***
"Tuan... menurut laporan dari mata-mata kita, Nona Monica sudah tidak pernah lagi terlihat bersama Victory... tapi dengan pria ini."
BRAAAKK!!!
"Cari tahu lebih lanjut. Monic... anak itu sudah mulai membangkang rupanya... pantas saja ponselnya sering tidak aktif ketika dihubungi."
"Baik... Permisi, Tuan."
"Tunggu! Kirim orang ke Jakarta, bawa Monic pulang ke singapore."
"Baik, Tuan."
Ardhan Mahendra naik pitam ketika mengetahui kabar miring mengenai anak gadisnya, Monica Livia Mahendra. Ia sengaja mengirim Monica ke Jakarta untuk mengejar Victory, tapi gadis itu malah ketahuan memiliki hubungan dengan pria lain. Foto-foto berserakan di atas meja kerja Ardhan, anak gadisnya malah tertangkap kamera sedang bersama dengan Pria selain Victory Liandra.
"Siapkan mobil, saya akan pulang ke rumah sekarang juga." pinta Ardhan kepada salah satu asistennya.
"Baik, Tuan."
***
"Sudah aku bilang jangan mengirim Monic kesana... tapi kamu bersikeras, Ardhan... harga diri anak kita kamu pertaruhkan demi bisnis kamu itu... kamu bener-bener keterlaluan!"
"Okay! Aku memang menggunakan Monic untuk ambisiku... tapi, kamu juga menikmati semua hasil yang aku dapatkan bukan? Lebih baik kamu diam, tunggu anak gadismu itu pulang... dan ajari dia menjadi wanita yang lebih pintar!"
"AAAARRGH! Kamu gila Ardhan! Aku sudah nggak tahan lagi sama sikapmu itu! Kamu benar-benar egois!"
"Ya! Aku memang egois, Riana!"
"Lebih baik aku pergi saja dari sini... berdebat denganmu sungguh memuakkan!"
"Riana! Jika kamu berani keluar dari pintu itu maka jangan pernah kamu kembali!"
"Okay!"
Perdebatan Ardhan dan istrinya pun terhenti. Para pelayan masuk ke kamar mereka masing-masing sembari menutup kuping. Mereka sangat ketakutan mendengar suara Ardhan dan juga Riana yang menggelegar, seakan ingin menghancurkan rumah mewah itu menjadi berkeping-keping.
Lima menit kemudian Riana turun dari lantai dua rumah mereka dengan koper besar di tangannya. Wanita itu tampak kesusahan menurunkan koper itu, dengan kesal Riana menendang kopernya hingga meluncur sampai ke lantai bawah. Riana bergegas turun dan menghampiri kopernya. Koper itu tidak hancur, hanya sedikit retak. Di luar hujan turun dengan lebatnya, suara gemuruh guntur yang bersahut-sahutan tidak bisa mengalahkan niat Riana untuk pergi dari rumah itu.
"RIANA! Beraninya kau!"
"Kau urus saja semuanya... aku tidak peduli lagi!"
Ardhan yang muncul dari arah ruang kerjanya berteriak kepada Riana, namun wanita itu tidak mengindahkannya. Dengan langkah pasti Riana meninggalkan rumah itu, meninggalkan Ardhan yang mematung menahan geram.
"AAAARRRHHH!!!" teriakan Ardhan menggelegar, menggema di seluruh ruangan rumah itu.
Dering telepon mengalihkan fokus Ardhan, pria itu menjawab panggilan telepon dari ponselnya.
"Katakan!"
"Tuan, anak muda yang bersama dengan Nona Monica itu adalah anak tiri CEO Prameswara Nugraha."
"Ok! Berikan lebih banyak info lagi."
"Baik, Tuan!"
Ardhan mengulum bibirnya, ia hanya tak menyangka bahwa Monica menemukan mangsa yang lebih berisi.
***
"Hallo? Pa?"
Ardhan akhirnya berhasil menelepon anak gadisnya itu, ia melampiaskan emosinya pada Monic. Bukan kali ini saja, namun sejak Monic kecil, Ardhan memang tidak pernah bicara halus dengan anak gadisnya itu.
"Monic! Kamu bener-bener keterlaluan! Kamu papa suruh ke jakarta buat ngejar Vic... tapi kamu malah bermain-main dengan anak muda yang bernama Daniel itu... kamu itu bisa mikir nggak sih?"
"Tapi Paaaa! Ini pilihan Monic. Tolong jangan paksa Monic lagi."
"Enggak ada tapi-tapian. Papa sudah nyuruh orang buat jemput kamu... besok kamu pulang ke Singapore."
"Tapi, Paaa... Paaaa..." protes gadis itu namun ayahnya tetap tak memperdulikan Monic.
Tut! Tut! Tut!
Panggilan telepon itu pun terputus, Monic yang sedih dan bingung itu pun hanya bisa duduk terdiam. Sampai Daniel menghampirinya.
“Mon— ada apa? Kok kamu nangis?” tanya Daniel sembari menangkup pipi Monic dengan kedua tangannya.
“Hik… hik… Dan— aku disuruh pulang ke Singapore sama papa…” Monic langsung menjatuhkan pelukannya pada Daniel.
“Hah? Kok tiba-tiba banget?”
“Papa aku mungkin udah tahu dari orang suruhannya, kalau aku udah enggak mengejar Vic lagi.”
“Mon— sudah-sudah tenang dulu… biar aku pikirin dulu,” kata Daniel kemudian.
“Aku nggak mau pulang kesana…”
“Ssshhh iya… iya… tenang aja, aku ada disini… aku nggak akan biarin seorang pun membawa kamu pergi dari sisi aku.”
Daniel mengecup bibir Monic, berusaha agar gadisnya tetap tenang dan tidak banyak berpikir. Alis Monic yang mengernyit menandakan beratnya beban yang ia tanggung saat ini.
Ting!
Ponsel Monic berdenting. Ia melihat pesan baru dari sebuah nomor ponsel yang ternyata adalah ibunya.
“Ini dari Mama aku, Dan.”
Mama ;
Mon, mama pergi dari rumah hari ini. Kamu harus tegas, jangan turutin apa kata papa kamu lagi jika itu tidak baik.
Anda :
Mama sekarang dimana?
Mama :
Mama tinggal di kantor perusahaan untuk sementara. Mama gak bisa satu atap dengan papa kamu dengan keadaan kayak gini.
Anda :
Jaga kesehatan mama, okay?
Mama : Ok nak, nanti mama kabarin lagi.
***
“Gimana?” tanya Daniel yang tampak khawatir pada Monic.
“Kayaknya aku harus sembunyi, orang suruhan Papa enggak boleh menemukan aku… Papa pasti akan melakukan berbagai cara agar orang suruhannya bisa membawa aku pulang,” jelas Monic sembari mengeratkan pelukannya di pinggang Daniel.
“Sini hape kamu.”
“Hah? Buat apa?” tanya Monic, namun gadis itu pun menyerahkan ponselnya begitu saja.
Daniel mengambil ponsel Monic lalu mematikannya, lantas mengeluarkan sim card dari ponsel itu dan menyimpannya ke dalam dompet Monic.
“Jangan aktifkan ponsel agar mereka tidak bisa melacak keberadaanmu.”
Bukan hanya Monic, Daniel pun mengeluarkan sim card ponselnya.
“Loh? Kok?”
“Mereka pasti akan melacak aku juga, jadi lebih baik kita tidak mengambil resiko dan mematikan ponsel.”
Monic mengangguk setuju dengan apa yang Daniel lakukan saat ini. Otaknya tak dapat lagi memikirkan cara-cara untuk menghindari kejaran orang suruhan papanya. Namun setidaknya saat ini ia berada di tempat yang aman dan juga bersama dengan orang-orang yang tepat.
“Ayo… kita masuk, udara malam semakin dingin,” ajak Daniel.
Daniel menggenggam erat tangan Monic, seakan tangan itu akan pergi meninggalkannya kelak.
***
Esok hari pun tiba, cahaya matahari mulai berusaha masuk dan merambat ke dalam kamar yang luas itu. Icha terbangun, ia mengawali pagi hari ini dengan menguap lebar.
“Re? Rin? Bangun!”
“Ngh! Satu jam lagi… Cha!” jawab Rere yang kembali menarik selimut sampai ke lehernya.
“Aku masih ngantuk… zzzz… zzzz.” ujar Ririn.
“Ya ampun….”
Icha kesulitan membangunkan kedua sahabatnya itu, pada akhirnya Icha harus bangun pagi sendirian. Gadis itu berencana untuk pergi jalan pagi di sekitar Villa, menghirup udara segar nan sejuk dan juga menikmati kicauan burung-burung yang bersahut-sahutan.
“Cha?” sapa Aiden.
“Loh Den? Pagi banget…”
“Iya… habis dingin banget, aku nggak bisa tidur lagi kalau udah pagi gini,” jawab Aiden.
“Beda juga ya, kamu…” ujar Icha lalu terkekeh kecil.
“Bukan beda lagi, tapi unik… oh ya, kita balik ke jakarta jam sepuluh pagi, ya?”
“Oh… oke, hmm… Den, aku mau ngomong sesuatu.”
“Iya, Cha… ada apa?”
“Soal pernyataan kamu kemarin…”
“Ah, iya…”
“Maaf ya, Den. Aku… menghargai perasaan kamu, tapi… aku tidak memiliki perasaan yang sama, jadi… bisakah kita tetap berteman?”
Aiden tersenyum tipis lalu mengangguk. “Iya, Cha. Terima kasih ya…”
Aiden mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Icha, gadis itu pun menyambutnya dengan jabatan tangan yang hangat.
“Terima kasih kembali, Den.”
***