Setelah melewati celah itu. Kami menemukan suatu ruangan yang cukup besar.
Tapi kami belum menemukan tiga terowongan yang di katakan ki Hurib ataupun sang guru.
Kami terus saja berjalan perlahan dan hati-hati.
"Sayang alirkan tenaga dalam keseluruh tubuh" Kata Frangky padaku.
"Ok sayang" Jawabku.
Semakin kedalam keadaan goa makin gelap.
Pedang ular putih di pinggang ku, tiba-tiba mengeluarkan cahaya. Sehingga kami bisa melihat sekeliling.
"Terima kasih nyi." Kata frangky dan aku serentak.
"Sama-sama Frangky, Shiva." Ucap pedang ular putih.
Aku melihat sekeliling goa, yang ada hanya batuan semua. Gak ada apa-apa lagi. Semuanya hanya batu licin mengkilat.
Tanpa terasa, sudah cukup jauh kami berjalan ke dalam goa.
Dari kejauhan hanya terlihat dua cahaya. Yaitu cahaya kuning emas dan putih. Mungkin cahaya hitam tidak terlihat karena gelap.
Setelah kami sampai di dekat terowongan. Baru kekihatan cahaya hitam yang seakan menembus cahaya putih dari pedang ular putih.
"Ayo sini... kenikmatan ada di sini... yang kalian cari ada disini.." Sebuah suara terdengar dari lorong yang mengeluarkan cahaya hitam.
Tiba-tiba tangan raksasa bergerak keluar dari lorong itu. Seakan mau mengambil kami.
Cahaya putih dari pedang ular putih saat bersamaan keluar dari pedang yang masih melilit di pinggangku.
Lalu menghajar tangan hitam raksasa itu.
Des...
Terdengar letupan kecil. Seperti letusan marcon.
"Ayo Frangki, Shiva kita harus segera masuk ke lobang tengah itu. Sebelum ada tangan lagi yang menarik kita ke lobang hitam itu." Kata suara dari pedang Ular putih.
"Baik nyi" Kata kami serentak.
Kami beruntung, mungkin tanpa pedang ular putih. Kami sudah terseret ke lobang hitam itu. Aku bergidik ngeri membayangkan nya.
Kami bergegas melompat ke cahaya putih yang keluar dari lorong tengah.
Sayup sampai aku masih mendengar suara seperti tangisan dari lobang hitam itu.
Di lobang tengah ini, ruangan sangat besar, dan cahaya cukup terang.
Pedang ular putih di pinggangku seakan memadamkan cahaya nya. Karena telah cukup cahaya di ruangan ini.
Aku merasakan ada energi yang menarik kami. Energi itu kadang ada kadang tidak. Tapi ritme nya teratur. Seperti nafas manusia. Namun ini agak sedikit lama.
Semakin lama tenaga tarikan itu semakin kuat.
Dari ke jauhan, Kami melihat dinding buntu. Dan di atas dinding itu ada sebuah batu besar sekali berbentuk hidung.
Tenaga tarikan itu ternyata berasal dari dua lobang itu.
Saat jeda dari tenaga tarikan kami bergerak cepat kearah dinding.
Dua meter di atas kami terlihat lah dua lobang besar. Yang mengeluarkan cahaya putih.
Karena kami berdiri agak kesebelah kiri. Saat tenaga tarikan tiba. kami tersedot.
Pedang ular putih di pinggang ku tiba-tiba melayang dan menancap di dinding.
Dengan sigap aku memegang hulu nya, dan Frangky memeluk aku.
Clup..
Pedang ular putih menancap di dinding, seakan pisau menancap di dalam kue saja, Karena tajam nya.
Sret...
Karena sangat tajam dinding itu tersayat dengan mudah. Untung tarikan nya berhenti.
"Frangky, Shiva sekerang kalian segera kearah lobang sebelah kanan ." Ucap suara dari pedang ular putih.
Kemudian terbang dan melingjar lagi di pinggang ku.
Aku dan Frangky segera bergeser kesebelah kanan.
" Biarkan tenaga tarikan itu menghisap kita.
Tenaga tarikan itu terasa lagi. Kali ini, Kami membiarkan tubuh kami di tarik tenaga itu. Sesuai perkataan pedang ular putih.
Kami di tarik kedalam lobang itu. Beberapa batu runcing dan tajam di kiri dan kanan kami seperti hendak mencabik-cabik tubuh kami.
Meskipun tubuhku bersifat roh. Tapi aku tetap akan terluka.
Pedang ular putih kembali melayang dari pinggangku. Dan memapas segala batu yang tajam dan runcing itu.
Cukup lama kami ter ombang-ambing dalam tenaga tarikan itu. Hingga kami terdampar di suatu ruangan besar.
Pedang ular putih kembali melayang ke pinggang ku.
"Sayang seperti nya kita telah berada di antara tenggorokan dan otak nya." Kata Frangky.
"Benar sayang tidak salah lagi, ini lah ruangan nya." Kataku.
Sementara pedang ular putih hanya diam.
Baru saja bernafas lega. Datang lagi serangan dari makhluk seperti lendir ingus manusia sebesar batang pinang. Aku bergidik jijik melihat nya. Apalagi bau nya itu. Sangat tidak enak.
"Hiaat..'
Frangki melepaskan pekulan guntur perkasa.
Blar..
Terdengar suara seperti air di tampar.
Frangky melepaskan tenaga dingin nya. Lendir itu tidak membeku.
Disisi lain makhluk serupa menyerang.
"Hiaa"
Blar...
Aku melepakan pukulan guntur perkasa. Hal yang sama ter jadi.
Sekarang muncul lagi empat yang lain menyerang kami.
Cahaya putih dari pedang ular putih memapas mereka.
Blar...
Dari genangan tersebut menyatu membuat mereka makin besar.
"Pukulan alam" Teriak Frangky.
Kami menyerap energi sekitar dan melepaskan ke arah makhluk itu.
Yang terjadi sunggut mengejutkan. Pukulan kami yang biasanya meledakkan tujuan. Kali ini hanya berefek seperti tadi.
Itu mungkin dari tenaga dalam kami. Sementara tenaga alam di sekitar hanya membuat mereka makin kuat.
" Jangab gunakan pukulan yang menyerap tenaga alam. Mereka tercipta dari energi alam di sekitar sini. Itu akan memperkuat mereka." Ucap pedang ular putih.
Aku sempat bingung bagaimana cara menghadapi mereka.
"Pukulan quantum tingkat tertinggi" Kata pedang ular putih.
"Tapi itu juga melibatkan energi alam nyi." Kata Frangky.
" Kalau di gabungkan dengan energi quantum. Energi alam berubah jadi energi quantum. Saya akan memperkuat energi itu, ayo cepat lakukan, jika kita terbungkus lendir itu. kita akan hancur." Ucap pedang ular putih.
Aku dan Frangky melakukan pukulan energi quantum. Ditambah dengan energi alam dan tenaga dari pedang ular putih.
Aku dan Frangki terbungkus cahaya putih menyilaukan. Tubuh kami terangkat ke atasa.
Di dalam ruangan ini seperti terjadi gempa akibat ajian kami .
Beberapa batu berjatuhan. Saat batu mencapai tubuh kami batu itu terpental dan hancur.
Ada beberapa lendir yang menyerang. Saat mendekat mereka terpental.
"Hiaaaa" Teriak aku dan Frangky.
Cahaya putih sangat terang keluar dari tangan kami. Dan menghajar makhluk itu.
Aneh nya, tidak terjadi kedakan atau suara apapun. Makhluk itu seperti terbungkus sinar kami. Dan berubah keras seperti batu. Kemudian diam tak berkutik lagi.
" Seperti nya dia telah mati." Ucap ku.
" Itu lah mereka sebenar nya. Mereka hanya batu yang di hinggapi kekuatan energi disini. Kalian bersemedi lah sebentar, Serap energi disini.Agar kalian mampu melihat goa tempat keluar."Kata pedang ular putih.
Aku dan Frangki lalu duduk bersemedi dan menyerap energi alam.
Energi disini sangat luar biasa.
Setelah cukup lama. Kami membuka mata.
Aku melihat sekeliling, Dari kejauhan aku melihat sebuah lobang.
"Sayang, nyi aku melihat ada lobang di ujung sana. Mungkin itulah lobang nya. " Ucapku.
"Ayo sayang" Ucap Frangky.
Aku tahu Frangky juga melihat lobang itu.
Kami berlari dengan cepat menuju lobang itu.
Baru saja sampai dekat lobang. Tiba-tiba ada angin berhembus sangat besar. Mendorong tubuh kami ke arah lobang.
Di dalam lobang itu. Dinding Kiri kanan nya di penuhi batu yang sangat runcing dan tajam.
Pedang ular putih di pinggang ku segera melayang. Dan membabat semua batu itu. Hingga kami bisa lewat.
Tanpa pedang ular putih. Mungkin baru masuk saja kami sudah mati.
Kami terhempas di sebuah dataran, yang di tumbuhi ilalang merah.
Seperti nya tempat ini adalah hutan ilalang. Sejauh mata memandang hanya ilalang merah saja yang kelihatan.
Hanya ada beberapa batang kayu yang sanagat besar di hadapan kami.
Ranting dan cabang kayu itu tajam seperti pedang. Besar nya sebesar ukuran kamar. Tinggi nya sangat tinggi sekali.
"Siapa kalian."
Ucap sebuah suara yang sangat keras. Hingga menyakiti gendang telingaku.
Aku melihat ke arah suara tersebut.
Aku gemetear ketakutan.
Suara itu ternyata datang dari gunung batu yang sangat besar.
Gunung itu seperti wajah manusia. Lobang tempat kami keluar tadi benar-benar lobang hidung nya.
Ukuran kami hanya seperti debu oleh gunung itu.
"Fuuuh..."
Gunung itu meniup kami.
Angin sangat kencang datang. Hingga tubuh kami terlempar ke dekat pohon besar.
Ranting-ranting dan dahan pohon yang setajam pedang dan sangat besar bergerak ke arah kami.
Pohon yang lain nya berbegerak ke arah kami. Mungkin jumlah nya ada sekitar tiga puluh pohon atau lebih.
Kami pasti akan tercabik-cabik di cincang ranting pohon yang tajam seperti pedang.
"Frangky,Shiva cepat lihatkan cincin itu dan katakan kalian undangangan Ki Saman" Ucap pedang ular putih.
"Kami adalah undangan ki saman" Teriak aku dengan Frangky.
"Kalau suara kalian seperti itu tidak akan terdengar oleh mereka. Lepaskan ilmu teriakan malaikat dengan tenaga quantum penuh" Ucap pedang ular putih.
" Dan alirkan juga tenaga itu ke cincin di tangan Shiva. Ayo cepat lakukan" Kata pedang ular putih.
Aku dan frangky mengalir kan tenaga quantum penuh. Biasanya di alam aku ataupun di alam Frangki, akan menyebabkan badai. Langit akan gelap, petir akan datang saling sahut menyahut. Tapi disini hanya menyebabkan getaran kecil saja dengan mereka.
"Kami undangan ki saman." Teriak aku dan Frangki hampir bersamaan.
Saat kami berteriak, aku mengacungkan cincin ku keatas.
Cahaya merah keluar dari cincin. Cahaya itu makin lama makin besar.
Di angkasa cahaya merah berubah menjadi sinar warna warni.
"Berhenti" Teriak gunung.
Sial kami terbelanting lagi oleh teriakan nya. Tanah bergetar. Namun daun pohon tak satu pun yang jatuh.
Yang ada telinga ku sakit. Teriakan nya kayak guntur meledak di telingaku. Keras banget.
Semua pohon aneh yang ranting dan dahan nya setajam pedang berhenti bergerak.
Kami mungkin bisa memukul satu atau dua cabang di tambah dengan pedang ular putih. Namun jika mereka serentak menyerang. Dan lagi di tambah serangan gunung ini. Di pastikan kami mati.
"Marapatih, ambil cincin itu." ucap gunung.
Seekor burung berwarna putih. Sebesar burung balam, hanya kepala nya saja sedikit hitam. itu pun di puncak nya. Seperti pakai kopiah saja burung ini
Ekor putih nya panjang dua helai.
Burung itu seperti melayang dari puncak kepala gunung. Sangat gesit dan cepat sekali.
Burung itu berputar di atas kepala ku tiga kali. Kemudian terbang ke depan ku.
"Serahkan cincin itu pada marapatih." Ucap gunung.
Ooh.. jadi burung ini lah yang namanya Marapatih. Tadi aku pikir makhluk sejenis jin atau apalah. Gak tahu nya burung.
Aku melepaskan cincin dari jari ku, dan menyerakan pada burung bernama marapatih.
Burung itu mengambil dengan paruh nya. Kemudian terbang ke arah gunung.
Burung itu berputar di depan mata gunung.
"Bawa cincin itu ke istana. Jika benar cincin itu dari Ki Saman kalian selamat. Namun Jika bukan. Maka kalian akan mati." Ancam gunung.
Burung itu kemudian terbang tinggi. Dan hilang dari pandangan kami.
Jika cincin itu bukan dari Ki Saman berakhir sudah lah cerita ini. Tapi aku yakin aja, gak mungkin Ki Hurib menjebak kami. Gak ada untung nya juga bagi diakan.
Batang kayu bergerak seperti membuat barisan di sekeliling kami. Seperti mengurung tahanan. Aku gondok sih melihat sikon begini. Tapi mau melawan gak mungkin.
Batang kayu besar ini bisalah kami lawan. Gimana kalau gunung itu. Mustahil dilawan. Jangankan menghancurkan nya. Mencelakakan nya saja, gak mungkin.
Kalau bukan karena cinta, gak mau aku kesini. Kadang berjuang untuk cinta memang melelahkan, butuh pengorbanan.
Disini aku seba canggung, mau peluk yayang Frangky nanti malah salah. Mau berkeliling lihat-lihat daerah sekitar susah. Mau apa aja susah.
Terpaksa lah berdiri mematung. Entah berapa lama harus seperti ini. Aduh Gusti, begini kali lah memperjuangkan cinta kami.
Kayu besar yang mengurung kami, tiba-tiba bergerak. Seperti memberi jalan.
Aku melihat disana telah berdiri sepasang makhluk sambil tersenyum.
Aku terkejut, sampai mundur kebelakang. Begitu juga dengan Frangky.
"Selamat datang di negeri kami." Ucap mereka serentak.
Wajah mereka benar-benar mirip kami. Yang laki-laki mirip Frangky. Yang perempuan mirip aku. Tinggi nya, semuanya mirip, bahkan suara nya mirip.
Mereka berpakaian putih semuanya.
Aku masih melongo melihat kenyataan ini.
Plak...
Aku.menampar pipiku, terasa sakit. Berarti bukan mimpi. Ini benar kejadian nyata yang aneh.
Kami sibunian juga punya mimpi jika tidur.
"Bahaya juga kayak gini. Susah membedakan nya, jangan bertukar pasangan gak tahu ini." Kataku dalam hati.
"Kami adalah paralel kalian. Namaku Shiva dan ini Frangky. Sama dengan nama kalian. Kami di utus menjemput kalian. Jangan Cemas, setelah kami antarkan kalian ke Ki Saman, Kami akan melanjutkan kegiatan kami." Ucap yang perempuan.
Aku merasa aneh. Seperti diriku berbicara dengan aku. Gimana ya cara bilang nya. Ya begitulah, pahami aja.
Aku panggil dia Shiva Quadrat sama Frangky Quadrat ya. Biar gak bingung
" Gunung Ashari dan Pohon Senjata, Ki Saman menyampaikan salam. Mereka memang Undangan Ki Saman. Terimakasih telah menjaga kami dan negeri ini." Kata Frangky Quadrat.
"Kami izin membawa mereka ke istana." Lanjut Shiva Quadrat.
"Baik lah, silahkan, dan sampaikan salam ku pada Ki saman." Ucap gunung.
"Mari Silahkan." Ucap mereka.
Aku berjalan di belakang mereka. Sekitar tujuh langkah dari batang pohon. Mereka berhenti, otomatis aku berhenti.
Tanah yang kami pijak seakan bergeser. Pohon ilalang merah yang rimbun di depan kami menyibak seakan memberi jalan.
Kami seakan naik kendaraan. Tapi Kendaraan nya tanah ini sendiri.
Aku heran kenapa bisa begini.
"Sebenar nya, negeri alang-alang ini adalah tubuh dari gunung Ashari. Gunung Ashari adalah kumpulan dari gunung di alam nyata ataupun alam ghaib." Terang Shiva Quadrat.
Aku malah makin heran, ternyata ada ya negeri seperti ini. Memang kuasa Tuhan tanpa batas. Apa yang di pikir tak mungkin dan tak ada. Ternyata ada.
Kadang-Kadang Kita yang memaksakan kehendak. Apa yang terlihat, terasa dan di dengar itulah yang ada. Padahal kemampuan berfikir kita sangat lah dangkal dan terbatas.
Saat melihat kenyataan seperti ini, Aku sangat merasa takjub dan makin merasa kecil di deoan Tuhan ku.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Pangeran merah akhirnya nekad terjun kedalam lobang goa yang curam itu. Pangeran merah menerapkan ilmu peringan tubuh nya. Sehingga tubuhnya lebih ringan dari kapas.
Dia merasakan daya tarik yang sangat kuat.
Pedang ular hitam di pinggang nya. Memberikan tenaga dorong kesamping. Sehingga daya tarik yang kuat itu, musnah oleh tenaga dorong pedang ular hitam.
Saat tubuh nya menempel ke dinding goa. pangeran merah lansung menerap kan ilmu tapak cicak nya.
Sebuah ilmu yang bisa membuat dia menempel pada dinding tanpa bantuan alat apa pun.
Baru saja dirinya menempel di dinding. Dia merasakan ada yang mengigit tangan nya.
"Aduh." Kata Pangeran merah.
Dia merasakan panas di bekas gigitan. Kemudian Rasa panas berubah menjadi gatal.
Pangeran merah merasa cemas, jangan-jangan yang menggigit nya adalah binatang yang sangat berbisa
Kalau dalam keadaan sekarang dia terkena bisa atau racun apapun. Dia pasti mati. Karena tarikan di dasar lobang goa begitu kuat.
Saking kuat nya, jurus tapak cicak nya, tidak menempel kuat seperti biasanya.
Perlahan dirinya mulai tertarik kedasar goa. Pangeran merah semakin panik. Apalagi dengan dia terkena racun. Keadaan nya semakin gawat.
untuk kedua kalinya, pangeran merah merasa digigit lagi tangan nya.
"Pangeran Merah, kau tidak usah takut dan panik. Apakah kau lupa, aku adalah racun di atas racun, selagi aku bersamamu tidak ada racun yang akan mempan terhadap mu." Ucap pedang ular hitam.
"Baik ki." Ucap pangeran merah.
"Bagi makluk lain terkena gigitan ular tepung malam adalah kematian." Ucap pedang ular hitam.
"Ular tepung malam itu ular apa ki?" Tanya pangeran merah.
"Ular tepung malam memiliki badan kecil, palingan sebesar telunjuk manusia dewasa. kepalanya warnah merah dan ekor warna merah. Ular itu sangat tidak suka sama cahaya. Dia merasakan musuh lewat kulit nya karena tidak memiliki mata." Ucap pedang ular hitam.
"Dia hanya ada di pintu-pintung goa yang sangat gelap, goa bukan goa sembarangan. Keajaiban nya adalah mampu membunuh makhluk apapun. Baik ghaib ataupun nyata. Kecuali bagi orang yang mengerti ilmu racun." Terang pedang ular hitam.
"Ular itu biasanya ular peliharaan yang di perintah menjaga pintu goa. Makanan nya selain daging adalah energi yang di transfer oleh tuan nya. Energi itu bisa di transfer jarak yang sangat jauh. Jika mampu menguasai ilmu gelombang energi." Ucap pedang ular hitam.
"Ilmu gelombang energi adalah ilmu yang bisa menyatukan apapun dalam jarak jauh. Sebab gelombang energuli tak pernah putus." Kata pedang ular hitam
"Santet adalah frekuensi terkecil dari gelombang energi." Sambung pedang ular hitam.
Tanpa terasa Pangeran merah telah merayap hingga di kedalaman sepuluh meter.
Pangeran merah merasakan kaki nya menjejak sebuah lobang.
Karena pangeran merah sangat yakin dia sekarang kebal akan segala racun. Pangeran merah melentingkan dirinya masuk kedalam lobang, Tanpa takut kena gigitan beracun dari binatang lain nya.
Dia melihat cahaya suram dan kusam memenuhi lobang tersebut. cahaya itu seperti berasal dari jauh di ujung goa.
Pangeran merah melihat sekeliling. Tinggi goa sekitar tiga meter. lebar dua meter.
Pangeran merah berjalan menyusuri goa. Dia yakin inilah jalan menuju sungai hitam abadi, seperti yang dia lihat dalam cermin ajaib.
Jadi tidak perlu lagi menanyakannya pada cermin ajaib. Hanya akan membuang-buang peluh cinta saja.
Baru berjalan sekitar seratus langkah. Pangeran merah di kejutkan oleh suara seperti suara kelelawat.
"Kiiiikkk..."
Suara itu semakin lama semakin ramai. Pangeran merah memegang gagang pedang ular hitam, berjaga-jaga sambil melangkah pelan dan hati.
Sesosok makhluk melayang ke arah pangeran merah. Makhluk itu bersayap seperti sayap kelelawar, besar nya sebesar anak usia lima tahun. Tanpa ada bulu apapun di badan nya.
Mata nya bulat berwarna merah darah, gigi taring mecuat atas bawah.
"Kiiikkk.."
Makhluk itu mengeluarkan suara sambil menyerang.
Pangeran merah menendang makhluk itu dengan kaki kanan nya.
"Bukk.."
Terdengar suara saat mengenai tubuh makhluk itu.
Makhluk itu terlempar ke dindin.
"Kiiikkkk"
Kali ini, makhluk itu mengeluarkan suara pekikan yang keras dan panjang.
"Itu adalah kelelawar vampir ghaib. Yang mampu menyerang manusia, binatang, Siluman, bahkan jin. Makhluk penghisap segala darah. Dia memanggil bantuan, bersiap lah." Kata pedang ular hitam.
Benar saja, tidak terlalu lama. Puluhan makhluk serupa datang.
"Kikkk...kiiikk..kikk."
Suara makhluk itu sangar ramai.
Pangeran merah mencabut pedang ular hitam dari sarung nya. Terdengar pekikkan seperti jutaan setan menangis, panas luar biasa keluar dari pedang ular hitam,di tambah dengan bau anyir darah.
Kawanan kelelawar vampir ghaib itu tertegun, kemudian melangkah mundur. Sepertinya mereka ketakutan melihat pedang di tangan Pangeran merah.
Pangeran merah tersenyum, kemudian menebaskan pedang ular hitam ke arah kawanan kelelawar vampir ghaib.
Sinar hitam panas luar biasa menyebar dari pedang, merambah kawanan ke kelelawar vampir .
"kiiikkk.."
Pekikan kematian keluar dari kawanan kelelawar vampir ghaib. Bau daging terbakar tercium di dalam lorong goa.
"Cuiih"
Pedang ular hitam di masukan kembali dalam sarung nya. Kemudian pangeran merah melangkah maju.
Pangeran merah meludahi mayat hangus kawanan kelelawar vampir ghaib saat melewati nya.
Setelah cukup lama berjalan, Pangeran merah di hadang oleh sebuah batu besar pipih yang penuh dengan tonjolan batu runcing ke arah nya.
"Pangeran kau harus menghancurkan batu itu. Disini ilmu ghaib mu menembus benda tidak akan berguna." Kata pedang ular hitam padanya.
Pangeran merah mengalirkan tenaga dalam ke tangan nya. Dan melepaskan pukulan jarak jauh nya.
Blegar..
Ledakan dahsyat terjadi.
Batu itu hancur berkeping-keping. Namun akibat ledakan dahsyat itu. Langit-langit goa mulai runtuh.
Pangeran merah berlari dengan cepat. Namun aneh nya secepat apapun dia lari, runtuhan langit-langit goa seakan mampu mengejar nya.
Pangeran merah menambah keceptan nya di padu dengan ilmu meringankan tubuh. Pangeran merah seakan terbang dalam goa itu.
Langit-langit goa yang runtuh tetap menejar di belakang nya.
Dari jauh di depan nya, batu buat besar menggelinding kearah pangeran merah.
Namun aneh nya dalam goa itu bukan nya gelap. Tapi masih terang suam kusam. padahal batu hitam menghalangi cahaya.
Besar batu itu seakan memenuhi seluruh goa. Sementara di belakang Pangeran merah runtuhan langit-langit goa terus mengejar nya.
Pangeran merah mencabut pedang ular hitam. Jutaan syetan menangis terdengar, hawa panas luar biasa di tambah anyir memenuhi ruangan itu.
Pangeram merah terbang berputar ke arah batu besar itu dengan mengarahkan pedang ular hitam.
Sinar hitam berputar-putar keluar dari pedang ular hitam. Sinar hitam itu menabrak batu.
Bruss..
Batu itu tembus pas bisa di lalui pangeran merah.
Baru saja selamat dari batu, sekarang tenaga sedotang luar biasa datang menyedot pangeran merah.
Karena kuat nya sedotan batu besar mulai bergerak ke arah pangeran merah.
Pangeran merah yang lagi terbang menggunakan ilmu peringan tubuh dengan mudah tersedot.
Pangeran merah seperti masuk kedalam sebuah ruangan. Bau busuk menyebar di sini.
pangeran merah tersedot semakin dalam. Akhir nya jatuh pada dataran yang terasa cukup empuk.
Pangeran merah melihat sekekeliling. Ruangan itu cukup terang yang cahaya nya tidak tahu berasal dari mana.
Di bawah sana, Pangeran merah Terlihat lautan berwana kuning. Satu batu mengelinding jatuh ke lautan kuning itu.
Des...
Batu itu mengekuarkan asap tipis. kemudian hancur.
Ternyata itu lautan asam. Masih beruntung pangeran merah tidak jatuh dalam lautan asam itu.
"Kita berada dalam perut ular." Ucap pedang ular hitam.
Pangeran merah segera mengayunkan pedang ular hitam dengan tenaga dalam penuh.
Ruangan itu jadi terbelah dua. pangeran merah segera melompat keluar.
Ternyata pangeran merah telah berada di luar goa.
Di deoan nya terbujur sesosok ular yang sangat besar yang telah ter bela dua.
Ular ini lah tadi yang menyedot pengeran merah dan membuka mulut nya di bibir goa.
Pangeran merah melihat di depan nya sebuah daratan penuh batu runcing berwarna hitam.
"Ngiit...ngit..ngit.."
Sebuah suara terdengar oleh pangeran merah. Makin lama suara itu makin dekat.
Jauh di depan nya terlihat ratusan tengkok bergulung ke arah Pangeran merah.
Pangeran merah segera menyalurkan hawa inti api ke pedang di tangan kanan nya. Dan tenaga inti es ke tangan kirinya.
Serentak dua tenaga di lepaskan sekali gus kearah ratusan tengkorak itu.
Hawa panas dan dingin tumpang tindih melanda Tempat itu.
Blegar
Ratusan tengkorak itu terlempar dengan pekikan nyaring.
"Ngiiiikkk."
"Siapa kau yang memiliki tenaga inti api dan tenaga inti es. Apakah kau telah memakan salju api. Aku juga merasakan Pedang mustika ular hitam. Siapa kau."
Kata sebuah suara yang belum kelihatan wujud nya.
"Aku pangeran merah.." Jawab pangeran merah.
"Apa tujuan mu ke tempat ini.?" Tanya suara tanpa wujud itu.
"Kau sendiri siapa?" Tanya pangeran merah.
"Jawab pertanyaanku" Ucap suara itu menggelegar.
Batu besar berterbangan, Mayat ular terlempar.
Pangeran merah jatuh terduduk karena kekuatan suara itu.
Di depan nya kini telah berdiri. Sesosok Makhluk terbuat dari api. Baik rambut dan tubuh nya.
Makhluk itu lebih tepat di katakan seperti api membentuk tubuh manusia.
Makhluk itu membuka telapak tangan kanan jya yang seperti api ke arah pedang ular hitam.
Seketika pedang ukar hitam dan sarung nya meluncur kearah makhluk api itu.
Dengan santai makhluk api menangkap pedang ular hitam.
"Apakabar mu sahabat ku ronggo, aura mu membangunkan semediku." Ucap makhluk api.
"Aku masih seperti dulu Raja neraka. Aku senang bisa berjumpa dengan mu." Ucap pedang ular hitam.
.Ternyata makhluk api ini adalah Raja neraka. Raja iblis di pulau ini. Yang kesaktian nya hanya kiyai mustakim saja yang mampu menandingi nya.
"Siapa dia?" Kata Raja neraka menunjuk Pangeran merah.
"Dia anak siluman gunung putra mahkota dari kerjaan ngaitampang. Terlahir bernama Hawi, menyukai warnah merah, hingga dijuluki pangeran merah. Dia adalah murid dari murid mu Ki mayit alias Pangeran api dan pasangan nya nyi bungkuk." Kata pedang ular hitam.
Kemudian pedang ular hitam menceritakan semuanya.
"Hmm.. Jadi siluman ini yang terpilih." Kata Raja neraka.
"Pangeran merah, segera berlutut dan menyembah." Kata pedang ular hitam.
Pangeran merah segera melakukan apa yang di katakan pedang ular hitam.
"Ayo ikuti aku." Kata raja neraka.
Pangeran merah seperti di tarik tenaga luar biasa. Tubuh nya tiba-tiba melayang dalam keadaan menyembah. Kemudian mereka menghilang dari tempat itu.