#68. Move

1114 Kata
*** "Om... Icha pulang, ya?" "Iya, Nak... hati-hati di jalan," jawab Randy. Gadis itu menghela napas lega ketika mobil yang dikemudikan oleh Pak Narto itu keluar dari halaman rumah Victory. "Kenapa, Non?" tanya Pak Narto. "Enggak apa-apa, Pak... hanya capek aja, pengen tidur." "Ah... iya." Sesampainya di rumah, Icha berjalan masuk ke dalam dengan langkah berat dan lelah. Ia tak menyangka kegiatan hari ini sudah banyak menyita tenaganya. Gadis itu menemukan Daniel yang sedang duduk bersama dengan ayah dan ibu sambungnya di ruang keluarga. "Loh? Tumben ngumpul... ada apa nih? Ada yang bisa di cemilin nggak?" tanya Icha lalu ikut duduk bergabung dengan ketiga anggota keluarganya itu. "Baru aja duduk kok, Cha... gimana tadi? Udah fitting baju?" tanya Dinandra. "Udah, Ma... Icha milih yang ada hijabnya." "Papa jadi penasaran deh..." goda Pram. "Niel... kok suram banget muka kamu?" tanya Icha yang menyadari kalau Daniel tidak bersuara sejak tadi. "Capek aja, di pesawat aku nggak tidur," jawab Daniel. "Oh, iya. Kamu nggak cerita ke Mama sama Papa loh kalo kamu ke Singapore..." sindir Dinandra. "Iya, Ma... sebenernya, Daniel kesana karena pacar Daniel..." "Hah? Apa? Kamu udah punya pacar? Kok nggak ngasi tau Mama sih?" kaget Dinandra. "Iya, Ma... Icha juga kaget." sela Icha. "Warga negara singapore?" tanya Pram. "Orang indo kok, Pa... soalnya keluarganya disana semua jadi dia pulang kesana gitu. Anaknya mah kuliah di Elite juga," jelas Daniel. "Ah... gitu, namanya siapa?" tanya Dinandra. "Namanya Monic, Ma!" seru Icha sembari terbahak. "Monic?" Dinandra mencoba membayangkan gadis bernama Monic. "Icha... kamu pergi ke kamarmu aja, kayaknya Daniel mau ngomong serius," usir Pram pada anak gadisnya itu. Icha berdiri dari duduknya dengan wajah cemberut. "Ih... Papa nggak asik ah!" Icha pun pergi ke kamarnya, namun ia hanya berpura-pura. Gadis itu tidak pergi ke kamar melainkan hanya duduk di tangga, mencoba mendengarkan pembicaraan Daniel dengan kedua orang tuanya itu. *** "Monic itu... anaknya pengusaha ternama, mungkin Papa Pram pasti tau. Nama ayahnya adalah Om Ardhan. Kalo nggak salah, Om Ardhan itu kenal juga dengan Om Randy, papanya Victory." "Ardhan?" Dinandra merasa tak asing dengan nama itu. "Iya, Ma..." Daniel meyakinkan. Pram terlihat mengangguk kecil. "Ardhan... kalau benar istrinya bernama Rhiana maka dia adalah Ardhan rekan bisnisnya Randy waktu itu." "Nah! Itu Pa... mamanya Monica memang bernama Rhiana, soalnya aku udah ketemu dan sempat berkenalan juga," sela Daniel. "Dan..." panggil Rhiana. "Iya, Ma?" "Kalau benar papanya Monica itu Ardhan, maka kamu harus hati-hati," Dinandra tampak sedih dan juga khawatir. "Memangnya ada apa, Ma?" tanya Daniel. "Iya, Dinan... memangnya kamu kenal dengan Ardhan?" tanya Pram. "Iya, Mas. Dulu mendiang papanya Daniel mengawali bisnis bersama dengan Ardhan, makanya aku kenal," jawab Dinandra dengan mengedarkan tatapan tidak nyaman ke arah kiri dan kanannya. "Beneran, Ma?" "Iya... Jason papa kamu dan Ardhan papanya Monic memulai bisnis mereka dari nol, mereka sama-sama hobi memancing dan sering pergi bersama bos-bos besar untuk sekedar memancing dan membicarakan bisnis. Waktu itu kamu masih berumur tiga tahun." "Ah, benar... insiden itu, bukankah beritanya sempat muncul di TV?" tanya Pram. "Insiden? Insiden apa, Ma?" tanya Daniel penasaran. Dinandra mengusap wajahnya, tak menyangka harus memberitahukan kenangan pahit kepada anak lelakinya itu. Tapi ini sudah saatnya Daniel tahu. "Papa kamu jatuh dari kapal ketika pergi memancing dengan Ardhan, saat itu badai besar datang dan membuat kapal menjadi oleng... Papa kamu terjatuh dan tenggelam. Tapi aku curiga dengan Ardhan, karena setelah kejadian itu dia tiba-tiba mendapatkan tender sebuah perusahaan besar yang awal mulanya sudah dimenangkan oleh Jason. Aku nggak mau lagi sih mengingat hal ini, tapi... karena Daniel bilang ayah pacarnya adalah Ardhan jadi..." jelas Dinandra. "Aku jelas tidak tahu apa yang sudah terjadi di kapal mereka waktu itu... tapi aku benar-benar tidak yakin jika Jason terjatuh," lanjut Dinandra. "Benarkah seperti itu, Ma?" Daniel serasa tak percaya, ayah kandungnya ternyata meninggal ketika pergi dengan ayah Monic. "Bukankah ini adalah takdir? Daniel bertemu dengan anaknya Ardhan... aku yakin hati Ardhan terasa cekat-cekit," gumam Pram. "Ya... aku pikir juga begitu, dan semua ini benar adanya, Niel. Mama nggak akan ngelarang kamu jika kamu benar-benar suka dengan Monic, hanya saja kamu harus berhati-hati." "Ma... sebenarnya, Monica hamil anaknya Daniel..." Bak disambar petir, ekspresi wajah Dinandra tiba-tiba menjadi tegang. "A— apa?" "Iya, Ma... Pa... Daniel kesana mau minta restu Om Ardhan tapi... Om Ardhan marah besar." "Ardhan pasti marah besar, mengetahui anaknya Jason datang padanya... terlebih lagi membawa kabar yang mungkin tidak akan disukainya... seperti yang kita tahu bahwa Monica awalnya adalah tunangan Victory, karena apa?" jelas Pram. "Demi bisnis," jawab Daniel. "Ya, benar sekali," jawab Pram. "Tapi... itu kamu membuat hamil anak orang... terus gimana dengan cucu Mama dong?" tanya Dinadra panik. "Ketika Monic mau ngejar Daniel... tiba-tiba mobil datang dan menabrak Monic, Ma. Bayinya enggak bisa diselamatkan... Monic keguguran," jawab Daniel dengan wajah tertunduk lesu. "Ya Allah, Daniel..." air mata Dinandra menetes mendengarnya. Pram menyapu pelan punggung Dinandra yang sedang menangis itu. "Udah Ma..." "Tapi... itu cucu kita, dasar Ardhan itu... kalo saja dia memberi restu maka tidak akan ada kejadian seperti itu bukan? Tunggu sebentar..." Dinandra tiba-tiba memperhatikan Daniel lebih dekat. "Ada apa, Ma?" tanya Daniel kemudian menjauhkan wajahnya. "Muka kamu kenapa? Kenapa ada lebam?" tanya Dinandra. Dengan cepat Dinandra menarik ke atas lengan hoodie yang dipakai oleh Daniel. Matanya membulat menemukan banyak lebam di tangan Daniel. "Niel... kamu dipukuli oleh siapa?" tanya Pram. "Katakan Niel? Ini pasti ulah Ardhan bukan? Dia pasti nyuruh orang buat gebukin kamu... sudah pasti," sela Dinandra. Daniel menunduk. Ia tak menjawab. Rasa sedih lebih kentara di wajah Daniel. "Bukan hanya itu, Ma... Pa... kecelakaan itu juga sudah membuat Monic hilang ingatan, dia sudah nggak ingat lagi dengan Daniel." Dinandra memeluk anaknya itu, menepuk-nepuk punggung Daniel dengan lembut. "Sudahlah, Nak. Mungkin itu adalah pertanda bahwa kamu harus melupakan apa yang sudah terjadi... jika suatu saat kalian berjodoh, kalian pasti akan bertemu lagi." "Iya, Ma... Daniel juga berpikir begitu. Allah pasti akan membantu Daniel... jadi untuk sekarang, biar Allah saja yang mengatur. Daniel sudah bersalah... dan sekarang Allah sudah mengambil semua dari Daniel," ucap Daniel pasrah. "Kamu harus jadi lelaki yang kuat, suatu saat kamu harus mengalahkan bisnis Ardhan," ucap Pram. "Iya, Pa... Daniel sekalian ingin minta ijin Mama dan Papa, Daniel mau pergi ke luar kota, mungkin menetap di bandung atau surabaya." "Kalau gitu kamu handle aja perusahaan papa yang di surabaya, gimana?" usul Pram. "Iya... bener, tapi skripsi kamu?" tanya Dinandra. "Sudah selesai kok, Ma... nanti sidangnya Daniel milih daring aja, biar bisa jarak jauh." "Oke... kapan kamu berangkat dong? Mama belum siapin bekal kamu, koper kamu..." bingung Dinandra. "Akhir pekan aja, Ma... biar mama ada waktu buat bekal dan lain-lain," jawab Daniel. "Baiklah..." "Kalo gitu kamu harus pelajari dokumen yang ada di ruang kerja papa, besok kita bahas dokumennya," sela Pram. "Baik, Pa..." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN