#66. Pretty you.

1228 Kata
*** "Bye Re! Bye Rin!" pamit Icha, gadis itu hanya mengikuti jam pertama karena ada janji dengan Victory. "Bubye! Bubye!" ucap Rere dan Ririn sembari melambai ke arah Icha. "Hati-hati!" sela Ririn. Icha menunjukkan gesture okay dengan jari tangannya kemudian pergi dengan cepat ke arah mobil Victory. Pria muda itu sudah menunggui Icha sejak setengah jam yang lalu. TOK TOK ! Icha mengetuk kaca mobil Victory dan pria muda itu pun menurunkan kaca. "Lama banget... tck!" Vic mendecak kesal. Icha membuka pintu mobil kemudian mengambil duduk di jok depan. "Yeee... gitu aja marah. Ayok berangkat!" "Iya, iya, iya..." celetuk Vic, ia masih kesal dengan Icha yang begitu lelet. Lima belas menit berlalu dan akhirnya mereka berdua sampai di sebuah butik yang sudah dipilihkan oleh papanya Victory. "Selamat pagi... ada yang bisa kami bantu?" sapa seorang penjaga butiq ketika mereka berdua memasuki pintu. "Ah... iya, kami mau fitting baju," jawab Icha. "Oh, iya... kalau boleh tahu, bajunya untuk acara apa ya?" Victory mengernyit, ia melihat Icha yang sudah pergi melihat-lihat sendiri. Membuat Vic terpaksa membuka suara. "Oh, untuk acara pertunangan kak, aku dan gadis yang disana itu..." jawab Vic malu-malu. "Ah... kalau nggak salah, ini yang sudah booking sejak minggu lalu bukan? Ibu Selena yang menelepon, katanya Victory dengan Icha..." "Iya kak, saya Victory dan yang disana itu namanya Icha," Vic menjawab semuanya dengan mulus. "Okay, kalo gitu aku akan membawa anda dan pasangan anda ke tempat barang desainer yang baru saja launching kemarin, silahkan lewat sini..." "Terima kasih, kak." ucap Victory lalu menarik tangan Icha agar mengikutinya. "Eh... eh... jangan tarik-tarik juga!" "Ssshhh..." desis Victory, memperingatkan agar Icha memelankan suaranya. "Iya... iya..." sela Icha lalu berjalan mendahului Victory, mengikuti langkah kaki si mbak yang tadi. *** Pesawat yang ditumpangi Daniel akhirnya tiba di bandara Soetta. Setengah jam kemudian ia pun keluar dari area registrasi kedatangan, ia berjalan menuju keluar untuk mendapatkan sebuah taksi. Anda : Cha, aku udah di nyampe. Mama sama papa dimana? Icha : Good. Tanyain gih, aku lagi sama Vic. Anda : Yaudah, Ok. Daniel mengakhiri sesi chatnya dengan Icha, namun matanya malah menangkap kotak chat Monic. Pria muda itu menimbang-nimbang, apakah ia harus mengabari Monic? Anda : Monic, aku udah nyampe di jakarta. Jaga kesehatan kamu ya. Entah apa yang Daniel pikirkan sehingga ia malah mengetikkan pesan chat kepada Monic. Ia tahu Monic pasti tidak akan membalas, namun Daniel tetap mengirimkan chat itu. Daniel masuk ke dalam taksi, tubuh dan jiwanya begitu kelelahan setelah menghadapi kenyataan hidup yang begitu nyata di usia dua puluhan. "Aku nggak tahu alasannya... kenapa orang tua kamu malah tidak mengijinkan kita bersama?" Daniel berbicara pada dirinya sendiri. *** Icha mengganti gaunnya sebanyak lima kali, gadis itu lumayan suka dengan semua koleksinya. Pada gaun pertama dengan bahu sepenuhnya terbuka dengan potongan rok di atas lutut, gadis itu terlihat sangat cantik dan anggun ala-ala gadis modern namun Victory panik dan langsung menutupi bahu gadis itu. Bukan muhrim katanya, aurat kemana-mana. Pada percobaan kedua, gaun panjang tanpa lengan diberi aksesoris selendang bulu ala-ala miss universe namun Victory kembali memalingkan wajahnya. “Lekuk tubuh terlalu keliatan, aurat…” ujar Victory sembari memalingkan wajahnya. Pada percobaan ketiga gaun panjang dengan rok ala princess cinderella yang melebar. Sebenarnnya Icha tidak terlalu menyukainya karena roknya terlihat sangat besar namun gaun itu memang sangat mirip yang digunakan princess-princess disney. “Ini gimana?” tanya Icha. Victory mengangkat jempolnya namun tidak berani melirik gadis itu, membuat wajah Icha mendadak muram. “Jangan angkat jempol, kamu enggak suka kan? Buktinya enggak ngeliat juga!” “Yak! Dadanya terlalu seksi!” sela Vic. Icha kembali menutup tirai dan mengganti dengan gaun yang ke empat. Kali ini gaun berlengan panjang dengan rok putri duyung yang melebar dibagian bawah saja, kelihatan seperti ekor putri duyung ketika digunakan. “Ini gimana?” “Bagus… tapi enggak pake kerudung emang ya?” Icha menghela napas lelah lalu kembali menutup tirai. “Hadeh… mbak yang ada kerudungnya ada ga sih… yang agak solehah dikit, keknya yang awal-awal terlalu solehot.” “Baik… kak, sebentar ya saya ambilkan yang ada hijabnya.” Lima menit kemudian si mbak tadi datang kembali dengan satu gaun muslim keluaran terbaru. Icha memakainya kemudian dibantu oleh mbak tadi ketika memakai hijabnya. Tirai kembali dibuka, sosok Icha menggunakan kerudung begitu mempesona. Victory yang penasaran akhirnya menoleh, padahal Icha tidak memanggil namanya. Gadis itu hanya sibuk bercermin sembari memainkan rok gaunnya. Victory terpana, aura gadis itu berubah ketika menggunakan kerudung. “Cha? Ini beneran kamu?” Vic beranjak dari duduknya kemudian menghampiri Icha. “Cantik banget…” Pria muda itu mengambil tangan Icha, hendak mencium jemari gadis itu. “Heh! Bukan murhim…” Icha menepis tangan Vic lalu terkekeh. “Kamu mau ngapain sih? Lebay amat!” “Aku… dih becanda doang kok, tapi beneran auranya kelihatan kayak bukan Icha deh…” “Hari ini belum nampol orang sih… mau nggak?” “Eh iya… iya… maap hehehe.” Akhirnya Icha memilih gaun terakhir yang menggunakan hijab dan kerudung luar. Sementara Victory memilih setelan jas yang tidak terlalu formal berwarna abu-abu dengan dalaman kemeja putih. Satu kata ketika Vic mengenakan setelan itu, tampan. Layaknya pengeran dalam negeri dongeng, aura Victory bersinar. Icha sampai tak bisa berpaling ketika menatap pria muda itu. “Woy! Cha? woy! Kok ngelamun?” tegur Victory. “Eh… eh… apa? nggak… aku ngantuk aja,” bohong Icha. Victory melihat ke arah mbak karyawan butiq yang sama bengongnya dengan Icha. “Ya sudah mbak, saya pilih yang ini… tolong ya?” kata Vic pada mbak karyawan butiq. “Baik kak.” Setelah selesai dengan gaun dan setelan keduanya pun meninggalkan butiq itu. Victory memegangi perutnya yang tiba-tiba berbunyi. “Cha… sepertinya aku laper, mampir makan yuk,” ajak Vic. “Ehm… ke tempat makan grill house gimana?” “Boleh, kuy!” *** Di tempat makan grill ala korea keduanya duduk saling berhadapan, wajah Victory sudah masam karena lama menunggu hidangan yang masih berada diatas grill pan. “Cha, kalo aku tau kamu pesen yang kek gini-gini aku gamau loh kesini, lama banget… apinya di gedein aja napa, Cha?” Ungkapan protes beruntun dari Victory membuat Icha semakin memperlambat gerakannya. “Nggak bisa, harus gini biar matengnya merata… aku nggak suka makan makanan setengah mentah.” “Laper…” “Nah… sudah matang nih!” seru Icha tiba-tiba. Victory yang sudah lama menunggu itu pun bergegas mengambil mangkuk nasinya, tangannya sudah memegang sumpit yang siap mencapit daging wagyu di atas grill pan. Tidak tunggu lama, Victory langsung mencapit satu daging dan melahapnya. “Aaakk!” teriak Vic. “Vic! Pan… as…” “Telaaattt!” teriak Vic setelah memuntahkan kembali daging wagyu panas itu. Icha terbahak dengan tingkah Victory, ia bahkan belum sempat mengerjainya tapi pria muda itu malah kena batunya sendiri. “Makanya… makan tuh di tiup dulu, kamu kan liat grill pan ini panas banget… Hahaha… asal nyaplok aja sih.” Victory melirik ke kiri dan ke kanan, mengedarkan pandangannya ke meja-meja yang lain. “Sepertinya kita harus mencoba soju.” “Boleh juga.” Icha memanggil pelayan dan memesan dua botol soju. “Dua cukup kan?” “Seharusnya cukup… kita nggak boleh minum banyak alkohol. Nanti nggak bisa pulang…” jawab Vic. “Nah, pinter!” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN