BUKIT SAYANG

3050 Kata
Berbagai macam perasaan hadir di dadaku. Hinggap bak burung yang terbang. Cieeh.. Tapi benar loh, Aku senang banget. Gimana gak, kemana-mana sama yayang Frangky. Makan sama yayang Frangky, berkelahi sama yayang Frangky, tidur sama yayang Frangky(Tapi kami gak macam2 loh), jalan sama yayang Frangky. Kecuali mandi, baru sendiri-sendiri. Takut lost perasaan kami nya. Kalau lost kontrol lupa nanti nulis R nya bahaya loh. Gak usah di lanjutkan jadi apa. Dosa tanggung sendiri. Kali ini aku lansung cerita ke bukit sayang aja ya. Setelah dari bukit mambuik, kami pergi ke bukit sayang melalui jalur ghaib. Jadi cepat sampai nya. Bukit sayang ini gak jauh bentuk nya dengan bukit lain. Semua bukit hampir sama bentuk nya. Kecuali bukit itu. Ya bukit itu. Nah saat kami sampai di bawah bukit, bukan di kaki bukit ya. masak bukit punya kaki, ntar bukit nya lari, yang ngejar siapa? kamu?. Nah saat sampai di bawah bukit. kami manggil teman kami disini. Yang namanya aneh itu loh. Yang namanya sang murid itu loh, ingat kan?. "Sayang..sayang saja yang manggil ki Sang murid ya."Kata Frangky padaku. Aduh rasanya gimana gitu di panggil sayang. "Ok sayang, siap..." Jawab ku. Jangankan manggil ki sang murid. Manggil kuntilanak saja aku di suruh nya aku mau. Itukan contoh nya. Buat apa juga kuntilanak di panggil. yang ada cuma dia ketawa hi... hi... hi ... kik.. kik.. kik.. saja. Entah apa yang lucu, kerja nya ketawa aja. "Ki sang murid.. Ki sang murid ...ki sang murid.." Kataku. Setiap memanggil namanya. Aku hentakkan kaki. Kejap kemudian terlihat sesosok makhluk yang di penuhi bulu lebat warna putih. Mungkin udah ubanan semua. Setinggi tiga meter, Di mulut nya ada taring bawah yang mencuat keatas. Selebih nya mirip dengan manusia. Siapa lagi kalau bukan Ki sang murid. "Selamat datang di tempat kami, ikuti saya." Kata ki Sang murid. "Terima kasih ki." Ucap Frangki. "Pegang punggungku. Aku akan bawa ke istana. Namun, Jika kalian jumpa Sang Guru penguasa Bukit sayang ini, sebaik nya kalian bacakan lah satu Puisi. Karena sang guru Suka puisi." Katanya nya. Kami memegang punggung Sang murid. Kejap berikut nya kami sudah di dalam istana. Istana ini sangat mega. Semua terbuat dari emas. Berlian dan batu mulya menghiasi dinding dan langit-langit nya. Aku aja yang punya istana, Merasa sangat takjub luar biasa melihat ke indahan istana ini. Sangat sulit di ucap kan dengan kata-kata. Kami di bawa nya duduk di sebuah meja panjang, seluruh nya terbuat dari emas. Berhiaskan batuzamrud dan batu mulia lain nya. Lalu tiga orang yang sangat cantik memakai baju warna emas, datang membawa makanan dan minuman, serta lengkap dengan buah-buahan. Tapi tempat nya ada dua, padahal makanan nya sama. Mereka meletakkan nampan makanan di depan kami. "Frangky, kamu makan makanan yang sebelah kanan. Itu makanan asli manusia. Bahkan kami sering muncul di pasar manusia di desa jambu lipo. Kami mewujud ke alam mereka. Tapi kami sengaja membedakan bentuk kami. Bedanya tanpa ada garis bibir. Namun uang nya uang asli." Ucap ki sang guru. "Silahkan.." Kata perempuan itu. "Rani, mana sang guru?" Tanya ki sang murid. " Ke Gunung kaya Tuan." Jawab perempuan sebelah kanan. Ternyata nama pelayan itu Rani. "Baik lah." Kata sang murid kemudian. Para pelayan itu kemudian pergi. " Kalian mungkin banyak praduga kenapa ini semua bernuansa emas. Bahkan nanti jika kalian melihat sang guru. Kalian akan kaget." Kata ki sang murid. "Di desa Jambu lippo ini. Para si bunian dan manusia hidup berdampingan. Bahkan ada yang menikah. Mereka yang menikah biasa nya, hanya bisa berjumpa lewat mimpi." Ucap ki sang murid. "Dulu saat pertama kita jumpa, saya selalu mengatakan tentang sebuah kejadian. Hari ini saya akan mencerita kan segalanya. Tentang asal usul Kejadian desa Jambu lippo dan si bunian. Khusus nya kita." Ucap nya. Aku deg-degan menunggu penjelasan nya. Ini akan membuka tabir rahasia tentang negeri ku. Dia mulai menceritakan segalanya. Kalau kalian mau tahu, cerita nya menarik kok. Baca buku " SANG KUNCI". Baru saja cerita nya selesai. Hadir sebuah suara lembut mendayu. Seperti sebuah kepedihan yang di alurkan melalui puisi. Kami semua seakan terhanyut oleh kisah pilu nya. Begini bunyi puisi nya. "PADAM Terkekang sudah segala rasa yang ku punya. Cinta memilih aku, apakah aku salah.? Segala tembang lagu ku terhenti. karena drajat dan sebuah tradisi. Aku sendiri disini lama menunggu mati. Alam-alam menjadi saksi, Sehingga menjadi negeri. Dia disana terbungkus sepi. Menatap rasaku pada batu-batu. Menunggu harapku pada waktu-waktu. Buat sang ratuku, Kucipta puisi sendiri. Aku jiwa-aku beri, meski seketika aku mati. Lelahku tak berakhir ilah. Luka ku terus saja menganga. Andai aku bisa menyalahkan takdir. Maka salah lah. Dia kasihku. tinggal sepi Sendiri." Puisi itu dibacanya berulang kali, suara itu seperti nya memiliki unsur ghaib tingkat tinggi. Aku entah kenapa menjadi sangat pilu. Aku rasanya ingin menangis. Aku lihat ki sang murid menundukan kepalanya. Dumu yang pekak, sepertinya mendengar dengan jelas. Dia menangis terisak-isak. Begitu juga dengan Dumu. Frangky hanya terlihat menunduk. Kemudian berkata. "KEDALAMAN. Kadalaman laut yang terpaut Perih luas tak berukur. Cinta patah wujud duka. Aku menyandar kan segala pada tali kasih. Sang purnama, entah kapan menuntut malam. Dendam menghias adalah putih pualam. Tintaku tak lagi berwarna. Jarum-jarum kusut bersama jaring laba-laba. Di sulam malaikat kemudian patah. Silam kisah.. Tahta telah bicara. Dunia pemisah Padam bukan akhir. Awal dari segala.." Sejenak hening, setelah Frangky berkata begitu. Kemudian memancar cahaya Dari langit-langit ruangan. Aku menyipitkan mataku, karena terasa silau. makin lama cahaya ke emasan semakin terang. Ruangan ini berubah menjadi sangat terang. Cahaya kuning keemasan memenuhi seluruh ruangan. Cahaya keemasan seakan menuju pada bangku di ujung meja. kemudian berkumpul menjadi satu. Kejap kemudian, diatas bangku telah ada emas sebesar kuda. Aku terkaget melihat emas sebesar itu. Kalau di jual laku berapa ya. "Sang guru." Ucap ki sang murid. Kemudian sang murid berdiri. Dan membungkuk hormat. Aku dan yang lain nya juga ikut berdiri dan membungkuk hormat. Hanya saja, aku tak mengerti kenapa emas ini di panggil sang guru. Apakah emas ini adalah jelmaan nya?. "Bangkit dan duduk di posisi semula." Kami semua balik ke posisi masing-masing. Melihat sang murid menunduk aku juga nunduk. "Kadang dalam sajak jiwa yang terpancar. Atau salinan saduran dari suatu cerita. Aku yang terpana tergoda. Melihat dengar yang ada." Terdengar suara dari emas itu. Ki sang murid menatap Frangky sesaat, kemudian menunduk lagi. Frangky seakan mengerti, kemudian berkata. "Dalam azaz berkata, meriak hingga ke muka. Suara tercipta adalah lantunan nada hati." Ucap Frangky. "Ahai sang pencipta, gerak darah ini adalah manusia pertama. Menatap negeri melihat jiwa, Setelah ribuan tahun sudah." suara dari emas. "Aku hanyalah manusia mencari juang langkah cinta. Bungaku kuncup takut tak memekar. Warna pelangi telah meniti. Aku adalah yang berjuang dalam takdir. Bersama bidari ku Sang shiva berbeda. Alam memisah. Tapi cinta adalah segalanya." Ucap Frangky. Mendengar namaku di sebut. Aku berdiri kemudian membungkuk ke emas yang di panggil sang guru. "Berapa dalam laut yang terpaut. Berapa jauh hati yang terkunci. Berangkali, banyak sudah cinta serupa. Siapa gerang, Adalah beda dimana." Suara dari emas. " Aku adalah laut tak terukur. Hati yang terpaut terpatri buhul mati. Dialah-Shiva lah ratuku. Dia lah Shiva Putri sang raja. Kobundokok adalah nama daerah. Sementara aku, Hanya seonggok manusia biasa. Tanpa takhta tanpa bahtera. Aku lah cinta." Ucap frangky. Aku yang mendengar agak bingung sih. Namun mau bagaimana lagi. Mereka berdua seperti bercerita. Aku pusing dengar nya. "Sekarang nyata keajaiban ada. ribuan tahun wajud ini aku pakai. Ribuan tahun bersemedi dalam wujud ini. Karena sumpah, sebelum ada cinta yang bersatu dari laki-laki biasa yang pujangga dengan putri raja. Maka aku akan seperti ini. Sekarang sudah ada meski beda dunia. Sumpah ku selesai sudah." Suara dari emas. Bluss... Asap keemasan menyelimuti emas sebesar kuda. Sekarang disana telah duduk seorang laki-laki. Laki-laki itu terlihat ganteng. Sepertu artis korea lah dalam dunia manusia. Rambut panjang sebahu. Tapi di balik wajah ganteng nya. Jelas nampak wajah-wajah duka. "Sang guru..." Kata ki sang murid. "Benar cipto. Aku adalah gurumu. Wajah ku tak berubah karena berada dalam keadaan semedi sifat sumpah." Ucap nya. "Aku berubah menjadi wujud asli ku, karena terbebas dari sumpah ku." Ucap nya. Ternyata nama asli ki sang murid adalah Cipto. "Kalian adalah tamu ke hormatanku di rumah ku. Namun aku belum tahu nama kalian. Dari mana kalian, dan apa tujuan kalian?" Ucap sang guru "Aku adalah Frangky, berasal dari desa siri. Ini adalah Shiva seperti yang aku katakan sebelum nya. Dia dari putri raja kobundokok di bukit ntionai. Dan yang ini Domi ini Dumu." Kata Frangky. "Tujuan kami adalah mencari negeri Alang-Alang." Lanjut frangky singkat.. Sang guru terlihat terkejut. Wajah yang tadi putus asa. Kini tampak jelas berseri. "Akhirnya, kutukan itu akan berakhir. Aku dan cintaku akan bersatu." Ucap sang guru. "Wahai cipto muridku. Kumpulkan segala penghuni bukit sayang. Undang penghuni bukit mambuik, Undang penghuni bukit kayo dan kerajaan kobun dokok. Kita adakan pesta syukuran." Ucap sang guru. "Baik guru" Ucap sang murid. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Menjelang sore, ki Hurib dan ki kuntet terlihat duduk di alun-alun istana kerajaan kobun dokok. Di samping ki kuntet, ada satu sosok ber gigi besar tongos. Siapa lagi kalau bukan Boneng. Mereka bertiga terlihat sedang membicarakan sesuatu. "Aku sengaja memanggil kalian berdua kesi..." Ucap ki Hurib. "Ke anu ki, ke siku." Jawab Ki kuntet. "kesini." Sambung ki Hurib. "Aku merasakan getar pada keris kelok sembilan. Seperti memberi tahu kalau akan datang bahaya. Aku meminta kalian untuk mengerahkan prajurit agar memperketat penja..." Ucap ki Hurib. "fenjara." Kata Boneng. "penjagaan" Kata Ki Hurib "Anu dari mana yang akan datang ki." Kata ki Kuntet serius. Walaupun dalam keadaan serius, Ki kuntet masih saja membawa kebiasan anu nya. "Maksud Ki Hurif fahaya, fukan anu." Kata Boneng. Karena susah menyatukan bibir nya. Huruf B dan P jadi huruf F. "Maksudku juga begitu." Kata Ki Kuntet. " Keris ini memiliki energi kekuatan luar biasa. Mungkin keris ini merasakan energi dari pedang ular hitam. Firasat ku juga mengatakan demi..." Ucap ki Hurib. "Demikian"Kata Boneng. "Bukan eh iya demikian." Sambung Ki Hurib "Afa baginda raja sudah tahu ki?" Tanya Boneng. "Nanti saya akan memberi tahu, Nanti kita juga akan kedatangan ta..." Ucap ki hurib. "Tafif." kata Boneng. "Tamu" Ucap Ki Hurib. "Anu dari mana ki, Maksud saya Tamu dari mana." Tanya Ki Kuntet. " Kalau firasat ku benar, tamu nanti dari bukit sayang. Tapi bahaya bukan dari sana. Bahaya akan datang tengah malam ini setelah tamu itu pulang. Jadi kalian nanti, setelah tamu pulang, perintahkan prajurit untuk memperketat penja.." Kata Ki Hurib. "Anu, penjagaan." Ucap Ki Kuntet. "Ya benar penjagaan." kata Ki Hurib. "Baik ki." Ucap mereka. Baru saja selesai bicara. Prajurit menghadap. "Maaf ki, hamba di perintah baginda untuk menemui aki juga Ki kuntet dengan Boneng. Baginda menunggu di ruang perundingan bersama tamu dari bukit sayang." Kata prajurit itu sambil membungkuk hormat. "Baik kah, mari kita ke ruang per..." Kata K Hurib. "fertama" Sambung boneng. "Perundingan" Jelas Ki Hurib. Mereka lalu berjalan menuju ruang perundingan. Di ruang perundingan telah ada empat orang berpakaian kuning emas. Empat pemuda berwajah cukup mengerikan. "Mari guru silahkan," Ucap baginda. Ki Hurib menuju kursi yang sudah di sediakan. Begitu juga dengan Ki Kuntet dan Boneng. "Kita sekarang telah lengkap berada di ruangan ini. Silahkan ada perlu apa saudara kita dari bukit sayang datang kesini. Dan apa yang bisa kami bantu?" Kata baginda. "Baginda raja yang terhormat dan keluarga besar, serta gurunya yang kami hormati. Berikut nya para pembesar panglima kerajaan kobundokok. Kami dari bukit sayang ingin memberikan Undangan khusus kepada pihak kerajaan kobundokok." Kata salah satu pemuda. Pemuda itu berdiri dan berjalan menuju Raja sambil memberikan undangan. Sang Raja menerima undangan. "Guru, saya bacakan undangan ini." Kata Raja kepada ki Hurib. "Silahkan baginda" Ucap Ki hurib. Ki Hurib tidak menggantungkan kata-kata lagi. Sebab dia telah memakan apel. " Kepada yang terhormat keluarga besar kerajaan kobundokok beserta jajaran nya. Dengan ini kami Dari bukit sayang, mengundang untuk datang menghadiri acara syukuran yang kami adakan. Waktu tepat nya hari ketiga pertengahan bulan. Kami segenap penghuni bukit sayang berharap kedatangan saudara kami dari kerajaan kobundokok. Kedatangan saudara kami, adalah suatu kehormatan besar bagi kami. Yang mewakili masyarakat bukit sayang. Sang guru." Sang Raja membaca surat itu. "Kalau boleh kami bertanya, Acara syukuran apa sekiranya di bukit sayang?" Tanya baginda. " Baik baginda, izinkan kami menceritakan." Ucap salah satu pemuda. "Baik, silahkan..." Kata baginda. " Seperti kita tahu bersama, Bukit sayang di kuasai oleh Sang guru yang selalu mewujudkan diri nya sebentuk emas sebesar kuda. Beliau mewujud seperti itu baik di alam nyata atau pun alam ghaib." Ucap nya. "Beberapa waktu lalu, Bukit sayang kedatangan tamu, Beliau adalah putri sang baginda kobundokok sendiri bersama pasangan nya Frangky yang berbeda alam. Berikut dengan pengawal nya." Sambung nya. "Puisi dari Frangky menggugah Sang guru. Dan hubungan antara Frangky dan Shiva mencabut sumpah nya. Sehingga dia berubah menjadi wujud dia sebenar nya. Di tambah lagi, tujuan Shiva dan Frangky akan membangunkan dan membebaskan sang putri dari kutukan panjang nya. Hal ini membuat sang guru sangat senang dan bahagia. Makanya beliau mengundang saudara-saudara sibunian. Dan beberapa manusia." Jelas pemuda utusan. Ki Hurib dan baginda mengangguk, Karena mereka tahu jalan cerita dari sang guru dan putri yang di kutuk oleh raja yaitu ayah nya sendiri. Karena cinta nya tidak di setujui. Untuk lebih lengkap Baca buku "SANG KUNCI." Berbeda dengan ki kuntet dan Boneng yang belum tahu ceritanya. Mereka berdua nampak terkejut. Namun mereka tidak berani bicara, karena ini pertemuan formal. Setelah cukup basa basi, pemuda utusan mohon diri. "Malam ini sepertinya akan ada kejadian. Saya sudah perintahkan Kuntet dan Boneng untuk memperketat penjagaan." Ucap ki Hurib. "Kejadian apa itu guru?" Tanya sang Raja. "Keris kelok sembilan bergetar terus. Sepertinya kita akan mendapat serangan. Firasatku mengatakan itu dari pedang ular hitam. Tapi Baginda tenang saja, keris kelok sembilan mampu menandinginya." Jelas ki Hurib. Raja terlihat termenung sebentar, kemudian bertanya. "Lalu bagaimana dengan undangan penguasa bukit sayang guru.?" Tanya sang Raja. "Itu jelas kita hadiri. Namun sepertinya kita akan membawa prajurit cukup banyak. Firasatku mengatakan akan terjadi perperangan disana." jelas ki Hurib "Berperang dengan siapa guru?" Tanya raja. "Saya belum bisa memastikan, tapi yang jelas itu bukan dengan penghuni bukit sayang." Ucap ki Hurib. " Berhubungan dengan serangan yang kemungkinan terjadi malam ini. Apa yang harus kita lakukan Guru.?" Tanya Raja. "Baginda tenang saja. Ini bisa di atasi." Ucap ki Hurib. Di tempat lain, di sebuah kamar mewah di kerajaan merah. Pangeran merah terlihat lagi menatap pedang nya. Pedang Hitam itu di letak di atas meja. "Ki ronggo, dengan kekuatan mu saya ingin menyerang Raja kobundokok malam ini." Terdengar kata dari pangeran merah. "Baik pangeran, malam ini akan saya bunuh Raja nya." Suara keluar dari pedang. Yang hanya bisa di dengar oleh Pangeran merah sendiri. Tidak terasa waktu terus berjalan dengan kodrat nya. Malam telah teba. Di kamar nya, Pangeran merah menatap pedang ular hitam yang terletak di atas meja. Tenaga dalam di alirkan ketangan nya. Kemudian dia mengalirkan ke pedang ular hitam. " Ki ronggo bunuh Raja kobundokok!" Ucap pangeran merah. Pedang ular hitam diselimuti cahaya hitam berpendar di sekujur pedang. Kemudian berputar di angkasa. Turun lagi kemeja. pedang ular hitam keluar dari sarung nya. Suara seperti jutaan syetan menangis keluar dari pedang. Pedang itu kemudian melayang dari meja dan hilang saat mencapai dinding. Di kerajaan kobundokok, keris di tangan Ki Hurib bergetar hebat. Ki Hurib mengerahkan tenaga dalam nya ke keris kelok sembilan. Keris itu bukan berhenti getar nya. Malah makin kuat, sampai badan Ki Hurib ikut terguncang. Ki Hurib memejamkan matanya, mencoba menelusuri apa yang sebenar terjadi. Ki Hurib melihat pedang berwarna hitam yang di kelilingi cahaya hitam, sedang terbang mengarah ke kerajaan kobundokok. "Ternyata pedang itu telah menuju ke sini." Kata Ki Hurib kepada diri nya sendiri. "Keris sakti kelok sembilan, lakukan lah tugasmu." ucap nya. Keris di tangan Ki Hurib keluar dari sarung nya. Suara seperti auman harimau terdengar. Cahaya putih menyilaukan mata membungkus keris itu. Kemudian keris melayang ke dinding dan menghilang. Pedang ular hitam memasuki kawasan istana. Dari istana keris kelok sembilan melesat kencang ke arah pedang. Dua senjata luar biasa itu beradu di angkasa. Blegar... Dentuman dahsyat terjadi, cahaya hitam dan putih terus berkejar-kejaraan dan saling menghimpit. Suara seperti jutaan syetan menangis saling berhimpit dengan suara auman harimau. Rakyat kerajaan kobundokok terkejut dan keluar melihat itu. "bahaya..bahaya..bahaya.." Ada yang teriak begitu. Ada yang berlari sambil ngendong anak. Kemudian kepalanya kena ketok oleh istrinya sambil ngomel, karena takut anak masuk angin, belum di pakaikan baju. Blegar... Ledakan kedua terjadi. "Siapa yang kentut" Kata seorang nenek. Karena agak tuli, ledakan dahsyat dikira nya kentut. "Semua nya tenang." Kata ki Hurib yang keluar dari istana. Di tangan kanan nya tergenggam apel, di tangan kiri sarung keris kelok sembilan. Mendengar suara ki Hurib semuanya tenang. Di angkasa perang antara senjata saktipun seperti nya telah usai. Keris melayang lagi ke arah Ki Hurib, dan masuk kedalam sarung nya. Kemudian, Ki hurib menyelipkan keris itu di pinggangnya. "Tadi adalah utusan dari makhluk jahat yang ingin mengetes kekuatan kerajaan kobundokok. Namun kalian tidak perlu risau dan cemas. Semua telah aman dan terkendali. Sekarang semua kembali ke tempat masing-masing. Dan para prajurit kembali bertugas." kata Ki Hurib. Semua kembali ke tempat masing-masing, dan Ki Hurib segera masuk kedalam istana. "Guru.." Kata Sang Raja. Disana juga telah berdiri Ki kuntet juga Boneng. "Pedang ular hitam tadi menyerang kesini. Namun semua sudah aman." Kata Ki Hurib. "Apakah kita perlu mengadakan serangan balasan guru? Tanya Raja. "Gak perlu, Kita hanya perlu menghadiri acara di bukit sayang. Dan bawa prajurit-prajurit yang handal. Disana sepertinya kita akan berperang." Ucap Ki Hurib. Sementara itu, pedang ular hitam kembali ke tempat pangeran merah. Pangeran merah yang sudah yakin akan kematian Raja kobundokok tersenyum senang. "Pangeran merah, disana ada keris kelok sembilan. Salah satu senjata yang mampu menandingi kekuatan ku. Aku belum bisa membunuh Raja itu."Ucap suara dari pedang. " Brengsek.." Kata pangeran merah kesal. Tangan kanan nya yang di aliri tenaga dalam di pukul kan ke meja. Bumm.. Meja itu hancur berkeping-keping. Keheboan di kamar pangeran merah. mengejut kan Raja. " Ada apa anakku?" Tanya Raja setelah masuk ke dalam kamar pangeran merah. Pangeran merah menceritakan segalanya kepada Raja. "Ayah Aku akan ke bukit sayang. Aku akan membawa pasukan yang terhandal. Dendam kita harus di balas."Kata pangeran merah. "Ayah mendukung mu nak. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan." Kata Raja. Pangeran merah mengepalkan tinju nya. Dia harus cepat menemukan sungai hitam abadi dan membebaskan pangeran durjana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN