Keluarga Gunawan.

2006 Kata
Selagi makan malam sambil membahas masalah persiapan pernikahan. Mereka kedatangan tamu. Sebuah keluarga kecil terdiri dari orang tua dengan sepasang anak laki lain dan perempuan tiba. Anak perempuan kira kira berusia 3 tahun langsung menghambur dan memeluk Mama Sarah sambil memanggil Popo. Diikuti oleh wanita yang menggendong bayi kecil langsung menyapa Papa dan Mama. Sang pria pun ikut menyapa Papa dan Mama. Tidak lama kemudian 2 baby sitter ikut masuk. Si balita 3 tahun kemudian mengurai pelukan dari Popo nya. Beralih ke Papa Budiman dan memeluk sambil memanggil Kong Kong. Keluarga kecil yang baru tiba ini adalah keluarga Karen putri dari Mama Sarah dan Papa Budiman. Nama lengkapnya Karenina Gunawan. Suaminya bernama Thomas Tan. Biasa dipanggil Tomi. Balita 3 tahun bernama Adelia Putri Tan. Sedangkan bayi mungil yang digendong bernama Little Thomas Tan. Karen merupakan adik perempuan Erick. Malam ini Papa dan Mama menyuruhnya beserta keluarga untuk datang ke rumah agar diperkenalkan dengan Kiranti. Mama dan Papa kemudian memperkenalkan mereka satu per satu kepada Kiranti. Kiranti pun balas memperkenalkan diri sendiri kepada mereka. Karen yang merasa senang dengan Kiranti menyerahkan bayinya kepada Baby sitter. Kemudian dia pun memeluk Kiranti. "Cantik sekali Aso ku." puji Karen. "Kamu juga cantik." balas Kiranti. "Aku uga mau dibilang antik." celetukan cadel Adel terdengar. "Eh iya kamu juga cantik." kata Kiranti membelai kepala Adel. "Muahh pipi long." kata Adel. Adel ingin pipinya dicium Kiranti. Belum sempat Kiranti memenuhi permintaan Adel. Erick tiba tiba sudah menggendong Adel. "Ku ku Awen yang cium sajalah." kata Erick. Setelah itu langsung mencium gemas pipi Adel. "Ndak. Ku Ku dak oleh ium." sahut Adel sambil meronta. Adel berusaha melepaskan diri dari gendongan Erick. Yang lain tersenyum melihatnya. 'Siau Ku yang ium aja ya?" kata seseorang tiba tiba. Karena perhatian semua orang terfokus pada Erick dan Adel. Mereka tidak menyadari seseorang masuk ke ruang makan. Semua menoleh ke sumber suara. "Pa, Ma, A To pulang." kata si pria bernama A To. Kemudian memeluk Mama dan Papa. "Baguslah kamu pulang. Kami kira kamu tidak sempat pulang ke sini." kata Mama. "A To bela belain pulang lho Ma." balas A To. "Hallo Ko Awen , Ce Karen, Ko Tomi." sapa A To. A To berbalik menoleh ke arah Kiranti. Dia pun mengulurkan tangan. "Kamu calon Tua So ku? Kenalkan nama ku Feryanto Wijaya Gunawan. Adik Ko Erick dan Cece Karen." kata Yanto alias A To. Kiranti menjabat tangan Yanto. "Saya Kiranti Lestari calon istri Om Erick." ujar Kiranti. Sebenarnya Kiranti masih belum mengerti sebutan atau panggilan dalam keluarga Tionghoa. Dapat dimaklumi karena dia tidak pernah kenal dengan keluarga keturunan Tionghoa sebelumnya. Bagaimana cara penempatan posisi panggilan. Semua berbeda tergantung posisi individu di keluarga. Kiranti perlahan lahan mesti mempelajarinya. Agar tidak salah memanggil di kemudian hari. Erick menurunkan Adel dari gendongan nya. Dia segera menarik tangan Kiranti yang sudah lama bersalaman dengan Yanto. Yanto yang terpesona oleh kecantikan Kiranti lupa melepaskan jabatan tangannya. Erick tentu saja tidak suka dengan itu. "Jangan kelamaan salamannya. Ini calon istriku." ujar Erick. Kelihatannya si Om cemburu. Padahal itu salaman tangan perkenalan. Papa, Mama dan lainnya hanya bisa geleng kepala melihat tingkah laku Erick. "Sabar Ko Awen. Aku hanya mengagumi kecantikan calon A So ku. Tidak ada maksud lain." jelas Yanto mencoba menenangkan emosi Erick. Tentu saja Yanto tidak punya maksud apa apa. Selain Erick adalah Koko nya. Yanto juga sudah punya kekasih sendiri. Ada alasan lain yang membuat Yanto terpana. Dan itu bukan cinta. Setelah situasi mulai tenang. "Ayo semuanya kita makan dulu." ajak Papa. Papa memang bermaksud melanjutkan acara makan malamnya yang tertunda karena kedatangan keluarga Karen dan juga Yanto. Semuanya pun mulai mengambil posisi duduk di meja makan. Adel tiba tiba ingin duduk bersama Kiranti. "Aku dudu ama ante." katanya. Maklum anak kecil ketemu sesuatu yang baru tentu membuatnya penasaran. Kiranti tentu saja bersedia. "Sini tante pangku." ajak Kiranti. "Bukan tante sayang. Panggil A Kim." kata Karen. "A Kim." sahut Adel. "Bagus. Anak baik. Sana sama A Kim." kata Karen mengijinkan Adel bersama Kiranti. Adel pun duduk di pangkuan Kiranti. Makan berdua sepiring. Kiranti menyuapi Adel. Kemudian menyuapi diri sendiri. Begitu terus bergantian. Erick menjadi cemburu karenanya. "My baby, besok kita makan berdua sepiring suap suapan gitu dong." kata Erick kepada Kiranti. Ada ada saja si Om. Cemburu sama keponakan berumur 3 tahun hanya karena sepiring berdua. Kiranti menatap si Om. Sedikit kesal sebenarnya. Tapi mengiyakan permintaan si Om yang menurutnya sedikit kekanakan. Mereka kemudian melanjutkan makan malam tanpa perbincangan lagi. Setelah makan malam. Semua berkumpul di ruang tamu. Mereka mulai saling bercerita mengenai diri mereka untuk lebih saling mengenal. Terus terang Erick dan Kiranti pun belum terlalu saling mengenal. Mereka kan baru bertemu kurang lebih seminggu. "Kak Kiranti. Maaf aku belum bisa memanggilmu A So. Sampai kalian resmi menikah. " kata Yanto. "Tidak apa apa. Panggil saja yang menurutmu nyaman." sahut Kiranti. Kiranti duduk memangku Adel. Entah kenapa Adel sangat suka kepada Kiranti. Menempel terus semenjak makan tadi. Kiranti tentu saja tidak keberatan. Entah mengapa dia merasa sangat menyukai anak tersebut. Seolah olah sudah kenal lama. "Berapa umur Kak Kiranti? Sepertinya masih seumuran denganku." tanya Yanto. "19 tahun. hari minggu minggu depan." jawab Kiranti. "Hah pas barengan sama hari pernikahannya dong?" tanya Karen. "Iya. Ce Karen." jawab Kiranti. Entah takdir Tuhan membuat hari ulang tahun ke 19 sekaligus menjadi hari pernikahannya. "Panggil saja Karen. Kamu akan segera menjadi A So ku. Walau aku lebih tua secara umur. Aku 28 tahun saat ini. Dan untuk sementara sama seperti Yanto. Aku akan memanggilmu Kiranti. Biar kita lebih akrab." kata Karen. "Aku 22 tahun. Kiranti tahu umur Ko Awen?" tanya Yanto. "Tidak tahu sih. Aku kira hampir 40an waktu pertama kali jumpa. Sekarang mungkin pertengahan 30an. 35 atau 36 gitu. Soalnya Om Erick tidak pernah kasih tahu aku." ujar Kiranti. "Awen sekarang 32 tahun hampir 33 tahun. Belum sampai 35 lah. " ucap Mama Sarah. "Kok bisa kamu tidak tahu umur ko Awen? Padahal sebentar lagi nikah loh." tanya Tomi ikut serta dalam pembicaraan. "Kami baru berjumpa seminggu. Jadi aku belum sempat memberitahu umurku." jawab Erick. "Kalian baru berjumpa seminggu tapi mau menikah minggu depan. Salut aku." kata Yanto. "Gimana ceritanya bisa ketemuan gitu terus seminggu kemudian sudah memutuskan nikah." tanya Karen penasaran. "Kami bertemu di klub malam Artificial Club." jawab Kiranti jujur. "Koko ke klub malam ngapain? Cari jodoh? Setahu aku Koko anti ke klub malam." tanya Yanto. "Ada undangan dari teman. Tidak bisa ditolak." jawab Erick. "Terus Koko Awen jumpa Kiranti di sana? Kiranti kenalan dari teman koko? " tanya Karen. "Bukan. Aku salah satu wanita di klub malam." jawab Kiranti. "Kamu wanita pengh*b*r di sana?" tanya Yanto. "Calon wanita pengh*b*r. Koko mu menebusnya 500 juta sebelum dia sempat jadi wanita pengh*b*r." jawab Papa Budiman. "Wow Koko Awen beli calon istri 500 juta." celetuk Karen. "Lebih dong. Uang dan barang seserahan lamarannya hampir 2 milyar lho." kata Erick. "Mantap Ko." kata Tomi. "Sesuai dengan berlian yang kita dapatkan." kata Mama Sarah. "Kok bisa Ko Awen tiba tiba mau menebus Kiranti 500 juta?" tanya Yanto. "Aku tidak tahu kenapa Om Erick mau membeli aku seharga 500 juta." kata Kiranti. "Karena Kiranti lebih berharga daripada 500 juta. Jujur aku jatuh cinta pada pandangan pertama malam itu." jawab Erick. Waduh Om Erick menyatakan cinta secara tidak langsung. Oh ternyata Om Erick langsung jatuh cinta padaku. Pantas dia mau bayar tebusanku batin Kiranti. "Cieee yang jatuh cinta." goda Karen. "Terus Kiranti juga cinta tidak sama Ko Awen?" tanya Yanto. "Aku tidak tahu tanya Kiranti saja." jawab Erick. Semua pandangan terarah kepada Kiranti. Kiranti pun bingung dan gugup mesti menjawab apa. Setelah menenangkan diri. Dia pun menjawab. "Aku belum tahu tentang perasaanku terhadap Om Erick. Aku merasa nyaman. Aku merasa terlindungi dekat dengannya. Tapi aku belum berani bilang apakah itu cinta." jawab Kiranti jujur. "Tapi waktu Ko Awen melamar kamu terima kan?" tanya Karen. "Awalnya aku ingin menolak karena baru kenal. Tapi suara hatiku menyuruh untuk menerima. Entahlah aku bingung. Jadi aku terima lamarannya. Dan aku tidak menyesal." jawab Kiranti. "Baguslah kamu berani berkata jujur. Selamat datang di keluarga Gunawan." sambut Papa Budiman. "Terima kasih semuanya. Telah mau menerimaku sebagai bagian keluarga ini." ujar Kiranti. "Apakah kalian akan menginap di sini malam ini?" tanya Papa kepada Karen dan keluarganya juga kepada Yanto. "Aku tidak masalah." jawab Yanto. "Ko Tomi mau nginap?" tanya Karen kepada Tomi. "Kalau kamu mau. Aku ok saja." jawab Tomi. Malam itu mereka pun menginap. Mama menyuruh Mbak Sri dan Mbok Mirna membersihkan kamar mereka sebelum ditempati. Karen dan Yanto tentu saja punya kamar sendiri di rumah ini. Sedangkan Adel akan tidur di kamar tamu. Tapi rupanya Adel request tidur bareng Kiranti. Saking sukanya Adel sama Kiranti. Padahal baru pertama kali jumpa Kiranti. Sampai Karen pun merasa segan. Takut mengganggu privasi Kiranti. Namun Kiranti dengan senang hati menyetujui permintaan Adel. "Aku juga mau dong tidur bareng Kiranti." kata Erick tiba tiba. "Kita belum nikah Om." sahut Kiranti. "Siapa yang suruh kamu tidur bareng Kiranti?" tanya Mama Sarah marah. "Iya deh. Tidur sendiri peluk guling lagi. Nasib nasib." celoteh Erick. "Tidak sabaran banget sih kamu Wen. Paling hanya nunggu sepuluh hari lagi. Sabaran dikit dong." kata Papa Budiman. "Iya Pa. Selamat tidur semuanya." Malam itu Kiranti tidur di kamar barunya di rumah utama. Walaupun tadi pagi dia sempat menggunakan sebentar buat berbaring. Kiranti masih tetap terkagum melihat kamar yang ditempatinya sekarang. Bermimpi saja dia tidak pernah, akan tidur di kamar yang mungkin seukuran rumahnya di desa. Kamar mandi di dalam saja lebih luas daripada kamarnya di rumah desa. Ada bathtub pula seperti di hotel hotel mewah. Dalam kamar pun fasilitas lengkap. Ada sofa buat santai. Ada televisi. Ada dispenser air. Ada kulkas kecil. Ranjang ukuran besar padahal dia hanya sendirian. Kecuali malam ini bersama Adel. Asli mewah kamarnya. Terasa beda dengan apartermen Om Erick. Beginikah kamar para orang kaya. Walau menganggap ini mimpi setidaknya Kiranti pernah merasakan sekali. Begitulah pikiran Kiranti saat ini. Setelah menyikat gigi dan berganti piyama tidur. Dia pun mengajak Adel untuk segera tidur. Adel dengan patuh menuruti ajakan Kiranti. Adel pun terlelap dalam pelukan Kiranti. Dan Kiranti pun menyusul tidak lama kemudian. Sementara di kamar lain. Si Om gelisah kesulitan tidur. Sudah berkali kali membolak balikkan badan. Mencari posisi senyaman mungkin tetap tidak bisa tidur. Rasa candu akan aroma tubuh Kiranti sebelum tidur sungguh menyiksanya. Akhirnya dia memutuskan keluar kamar. Jam di dinding menunjukkan 23.15. Belum terlalu larut memang. Dia menuju sofa santai di lantai 2. Terlihat Yanto duduk sambil mengerjakan sesuatu di laptopnya. Sepertinya skripsi nya. 'Masih sibuk?" tanya Erick. "Iya ko. Ngerjain skripsi nih. Koko sendiri belum tidur? Besok harus kerja lho." tanya Yanto balik. "Belum bisa tidur." jawab Erick. "Kenapa?" tanya Yanto. "Belum menghirup aroma tubuh Kiranti sebelum tidur. Biasanya kan dia tidur bersamaku." kata Erick keceplosan. "Jadi benar kata A Hui kalau kalian tidur bersama? Sampai main kuda kudaan segala?" tanya Yanto sambil terus mengetik. "Tidur bersama iya. Main kuda kudaan hanya salah paham." sahut Erick. "Salah paham gimana?" tanya Tomi yang tiba tiba muncul. "Kamu belum tidur Tom?" Erick malah balik bertanya. "Sudah tadi terbangun gara gara si little sedikit rewel. Ini habis bobokin dia, aku yang susah tidur lagi." jawab Tomi. Memang resiko punya bayi. Ada kalanya larut malam terjaga. Karena Bayi lapar, buang air, atau merasa tidak nyaman. "Ko. Jawab tuh salah paham gimana. Aku juga penasaran nih." todong Yanto. Erick pun menceritakan kejadian mulai dari awal menaburkan obat tidur sampai pagi terpergok Ai Farah dan A Hui. Terus Mama datang dan mereka ke rumah utama. Tidak lupa juga sidang dari Mama dan Papa. Sampai akhirnya dipaksa segera menikah. Yanto dan Tomi mendengarkan sambil tersenyum menahan tawa. Lucu memang jebakan yang dibuat malah membuat jatuh diri sendiri. "Makanya jangan suka iseng Ko." tegur Tomi dan Yanto bersamaan. Keduanya lalu tertawa kecil. "Tidak apa apa sih kan dapat bonus segera nikah." sahut Erick sambil tertawa pelan. Ketiga nya pun berbincang hangat sebentar sampai pukul 00.30 tengah malam. Yanto mematikan laptop memutuskan untuk tidur. Erick dan Tomi pun bergegas masuk kamar masing masing. Obrolan ringan tadi membuat mereka rileks dan santai. Memancing rasa ngantuk. Sehingga memutuskan untuk tidur. Tidak lama kemudian semua terlelap dalam mimpi indah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN