***
Pip! Pip! Pip! Pip!
KLAK! KLAK! KRIET!
DRAP! DRAP! DRAP!
Pintu terbuka dengan mudahnya sebelum bunyi langkah yang terdengar bersahut-sahutan, memecah kebisuan malam.
Beberapa orang pria mulai memeriksa setiap sudut rumah yang tampak lengang itu. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan kamar Monica Livia.
KLAK!
Pintu itu tidak terkunci, segera setelah menyibak pintu itu, mereka dapat melihat sesosok gadis yang tengah tertidur pulas di ranjangnya. Salah seorang dari mereka mengeluarkan ponsel untuk mengecek kemiripan wajah sosok gadis di hadapan mereka ini, dengan foto yang ada di galeri ponsel mereka
Hanya dengan satu anggukan saja, dan salah seorang anggota mereka mengeluarkan sapu tangan putih dari sakunya, lantas sapu tangan itu ditempelkan ke area hidung Monica.
Gadis itu tersentak kaget, namun dua detik setelahnya gadis itu kembali tertidur. Sapu tangan yamg mereka gunakan itu sudah di taburi dengan obat bius.
"Bawa dia ke mobil..."
"Oke!"
"Bagaimana dengan barang bawaan yang lain?"
"Ambil tas ransel di atas meja itu dan masukkan semua barang penting milik Nona Monic, ingat… hanya barang pentingnya saja… tidak usah membawa pakaian.”
“Baik!”
Setelah semua barang bawaan Monic beres, salah satu penculik itu pun bergegas membopong tubuh gadis itu.
“Hapus semua rekaman kamera CCTV di gedung ini, jangan meninggalkan jejak apa pun,” pinta salah satu Pria.
“Baik.”
***
Pada pagi hari berikutnya seperti biasa Daniel datang dengan membawakan sarapan untuk Monic. Pria itu menekan passsword pintu rumah Monic kemudian masuk ke dalam.
“Mon… aku bawa sarapan nih.”
“Mon?”
Daniel meletakkan bungkusan makanan yang dibawanya tadi di atas meja makan kemudian mengitari seisi ruangan di rumah itu. Daniel pergi ke kamar Monic namun gadis itu juga tak berada disana, Daniel bergegas mengambil ponsel untuk menelepon Monic.
Tuuuut… Tuuuut…
“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan….”
“Monic kemana? Nggak mungkin ke kampus sepagi ini.”
Daniel memeriksa lemari Monic, pakaian gadis itu masih tertata rapi disana. Daniel duduk di atas ranjang Monic dan tak sengaja melihat secarik kertas.
“Maafkan aku… aku pulang ke singapore.”
Daniel membaca isi surat itu dengan dadanya yang bergemuruh.
“Nggak mungkin, ini nggak mungkin. Pasti ada yang tidak beres.”
Daniel mengirimkan chat kepada Monic saat itu juga.
Anda :
Mon? Kamu beneran pulang ke singapore?
Mon?
Bales chat aku kalo kamu udah sampai disana.
Chat yang Daniel kirimkan hanya bertanda centang satu, yang artinya ponsel Monic tidak mendapatkan signal internet.
Daniel beranjak pergi dari rumah Monic sembari mencoba menelepon Icha.
“Hallo?” suara Icha terdengar lesu, gadis itu terbangun ketika mendengar dering ponselnya.
“Cha, Monic enggak ada dirumahnya… aku nemu kertas yang ngasi tahu kalau dia pulang ke singapore,” ujar Daniel.
“Hah? Apa? Monic pulang ke singapore?” kaget Icha.
“Aku udah coba telfon dan kirim chat, tapi ponselnya nggak aktif.”
“Kita tunggu kabar dari Monic, mending kamu pulang dulu deh… aku kabarin Vic dulu.”
“Oke.”
***
Icha langsung mengirim chat kepada Vic segera. Sebagai mantan tunangannya Monic, Vic pasti dekat dengan keluarganya Monic, setidaknya Vic punya koneksi untuk menghubungi salah satu kelurga Monic, begitu pikir Icha.
Anda :
Vic, Monic hilang.
Victory :
Terus? Bukan urusan aku.
Anda :
Heh! Gilak ya ni anak, pengen banget ku geplak.
Victory :
Ya maap, ada apa sih ini?
Anda :
Daniel ke rumah Monic, tapi tu anak gak ada. Daniel nemu kertas yang ngasi tau kalo dia tuh pulang ke singapore.
Victory :
Ooooh pulang, ya bagus lah.
Anda :
Serius dikit bisa nggak sih? Ini kita tuh lagi gawat.
Victory :
Oke… oke… aku akan coba telepon mamanya Monic.
Anda :
Beneran?
Victory :
Iya nyet! Eh iya Cha.
Anda :
Makasih ya… Vic baik banget deh.
Victory :
Muachnya mana dong?
Anda :
Bodo! Ngapain monyet kiss orang? Dasar prik!
Victory :
Hahaha… muach
Anda :
Iiiwwwhh… jijay!
Jangan lupa telepon mamanya Monic loh.
Vic tersenyum-senyum sendiri membaca chat dari Icha. Pria muda itu bahkan sudah kehabisan cara untuk menarik perhatian Icha. Awalnya saja ia merasa mudah untuk mendekati gadis itu, tapi semakin kesini malah semakin sulit.
“Aruna Yeorisha… kamu tuh ya, bikin gemes terus. Mau pakai cara apa lagi biar kamu tuh… suka sama aku?”
Victory teringat dengan pesan Icha tadi, pria muda itu pun bergegas mencari kontak mamanya Monic.
Tuuut… Tuuuuut…
“Ya, Hallo Vic?”
“Eh… Hallo tante, Monicnya ada tante? Soalnya Vic dapet kabar kalo Monic udah balik ke singapore…”
“Ah… itu… iya Vic, Monic emang disuruh balik sama papanya, ada urusan penting katanya. By the way… Tante lagi diluar rumah sekarang, nanti tante kabarin lagi ya kalo udah ketemu sama Monic-nya…” bohong Riana, ia bahkan tidak tahu jika anaknya pulang ke singapore.
“Oooh… Oke Tan— jangan lupa kabarin Vic ya tante?”
“Oke, Vic… pasti kok.”
Segera setelah sambungan telepon itu terputus, Vic bergegas menelepon Icha lagi.
“Ya… gimana?” tanya Icha.
“Kata mamanya sih, Monic emang disuruh pulang sama papanya… urusan penting katanya, cuma ya… kata-katanya itu kayak nggak meyakinkan deh. Kamu tahu kan, Cha? Orang kalo bohong tuh ngomongnya kayak belibet… dan tumben banget mamanya Monic nggak dirumah sepagi ini.”
“Hmmm… emang mamanya kerja apaan? Eh kok jadi gibah kita?”
“Nggak kerjain apa sih setahu aku, papanya Monic yang handle perusahaan.”
***
Di ranjang besar berseprai putih, seorang gadis terbaring tak sadarkan diri. Cahaya matahari yang masuk menusuk rongga tirai jendela mengusik penglihatannya yang masih setia terpejam. Gadis itu mengernyit beberapa saat kemudian, perlahan matanya mengerjap mencoba menyadarkan diri meskipun kepalanya terasa berat.
“Uhk! Pusing banget!” keluh gadis itu lalu mengedarkan pandangannya di seisi ruangan.
“Ini… kamar aku?” ucap gadis itu ketika kesadarannya pulih sepenuhnya.
KLAK!
Pintu kamar terbuka, sosok pria berumur hampir setengah abad muncul dan duduk tepian ranjang.
“Papa? Pa, kenapa aku disini?” tanya Monic kepada Ardhan, ayahnya.
“Harusnya kamu tahu kenapa kamu berada disini sekarang.”
“Pa… aku mau balik ke indonesia!” ucap Monic lalu beranjak dari ranjang, gadis itu berlari ke pintu namun dihadang oleh bodyguard ayahnya.
“Jangan macam-macam, Monic! Kamu sudah lupa sama tujuan kamu kesana? Kenapa kamu malah bersama dengan pria lain?” bentak Ardhan.
Monic berbalik menghadap ayahnya. “Pa… Aku nggak cinta sama Victory! Aku hanya jadi alatnya papa! Papa yang tanamkan ke pikiran Monic kalau Vic akan menjadi jodohnya Monic! Tapi apa? Monic nggak cinta sama Vic, Pa…”
“Cinta nggak bakal bikin kamu punya kekuasaan! Cinta nggak bakal bikin kamu punya uang! Sadarlah!”
“Paaa… Aku nggak mau lagi ikutin kata-kata Papa… Aku nggak bisa, Pa…” air mata Monic perlahan menetes.
Ardhan menghela napas panjang lalu berdiri dari duduknya, pria itu memalingkan wajahnya dari Monic kemudian melangkah ke arah pintu.
“Jangan biarkan dia kemana-mana. Jangan berikan ia ponsel, cukup berikan ia makanan.”
“Baik, tuan.”
Pintu kamar itu pun kembali ditutup, Ardhan meninggalkan Monic sendirian di dalam ruangan itu.
***