#60. Blooms or not?

1112 Kata
*** "Paaaa! Bukain pintunya, Pa... Monic gak Mau dikurung kayak gini!" Gadis itu sudah berkali-kali berteriak dan menggedor-gedor daun pintu, berharap ayahnya datang dan melepaskan dirinya. Namun harapannya itu sungguh sia-sia, ayahnya tak kunjung datang. Suara Monica sampai parau karena berteriak dari dalam kamarnya. Gadis itu kembali ke ranjang, duduk di tengah-tengah kasur, menundukkan kaki di antara kedua lututnya yang ditekuk. CKLAK! KRIET! Bunyi pintu dibuka membuat gadis itu sigap mengangkat wajahnya. Harapannya kembali terbit saat itu juga. "Pa?" panggil Monic ketika ayahnya muncul dari arah pintu. Gadis itu bergegas duduk di tepian ranjang. Dengan wajah memelas gadis itu menatap wajah ayahnya yang tampak kusut. "Monic, Papa akan langsung to the point saja. Kamu hanya punya dua pilihan. Mengejar Victory seperti rencana awalmu... atau keluar dari rumah ini seperti Mama kamu." Icha kaget dan bingung mendengar perkataan ayahnya. "Maksud Papa apa? Mama kemana?" "Mama kamu pergi dari rumah ini karena tidak setuju dengan rencana Papa. Jadi... jika kamu mau membangkang, silahkan mengikuti jejak Mama kamu. Keluar dari rumah ini tanpa uang sepeser pun." "Paaa! Papa kejam banget, jadi setelah Mama... Aku? Papa tega!" "Ini sudah konsekuensi bagi kalian, kamu sama saja kayak Mama kamu itu. Sama-sama pembangkang. "Paaa... sebenernya... Monic hamil, Pa... Ini anak pacar Monic, Aeros Daniel." Mata Ardhan membulat, ia benar-benar terkejut dengan pengakuan anak gadisnya itu. "Apa maksud kamu?" "Monic... hamil udah satu bulan." "Gugurkan! Papa nggak nyuruh kamu mengejar laki-laki lain!" Ardhan beranjak dari tempat duduknya, dari raut wajahnya terlihat dengan jelas bahwa pria itu sedang emosi. "Pa!" panggil Monic ketika melihat ayahnya akan pergi. "Papa!" ulang Monic, namun ayahnya tidak berhenti. Monic merasa sangat frustasi saat ini, ia meremas rambutnya. Menyalurkan emosi yang telah ditahannya sejak tadi. "Tuan, bagaimana dengan Nona Monic? Saya akan mengunci pintu kamarnya lagi?" tanya seorang pelayan yang ditugaskan Ardhan untuk berjaga di depan pintu kamar Monic. "Tidak usah dikunci lagi, cukup pantau saja dia." perintah Ardhan kepada pelayan itu. "Baik, Tuan." *** Tuuut! Tuuut! Panggilan telepon itu terhubung, namun Monic tidak menerimanya. Sudah puluhan kali Icha menelepon nomor ponsel Monic, namun tak ada satu pun yang di angkat oleh gadis itu. Icha semakin khawatir dengan keadaan Monic, terlebih lagi Monic sedang berbadan dua. “Masih belum di angkat juga, aku akan mencoba lagi nanti…” gumam Icha. Icha beranjak dari ranjangnya, gadis itu hendak pergi ke ruang makan. Daniel duduk di salah satu kursi meja makan itu, wajahnya tampak serius dengan ponsel di tangannya. “Dan… sudah ada kabar?” “Belum… aku udah ngirim chat ratusan kali, belum ada balasan.” “Tapi nomor ponselnya sudah aktif, ya… belum diangkat juga sih.” “Aku… khawatir banget. Aku takut terjadi apa-apa sama Monic.” “Iya, sama… aku juga khawatir, gimana kalo… kita nyusul Monic?” Icha memberi saran dengan matanya yang berbinar, seakan itu adalah ide terbaik. “Aku juga lagi mikirin hal yang sama, kalo Monic tetep nggak ada kabar. Aku harus kesana…” Daniel menundukkan wajahnya, ia masih menggulir layar ponselnya dimana terdapat ratusan chat yang telah dikirimkannya kepada Monic. *** “Vic… tolong dong, plisss… Jangan acuh tak acuh gitu sama masalahnya Monic.” “Tapi kan emang bukan urusan aku.” Victory menyilangkan tangannya ke d**a. “Viiiiicccc… aku mohon.” Icha saat ini sedang bersama Vic, mereka duduk di salah satu bangku taman Fakultas Teknik. Icha meminta bantuan Vic untuk pergi ke singapore menemani Daniel namun Vic terus menolak. “Cha… kamu tahu nggak alasan aku enggak mau pergi?” “Ya… nggak tahu, kenapa dong?” “Soalnya nggak sama kamu,” ucap Victory sembari menatap wajah gadis itu dengan intens. “Yang bener aja! Ini perkara serius… masa aku juga harus kesana sih?” protes Icha. “Malahan aku hanya jadi beban kalo ikut-ikut juga.” “Kalo aku pergi kesana, nanti emaknya Monic ngira kalo aku bakal balikan lagi sama Monic… aku nggak mau lah, emaknya Monic suka geeran. Apalagi sekarang si Monic hamil, kalo mereka mikir itu anak aku gimana? Kalo emak bapaknya malah nyuruh aku tanggung jawab, kamu rela emangnya?” Icha berpikir sejenak, ada benarnya juga apa yang dikatakan sama Victory barusan. Gadis itu tampak sedang menimbang-nimbang. “Iya sih… aku nggak rela, nggak bisa!” ketus gadis itu tiba-tiba. Seulas senyuman hadir di wajah Victory saat itu juga. Pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Icha, melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh gadis itu dalam jarak dekat kemudian membisikkan. “Beneran enggak rela kan?” “Hah? Maksudnya gimana? Iya… eh! I-ya enggak rela… soalnya… soalnya….” Icha kebingungan untuk menjawab apa kali ini. “Soalnya? Hmmm… kenapa nggak rela?” goda Vic, pria muda itu menjauhkan wajahnya pelan namun tetap mematuk tatapan kepada Icha. “Ya! Soalnya kan kamu belum lulus… belum sarjana, masa kamu harus disuruh tanggung jawab… kan nggak banget! Lagian itu… bu-bukan anak kamu juga…” Vic terbahak setelah mendengar alasan Icha. Gadis itu jelas sedang melarikan diri dari topik. Victory menepuk-nepuk kecil kepala Icha, ia gemas sekali dengan gadis disampingnya ini. “Enggak usah ngasih alasan yang melenceng gitu, bilang aja kalo kamu enggak rela aku sama yang lain…” “HAH? APA? Eh… jangan gede rasa, aku nggak mikir gitu kok…” ketus Icha setelah menepis tangan Vic di atas kepalanya. “Ets… kalo marah artinya bener, hahaha…” Vic beranjak dari duduknya, pria itu menjulurkan lidahnya ke arah Icha, meledek gadis itu kemudian berlari. “Cieee… Icha suka sama aku!” kata Vic dengan setengah berteriak. “HEH! Nggak! Awas ya kamu!” Icha mengejar Vic setelahnya, mereka kelihatan seperti sedang shooting film Bollywood saja. Saling kejar-kejaran di atas rerumputan luas. Satu menit kemudian Icha berhasil menarik hoodie pria itu. Entah rumput yang licin atau Vic yang hilang keseimbangan. Vic berbalik namun terpeleset pada pijakannya, ia malah jatuh kebelakang saat tangan Icha masih memegang erat hoodienya. BRUUGH! Icha jatuh di atas tubuh Victory. Matanya terpejam, otak gadis itu mulai menerima sinyal dari seluruh tubuhnya. Ia tidak merasakan sakit sama sekali, namun parahnya gadis itu merasakan benda kenyal dan lembab tepat berada di bibirnya. Icha langsung membuka matanya, kaget. Bibirnya mendarat sempurna di atas bibir Victory. Mata mereka beradu selama tiga detik sebelum Icha menarik diri. Vic bangun di detik ke tujuh sambil mengaduh. “Aaak! Sakit!” keluh Vic sembari memegangi siku tangannya. “Ada apa?” tanya Icha panik. “Kayaknya jatuh pas kena batu kecil.” Icha bergegas memeriksa tangan Vic, menggulung tangan hoodie Vic ke atas dengan serius. “Cha… kamu suka sama aku kan?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN