***
Anda :
Cha, hari ini sibuk nggak?
Icha :
Ga begitu sibuk sih, kenapa?
Anda :
Ketemuan bentar.
Icha :
Bisa, sehabis kelas terakhir.
Anda :
Oke, aku jemput nanti. Kabarin kalo dah selesai.
Icha :
Yup.
Victory menghela napas berat setelah memberanikan dirinya mengajak Icha bertemu hari ini. Pria muda itu sepertinya ingin membicarakan hal yang penting. Jari-jarinya sudah gatal ingin mengetikkan hal yang mengganjal di hatinya pada kolom chat w******p, namun pada akhirnya ia memilih sabar dan menunggu sampai ia bertemu dengan Icha nanti.
“Kali ini harus bisa dapat kepastian, jangan sampai digantung lagi dan lagi sama cewek…” ucap Victory menyemangati dirinya sendiri.
Victory menyesap jus jeruk di gelasnya hingga tandas, selanjutnya pria muda itu beranjak dari duduknya dan berlalu dari kantin fakultasnya.
***
Di kelas Icha sibuk dengan ponselnya sendiri, ia bersama Rere dan Ririn sebenarnya sedang membuat tugas akhir semester.
“Cha, kalo kayak gini… kamu aku centang kurang aktif aja deh…” ujar Rere ketika memperhatikan Icha.
“Iya nih, dari tadi sibuuuuukkk mulu sama hape… heran,” sela Ririn.
“Bentar… lagi bales chat aja,” jawab Icha.
Ririn mendecak. “Ck… Ck… Ck… pasti Victory kan?”
“Iya siapa lagi? Udah pacaran aja deh kalian…” tukas Rere.
“Sembarangan…” sela Icha sembari menoleh ke arah kedua temannya itu.
“Ya, habis kalian tuh… gimana ya? Ya gitu sih, mending jadian aja….”
“Nah… jangan lupa PJ!” seru Ririn.
“Ssshhh… diem bisa nggak sih, astaga… inget loh, ini di kelas… banyak orang jugak,” Icha mengedarkan pandangannya ke kiri dan ke kanan.
“Ya… makanya bantuin, biar kita nggak ribut,” tukas Ririn.
“Iya… iya…” Icha meletakkan ponselnya di atas meja kemudian mulai membantu kedua temannya itu.
“Nah gitu dooong…” ujar Rere ketika melihat Icha mulai menggunting kain perca.
“Emangnya, Victory kenapa? Kamu serius banget balesin chat dia…” tanya Ririn di sela-sela kegiatan mereka.
Icha menggeleng kecil. “Tau tuh, tiba-tiba ngajak ketemu sehabis kelas ini…”
“Udah lah, Rin. Paling juga mereka mau nge-date,” sela Rere.
“Wah… sirik banget maemunah! Jangan suudzon napa,” Icha terbahak.
“Bagusnya tuh jadian aja sih kalian… biar nggak bikin orang-orang pada penasaran,” tukas Ririn.
“Jadian… pala-mu! Udah-udah ayok kerjain tugas aja biar cepet kelar…” protes Icha sekaligus membubarkan pembicaraan mereka yang mulai menyebalkan.
***
Anda :
Cha, aku udah di depan.
Icha :
Iya, kelas baru aja kelar, tunggu bentar.
Anda :
Ok.
“Re… Rin… aku duluan, ya?” pamit Icha kepada dua sahabatnya itu.
Barang bawaan Icha lumayan banyak hari ini karena tugas akhir semester yang sudah masuk masa deadline.
“Oy… hati-hati, Cha!” seru Ririn, yang dibalas Icha dengan lambaian tangan.
Icha melihat mobil Vic terparkir di halaman fakultas kesenian. Icha pun bergegas mendekati mobil itu.
Melihat Icha yang menuju ke arahnya Victory pun keluar dari dalam Mobilnya dan membantu Icha dengan barang bawaannya.
“Hai, Cha!” sapa Victory.
“Hai… udah lama?”
“Nggak juga sih, belum setengah jam juga… udah makan?”
Icha menggeleng. “Belum sih… kamu?”
“Belum, yuk nyari makan,” ajak Victory.
“Oke,” jawab Icha singkat.
Victory membukakan pintu mobil untuk Icha, dan mereka berdua pun langsung pergi mencari sesuatu yang enak untuk dimakan.
Rere dan Ririn yang menyaksikan kepergian Icha pun tak habis pikir dengan Icha. Ia selalu bersama dengan Vic tapi tidak mau memperjelas hubungan.
“Heran deh sama Icha…” tukas Rere.
“Iya… sama, kenapa nggak jadian aja. Kan udah sering jalan bareng juga, makan bareng, semuanya bareng loh,” sela Ririn.
“Aku kira hanya aku yang merhatiin… ternyata kamu juga, hahaha…” Rere terbahak.
“Yeee… dasar, kamu kira aku nggak peka apa? Tapi jujur bingung banget sih… si Vic kan baik, kelihatan banget nggak sih kalo dia suka sama Icha?”
“Iya… emang, cuma Ichanya nggak tau deh,” sela Rere.
“Au ah, pusing. Ayok pulang….”
***
Karena tidak tahu mau makan apa, akhirnya kedua anak muda itu mampir ke mall. Mereka memilih makanan cepat saji saja biar tidak menunggu terlalu lama.
Dua puluh menit kemudian Pizza yang Icha dan Victory pesan muncul juga. Gadis itu terlihat sangat antusias dengan pinggiran pizza yang berisi keju.
“Pesanannya sudah semua kak?”
“Iya, kak… terima kasih,” ucap Icha pada si pegawai tempat makan itu.
Sepeninggal si pegawai tadi, Icha dan Vic langsung melakukan ritual sebelum makan, yaitu berdoa. Selesai dengan doa, Victory langsung mengambil pizza dengan pinggiran keju milik Icha.
“Heh!” protes Icha.
“Nggak boleh pelit!” sela Victory sembari menarik keju mozarella yang lumer dan memiliki kesan bisa ditarik hingga panjang itu.
“Salah sendiri enggak mesan yang pinggiran keju…” kesal Icha.
“Yaudah, satu aja nih,” bujuk Vic.
Selesai dengan makanan mereka, Icha hanya menyisakan minuman ice smootie yang masih ia minum sesekali.
“Cha, sebenarnya aku mau ngomong sesuatu,” Victory membuka percakapan serius.
Icha menoleh sembari menyesap Ice Smootie di gelasnya. “Hm? Ngomongin apa?”
“Soal malam itu…”
“Malam itu?” bingung Icha.
Mata Vic fokus pada Icha. “Iya… malam itu, sepulang dari grill house.”
“Uhukk! Uhukk!” Icha tersedak mendengarnya, padahal gadis itu sudah sangat berharap bahwa Vic tidak akan mengingatnya karena mabuk soju.
“Duh, hati-hati!” Vic sigap menepuk-nepuk punggung Icha.
“‘Maaf…” ucap Icha sembari mengelus dadanya pelan.
“Aku buat kamu tersedak, ya? Gara-gara ngomongin soal malam itu?”
“Ah, enggak juga. Hanya kaget aja sih…” sela Icha lalu mengelap bibirnya dengan tissue.
Vic meraih tangan Icha dan menggenggamnya dengan lembut, membuat Icha tersentak waspada namun tetap membiarkan tangannya dalam kehangatan genggaman Victory.
“Cha, apa arti ciuman malam itu?” tanya Victory setelahnya.
Icha terdiam, gadis itu hanya menatap kosong ke arah atas meja makan mereka.
“Cha… aku mohon, perjelas hubungan kita. Aku merasa digantung banget sama kamu,” ucap Victory dengan nada bingung.
“Aku sendiri juga bingung, Vic… aku masih enggak yakin jika harus membawa hubungan ini ke arah yang serius, ya… aku belum yakin,” jawab Icha.
“Cha… kamu udah jelas-jelas membalas ciuman aku, apa artinya itu?” pertanyaan Victory semakin menyudutkan Icha.
Icha menggigit bibirnya, ia bingung harus mengatakan apa pada Victory saat ini. Ia ingin sekali mengatakan kalau ia memiliki perasaan, namun kondisi mereka yang akan bertunangan sebentar lagi membuat Icha banyak pikiran.
Opini publik mengganggu pikiran Icha, pertunangan dua orang dari keluarga yang berekonomi luar biasa pasti memiliki opini yang menusuk hingga ke tulang. Icha juga tidak menyangka hal itu akan membuatnya sangat terganggu, tapi gadis itu selalu membayangkan dirinya di cibir oleh orang-orang karena pertunangan itu. Pertunangan bisnis, Icha tidak ingin mendengar hal itu. Ia ingin memiliki hubungan yang tidak disorot oleh publik, dan menurutnya pertunangan bersama dengan Vic ini sangat menunjukkan bahwa ia dan Vic hanya dijodohkan demi kerja sama bisnis kedua ayah mereka.
“Cha?”
Suara Victory menyadarkan Icha.
“Kayaknya… aku nggak bisa bahas hal ini sekarang. Kamu pasti nggak akan mengerti…” jawab Icha.
“Kalau kamu lari lagi dari pembicaraan ini, kamu bener-bener egosi, Cha!”
“Aku bingung jelasinnya! Itu aja! Kamu enggak bakal pernah ngerti sampai kamu jadi aku, Vic…” bentak Icha.
Victory terdiam. Ia menelan saliva berulang kali.
“Aku hanya ingin kejelasan, kalau kamu enggak kamu menjalin hubungan real maka aku bisa menunggu… tapi sekarang, aku hanya mau mastiin bagaimana perasaan kamu ke aku, itu aja cukup.”
“Aku… bohong, kalo aku bilang nggak suka sama kamu,” ucap Icha.
Vic yang mendengar hal itu pun langsung menoleh, matanya tampak berbinar.
“Tapi… aku belum bisa jalin hubungan, opini publik selalu membuat aku insecure.”
“Cha… enggak bisa kah kamu menepiskan anggapan publik? Kayak… bodoh amat gitu?”
“Enggak bisa… itu juga harga diri aku, siapa yang mau dikatai? Oooh… Icha dan Vic itu hanya karena bisnis, bentar lagi pasti udahan…” jelas Icha.
“Ya sudah, kalau gitu kita tunjukkan kalau kita bukan menjalin hubungan fake!”
Icha melepaskan peganggan tangan Vic. “Itu tidak semudah yang kamu katakan, Vic…”
Victory menghelas napas kasar, ia cukup frustasi menghadapi Icha.
“Vic, aku pulang duluan deh… kayaknya aku perlu waktu untuk banyak berpikir.”
“Biar aku anter…” tawar Vic.
Icha menggeleng singkat lalu tersenyum. “Enggak usah, aku butuh sendiri.”
“Baiklah… hati-hati di jalan,” Vic berdiri dari duduknya begitu pula dengan Icha.
Di detik selanjutnya, Vic hanya bisa memandangi punggung Icha yang perlahan menjauh dan menghilang di tengah keramaian mall.
“Icha… kamu benar-benar sulit dimengerti.”
***