Tuan ... tuan Lucia ... jangan tinggalkan saya. Buka mata anda, tuan. Kata-kata pertama yang merasuki gendang telinga Lucia begitu pria itu berada diambang antara hidup dan matinya. Seseorang yang memohon agar dirinya membuka mata disertai isak tangis orang itu yang terdengar tulus dan memilukan. “Apa aku sudah mati?” tanya Lucia pada dirinya sendiri. Dia merasa tubuhnya begitu lemas dan rasa sakit nyaris bersemayam di sekujur tubuhnya. Tuan Lucia buka mata anda. Jangan tinggalkan saya, tuan. Harus pergi kemana saya jika anda tiada? “Jeros.” Suara itu memang milik pelayan setianya, Jeros. Lucia tahu persis dan tak mungkin salah mengenali. Dengan gerakan pelan dan amat berat, dia membuka matanya. Menyipitkan mata saat cahaya mengenai indera penglihatannya. Dia menolehkan kepala, b

