Kiranti bangun di hari masih gelap menjelang pagi. Setelah melepaskan pelukan Adel. Dia turun dari ranjang. Setelah membersihkan diri. Dia turun ke bawah ingin membuat sarapan. Dia ingin sarapan bubur ayam pagi ini. Segera menuju dapur. Mbok Mirna, Mbak Sri dan beberapa asisten rumah tangga lainnya ternyata sudah di dapur. Sebagian sudah mulai bersiap memasak sarapan pagi. Yang lain mulai membersihkan rumah. Kiranti ingin bergabung memasak sarapan pagi. Keinginan dia adalah memasak bubur ayam.
Tentu saja Mbak Sri yang kebagian tugas memasak pagi ini, awalnya melarang Kiranti.
"Maaf Nona. Sebaiknya Nona sampaikan saja keinginan Nona. Kami akan menyiapkannya untuk anda." kata Mbak Sri.
"Nyonya akan memarahi kami jika membiarkan Non Kiranti yang merupakan tamu memasak." kata Mbok Mirna.
"Panggil saja saya Kiranti. Rasanya tidak enak dipanggil dengan sebutan Nona." sahut Kiranti.
"Maaf Non Kiranti. Sudah kewajiban kami memanggil tamu seperti anda dengan sebutan Nona." kata salah satu asisten rumah tangga lainnya.
"Boleh saya tahu nama Mbok? Saya hanya kenal Mbok Mirna dan Mbak Sri saja. Tentunya saya ingin kenal semuanya." kata Kiranti.
"Nona Kiranti nama kami tidaklah penting untuk Nona. Nona boleh panggil Mbok atau Mbak atau Bibik. Terserah Nona saja." jawab si asisten rumah tangga.
"Kasih tahu dong nama semuanya. Soalnya kalau saya panggil Mbok, Mbak atau Bibik entar semua pada lihatin." kata Kiranti.
"Baiklah. Nama saya Rima. Panggil saja Mbok Rima." kata Mbok Rima.
Yang lain pun mulai memperkenalkan diri sendiri. Setelah selesai mereka melanjutkan kembali tugas mereka.
"Nah gitu dong. Biar saya bisa mengenal semuanya." ujar Kiranti senang.
"Saya mau masak bubur ayam sekarang. Mbak Sri bantuin ya." lanjut Kiranti.
"Tapi Non. Sebaiknya saya yang masak saja. Nona tunggu saja.' kata Mbak Sri menolak.
"Tidak mau. Saya mau masak sendiri. Biar begini saya jago masak lho." kata Kiranti memaksa.
Kiranti pun mengambil celemek dan memakainya. Terus mulai mengambil panci. Meminta beras kepada Mbak Sri. Soalnya Kiranti belum tahu letak wadah beras. Mbak Sri mengambil beras. Kiranti memperhatikan tempat Mbak Sri mengambil beras dan mengingatnya. Mbak Sri mencuci beras. Sedangkan Kiranti membuka kulkas mencari daging ayam. Sekalian mengambil bahan bahan yang diperlukan lainnya. Kiranti pun mulai memasak. Dimulai dengan bubur nya. Kemudian bersiap membuat ayam goreng dimulai dari meracik bumbu terus membaluri ayam dengan bumbunya. Ditunggu meresap dulu. Sambil menunggu Kiranti mempersiapkan bahan lainnya. Berjibaku selama hampir satu jam dibantu Mbak Sri. Bubur ayam pun siap.
Papa dan Mama turun dari lantai 2. Disusul Erick. Kemudian pasangan Karen dan Tomi. Yang terakhir Yanto. Semua sudah rapi. Karena setelah sarapan biasanya segera berangkat kerja. Kecuali Yanto yang berangkat kuliah. Mama dan Papa tinggal di rumah. Mereka sudah menyerahkan tugas perusahaan pada Erick, Karen dan Tomi. Adel dan Little masih terlelap. Tiba tiba Adel keluar kamar sambil menangis.
"Onty ilang. Adel tinggal." tangis Adel.
Karen segera menghampiri Adel. Kemudian menggendongnya.
"Tuh A Kim. Di sana lagi bikin mamam buat Adel. Adel mau mamam? A Kim yang masak lho." bujuk Karen menenangkan Adel. Adel diam melihat ke arah Kiranti. Terus menganggukkan kepala. Tanda mau makan.
"Mauuu tapi diuap Kim." kata Adel.
"Disuap Mbak Sus aja ya." tawar Karen.
"Dak mau. Kim uap." kata Adel memaksa dengan manja
"Ya sudah Ce Karen. Saya suapin saja." kata Kiranti.
Kiranti telah selesai menyajikan beberapa mangkok bubur ayam di meja. Mama Sarah kelihatan bingung.
"Kiranti kamu yang masak bubur ayam ini?" tanya Mama Sarah.
"Iya Ma." jawab Kiranti.
"Harusnya kamu minta Mbok Mirna atau Mbak Sri saja yang masak. Apa mereka tidak melarangmu tadi?" tanya Mama lagi.
"Mereka melarang tapi Kiranti yang memaksa. Kiranti ingin memasak sendiri." jawab Kiranti.
Kiranti menjawab pertanyaan Mama sambil menyuapi Adel.
"Sudahlah Ma. Ayo dimakan buburnya nanti dingin tak enak lho." pungkas Papa.
"Ini enak lho Ma. Ko Awen dapat istri koki handal nih." celetuk Yanto.
"Betul Ma. Bubur ayamnya enak banget." timpal Tomi.
Erick hanya memperhatikan sambil terus menikmati bubur ayamnya. Sebenarnya dia lebih suka sarapan mi, bihun, kwetiau atau roti. Awalnya dia ingin meminta Mbok Mirna membuatkan roti oles selai. Tapi karena tahu bubur ayam buatan Kiranti. Dia pun berubah pikiran. Malah makan dengan lahap tanpa ikut perbincangan yang lain.
"Ko Awen benar benar menghayati masakan istrinya tuh." celetuk Karen.
Erick berhenti makan sebentar.
"Habis enak sih. Lebih enak lagi kalau disuap seperti Adel." kata Erick sambil tertawa kecil.
"Huh maunya tuh." sahut Kiranti sedikit manyun.
Yang lain pun tertawa kecil. Pagi yang ceria untuk memulai hari. Penambah semangat sebelum kerja.
"Kiranti, tidakkah kamu ingin kuliah? Kalau kamu ingin, aku carikan informasi waktu penerimaan mahasiswa baru di kampusku." tawar Yanto tiba tiba.
"Ide bagus tuh." kata Papa.
"Terserah Kiranti. Aku tidak masalah." kata Erick.
"Benar boleh Om" tanya Kiranti.
"Bolehlah." jawab Erick.
"Baiklah aku carikan infonya nanti." kata Yanto.
Mereka pun selesai sarapan. Sementara Adel yang sudah kenyang. Masih menyisakan setengah mangkok bubur ayam. Kiranti tanpa ragu menyantap bubur sisa Adel. Mama Sarah sedikit terkejut.
"Itu kan sisa Adel!! Ambil yang baru saja Kiranti." tegur Mama Sarah.
"Tidak apa apa Ma. Sayang kalau dibuang." sahut Kiranti.
Lagi asik menyantap bubur. Kiranti dipanggil Erick agar mendekat ke arahnya. Kiranti pun mendekat dengan dahi berkerut. Dia bingung apa yang diinginkan si Om. Tiba tiba saja tangan kiri Erick merangkul pinggang Kiranti.
Tangan kanan Erick memegang belakang kepala Kiranti. Dan Erick pun menyarangkan sebuah kecupan singkat di dahi Kiranti. Yang lainnya terkesima melihat pemandangan tersebut. Sementara Kiranti hanya terdiam. Membelalakan mata. Beberapa saat kemudian dia tersadar.
"Belum nikah kita Om." protes Kiranti.
"Hanya kecupan kok. Bye sayang." balas Erick santai sambil mengedipkan mata.
Erick pun buru buru masuk ke dalam mobil. Kemudian berlalu dengan mobilnya sebelum Kiranti marah.
###
Dalam perjalanan ke kantor. Hati Erick berbunga bunga. Dia sangat senang berhasiil mengecup kening Kiranti sebelum berangkat kerja. Seperti film film drama yang kadang kadang dia tonton. Walau diprotes Kiranti. Serta diiringi tatapan marah Papa dan Mama. Masa bodohlah. Yang penting misi sukses saat ini.
Sampai di gedung kantor. Dari kejauhan dia melihat seorang wanita berdiri di lobby kantor. Kelihatan sedikit bersitegang dengan resepsionis. Setelah memastikan sejenak siapa wanita tersebut. Erick memutuskan untuk masuk kantor lewat pintu belakang gedung. Dia berusaha menghindari wanita tersebut. Berlari sambil melihat lobi dan jalan di depan. Akhirnya dia sampai di tempat aman yang tidak terlihat dari lobby kantor. Dia mengatur nafas dan melanjutkan langkah ke dalam gedung melalui pintu belakang gedung kantor.
'Br*ngs*k. Ngapain lagi Bella nyari aku?' gumam Erick.
Bella merupakan mantan tunangan Erick. Erick sudah membatalkan tunangan bertahun tahun lalu. Tapi sepertinya Bella masih tidak terima diputuskan. Masa bodohlah. Jalan sendiri sendiri sekarang. Erick segera mengeluarkan gadget nya begitu berasa di dalam gedung. Dia menelepon Dion.
"Hallo Dion. Tolong urus wanita di lobby kantor. Tanyakan keperluannya. Kalau urusan pekerjaan dengan perusahaan lain, tolong kamu yang urus. Kalau masalah pribadi usir saja." perintah Erick melalui telepon.
"Baik Pak. Segera saya urus." balas Dion.
Sebagai asisten pribadi 2 Erick sudah biasa dia menangani hal seperti ini. Dan di kantor sama seperti Bayu kakak kandungnya. Dia memanggil Erick dengan embel embel Bapak. Profesionalisme kerja. Sementara di luar kantor atau di luar jam kerja. Dia akan memanggil Erick dengan sebutan Ko Erick atau Ko Awen.
Erick segera naik lift menuju lantai tempat ruangannya berada. Setelah membalas sapaan Rina. Kemudian dia menanyakan jadwal kerja hari ini. Setelah itu masuk ke dalam ruangannya. Ada janji rapat dengan klien jam 10 dan diperkirakan butuh 2 jam. Berarti saat ini dia harus mengerjakan dokumen. Jam 2 Erick akan pulang. Dia telah berjanji untuk melakukan pesanan pakaian pengantin jam 3 sore. Dia berencana langsung ke butik tersebut. Sedangkan Kiranti akan ditemani Mama Sarah dan Papa Budiman.
Dalam melakukan pekerjaannya. Pikiran Erick terganggu oleh kehadiran Bella di lobby tadi. Walau tidak bertemu langsung. Dia tahu Bella adalah sosok yang jauh lebih berbahaya daripada Rossa mantan kekasihnya. Bella memang mantan tunangan Erick. Tapi Erick tidak pernah mencintai Bella. Pertunangan hanyalah paksaan dari NaiNai Erick.
Treerrrrttttt.
Treerrrrttttt.
Bunyi panggilan telepon masuk ke handphone Erick. Erick melihat layar. Ternyata panggilan dari Dion.
"Ya, ada apa Dion?" tanya Erick sewaktu menerima panggilan dari Dion.
"Pak Erick, wanita tadi sudah berhasil kami usir." lapor Dion.
"Bagus. Pesan kepada semua Satpam. Jangan pernah ijinkan wanita itu menginjak gedung ini lagi. Apapun alasannya." perintah Erick.
"Baik pak, segera saya sampaikan pesan Bapak." balas Dion.
Panggilan pun ditutup. Erick menghela nafas lega. Setidaknya tidak ada masalah hari ini. Bukan Erick takut kepada Bella. Hanya ingin menghindari masalah saja.
Akan ada saatnya menghadapi wanita tersebut. Jika sudah terpaksa.
Klien yang mempunyai janji temu jam 10 datang. Wahyu Dirgantara pemilik dari perusahaan Elang Perkasa. Dia datang ditemani oleh asisten dan staffnya. Turut bersamanya seorang pria dan juga seorang wanita. Ternyata wanita tersebut adalah Bella. Walau tadi sempat diusir ternyata dia kembali bersama rombongan klien yang mempunyai jadwal temu. Bayu dan Dion yang melihat rombongan tamu datang bersama Bella dan seorang pria segera menghampiri.
"Selamat pagi Pak Wahyu. Selamat datang di perusahaan kami." sambut Bayu.
"Selamat pagi juga Pak Bayu. Senang bisa berjumpa anda." balas Wahyu.
"Maaf Pak Wahyu. Apakah kedua orang ini datang bersama Bapak?" tanya Bayu.
" Iya Pak. Untuk kerja sama ini, saya bermaksud menggandeng mereka juga. Pak Bayu kenal mereka?" jawab Pak Wahyu sambil bertanya balik.
"Iya. Bapak Mark Jhonson dari perusahaan Benson Grup. Dan juga sekretarisnya Kristina Bella." jawab Bayu.
"Baguslah kalau Pak Bayu kenal. Jadi saya tidak perlu mengenalkan mereka lagi." balas Wahyu.
"Maaf saya Pak Wahyu. Jika Bapak bermaksud menggandeng mereka dalam kerja sama kita. Maka saya sarankan Bapak untuk membatalkan kerja sama ini." ujar Bayu.
"Kenapa Pak Bayu? Ada yang salah?" tanya Wahyu.
"Kami tidak bersedia bekerja sama dengan Benson Grup. Bapak kami persilahkan masuk ke ruangan Pak Erick tanpa membawa mereka." jelas Bayu.
"Kalau saya ingin membawa mereka?" tanya Wahyu.
"Kalau itu mau Pak Wahyu. Kami persilahkan Bapak dan rombongan pergi dari gedung ini. Janji temu kita batalkan. Tidak ada pembicaraan kontrak bisnis lagi. Silahkan Bapak memilih." kata Bayu.
"Baiklah kami masuk tanpa mereka." ujar Wahyu terpaksa.
"Sekuriti." panggil Dion.
2 orang satpam pun datang.
"Kalian sudah diperintahkan agar tidak membiarkan wanita ini masuk ke gedung ini. Kenapa dia bisa masuk lagi?" tanya Dion.
"Maaf Pak. Dia datang bersama tamu. Kami jadi segan mengusirnya." jawab seorang satpam.
"Baiklah saya terima alasan kalian. Tapi sekarang usir mereka berdua. Jangan biarkan masuk dalam ruangan Pak Erick." perintah Dion.
"Mari Pak Wahyu kita ke dalam ruangan Pak Erick." ajak Bayu.
Sementara Bella mengamuk dan mencoba untuk ikut masuk ke ruangan Erick. Tapi satpam segera menarik tangan Bella. Mencegah Bella masuk ke ruangan Erick. Sementara Mark hanya merengut kesal saat dipersilahkan pergi.
"Dasar perusahaan br*ngs*k. Sombong sekali. B*ngs*t kau Erick." teriak Mark marah.
Mark yakin tidak akan mendapat kontrak dari kerja sama Erick dan Wahyu. Dia benar benar marah. Kemudian Mark pun berlalu pergi meninggalkan Bella. Bella masih ditarik oleh satpam menyusul Mark. Satu satpam tidak berhasil menarik Bella. Satpam kedua pun datang membantu menarik Bella.
Cukup sulit keduanya menarik Bella. Tapi akhirnya mereka berhasil mengeluarkan Bella dari gedung kantor. Sementara Mark sudah tidak kelihatan lagi. Sepertinya dia tidak perduli dengan Bella. Walaupun Bella adalah sekretarisnya.
Dalam ruangan Erick.
"Selamat pagi Pak Wahyu." sapa Erick.
"Selamat pagi juga Pak Erick." Wahyu balas menyapa.
"Silahkan duduk Pak Wahyu." ujar Erick.
Pak Wahyu segera duduk diikuti asisten dan staffnya.
"Maaf kalau saya boleh bertanya. Sepertinya Pak Erick punya masalah dengan Benson Grup?" tanya Wahyu.
"Tidak salah Pak. Kalau Pak Wahyu berkeras hendak menggandeng mereka dalam kerja sama kita, maka saya akan membatalkan kerja sama kita. Tidak masalah saya harus mencari partner pengganti dengan biaya yang lebih besar." kata Erick.
"Tidak perlu Pak Erick. Kita lanjut kerja sama kita. Saya akan mencari mitra baru menggantikan Benson Grup." ujar Wahyu.
"Terima kasih Pak. Kami akan mengganti kelebihan biaya yang ditimbulkan akibat penggantian ini." kata Erick.
"Kita bagi dua saja kelebihan biayanya. Pak Erick macam orang baru kenal saya saja." balas Wahyu.
"Baiklah deal. Mari kita bahas poin poin kontrak kita. Semoga dapat segera terlaksana." kata Erick.
Pembicaraan bisnis pun berlanjut. Kedua belah pihak menyampaikan presentasi mereka. Menyampaikan poin yang diinginkan. Berunding mencari cara tengah bila ada yang tidak sesuai. Hingga akhirnya tercapai kesepakatan. Kontrak akan ditanda tangani apabila pihak Wahyu telah mendapat pengganti Benson Grup. Wahyu berjanji akan segera mungkin mendapatkan pengganti dan juga berjanji segera menghubungi bila sudah mendapatkan. Erick menyetujui dan memberi waktu 2 minggu untuk Wahyu. Setelah itu Erick menjamu Wahyu dan staffnya makan siang. Bersama sama menuju Restoran yang telah ditentukan dengan kendaraan sendiri sendiri. Karena Wahyu akan langsung pulang ke perusahaannya.