***
Pip! Pip! Pip!
Bunyi elektrokardiograf mengalun memenuhi seisi ruang perawatan Monic, selang infus terpasang di pergelangan tangannya. Wajahnya tampak pucat dengan kedua alisnya yang sesekali mengernyit. Raganya terbujur diam tanpa suara dengan luka lecet yang menghiasi pelipis dan juga siku tangannya. Gadis itu masih berada di alam bawah sadarnya.
Perlahan kedua kelopak matanya mengerjap, pada detik berikutnya ia menggerakkan sedikit demi sedikit kedua maniknya, mengedarkan pandangannya kekiri dan kenanan. Sekuat tenaga yang tersisa, ia menarik kesadarannya untuk kembali. Kepalanya terasa berat dan seluruh tubuhnya yang begitu sulit ia gerakkan. Monica Livia kebingungan, dalam hatinya ia bertanya-tanya, tentang apa yang telah tejadi pada dirinya.
Gadis itu melihat sosok pria yang tertidur di sampingnya. Pria muda itu terlelap dengan posisi duduk, menopangkan kepalanya di ranjang Monic. Wajah pria itu juga terluka, bahkan ada darah kering di dahinya. Monica menyibak rambut pria itu, namun si pria masih tak bergeming.
"Hey!" panggil Monica.
"Ngghh..."
Pria muda itu mengerjap, mengusap kedua matanya lalu mengedarkan pandangan. Pria itu menguap sebelum ia sadar bahwa gadis yang ia tunggui ini sudah sadar dari tidur panjangnya.
"Mo— Monic? Kamu udah sadar?" tanya Daniel dengan ekspresi penuh syukur.
Daniel memencet tombol darurat di samping ranjang Monic, agar dokter segera datang memeriksa.
"Iya... aku baru saja bangun... tapi..."
"Tapi apa, Mon? Kamu merasa sakit?" tanya Daniel setengah panik. "Aku akan panggil mama kamu..."
"Tapi... kamu... siapa?" tanya Monic dengan tatapan bingung.
Bagaikan diserang nuklir rusia, jantung Daniel seakan mau berhenti ketika mendengar pertanyaan Monica. Daniel berbalik menatapnya dengan tatapan penuh kekhawatiran, menggenggam tangan Monic dengan erat.
"Mon? Ini aku... Daniel... kita akan menikah... apa kamu nggak ingat aku? Kita bahkan..."
"Be-benarkah? Kamu dan aku memiliki hubungan seperti itu?" sela Monica, ia tampak tidak yakin. Perlahan Monic melepaskan tangan Daniel.
Merasa ada yang tidak beres, Daniel bergegas memencet tombol darurat lagi. Daniel tidak putus asa dan berusaha meyakinkan Monic, ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto-foto mereka berdua kepada Monic.
"Ini foto-foto kita bulan lalu di indonesia... Monic... kumohon ingatlah...."
Monica menggulir semua foto yang ada di layar itu, menatap dengan bingung.
"Ini aku?"
"Ya, ini kamu... Monica Livia... kita adalah pasangan yang bahagia, tapi kemarin kamu kecelakaan... dan sekarang kamu tak mengingat apa pun lagi."
Sekelebat bayangan memori melintas di kepala Monic, namun semuanya tampak abu-abu dan buram. Monic memegangi kepalanya tiba-tiba.
"S—sakit! Sakit banget!" gadis itu menjerit keras.
Daniel yang panik segera menekan tombol darurat berulang-ulang kali.
"Mon! Ya Allah, Mon... tenanglah... tenanglah!" ucap Daniel.
Beberapa detik kemudian pintu kamar itu terbuka, dua orang suster dan seorang dokter masuk ke dalam dengan langkah terburu-buru.
"Tolong, Dokter... saya sudah memencet tombol darurat berkali-kali sejak sepuluh menit yang lalu."
"Maaf, Tuan... tolong tenang," ucap salah satu suster kepada Daniel.
"Aaakk! Kepalaku sakit!" teriak Monic.
Suster menerima aba-aba dari dokter dan memberikan obat suntikkan kepada Monic, di detik selanjutnya gadis itu pun menjadi lebih tenang dan secara perlahan Monic kembali tertidur. Dokter menatap Daniel setelahnya.
"Dok, kenapa dia tidak mengingat saya sama sekali?" tanya Daniel.
"Dianogsa kami saat ini... Nona Monic mengalami amnesia jangka pendek, mungkin diakibatkan oleh benturan yang terjadi saat kecelakaan, kami memerlukan pemeriksaan lebih jauh lagi."
***
"Ardhan... kamu mau membunuh anakmu sendiri? Gila kamu!" maki Rhiana.
"Apa lagi yang kamu bicarakan ini? Aku memisahkan mereka berdua agar Monic bisa mendapatkan kehidupan yang lebih layak... paham kamu?"
"Bohong! Kamu hanya memperdulikan dirimu sendiri... sampai anakmu sekarat sekali pun. Buktinya... kamu malah acuh saat Monic terluka, enggak sekujur tubuhnya, enggak mentalnya, semuanya sudah kamu hancurkan hanya demi ambisimu itu!"
Ardhan menghela nafas lelah kemudian berdiri dari duduknya, matanya tampak merah karena emosi. Ardhan bersiap melayangkan tamparan pada Rhiana saa itu juga. Rhiana yang menyadari hal itu pun bergegas maju lebih dekat. Entah apa yang Rhiana rencanakan tapi wanita itu tampak lebih berani dari hari sebelumnya.
"Tampar! Tampar saja! Kamu memang orang tua yang tidak bertanggung jawab! Kamu pikir hanya karena kamu punya uang, kamu bisa seenaknya menginjak aku? Tidak Ardhan!" Emosi Rhiana sampai ke ubun-ubun, ia bahkan menyenggolkan tubuhnya ke tubuh Ardhan. Menantang pria itu agar memberinya pukulan.
Ardhan menyerah, ia berbalik kemudian kembali ke tempar duduknya. Mengabaikan Rhiana yang mengamuk tak karuan.
"Aku membuang-buang waktuku berdebat denganmu..." ucap Ardhan kemudian menyalakan rokok di tangannya.
Di jam selanjutnya Ardhan memutuskan untuk pergi ke kantor ayahnya
***
Pria yang sudah tidak muda itu memasuki kamar Monic. Ia melihat anak gadisnya terbaring di ranjang sembari menatap ke arah jendela kamar.
"Monic... sayang gimana kabar kamu?" tanya Ardhan.
Monic menoleh dan menemukan sosok ayahnya. "Nggak apa-apa, Pa... Monic ngerasa baik-baik aja sekarang."
Ardhan mendekat ke arah anaknya itu. "Mama kamu enggak kesini? Maaf ya, Papa baru bisa dateng karena ada urusan penting."
"Iya, Pa... Mama belum dateng," jawab Monic lalu kembali menatap ke arah jendela.
"Terus yang jagain kamu?"
"Pas Monic bangun, ada seorang cowok... tapi Monic nggak kenal, Pa... katanya... namanya Daniel. Terus... setengah jam yang lalu dia keluar, enggak tau kemana."
Mendengarkan penjelasan Monic, Ardhan jadi bertanya-tanya. Pria itu pun berniat untuk menemui dokter yang menangani Monica.
"Okay, sayang... Papa mau ketemu dokter kamu dulu, ya... takutnya kamu perlu sesuatu tapi Papa malah nggak tau." ujar Ardhan.
"Okay, Pa... tapi... Daniel itu siapa?" tanya Monic.
"Ah itu... tidak penting. Monic enggak usah mikirin itu dulu ya, takutnya nanti Monic sakit..."
Monic mengangguk mendengar ucapan ayahnya, gadis itu pun menurut. Monic sudah pernah merasakan sakit di kepalanya ketika ia mencoba mengingat sesuatu, jadi gadis itu pun mencoba untuk tidak melakukan hal itu.
"Papa pergi sebentar, Ok?"
"Ok, Pa..." jawab Monic sembari tersenyum.
***
Ardhan berada di ruang dokter, ia menemui dokter yang menangani Monic. Setelah mendengar penjelasan dari dokter Ardhan merasa lega. Kecurigaannya ternyata benar, Monic mengalami amnesia, dan itu berarti Ardhan tidak perlu susah-susah lagi untuk menjauhkan Monic dari Daniel.
“Terima kasih, dokter. Saya harap… anak saya mendapatkan perawatan yang terbaik.”
Ardhan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan dokter itu setelahnya. Ardhan keluar dari ruangan dokter dengan senyum kemenangan. Body Guard menyambut Ardhan ketika keluar dari ruangan itu, kemudian mereka pun kembali ke kamar Monic.
“Om…” sapa Daniel.
Ardhan dan Daniel berpapasan tepat di depan pintu kamar Monic. Ardhan melihat Daniel dari ujung kepala hingga kaki. Ia melihat sosok Daniel yang begitu identik dengan Jason, ayahnya Daniel.
“Daniel… saya harap kamu tidak bertemu dengan Monic lagi.”
Nafas Daniel tercekat mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Ardhan. Ia menatap Ardhan dengan tatapan memelas.
***