#61. Hope.

1127 Kata
*** "Tuan, jadi bagaimana dengan Nona Monic?" tanya seorang asisten pribadi kepada tuannya. "Biarkan, cukup jaga saja... jangan sampai dia kabur," jawab Ardhan yang sedang sibuk dengan dokumen-dokumen di atas meja kerjanya. "Baik, Tuan." "Ah... tetap awasi dia, jika ada hal yang mencurigakan segera lapor." "Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi." Sepeninggal asistennya tersebut, Ardhan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia begitu frustasi memikirkan Monic. “Anak itu… bisa-bisanya dia malah hamil… tck!” *** Monic mengendap-endap masuk kedalam ruang kerja ayahnya. Gadis itu mencari tas ransel miliknya yang di tahan oleh ayahnya. Monic berpikir bahwa ponselnya pasti di simpan dalam tas ransel itu. Saat ia setengah sadar ia masih dapat mendengar dengan jelas orang suruhan ayahnya menyuruh kaki-tangannya untuk memasukkan semua barang-barang penting miliknya ke dalam tas itu, termasuk ponsel. “Dimana ya? Kupikir mungkin di laci ini…” gumam Monic lalu membuka laci bawah yang ada di meja kerja ayahnya. CKLIK! SRAK… SRAK… Tangan Monic meraba-raba ke dalam laci, kemudian menarik benda yang dipegangnya itu keluar. “Ah! Ini dia!” mata Monic berbinar ketika melihat tas miliknya. Gadis itu bergegas membuka tas dan mengusak isinya. Ia menemuka dompet, passport, ponsel, dan Visa. Monic mengambil barang-barang itu saja dan meninggalkan tas itu kembali ke dalam laci. Hal itu ia lakukan agar ketika ayahnya mengecek, tas itu masih ada dan tidak curiga jika isinya sudah nihil. “Aku harus cepat kembali ke kamar…” Monic bergegas, ia akan beranjak kembali ke kamarnya dengan membawa barang-barang tersebut. Sebelum keluar dari ruang kerja ayahnya, Monic mengintip keluar. Suasana rumahnya begitu lengang, hanya sesekali pelayan rumah mondar-mandir membersihkan rumahnya. Gadis itu keluar perlahan dan melangkah cepat menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, Monic bergegas memeriksa ponselnya namun benda itu malah kehabisan baterai dan mati. Ia mengisi daya ponselnya di tempat yang tersembunyi agar tidak mudah ditemukan, kemudian menyimpan barang penting lainnya ke dalam laci nakas tempat tidurnya. *** Icha membatu mendengar tuduhan Victory kepadanya. Gadis itu memilih diam, ia merasa berdosa jika berbohong, namun ia juga merasa tak sanggup jika menjawab jujur. Jika menjawab jujur akan membuat dirinya semakin sulit, maka lebih baik ia diam. “Kok diem aja? Kalo diem artinya bener dong…” kata-kata Vic semakin menyudutkan Icha. “Aku pulang deh, ya… udah sore.” jawab Icha kemudian berbalik membelakangi Vic, selanjutnya gadis itu pun mulai melangkahkan kakinya. Victory tidak mengejarnya, gadis itu terus berjalan. Ia memilih kabur ketimbang menghadapi Vic saat ini. “Cha! Sampai kapan kamu mau lari?” tanya Vic dengan setengah berteriak. Langkah gadis itu terhenti ketika mendengar pertanyaan Vic. Gadis itu berbalik, kini jarak mereka berkisar lima belas meter. Icha mengepalkan tangannya dengan kuat, berusaha menguatkan dirinya sendiri. “Sampai aku benar-benar yakin.” jawab gadis itu lalu kembali membelakangi Vic. Victory terdiam, ia sedang mencerna jawaban Icha di dalam otaknya. Ia menatap punggung Icha yang semakin lama semakin menjauh, kemudian menghilang di ujung jalan. “Kenapa wanita itu begitu sulit dimengerti… sangat sulit, lebih sulit dari soal fisika dan kimia tingkat tinggi,” gumam Vic. *** Monic sampai ketiduran karena menunggui ponselnya yang sedang mengisi daya. Gadis itu mengerjap perlahan dan mengintip jam di dinding yang kini menunjukkan pukul lima belas. Monic bergegas ke arah pintu dan menguncinya dari dalam menggunakan palang pintu, hal itu dilakukannya agar ayahnya tidak masuk ketika ia sedang menelepon. Gadis itu mengambil ponselnya yang telah hidup otomatis ketika daya cukup terisi. Ia melihat banyak notifikasi, diantaranya yang paling banyak adalah panggilan telepon dan chat dari Daniel. Anda : Dan, maaf. Aku baru bisa ngabarin kamu. Ponselku di simpan sama Papa. Daniel : Syukurlah… aku khawatir banget sama kamu Mon. Aku VC ya? Anda : Oke, sekarang. Dua detik kemudian panggilan Video Call dari Daniel pun muncul. Monic menerima panggilan VC itu dan langsung menangis. “Kenapa kamu nangis? Kamu nggak apa-apa kan?” tanya Daniel dengan wajah khawatir. “Aku ingin pergi dari sini, aku dikurung di rumah dan nggak diijinin kemana-mana, Niel.” “Mon… kamu kurusan, makan yang bener, jangan sampai sakit.” “Iya… Dan, aku lagi nyari cara buat kabur.” “Kalo kamu kabur masalahnya akan semakin besar, Mon… aku akan ke singapore. Aku akan temui orang tuamu.” “Hah? Kamu serius?” “Iya… aku akan terbang malam ini juga.” “Aku tunggu kamu datang, Niel.” “Jangan khawatir, aku akan bawa kamu pulang.” “Hiks… hiks… iya.” Monic mendengar suara langkah kaki mendekat ke pintu kamarnya, gadis itu pun panik. “Ada orang datang, aku akan telepon kamu lagi nanti.” Daniel menjawab Monic dengan anggukan cepat, dan panggilan telepon itu pun usai. Monic bergegas menyembunyikan ponselnya di balik bedcover ranjangnya. TOK TOK! “Nona… saya mengantarkan cemilan dan buah.” “Sebentar…” ucap Monic lalu membuka pintu kamarnya. Pelayan itu masuk ke kamar lalu meletakkan cemilan dan buah di atas nakas. “Permisi, Nona.” ucap pelayan itu lalu bergegas keluar dari kamar Monic. Monic kembali mengunci pintu kamarnya, kemudian menyalakan TV. Selanjutnya gadis itu kembali mengambil ponselnya dan melihat chat dari Icha. Anda : Aku baik-baik saja Cha. Maaf baru sempat ngabarin. Aku baru nemu hape aku di lemari papa. Icha : Mon! Alhamdulillah kamu baik-baik aja. Kamu nggak sakit kan? Ponakan aku gimana? Anda : Tenang aja, aku sehat kok. Aku berusaha tetap baik-baik aja biar bisa kabur. Tapi untuk sekarang aku ga bisa, aku dikurung di rumah. Icha : Daniel pasti bakal bawa kamu pulang. Anda : Iya, aku sangat berharap. Icha : Tetap tenang, dan jangan lupakan barang penting. Anda : Okay, Cha. Tenang aja, semua udah aku siapin. *** Pukul dua puluh Daniel sudah stand by di bandara Soekarno Hatta. Pria muda itu hanya ditemani oleh kopernya, duduk di salah satu bangku. “Hey… kamu beneran nggak ngajak aku?” tanya Vic yang tiba-tiba muncul entah dari mana. “Hmm… kenapa kamu tahu aku disini?” “Icha yang ngomong, oh iya… jangan lupa kamu harus ketemu sama mamanya Monic, tukas Victory. “Bukannya kalo aku ketemu papanya juga bakal ketemu sama mamanya?” heran Daniel. “Mamanya Monic kabur dari rumah… kebetulan Mamanya habis curhat ke Mamaku semalam, dan aku nggak sengaja dengar.” “Jadi? Aku harus kemana?” tanya Daniel. Victory mengutak-atik ponselnya, kemudian mengirim sebuah alamat kepada Daniel melalui chat w******p. Daniel yang mendengar ponselnya berdenting reflek mengintip ke layar ponselnya. “Itu alamatnya, sudah ku kirim.” “Terima kasih bro.” “Jangan sungkan, itu nggak gratis. Aku akan tagih bantuan dari kamu juga nanti.” ucap Vic lalu berbalik. “Dasar bocah!” umpat Daniel lalu terkekeh. “Semoga berhasil!” Ucap Victory lalu mulai melangkah meninggalkan Daniel. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN