Tuan muda tersebut membuka pintu pembatasan antara kamar nya dan kolam renang. Di hirup nya dalam - dalam udara segar di pagi hari.
Tua muda tersebut meregang otot otot tubuh nya melakukan pemanasan lalu melakukan gerakan meluncur.
BYAAAAR
Dengan satu loncatan tuan muda itu berenang menyelusuri kolam renang. Tuan muda tersebut segera menyudahi renang nya. Dia naik ke atas kolam renang dan memakai jubah handuk.
Tuan muda tersebut masuk ke dalam ruang nganti. Dia ambil stelan jas, kemeja, dasi dan tak lupa jam tangan mahal nya.
Tuan muda tersebut segera bersiap berpakaian untuk pergi ke kantor.
Setelah selesai bersiap dia segera turun dari kamar nya. Dia segera menyambar jas yang tergeletak di kasurnya. Dia pun keluar dari kamar nya dan menuruni anak tangga.
Di meja makan para pelayan serta seketaris nya pun sudah menunggu di meja makan. "PAGI TUAN MUDA RAYMON!" sapa mereka semua.
"Emmm pagi," sahut Raymon singkat dan datar.
Pelayan itu memundurkan kursi agar Raymon muda untuk duduk. "Kim, kau tak sarapan?" tanya Raymon ke sekertaris nya.
"Terima kasih tuan muda tapi saya sebelum kesini sudah sarapan terlebih dahulu," tolak Kim dengan halus.
Raymond pun mengaguk dan dia melanjutkan sarapan nya.
****
Sebuah mobil sedan berjalan menuju sebuah perusahaan besar. Perusahaan itu bernama GROUP WINNER, perusahaan terbesar di negara A.
Sedangkan di perusahaan Grup WINNER sedang tergopoh-gopoh berlari menuju pintu masuk perusahaan. Dengan cepat mereka berbaris dengan rapi dan merapikan penampilan mereka.
Tiba lah Mobil sedan yang di tumpangi Raymon. Mobil itu berhenti dengan pas di pintu masuk. Kim keluar duluan dari mobil lalu membuka pintu mobil untuk Raymon.
Raymon keluar dari mobil sambil mengancing kan jas nya. Raymond berdiri tegak di depan pintu masuk.
"SELAMAT DATANG PAK CEO RAYMON!" sapa mereka yang berbaris di samping pintu masuk.
Raymond pun berjalan di tega- tegah sedangkan di samping jalan itu mereka masih menunduk. Di ikuti oleh Kim dari belakang. Lalu di sambung sana beberapa Stafa lain yang menyambut kedatangan Raymon.
Raymond berjalan menuju ke lantai ruangan nya. Semua karyawan kantor membungkuk kan badan saat berpapasan dengan Raymon.
"Begini Pak CEO kita telah meriset ulang tanah bakal di buat proyek baru perusahaan, tapi kita masih mencari Arsitek yang desain interior nya pas untuk proyek baru ini," jelas Kim.
Raymon memikirkan setiap penjelasan dari seketaris nya. Bahkan di life pun mereka tetap berbincang prihal proyek.
Raymond membuka pintu ruangan setelah keluar dari life. Dia duduk di kursi kebesaran nya. Kim tetap berdiri di hadapan Raymon. "Bikin di website perusahaan kita bahwa kita mencari Arsitek untuk proyek ini. Pastikan bagian HRD di berikan tahu ini, karena proyek ini harus segera di mulai tidak boleh tertunda untuk masalah sekecil apapun!" tegas Raymon.
"Baik Pak CEO," jawab Kim.
"Oh iya Kim gadis yang menghabiskan satu malam dengan ku lima tahun lalu ada info baru?" tanya Raymon.
"Emmm .." Kim tampak ragu untuk menjawab.
"Pak CEO saya sudah kerahkan semua koleksi kenalan kita bahkan saya juga menyewa peretas handle tapi sepertinya gadis itu seperti di telan bumi Pak CEO," jawab Kim dengan takut- takut.
Raymon mendesah kasar dia memijat keningnya yang terasa pening tiba- tiba.
"Cari sampai dapat gadis itu bagaimana pun caranya karena aku yakin dia pasti sudah melahirkan benih ku lima tahun lalu!" tintah Raymon.
"Baik pak saya laksanakan, kalau gitu saya izin untuk memberitahu HRD segera bikin pengumuman ini," pamit Kim.
Raymon pun memberikan izin ke Kim. Dia mengeluarkan sesuatu dari laci bawah meja. Sebuah Kalung dengan ukiran inisial huruf K.
"Dimana kamu saat ini gadis one night ku. Ah bakal ku cari kau sampai perlu ke lubang semut sekalipun," ucap Raymon sambil memandang kalung yang dia pegang.
Sedangkan di tempat lain Kirana dan Fera berada di terasa apartemen. Kirana membawa kan kopi dua gelas untuk mereka. "Ini kopi untuk Lo Fer," tawar Kirana menyodorkan segelas kopi buatan nya.
"Thanks." Fera mengambil kopi dari tangan Kirana.
"Oh iya anak - anak mama Fer?" tanya Kirana.
"Tidur mereka setelah gue jadi korban dari kejahilan mereka," canda Fera.
"Kayak yang lasak banget anak gue cuman Kanaya deh sedangkan Kenzo dan Kenzi anak nya tenang aja," ucap Kirana dengan wajah cengok nya lalu memicingkan mata ke arah Fera.
"Hehehehe gue becanda, RAN," cengir Fera.
"Ran, sorry jika pertanyaan gue bikin luka lama Lo kembali tapi gue masih penasaran loh sama Lo tiba tiba hilang begitu aja," ucap Fera.
"Huff seharusnya gue gak bakal kembali ke negara ini," kata Kirana memadang pemandangan di atas teras.
"Ya udah kalau gak mau cerita gue gak masak kok asal kan Lo kembali lagi." Fera memeluk Kirana.
"Gue takut Fera, jika laki laki itu menemukan gue dia bakal merebut mereka bertiga dari gue. Gue gak sanggup jika harus kehilangan anak kembar gue Fer, mereka dunia gue sekarang. Jujur aja waktu kejadian malam itu hampir membuat gue depresi tapi Tuhan mengirimkan mereka bertiga untuk jadi alasan gue bertahan hidup," kata Kirana menatap nanar ke depan.
"Terus kenapa Lo kembali ke sini RAN, jika kau takut bertemu dengan Laki laki itu?" tanya Fera.
"Masalah pekerjaan jika gue gak kesini gue bisa kehilangan pekerjaan gue," jawab Kirana dengan kesal.
"Ini Lo mau cerita gak?" tanya Fera dengan hati hati," sekedar curhat gitu." sambung nya.
"Emmm gue mau biar hilang sedikit beban gue," jawab Kirana.
"Oke gue dengerin," ucap Fera.
"Waktu itu kita masih kuliah di tahun terakhir semester terakhir mau Wisuda. Gue berkerja keras untuk memenuhi kebutuhan gue dan biaya kuliah. Meskipun gue dapat biayasiswa tapi itu tak bisa menutupi biaya yang lain nya."
"Gue cari perkejaan tambahan saat Lo nawarin gue berkerja sebagai clining servis." Kirana mengigat kejadian lima tahun lalu dia menceritakan ke Fera semua nya.
LIMA TAHUN LALU.
Kirana keluar dari kelas dengan lesuh dan tak bertenaga. "Huuuf ." helaan nafas panjang keluar dari mulut Kirana.
Kirana duduk di taman bangku Kampus. Dia terduduk sambil memikirkan beban masalah yang kini menyerang nya.
"Gimana cara gue cari uang tambahan," gumam Kirana memompa dagu nya dengan kedua tangannya.
"Kiiiiranaa!" panggil seorang gadis dengan suara yang cempreng.
Kirana menutup telinga dengan sepontan. "Bisa gak sih kalau manggil itu gak usah teriak bising tahu bikin sakit kepala aja," ucap Kirana mengendus kesal dan sebal.
BERSAMBUNG