#35

1220 Kata
"Vic mana, Mah?" tanya Randy kepada Selena, istrinya. "Belum pulang kayaknya Pa... tadi katanya mau nganterin Icha pulang dulu, baru deh pulang," lanjut Selena. Selena menatap raut wajah suaminya yang tidak seperti biasanya, ia langsung tahu bahwa ada sesuatu yang sedang suaminya pikirkan saat ini. Selena pun pergi menghampiri suaminya dengan dua gelas kopi ditangannya. Ia mengulurkan tangannya kepada Randy, memberi kode agar pria itu mengambil gelas kopi dari genggamannya. Randy pun menyeruput kopi itu dengan segera dan duduk bersandar dengan santai, kopi buatan selena berhasil membuat perasaan yang tadinya abstrak berubah menjadi tenang, setenang laut dalam. "Ada apa sih, Pa? Kok kelihatannya serius banget? Mana pas dateng langsung cari Vic segala...." Selena berusaha memasuki celah hati Randy dengan hati-hati, suaminya itu gampang meledak disaat perasaannya sedang naik turun seperti saat ini. Randy menghela napas lelah. "Itu, Ma... si Vic bikin ulah lagi ternyata... capek banget Papa mikirin dia," jelas Randy. Selena tersenyum lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Randy. Selena memang jagonya membujuk, sifat dan perangainya yang lembut begitu cocok dipasangkan dengan Randy, keseimbangan sepertinya menyatu dalam pernikahan mereka berdua. "Buat ulah gimana lagi, Paaa? kan Vic udah mau kita tunangin sama anaknya Pram..." jawab Selena. "Nah itu juga yang jadi masalahnya sekarang, Icha nggak mau tunangan sama Vic." Sela Pram. "Nah terus kenapa? Dan... alasannya apa gitu loh, Pa?" tanya Selena dengan pertanyaan bertubi-tubi. "Jadi gini, Ma... Icha dekat sama Vic karena insiden kecelakaan mobil...." Selena membelak, ia tak tahu kalau ada kejadiaan seperti ini. "Apa? Kecelakaan? Kapan?" tanya selena lagi. “Udah lama, Ma… jadi gini, si Vic itu nabrakin mobil ke pager gerbang, terus nyalahin Icha dan minta ganti rugi sekitar… seratus apa dua ratus juta gitu, kalau belum bisa lunasin ya… harus nurut apa kata Vic, begitu sih yang Papa denger dari Pram,” jelas Randy. Selena terperanjat, tak menyangka anaknya bisa melakukan hal bodoh kepada seorang gadis. Emosi selena mendadak naik sampai ke ubun-ubun karenanya. “Ya ampun, Paaaa… harus banget kita omelin anak bontot itu, enggak habis pikir deh, Paaa… mana hape mama ya? Mau suruh anak itu cepet pulang, harus di sidang kalo udah kayak gini kelakuannya!” kesal Selena sambil mengomel. Selena mendapatkan ponselnya yang diletakkan di nakas pantry dapur mereka, ia langsung menelepon Vic setelahnya. “Halo? Nak… udah dimana sekarang?” tanya Selena ketika terlepon itu terhuhung. “Udah di jalan ke rumah kok, Ma… Icha sudah Vic anter pulang,” jawab Vic dari seberang. “Oke! Cepetan pulang….” Selena jadi was-was sendiri menunggu kedatangan anaknya, ia dan Randy sudah duduk manis di ruang keluarga. Mereka akan melakukan sidang keluarga pada Vic malam ini. Kelakuan Vic yang aneh sudah membuat Randy menjadi malu kepada Pram, sahabatnya. “Pa… kok Vic lama banget ya? Apa jangan-jangan dia udah tau kalau mau kita marahin?” tanya Selena kepada suaminya yang tengah sibuk memainkan game onet pada ponsel miliknya. “Enggak mungkin sih, Ma… dia pasti pulang,” jawab Randy santai. Sepuluh menit kemudian terdengar suara mobil Vic yang memasuki halaman rumah mereka. Selena bergegas memperbaiki duduknya, berusaha terlihat sangat serius. “Assalamualaikum… Ma, Pa,” salam Vic ketika ia memasuki pintu depan rumah mereka. “Wa’alaikumsalam….” Selena dan Randy menjawab salam Vic bersamaan. Vic mendapati kedua orang tuanya sedang duduk di sofa, tidak duduk bersama melainkan duduk di masing-masing sofa, meninggalkan satu sofa kosong di tengah. “Loh? Ada apa Ma? Kok jauh-jauhan gitu nonton TV-nya?” tanya Vic spontan. Vic melihat hal yang tidak biasa sedang terjadi di depan matanya saat ini. Biasanya Selena dan Randy akan duduk bersama dengan mesra namun kali ini seperti bulan dan matahari, Victory masih belum menyadari bahwa yang akan mereka marahi adalah dirinya sendiri. “Duduk!” perintah Randy pada anaknya yang berdiri dengan penuh kebingungan itu. “Hah? Iya, Pa….” Vic pun menuruti saja apa kata Papanya, ia duduk di sofa tengah. Ketika Vic mau menaikkan kakinya ke atas sofa tiba-tiba saja Randy kembali memelototinya. “Jangan naikin kaki!” Vic pun tidak jadi menaikkan kakinya ke atas sofa, ia melihat mamanya yang ternyata juga memelototi dirinya dengan tatapan menakutkan. Vic jadi merasa tidak enak sekarang, ia mulai berpikir apa kesalahan yang sudah ia perbuat sampai mama dan papanya bersikap aneh seperti ini. Biasanya Randy dan Selena akan melakukan hal yang sama kepada kakak perempuannya ketika pulang keluyuran bersama teman-temannya. Suara Vic merendah. “Ma? Pa? Ada apa sih?” tanya Vic. “Kamu tau nggak apa yang sudah kamu lakukan dengan Icha? tanya Randy dengan tatapan datar. Vic terperanjat. “Maksudnya gimana, Pa? “Ya, apa yang sudah kamu lakuin ke Icha?” sela Selena. “Vic enggak lakuin apa-apa kok Pa… Ma… beneran deh sumpah! Icha itu masih enggak punya perasaan sama Vic, bahkan dia marah banget waktu Vic enggak sengaja cium dia,” jelas Vic kepada kedua orang tuanya. Penjelasan Vic sudah keluar dari masalah yang akan Randy bicarakan saat ini, mereka malah menemukan kelakuan anaknya yang lain. “Hah? Kamu cium Icha?” Panik Selena. “Ntar dulu… bukan itu masalah utamanya yang akan papa omongin sama kamu sekarang,” Randy menyapu wajahnya yang mulai lelah. “Apa dong, Pa?” tanya Vic penasaran, ia pun tidak tahu apa masalahnya. “Kamu beneran minta ganti rugi ke Icha ratusan juta? kamu udah buat papa malu di depan papanya Icha tau nggak,” marah Randy. “Ah… itu… Vic bisa jelasin, Papa sama Mama jangan emosi dulu,” jawab Vic dengan suara terbata-bata. “Jadi apa? Mama udah siap nih mendengarkan jawaban kamu, kalau sampai kamu aneh-aneh mama akan blokir semua ATM dan Kartu Kredit kamu,” ancam Selena. “Maaa… jangan dong, Vic ngelakuin itu karena emosi, dan waktu itu… sebenarnya Vic cuma mau ngerjain Icha.” jelas Vic dengan wajah menunduk. “Udah gitu dia cantik banget,” lanjut Vic. Selena menatap Vic dengan penuh kecurigaan, senyum selena tertahan lalu melempar kedipan kearah Randy. “Kamu ngerjain Icha karena dia… Cantik?” tanya Selena. “Eh… enggak bukan gitu, dia cerewet banget… dan dia juga bersikeras mau ganti kerusakan mobil, Vic bilang mahal-mahal supaya dia nggak bisa ganti rugi dengan cepat aja,” sanggah Vic. “Kenapa? Agar supaya kamu bisa jadiin dia pesuruh kamu begitu? Yang bener aja Vic, hey… dia itu sudah menjadi calon tunangan kamu,” Randy masih terus mengomeli Vic. “Ya… gimana ya, Pa? Soalnya cuma itu satu-satunya cara supaya Vic bisa mengenal Icha dan berinteraksi sama dia dalam waktu yang lama… Papa ngerti nggak? kayak di drama-drama korea yang suka mama tonton loh,” celoteh Vic. “Gini deh… mama mau tanya, tapi kamu harus jawab dengan sejujur-jujurnya,” Selena menatap Vic dengan intens. “Iya, Ma…” “Kamu suka sama Icha?” Pertanyaan Selena tertancap tepat di d**a Vic. Lidahnya menjadi kelu dan terasa membeku. Randy menatap Vic dengan serius, ia menunggu jawaban Vic. “Itu… sebenarnya… Vic….” Vic terbata-bata sampai membuat Selena emosi. “Enggak jelas banget sih jadi cowok? Kamu kayak gini mana bisa dapetin si Icha?” omel Selena pada anaknya itu. “Vic sebenarnya… suka, tapi… Ichanya yang enggak,” jawab Vic dengan suara pelan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN