gadis itu muncul di balik pintu, mempersilahkan Vic masuk ke dalam rumahnya.
“Nih, aku bawa makanan buat kamu, makan terus minum obat,” pinta Vic lalu hendak berbalik pulang.
Monic menahan tangan Vic. “Temenin aku makan, pulanglah nanti kalau aku udah tidur, ya?” bujuk Monic.
***