Di halaman depan panti asuhan Zian kembali melihat ke arah panti asuhan. Senyumnya kembali merekah teringat dengan semua kenangan yang datang silih berganti. Dewi yang berdiri di sampingnya ikut tersenyum melihat ke arah panti asuhan. Waktu memang terus bergerak maju, namun kenangan akan kekal dalam ingatan. Seperti batu yang telah dipahat oleh ribuan kebahagiaan. Tak akan hancur oleh apapun kecuali waktu itu sendiri. Zian dan Dewi sudah berjanji akan selalu kembali ke panti jika mereka saling rindu dengan keadaan yang dahulu. Meski jarak memisahkan mereka, tapi ingatan justru menjadi jembatan yang akan mempertemukan mereka kembali. Ketika hati berkata iya maka tidak mungkin mulut berkata tidak. Seperti katamu padaku “Hati itu tak bisa dibohongi, jangan menyakiti perasaanmu sendiri. Kata

