#63. Fallin flowers.

1133 Kata
"Paaa! Jangan pa!" teriak Monic ketika melihat para Body Guard papanya mulai menahan tangan dan juga bahu Daniel. Pria muda itu masih tidak bergeming. Ia menatap Ardhan dengan matanya yang seakan menyala terbakar emosi. "Nic… enggak apa-apa,” ucap Daniel. Monic sudah bercucuran air mata ketika Daniel didorong dan diseret keluar oleh beberapa orang Body Guard. Mata Daniel dan Monic masih bertemu, kedua pasang manik itu seakan tidak ingin berpisah saat ini. Daniel menatap Monic sembari memberi anggukan kecil disertai dengan senyuman manis yang menyimpan kepiluan hatinya. “Dan!” teriak Monic kemudian berlari mengejar Daniel ketika sosok prianya menghilang di balik pintu rumahnya. “Tangkap dia!!!” seru Ardhan memberi aba-aba pada beberapa orang suruhannya. “AAKKK!” teriak Monic saat dua orang Body Guard lainnya datang dan menghadang Monic, menangkap tangan gadis dengan kuat. Rhiana mematung di tempat dengan bibirnya yang menganga, tak menyangka melihat keadaan anak gadisnya yang begitu memilukan hati. Rhiana sedang memutuskan sikap untuk anak gadisnya, Monic. Beberapa detik kemudian Rhiana berlari menghampiri Monic yang tertahan di depan pintu. “Lepaskan anak saya!” teriak Rhiana pada dua orang Body Guard itu. “Tidak!” suara Ardhan meninggi. Monic menatap kedua orang tuanya yang sedang terbakar emosi. Gadis itu menatap ibunya dengan penuh empati, ternyata ibunya memihak pada dirinya. Mata Monic kembali tertuju ke arah halaman rumahnya, menatapi Daniel yang masih diseret keluar melewati halaman rumah yang luas itu. “Dan!” teriak Monic lagi, dan pria muda itu pun menoleh ke arahnya, memberikan senyum terbaiknya. BAK! BUK! Monic menendang Body Guard yang sedang menahannya itu satu persatu. Rhiana juga membantu melumpuhkan body guard itu dengan cara mengigit tangan si Body Guard. Pegangan mereka telepas dan Monic langsung berlari keluar mengejar Daniel. “MONIC!” geram Ardhan. Rhiana tersenyum puas ketika melihat kemarahan Ardhan. “Dasar manusia tidak punya hati!” “Diam, kamu!” PLAAAK! Sebuah tamparan mendarat di pipi Rhiana sedetik kemudian, tamparan yang begitu kuat hingga membuat wajah Rhiana terpaling. Perlahan-lahan Rhiana mengusapi pipinya yang terasa panas itu kemudian terkekeh, mulutnya terasa asin karena sudut bibirnya yang pecah. Ia menyeka darah dari sudut bibirnya itu dengan jemari lentiknya. Rhiana menunjuk muka Ardhan sembari tersenyum sinis. “Kamu tidak akan menyesal sekarang. Tapi nanti…” ucap Rhiana kemudian melangkah meninggalkan rumah itu. Sementara itu di depan gerbang rumah Monic, Daniel dilempar keluar. Monica datang beberapa detik setelahnya namun gerbang itu sudah berhasil ditutup. Monic hanya bisa menatapi sosok Daniel yang tengah dipukuli oleh orang-orang suruhan ayahnya itu dengan tangisan dan jeritan. “Hiks! Tidak! Jangan! Dan—! Menjauh dari Daniel dasar sialan!” jerit Monic dengan suaranya yang mulai parau. “Buka gerbangnya!” Perintah Rhiana pada security. “Tapi… Nyonya…” “Buka!” teriak Rhiana. Si security yang takut kena PHK itu pun tidak mengindahkan perintah Monic. Rhiana melirik tajam kepada pria muda yang menjadi security itu. “Kau tidak membukanya? Kau buka atau pun tidak kau akan tetap aku pecat!” kata Rhiana. Kata-kata itu pun di dengar oleh para Body Guard yang tengah memukuli Daniel, sontak mereka mulai menjauh dari tubuh pria muda itu sembari saling pandang. “Dan… maafkan aku, Dan…” lirih Monic ketika melihat kondisi Daniel yang babak belur setelah dihajar habis-habisan. Daniel yang tergeletak lemas itu pun dan mulai menggerakkan badannya, berusaha bangun dari posisinya saat ini. Seluruh tubuhnya terasa sakit, melihat Monic yang terus menangis membuat dirinya berusaha kuat. Niat hatinya menenangkan hati Monic, berusaha menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja. Daniel tergopoh menghampiri Monic yang berada di balik pagar gerbang. “Mon… aku pulang ya, inget… aku akan datang lagi dan lagi. Tak peduli jika aku harus dipukuli atau dihajar habis-habisan… aku akan tetap datang kembali untuk meminta restu ayahmu.” Ucapan Daniel berhasil membuat hati Rhiana tersentuh. Daniel adalah pria yang baik untuk anaknya, ia pun mendekat. “Daniel… kamu harus tahu bahwa tante merestui kamu dan Monic.” “Terima kasih, Tante.” ucap Daniel. “Kelak jangan panggil Tante, panggil aja mama…” “Terima kasih, Ma…” ucap Monic. “Baik, Ma… Daniel pamit pulang, ya?” pamit Daniel pada Rhiana kemudian kembali menatap Monic. Pria muda itu melabuhkan ciuman di kening Monic, meskipun terhalang jeruji besi dan tak dapat saling memeluk. “Mon… aku pergi,” ucap Daniel kemudian melepaskan pegangan tangan Monic. “Dan… Daniel…” panggil Monic sembari terisak. Daniel menyeberangi jalan raya itu, kendaran berlalu-lalang mulai menutupi sosok Daniel yang menjauh. Pintu gerbang itu pun dibuka, perintah Rhiana di indahkan ketika Daniel sudah pergi. Tapi yang terjadi setelahnya sungguh di luar dugaan. Monic berlari mengejar Daniel saat itu juga, gadis itu begitu cekatan melarikan diri, bahkan para Body Guard tidak berhasil menangkap gadis itu. CKITTTT! BRAAAKK! “MONIC!!! pekik Rhiana ketika melihat tubuh anaknya terlempar sejauh lima meter di jalanan yang luas itu. Mobil-mobil yang tadinya berlalu lalang tiba-tiba berhenti ketika melihat kejadian kecelakaan itu. Daniel yang sudah sampai di ujung jalan itu pun sontak menoleh, pupil matanya bergetar melihat sosok yang tergeletak di jalanan itu. “Mon…” ucapan Daniel terputus, dirinya langsung berlari sekuat tenaga menuju ke arah Monic. Tubuhnya tidak terasa sakit lagi, namun hatinya remuk melihat kekasih hatinya. Daniel langsung memeluk tubuh gadis itu sembari berteriak. “Tolong panggilkan ambulance! Tolong!” Rhiana datang dan menghampiri Daniel yang tengah menggendong tubuh Monic. Air matanya tak terbendung lagi, ia memanggil-manggil nama anaknya itu namun gadis itu tak menjawab, ia tak sadarkan diri. “Mon… Monica… bangun nak!” panik Rhiana sembari meraba-raba tubuh anaknya itu. Dua menit kemudian ambulance pun tiba di tempat itu. Daniel dan Rhiana pun ikut pergi bersama dengan mobil ambulance, mereka tidak ingin meninggalkan Monic satu detik pun. Di dalam mobil ambulance, seorang perawat mulai memeriksa tanda-tanda vital di tubuh Monic. “Suster… tolong selamatkan anak saya,” ucap Rhiana. “Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Nyonya.” “Monic… bertahanlah, kamu nggak boleh ninggalin aku sendiri…” Daniel terisak. *** Sesampainya di rumah sakit, Monica langsung diperiksa oleh dokter dan dinyatakan bahwa tangannya patah dan harus segera di operasi. “Dokter… apa pun itu, aku mohon selamatkan anak saya.” mohon Rhiana. “Kita harus ke ruang operasi sekarang, tapi… kami juga harus melakukan operasi pengangkatan janin, dengan berat hati kami memberitahukan bahwa… Nona Monic keguguran.” “Apaaa?!” Daniel tersentak kaget. “Anak saya keguguran? Oh tuhan! Cucuku…” Rhiana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Iya benar… Tuan dan Nyonya, anak anda keguguran. Tolong tanda tangani surat persetujuan operasi ini,” sela seorang suster yang juga berada disana. “Mon… hiks… anak kita,” Daniel terisak, ia bahkan kehilangan disaat anak itu belum terlahir di dunia. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN