***
Nafas Daniel tercekat mendengar permintaan Ardhan, ayahnya Monic. Sesak, seperti ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.
"Tapi Om..."
"Monic kehilangan ingatannya dan juga kehilangan bayinya, seharusnya ini merupakan jalan yang baik untuk kalian berdua... itu berarti tuhan tidak mengijinkan, apa kamu mengerti... Daniel?"
Daniel terdiam lama, ia menunduk sambil menimbang-nimbang apa yang telah diucapkan oleh Ardhan kepadanya.
"Benarkah seperti itu?"
"Coba kamu pikirkan kembali... semua ini terjadi karena takdir."
"Om... ijinkan aku menengok Monic... untuk terakhir kali, lima menit saja." ucap Daniel dengan nada lemah.
Ardhan menyingkir dari pintu, memberi jalan kepada Daniel yang membawa air minum kemasan untuk Monic.
Daniel meletakkan air kemasan dalam tas kresek itu di atas meja, ia membelinya di mini market samping rumah sakit karena Monic yang meminta. Sebenarnya Daniel juga merasakan jarak yang cukup signifikan sejak Monic kehilangan ingatannya. Tatapan Monic kepada Daniel berubah asing, seperti tatapan kepada seseorang yang tidak dikenal.
Ketika Daniel menceritakan sedikit kenangan mereka maka disaat itu juga ekspresi Monic berubah, seakan tidak begitu tertarik atau tidak percaya dengan apa yang Daniel ceritakan. Sikap Monic berubah sangat pesat.
Daniel menatap Monic yang masih tertidur di ranjangnya. Gadis itu terlelap. Daniel meraih tangan Monic lalu menciumnya dengan lembut dan penuh perasaan, mengekspresikan cintanya yang begitu dalam.
"Mon... aku pulang, ya? Jaga dirimu baik-baik... ketika kamu sudah mengingatku dengan utuh, kamu harus tahu... aku selalu mencintai kamu, aku selalu menunggu kamu."
Daniel mengecup kening Monic, tanpa Daniel sadari air matanya menetes jatuh ke pipi Monic. Daniel menyadarinya dan menghapus air mata itu dengan ibu jarinya. Sebuah gerakan lembut, mengelus pipi gadis yang terlelap damai itu.
"Mon... aku cinta kamu."
Daniel berbalik setelah mengucapkan kata-kata terakhirnya kepada Monic. Disaat yang sama pintu kamar pasien itu terbuka, seorang Body Guard muncul dan menghampiri Daniel.
"Waktu kamu sudah habis."
Daniel tak berkata-kata lagi, ia hanya menoleh sekilas pada Monic yang masih tak bergeming di atas ranjangnya.
"Om... saya pamit. Maafkan saya jika saya bersalah."
Ardhan tidak menjawab melainkan hanya mengangguk tipis. Ia melihat punggung Daniel menjauh dari pandangan. Langkah Daniel yang gontai menunjukkan betapa hancur hatinya saat itu. Ardhan yang masih menatap kepergian Daniel itu pun tiba-tiba merasa iba, ia teringat akan Jason. Namun rasa bersalahnya kepada Jason malah membuat Ardhan semakin menyembunyikan masa lalu.
***
"Hallo, Cha... aku udah di bandara lagi, mau pulang ke indo." ucap Daniel dengan nada datar.
"Kenapa suara kamu? kok kayak enggak ada kehidupan gitu?" ledek Icha kemudian terkekeh.
"Enggak apa-apa... capek aja, Mama udah tau belum tentang masalah ini?"
"Aman sih... tapi Mama udah tau kalo kamu punya pacar yang bener-bener serius."
"Yang bener? Jangan sampe keceplosan. Inget loh!" Daniel memperingatkan.
"Okah, Bro."
Panggilan telepon pun terputus setelahnya. Daniel duduk di salah satu bangku sembari memijit dahinya yang berdenyut. Ia masih memikirkan Monic. Rasanya jantungnya telah cacat karena kehilangan Monica Livia. Gadis yang datang dengan penuh tantangan, kemudian pergi dengan penuh kesakitan.
***
Langit sore begitu menawan ketika sinar matahari semakin meredup, warna orange, pink, salem, dan ungu muda begitu indah dipandang. Victory sedang menikmati kopi hangat di balkon kamarnya sembari menatapi awan yang berjejer. Ia menggulir layar ponsel, melihat tanggal yang sudah ia di tandai pada aplikasi kalender. Dua minggu lagi adalah tanggal pertunangannya bersama dengan Icha, namun gadis itu tidak berubah sekali pun.
Ponsel Victory berdering beberapa menit kemudian. Ayahnya menelepon Vic, tumben sekali. Biasanya Ibu Victory lah yang akan selalu menelepon.
"Hallo... Pa?"
"Cepat pergi ke butik... kamu bahkan belum fitting baju yang mau digunakan di acara pertunangan nanti." kesal Randy.
"Iya, iya, iya... Paaa... aku pergi sekarang!"
"Bawa Icha, jangan pergi sendirian jika tidak sama Icha."
"Hah? Tapi Pa…”
“Ayolah… setidaknya, Icha harus setuju walaupun berpura-pura… tidak bisakah kamu ngebujuk Icha?” tanya Randy.
“Aku akan berusaha, Pa… tapi….”
“Papa masih ada kerjaan, kamu jangan lupa ke butiq.”
Panggilan telepon itu pun berakhir, Victory yang kebingungan itu pun hanya bisa pasrah. Ia mengirimi Icha pesan setelahnya.
Anda :
Cha
Icha :
Hmmm?
Vic tersenyum karena gadis itu langsung membalas chat, kebetulan gadis itu sedang memainkan ponselnya.
Anda :
Papa aku mendesak untuk segera fitting baju tunangan. Aku bingung.
Icha :
Hmmm… terus gimana? Kayaknya kita tetap harus tunangan ya?
Anda :
Gimana?
Icha :
Tapi kan aku udah bilang kalo aku belum bisa, aku belum yakin, aku belum siap.
Anda :
Kita bicarakan itu nanti ketika makan malam keluarga.
Icha :
Vic… kamu suka nggak sama aku? Enggak kan. Di usia semuda ini, kita nggak mungkin harus tunangan. Ini semua bisnis, dan aku nggak suka hubungan seperti itu.
Anda :
Sebenarnya aku…
Victory tidak melanjutkan namun pesan itu sudah terkirim, ia tak sengaja menekan tombol kirim saking bingungnya.
Icha :
Apa?
Anda :
Kata Papa… kita harus tetap tunangan, agar opini publik berubah. Setidaknya kita harus tunangan walaupun berpura-pura.
Icha :
Aku gak mau, hubungan pura-pura. Tapi sekarang malah harus berpura-pura di depan publik. Udah lah… nanti aja kita mikirinnya.
Aku tetap pada rencana pertama.
Anda :
Kabur?
Icha :
Iya
Victory semakin kebingungan, dalam hatinya ia terus bertanya-tanya, haruskah ia menyatakan perasaannya pada Icha? Agar supaya gadis itu yakin untuk bertunangan. Tapi Victory tidak yakin Icha akan percaya begitu saja, gadis keras kepala itu pasti akan berpikir kalau Victory melakukannya agar Icha setuju bertunangan.
“Gadis keras kepala, kok negatif thinking banget… kamu nggak tau aja kalau aku bener-bener suka sama kamu… huh!” gemas Victory sembari menatap chat di layar ponselnya.
“Dasar gak peka!” Seru Vic saking kesalnya.
***
Icha pergi ke ruang kerja ayahnya, ia menemukan ayahnya sedang sibuk di depan laptop. Gadis itu membawakan kopi dan meletakkannya di meja kerja Pram.
“Pa… soal pertunangannya…” ucap Icha membuka percakapan.
“Iya… kapan kamu fitting baju?”
“Pa… bentar dulu…” kata Icha tiba-tiba, membuat Pram menoleh ke arahnya.
“Ada apa lagi, sayang?” tanya Pram ketika melihat ekspresi wajah Icha yang begitu memelas.
“Iya… nggak yakin dengan pertunangan ini. Icha dan Vic enggak saling suka, bahkan kami selalu berantem ketika bertemu.”
“Cha… ini bukan lagi soal rasa suka,” balas Pram sembari menepuk bahu Icha lembut.
“Itulah kenapa Icha nggak mau. Icha sama Vic? Sungguh tidak cocok.”
“Nak, ini demi Papa… demi Om Randy… Papa mohon, meskipun nanti pertunangannya harus batal, setidaknya kalian harus bertunangan pada saat yang sudah ditentukan.”
“….” Icha terdiam, ia mengerucutkan bibirnya kemudian berbalik. Tak berpamitan pada ayahnya, gadis itu keluar dari ruangan kerja itu.
Icha tak punya pilihan lain, jika ia tetap di rumah maka pertunangan itu harus ia lakukan. Gadis itu tetap pada pendiriannya, ia tetap pada rencana pertamanya. Namun ia harus tetap melakukan semua embel-embel pertunangan agar semua orang tidak mencurigainya.
Anda :
Vic… ayo fitting baju.
Victory :
Cepet banget berubah pikiran.
Anda :
Hanya mengikuti alur, kenapa?
Victory :
Wah dasar licik… jangan bilang kalau kamu nanti akan membuatnya kacau.
Anda :
Tentu saja, aku tetap pada opsi pertama, kamu kan udah tau.
Victory :
Ya, sudah kudugong. Tapi aku gemas sekali.
Anda :
Apa? Kok gemas?
Victory :
Iya, dasar keras kepala, besok pagi aku jemput pukul 9. Jangan kesiangan.
Anda :
Hmmm
***