Bab1.
Di bandar Soeharto seorang wanita bersama dengan ketiga anak kembar nya berjalan keluar dari bandara. Setelah pesawat mereka lepas landas dari Prancis.
"Ma, habis ini kita mau kemana ma?" tanya gadis kecil itu menyeret koper kecil milik nya.
"Mama udah menyiapkan apartemen untuk kita berempat jadi kalian harus berpegangan agar tidak memencar oke," Jawab wanita itu.
"OKE, MA!" serempak ketiga anak kembar nya.
Wanita itu mencari sahabat di lobi bandar.
"KIRANA!" panggil seorang gadis yang melambai kan tangan nya.
"Fera,"sahut Kirana menghampiri sahabat di depan pintu keluar bandara.
Ketiga anak tersebut saling tatapan mereka juga mengikuti mama dari belakang.
"Ya ampun Kirana udah lama banget sih kita gak jumpa," ucap Fera berpelukan dengan Kirana.
Kirana menyambut pelukan dari sahabat nya. "Iya gue juga kaget sama Lo, " sahut Kirana.
Fera berahli tatapan ketiga anak kecil berusia lima tahun di hadapan nya. "Kirana ini anak Lo ?" tanya Fera.
"Emmm mereka kembar tiga, anak tertua laki laki bernama Kenzo, laki laki satu lagi kenzi dan paling kecil gadis manis ku ini adalah Kanaya," ucap Kirana memperkenalkan ketiga anak kembar nya.
"Wah kembar triple ya Tan. " Fera mencubit gemas putri kecil Kirana.
"Ayo nak sapa Tante nya, " suruh Kirana.
"Hallo Tante, " sapa ketiga nya.
"Eh, nanti kita bicara kan lagi setelah sampai di apartemen yuk kita masuk kedalam mobil Tante yuk, " ajak Fera.
Fera membuka pintu mobil agar ketiga anak sahabat masuk kedalam dan tak lupa pula memasangkan sabuk pengaman.
Fera membantu Kirana memasukkan koper milik Kirana dan ketiga anak kembar nya.
Pintu bagasi mobil pun di tutup setelah semua koper di masukan. Fera dan Kirana masuk ke kursi depan mobil. Fera menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobilnya.
Sepajang jalan Kirana terus menatap arah luar jendela sekaligus menikmati pemandangan dari kota kelahirannya. "Ternyata setelah lima tahun tak banyak berubah, " gumam Kirana.
Seketika ingatan Kirana melesat mengingat kejadian malem kelam lima tahun yang lalu. Dimana saat dia berkerja sebagai cleaning servis hotel.
"Ran, Lo hutang penjelasan sama gue saat sampai di apartemen, kenapa alasan Lo menghilang secara tiba-tiba lima tahun lalu," ucap Fera masih fokus mengemudi.
"Emmm."
"Ma, kita akan tinggal di sini sekarang?" tanya girang Kanaya.
"Ya Nak, princess mama duduk dengan tenang oke, boleh lihat- lihat tapi tidak boleh lasak, " nasihat Kirana ke putri kecilnya.
"Oke ma," Jawab Kanaya yang sangat antusias melihat pemandangan kota.
Lain dengan hal kedua Abang nya Kenzo memilih bermain dengan hp nya sedangkan kenzi lebih tenang lagi yaitu molor alias tidur.
Kenzo memiliki sifat dingin dan datar dia lebih asik dengan dunia game nya di banding kan apa yang dilakukan Kanaya. Kenzo mengagap itu seperti anak kecil dia sangat membenci hal itu.
Tapi Kenzo sangat menyayangi kedua adik nya siapa saja membuat kedua adiknya dan mama menangis maka Kenzo tidak bakal mengampuni orang itu. Sebab itu Kenzo lebih dominan dalam menjaga kedua adiknya dan menjaga paling tertua.
Beda hal nya dengan Kenzi dia terbilang tenang, bijaksana dalam menyelesaikan apapun itu, jika Kenzo pribadi nya pemarah, kenzi pribadi pendiam.
Si paling kecil yaitu Kanaya dia anak tak pernah diam, periang, cerewet, ceria, pecicilan, dan gadis kecil yang lucu bagi kedua Abang nya dan mamanya.
Tak membutuhkan waktu yang lama Fera telah sampai membawa Kirana dan ketiga anak kembar di apartemen yang telah disiapkan oleh Fera.
"Nah kita sudah sampai," kata Fera membuka sabelet pengamanan mobil.
"Kirana gue ambil koper milik kalian oke ." Fera pun turut dari mobil menuju bagasi mobil.
"Kenzo, Kenzie, Kanaya kita sudah sampai ayo turun, " ajak Kirana.
"Zi, turun kita udah sampai, " ucap Kenzo mematikan tablet nya dan menepuk pipi adik kembarnya untuk bangun.
"Abang Kenzi kebo Mulu gak di pesawat, gak di mobil dan kemana mana aja molor Mulu. " cibir Kanaya.
"Iya iya bang gue bangun nih." Kenzi pun bangun dengan mata yang masih mengantuk.
"Kalian bawa koper masing-masing, " tintah Kirana.
"Gak usah RAN, kita biar gue bawa aja lihat tuh anak - anak Lo sampai capek gitu gue bawa dua Lo juga dua oke yukkk kita masuk," ucap Fera.
"Ayo Tante Kanaya ikut, " sambung Kanaya sangat girang mengikuti Fera yang telah jalan duluan.
"TARAAA!" Fera sudah membuka pintu apartemen nya.
Kirana memandang isi apartemen itu, begitu juga dengan si triple. "Bagaimana Ran apartemen nya bagus gak kalau menurut mu gak bagus besok gue carikan lebih nyaman lagi?" tanya Fera.
"Gak usah Fer ini sudah lebih dari cukup gue nyaman kok dengan apartemen ini pasti begitu juga dengan anak - anak Fer, " sahut Kirana.
"Syukurlah kalau gitu gue lega, oh iya ini dekat loh dengan sekolah jadi kalau si triple bisa di daftar gak jauh deh kalau ko jemput mereka sekolah," kata Fera.
"Thanks ya Fer Lo udah bantu banyak ke gue, " ucap Kirana.
" Gak ada ucapan terima kasih dalam persahabatan lagian gue ikut senang kok Lo menetap di negara ini lagi," ucap Fera.
"Oh iya ada yang perlu gue bantuin lagi gak nih ?" tanya Fera.
"Emm kayak gak ada sih gue lihat apartemen kayak udah dibersihkan sama pemilik sebelumnya deh jadi tinggal nyusun nih baju ke lemari aja," jawab Kirana.
"Emmm karena udah mau makan siang gue masak sekalian Lo jaga si ketiga bocah itu, " suruh Kirana.
"Oke." fera bergabung bersama ketiga anak kembar Kirana yang lagi asik nonton tv di ruang tamu.
Kirana pun menuju ke dapur untuk menyiapkan makan siang untuk sahabat nya dan ketiga anak kembar nya.
*******
Di sebuah rumah mewah dan megah terdapat tuan muda nan tampan yang banyak di kagumi dan di gila in oleh kaum hawa.
Kamar yang begitu luas mewah, elegan bersuasa gaya Eropa. Terdengar lenguhan kecil dari tuan muda tersebut.
Tuan muda itu menggulet - ngulet tubuh nya serta merenggang otot otot tubuh. Dia terduduk di kasur nya sambil menatap kolam renang di sebelah kamar nya.
Dia bangun dari tempat tidur nya lalu menggeser pintu kaca pembatas antara kolam renang dan kamar nya.
"FUUUUUUUUFFFFF." menarik nafas dalam-dalam lalu menghempaskan.
Tuan muda itu menghirup udara segar di pagi hari nya. Meregangkan otot- otot tubuhnya. Badan kekar sangat menggoda.