Bab 62

1041 Kata

Pagi hari menjelang, matahari mulai merangkak naik perlahan menembus sisa-sisa badai semalam. Di dalam gubuk tua yang reyot, Samuel masih tertidur bersandar di dinding, sementara Selena duduk tak jauh darinya, memandangi wajahnya dengan penuh perasaan. Rambut Samuel agak berantakan, napasnya pelan, wajahnya tenang meski semalam ia terluka cukup parah. Selena menghela napas. Hatinya berkecamuk. Semalam, ketika ia merawat luka Samuel, perasaan yang lama ia abaikan perlahan muncul ke permukaan. “Aku… aku nggak tahu gimana harus ngomong ini, Sam,” bisik Selena pelan, menatap Samuel yang tertidur. “Tapi… kamu udah jadi orang penting buat aku.” Air mata Selena mulai menggenang. Perlahan, ia meraih tangan Samuel yang masih diperban seadanya. “Semalam aku takut banget, Sam. Tapi kamu datang… ka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN