***
"Dua botol itu banyak nggak sih? Kan botolnya kecil doang,” tanya Icha pada Vic yang serius melahap makanannya.
"No! Itu hanya cukup, nginget halo aku kebanyakan minum... ngamu ga holeh, biar ngamu misa nyetir," ucap Vic dengan bahasa yang kurang jelas karena berbicara sambil mengunyah makanan di mulutnya itu.
Icha terbahak. "Hahaha... iya, iya, udah makan dulu... aku berasa ngomong sama alien kalo kamu bicara sambil ngunyah gitu."
Vic menarik salah satu ujung bibirnya ke samping, agak kesal dengan ledekan Icha. Meski begitu Victory sudah paham dengan candaan Icha padanya.
"Hmmm, jangan merajuk kayak anak kecil, malu sama badan gede," ujar Icha sembari menjulurkan lidah, ia meledek Victory lagi.
"Apaan? Orang aku nggak merajuk kok..."
"Iya, iya... percaya..." jawab Icha asal.
Dua botol soju itu pun tandas bersama makan malam mereka hari ini. Tidak ke restoran mahal, tidak ke cafe mahal juga. Melainkan hanya pergi ke tempat makan umum yang selalu dipenuhi oleh pelanggan. Tempat itu memang memiliki menu dengan harga yang lumayan terjangkau.
Icha pergi membayar tagihan, sementara Vic yang sudah terlebih dahulu pergi keluar sedang menunggui gadis itu di parkiran. Vic memperbaiki posisi tubuhnya ketika melihat Icha berjalan kearahnya.
"Jadi nggak enak, aku kan cowok tapi kamu yang bayarin..." ujar Vic sembari menggaruk kepalanya, ia salah tingkah.
Icha terbahak mendengar kata-kata Victory. "Ya... anggap aja hari ini aku yang traktir, gimana?"
"Ah, mantep tuh!" seru Vic, pria muda itu kembali bersemangat.
"Ya udah... ayo pulang."
Icha menepuk kecil punggung tangan Vic agar segera masuk ke dalam mobil. Pria muda itu pun menurut. Icha berpikir sejenak, menurutnya Victory memang selalu menuruti permintaan Icha. Sampai-sampai Icha jadi bebal dan suka meledek Vic yang ternyata berhati lembut itu.
Namun yang namanya cowok kalau lagi baik ya pasti lembut semuanya, apalagi kalau ada maunya. Kalau lagi kambuh jahilnya Victory malah jadi menyebalkan sekali.
Icha sudah berada di depan pintu Mobil, ia hendak membuka pintu namun tiba-tiba saja Victory memanggilnya.
“Cha…”
Gadis itu pun sontak menoleh dan terkejut ketika menemukan Victory berada tepat di belakangnya. Gadis itu pun membalikkan badannya menghadap ke arah Victory.
“Loh? Ada apa? Kamu nggak bisa nyetir
sekarang?” tanya Icha kebingungan.
Dengan gerakan cepat Victory mencium bibir Icha, melumat bibirnya perlahan. Icha membelalak kaget, ia mecoba menahan tubuh Victory namun ia makin tersudut dan pada akhirnya Icha pun membalas lumatan manis dari Victory. Keduanya terlibat ciuman yang begitu lembut. Icha tersadar dengan apa yang telah ia lakukan kemudian mendorong Victory, namun tubuh pria itu lumayan berat. Tautan mereka terlepas, Victory tidak merespon namun malah oleng ke arah Icha. Menjepit tubuh gadis itu ke mobil.
Mendapati mata Victory yang terpejam telah membuat Icha yakin jika pria itu mabuk, namun bukan hanya itu, ia tak bergeming sama sekali. Victory menjatuhkan wajahnya di bahu Icha kemudian bernapas teratur layaknya orang yang sedang terlelap.
“Vic… hey, bangun…”
“Icha…” gumam Vic, kemudian ia tak lagi bersuara.
“Ehm… semoga dia melupakan apa yang sudah terjadi.” gumam Icha lalu memapah Victory.
Icha membuka pintu mobil lalu membantu pria itu masuk ke dalam, dengan sangat hati-hati gadis itu menutup pintu mobil agar Vic tidak terbangun.
“Huh berat sekali… berapa sih berat badanmu… bahuku hampir remuk.”
Icha masuk ke jok kemudi lalu menghidupkan mobil Vic, gadis itu harus mengantar Vic pulang terlebih dahulu.
Butuh dua puluh menit bagi Icha menyetir mobil itu dikarenakan cuaca yang tiba-tiba berubah, di tengah perjalanan hujan turun dengan amat derasnya membuat jarak pandang sekitar lima puluh meter. Icha memelankan mobil agar selamat sampai ke tujuan.
Gadis itu menatap Victory yang terlelap. “Dasar… gak punya beban banget, nggak bisa minum soju juga ternyata… dikit aja langsung tepar begitu. Memalukan…” gumam Icha meledek pria di sampingnya itu.
Icha kembali fokus ke jalanan yang ada di depannya, hujan disertai angin membuat Icha lumayan khawatir. Takut-takut ada pohon yang roboh ketika mobil itu berada di tempat sekitar pepohonan, Icha melajukan sedikit kecepatan mobilnya. Membuat kepala Victory tertunduk kedepan dan kebelakang.
“Maaf…” gumam Icha ketika melihat keadaan Victory Kim yang hampir membuat dirinya terbahak.
Ketika mereka sampai di depan rumah Victory seorang security muncul dan membukakan gerbang. Icha menurunkan kaca mobil untuk menyapa bapak security itu.
“Pak, makasih ya?”
“Sama-sama neng… eh, kok neng yang nyetir mobil?” heran pak security itu.
“Iya, Pak… lihat aja si Vic malah ketiduran…” Icha mendengus kesal ketika melihat ke arah Vic
“Ah iya-iya… lanjut neng, biar bapak bantuin aden kalo mau turun,” kata si bapak.
Icha memasukkan mobil Vic sampai ke depan pintu rumah, kemudian disambut lagi oleh si bapak yang tadi. Bapak security itu membantu Vic turun dari mobil kemudian memapahnya.
Icha pun turun dari mobil Victory dan hendak menelepon Pak Narto. Ia ingin meminta jemputan.
“Hallo, Pak…”
“Iya, Non…”
“Icha habis nganterin Victory, bisa nggak Pak Narto jemput Icha?”
“Bisa, Non… bisa… Non sekarang dimana?”
“Di rumahnya Victory,” jawab Icha.
Tiba-tiba saja si bapak security yang sedang memapah Victory pun memanggil Icha.
“Neng… enggak pakai mobil den Vic aja pulangnya?” tanya si bapak Security.
“Ah… nggak usah, biar aku minta jemput aja, Pak…” Icha menggaruk tengkuknya.
“Nggak apa-apa, Neng… dulu juga Neng Monic kalo pulang ya bawa mobilnya Den Vic…”
Icha menatap heran ke arah si bapak security, hati Icha terasa aneh ketika mendengar penuturan si bapak.
“Ah… gitu ya?”
“Iya, Non… oh iya Non… duduk dulu di dalem. Saya ijin mau nganter Den Vic dulu ke kamar…” tawar di bapak.
“Iya Pak, makasih…”
Icha baru saja mau mengikuti mereka ke dalam, namun ayah Vic sudah berada di depan pintu rumah.
“Loh? Icha? Cha… masuk, Cha… ayok!” panggil Randy kepada gadis itu.
“Eh… Om Randy? Iya, Om… ini Icha baru mau masuk,” jawab Icha.
“Ndro… kenalkan ini Icha, calon tunangannya Vic…” kata Randy.
“Ah… maaf ya, Neng… bapak kirain tadi temennya aja,” Pak Hendro menjadi salah tingkah.
“Kenapa lagi dia?” tanya Randy tiba-tiba ketika melihat ke arah Vic yang tidak sadarkan diri.
“Ah… Itu Om… Vic ketiduran di mobil, susah banget dibanguninnya,” sela Icha dengan suara yang sedikit bergetar karena takut ketahuan.
“Nggak mabuk? Kok bau alkohol?”
Icha terdiam, ia menggigit bibirnya, tidak tahu harus menjawab apa.
“Itu… sebenernya tadi….”
***