#62. Daun yang berguguran.

1140 Kata
Daniel tiba di Singapore pukul dua belas malam. Pria muda itu melanjutkan perjalanannya menuju ke hotel. Ia tidak menghubungi Monic, mengingat malam sudah larut. Pria muda itu duduk di dalam taksi yang membawanya sembari menatapi gedung-gedung tinggi menjulang di sepanjang perjalanannya. Sepuluh menit kemudian dirinya sampai ke salah satu hotel, pria muda itu turun dari taksinya setelah membayar. Daniel akhirnya dapat beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke kediaman keluarga Monic esok hari. Merebahkan tubuhya ke ranjang hotel yang luas, Daniel hanya terus memikirkan Monic. Dirinya sungguh tak sabar menunggu hari esok. Perlahan matanya memejam, hawa dingin yang berasal dari pendingin ruangan membawa rasa sejuk. Daniel terlelap dengan mimpi-mimpinya lima menit kemudian. Alam bawah sadar sudah menjemputnya, mempertemukan dirinya dengan keinginan hati. *** SRAK! Ardhan melempar dokumen berisi data-data seorang pria muda. “Aeros Daniel Kang…” ucap Ardhan. Pria berumur hampir setengah abad itu mengacak rambutnya ketika mengetahui sebuah fakta yang mengejutkan. “Iya, benar Tuan. Dia adalah anak dari Jason Kang.” Mendengar nama itu pupil Ardhan semakin bergetar. Siapa Jason Kang? Sehingga mampu membuat seorang Ardhan yang licik itu tergerak. Dua puluh tahun yang lalu, Ardhan dan Jason yang masih berumur tiga puluhan baru saja merintis bisnis mereka. Keduanya merupakan sahabat dekat sekaligus partner bisnis, mereka berdua sangat gigih dan profesional. Namun demi mengejar investasi dari sebuah perusahaan besar mereka berdua terlibat persaingan yang kuat, sangat kuat hingga mampu merusak persahabatan keduanya. Pada suatu ketika, Ardhan mengajak Jason pergi memancing. Mereka menggunakan speed boat pergi ke tengah lautan, disaat Jason sedang lengah dan sibuk dengan mata pancingnya Ardhan malah mendorong Jason hingga jatuh. Jason jatuh ke lautan dalam dan tak terselamatkan. Ardhan pulang dan menemui Dinandra, menipu istri Jason dengan mengatakan bahwa suaminya telah jatuh ke lautan ketika kapal mereka diserang badai. Dua puluh empat jam kemudian Jasad Jason ditemukan mengapung di lautan, kasus itu ditutup karena tidak ditemukan bukti yang dapat memberatkan Ardhan. Tak ada yang tahu bahwa Ardhan adalah orang yang telah membunuh Jason. Mengingat kejadian dua puluh tahun yang lalu itu, Ardhan menyesal. Ia merasa ini adalah balasan dari dosa yang telah ia perbuat kepada Jason. “Jason…” ucap Ardhan dengan lirih. *** Daniel tiba di depan kediaman Monic. Ia mengikuti lokasi yang dikirimkan Monic padanya pagi tadi. Rumah mewah dengan halaman luas dan pagar tinggi menjulang. Daniel disambut oleh security yang berjaga. “Excuse me, Sir.” “Ah, yes… Saya Aeros Daniel ingin menemui Tuan Ardhan dan Nona Monica Livia.” ujar Daniel. “Ah… ya. Apakah sudah ada janji?” “Nope, saya di undang,” bohong Daniel. “Okay… have a good time,” jawab si security lalu membuka setengah pagar. Ia mempersilahkan Daniel masuk. Daniel berjalan menyusuri halaman rumah yang luas itu dan segera tiba di depan pintu rumah Monic. Monic yang memang sudah menunggu itu pun sedang memantau Daniel dari jendela kamarnya. Gadis itu bergegas turun ke bawah ketika melihat sosok Daniel. TOK TOK! Daniel mengetuk pintu itu dua kali. KRIETT! Pintu terbuka, sosok Monic muncul dari balik pintu itu. Mata gadis itu berkaca-kaca ketika melihat pria yang dicintainya kini berada di hadapannya. Ia pun langsung berhambur memeluk Daniel, kemudian terisak dalam pelukan pria itu. “Hey… jangan menangis… aku sudah disini,” ucap Daniel berusaha menenangkan Monic. “Aku nyaris tidak bisa melihatmu lagi, Dan,” sela Monic sembari mengeratkan pelukannya. Monic melepas perlahan pelukannya kemudian membimbing tangan Daniel masuk ke dalam rumah, gadis itu membawa Daniel duduk di kursi tamu yang ada di ruang depan rumah itu. “Dan, apa pun yang terjadi, aku akan tetap pergi sama kamu.” “Tenang… biarkan aku bicara dengan orang tuamu lebih dulu.” “Okay.” Tap! Tap! Tap! Sebuah langkah kecil memasuki pintu rumah Monic, gadis itu menoleh dan menemukan ibunya datang. “Ma!” panggil Monic lalu pergi menghampiri ibunya itu. “Mon… kamu nggak apa-apa?” tanya Rhiana sembari memeluk anak gadis semata wayangnya itu. “Enggak, Ma… Ma, ini Daniel. Dia adalah pria yang Monic cintai…” ucap Monic, memperkenalkan Daniel kepada ibunya. Daniel sontak berdiri dari duduknya dan memberi salam. “Hallo, Tante… saya Aeros Daniel.” “Hallo, Daniel…” Rhiana menjabat tangan Daniel, lalu menatap Monic sembari tersenyum. “Kalian kelihatan serasi, sudah berapa lama pacaran?” “Sudah mau tiga bulan, Ma.” “Ah… ya, kalian duduk dulu ya. Mama mau ke kamar dulu sebentar.” “Iya Ma,” jawab Monic. Tak lama kemudian suara mobil terdengar di depan pintu rumah. Mendengar seseorang turun dari Mobil membuat Daniel dan Monic siaga dan sontak berdiri. Suara langkah kaki terdengar semakin dekat dan kuat, begitu juga dengan degup jantung kedua anak muda itu. Monic menggenggam erat tangan Daniel. Ardhan muncul dari arah pintu utama, berserta dengan para Body Guard-nya yang kemudian berjejer rapi di samping pintu. Melihat sosok pria muda yang berada di sampin Monic, Ardhan melanjutkan langkahnya, mendekat ke tempat Monic dan Daniel berdiri. “Selamat pagi, Om!” sapa Daniel kemudian memberi hormat. Ia membungkuk sekali kemudian kembali berdiri tegap. “Aeros Daniel Kang,” ucap Ardhan dengan nada datar. Monic kaget, ayahnya bisa tahu nama lengkap Daniel. “Papa… tahu dari mana nama Daniel?” Ardhan tidak menjawab pertanyaan Monic, pria itu malah duduk di kursi single kemudian berpangku kaki. Ia juga tidak mempersilahkan Daniel untuk duduk. Daniel tetap berdiri tegap, tak memperdulikan sikap ayah Monic. Rhiana berjalan turun dari lantai atas, lalu menghampiri ketiga orang yang terjebak kecanggungan luar biasa itu. “Dan… duduk dong,” pinta Rhiana. “Iya, Tante… terima kasih,” namun Daniel tetap berdiri. Rhiana duduk di kursi seberang, menatap Ardhan dengan tatapan sinis. “Apa tujuan kamu jauh-jauh kesini?” tanya Ardhan to the point. “Om… Tante… saya datang kesini dengan maksud dan tujuan untuk meminta Monic dari Om dan Tante, saya ingin menikah dengan Monic.” Daniel mencoba untuk tidak canggung dan tegas dengan ucapannya. Monic yang berdiri di samping Daniel pun tampak mulai meneteskan air mata. “Ma… Pa… Monic mohon ijinin kami menikah, Monic… mencintai Daniel, dan kami akan segera memiliki seorang bayi.” BRAAAKK! Ardhan menggebrak meja tiba-tiba. Matanya menatap Monic dengan tajam. “Monic… kamu diam,” ucap Ardhan. “Om… saya mengaku salah, saya akan bertanggung jawab pada Monic.” “Ini bukan soal tanggung jawab. Tapi soal bisnis!” bentak Ardhan. “Ardhan! hentikan!” teriak Rhiana. “Kamu tidak perlu bersuara, Rhiana!” tunjuk Ardhan pada istrinya. “Bawa pria ini keluar dari sini!” perintah Ardhan pada anak buahnya. “PAAA! jangan!” teriak Monic, ketika beberapa body guard ayahnya mulai menahan tangan Daniel. “Om… saya datang dengan maksud baik.” sela Daniel dengan matanya yang memancarkan emosi. “Seret dia keluar.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN