"Putri segera ikuti tarikkan tenaga gaibku. Aku akan memberikan keputusan ilmu linuwih kepada kalian berdua"
Ucap suara itu mendengung di telingaku. Aku paham betul itu adalah suara Ki Hurib. Aneh nya dia tidak menggantungkan kata-kata di akhir kalimat nya.
Apakah saat ini dia lagi makan apel..?
Aku merasa tubuhku di tarik oleh tenaga yang sangat kuat. Aku ikuti saja tarikan itu, melawan nya juga percuma, gak akan bisa di lawan.
Untung aku membaca mantra ghaib. Kalau tidak bisa benjol kepalaku kebentur dinding kamar, Ki Hurib memang lah, Main tarik aja.
Baru saja keluar dari istana, aku di bungkus kabut warna pelangi. Kejap berikut nya aku sudah berada di depan Ki Hurib dan Frangky.
Melihat kekasih hatiku Frangky, rasa rinduku tak terbendung. Tanpa aku sadari aku berjalan ke arah Frangky dan ingin memeluk nya.
"Jangan main peluk a.." Kata ki Hurib.
"Ajaib ki" Jawab ku
"Main peluk aja" jelas nya
Muka ku pasti merah, malu sih. Aku melihat ke arah Frangky. Dia cuma senyum-senyum saja.
Kejap berikut nya, aku baru sadari semua di tempat ini berwarna merah. Jangan-jangan ini jebakan pangeran merah. Aku menyipitkan mata. Ingin menyelidiki, Apakah yang di depanku benar-benar Ki Hurib dan Frangky.
Karena hanya pangeran merah lah yang menyukai warnah merah. Aku jadi mencurigai mereka. Mungkin saja mereka jelmaan dari anggota pangeran merah.
Mungkin saja aku akan di culik dan di paksa menikahi Pangeran Merah.
"Ho..ho..ho.. putri jangan ragu. Ini memang kami ber.." kata Ki Hurib.
"Kami siapa..?" Tanya ku.
Aku tidak memperdulikan sambungan kata Ki Hurib. Aku melihat Ki Hurib merogoh kantong nya. Dia jangan-jangan mengambil senjata rahasia untuk melumpuhkan aku.
Aku mempersiapkan diri. Ditanganku, ku alirkan tenaga dalamku.
Tapi yang di keluarkan dari sakunya bukan senjata rahasia melainkan apel.
"Huff.." Aku menghembuskan nafas lega.
Kalau ini sudah pasti Ki Hurib. Hanya dialah yang makan apel untuk menghilangkan kebiasaannya menggantungkan kata-kata.
"Ini adalah perbatasan alam nyata dengan alam ghaib putri." Ucap nya.
"Aku menemukan tempat ini tanpa sengaja. Itu terjadi saat aku berkelahi dengan raja kegelapan Ki Mayit. Saat itu kami sama-sama terluka parah." Dia terdiam sesaat.
"Kami bertarung dialam ghaib. Aku mau menyelamatkan tumbal, orang yang tidak bersalah."Lanjut nya.
" Kami bertarung di alam ghaib, saat itu kami sama-sama terluka parah. Dia melarikan diri. Aku pun akan pergi ke alam nyata." Ceritanya.
"Saat baru sampai di perbatasan, aku pingsan. Saat sadar aku sudah di tempat ini. Ternyata batu warnah merah ini memancarkan ion negative, Sehingga aku bisa meningkatkan tenaga dalam dengan pesat." Ucap nya lancar karena makan apel.
"Dan karena itu aku memanggil kalian kesini. Sekarang kita masuk ke dalam goa. Dimana energi nya luar biasa. Bisa menambah tenaga dalam kalian dengan pesat" Lanjut nya.
Aku yang sudah yakin sepenuh nya bahwa ini bukan pangeran merah ikut saja.
"Kaliah lihat batu merah yang pipih dan besar disana. Kalian duduk bersilah dan berdampingan. Akan aku turunkan tenaga linuwih dengan kalian." Perintah Ki Hurib.
Lalu kami berjalan ke atas batu itu, Kemudian kami ikuti sesuai anjuran nya. Baru saja aku duduk bersila, sudah terasa energi batu memasuki tubuhku. Aku rasakan ada energi panas yang mengalir ke dalam tubuhku.
"Kalian dengar baik-baik. Pada dasar nya ruang tak pernah kosong. Baik alam ghaib atau pun alam nyata. Apa yang kalian lihat kosong, bukan lah kosong. Ada energi yang berlimpah di sana. Energi yang saling bertautan dan berhubungan satu dengan yang lain nya. Itulah energi alam. Hisap dan kumpulkan energi alam ke dalam tubuh kalian. Aku akan membantu nya." Ucap k
Ki Hurib.
Kemudian dia terbang di atas kami. Telapak tangan nya di tempelkan ke kepala kami.
Aku makin merasa energi yang luar biasa masuk ke tubuhku dari batu itu. Juga dari daerah sekeliling aku. Seakan tubuhku mampu menyerap seluruh energi disekitar ku. Di tambah lagi dengan yang di kerahkan Ki Hurib.
"Kontrol energi itu. Kumpulkan di titik pusar kalian" Lanjut nya.
Energi yang kurasakan sangat liar dan besar. Sulit sekali mengontrol nya.
Aku merasa energi yang di alirkan ki Hurib Membantu aku untuk mengontrol energi alam ini.
Saat semua energi terkumpul pada satu titik. Aku merasakan badan ku sangat ringan. Dan aneh nya suara manusia, binatang bahkan lelembut dari tempat jauh bisa aku dengar.
"Kalian memang berbakat tinggi. Kalian telah berhasil mengontrol energi itu. Kalau kalain gagal mengontrol nya maka tubuh kalian akan meledak. Tapi jika sedikit saja salah. Kalian akan punya penyakit seperti aku." Jelas Ki Hurib.
Sekarang aku baru tahu. Ternyata dia menggantungkan kata di akhir pembicaraan bukan lah hobi. Tapi penyakit di akibatkan salah kecil dalam mengontrol energi.
"Sekarang kalian latihan di tengah lapangan. Kalian akan aku turunkan ilmu terakhir yang aku miliki." ujar nya.
Lalu kami berjalan ke luar goa menuju lapangan. Sesampai disana kami berdiri sejajar.
"Alirkan seluruh tenaga dalam kalian ke seluruh tubuh, dan ikuti semua petunjuk ku." ucap ki hurib.
"Kecerdasan terendah kekuatan nya adalah kecerdasan pikiran logika. Karena di batasi oleh yang terlihat, kemudian kecerdasan alam bawah sadar yang menyimpan seluruh kegiatan kalian dan memberikan pengaruh pada kehidupan yang kalian jalani. Kecerdasan alam bawah sadar adalah yang mengatur segala tindakan yang kalian jalani tanpa berfikir kalian melakukan nya. Seperti berjalan tanpa berfikir sekarang kaki kanan atau kiri di setiap langkah nya. Terakhir kecerdasan Quantum. Kecerdasan Quantum adalah titik tertinggi dalam kekuatan, menyambungkan kekuatan dengan doa, sehingga kekuatan bantuan datang dari sang pencipta. Saat Quantum atau perasaan, Atau qolbu,atau insan kalian yang berjabat tangan dengan ke inginan. Keikhlasan datang meliputinya. Doa akan terkabul..."Dia terdiam sesaat.
"Sekarang kalian tutup mata kalian. Dan rasakan apa yang aku ceritakan. ikuti gerak naluri tubuh kalian yang di gerakan nurani atau quantum. Tapi ingat tenaga dalam kalian harus di kerahkan seluruh nya" ucap Ki Hurib.
"Apapun benda atau makhluk, berasal dari ketiadaan. Dan berhulu dari satu sang pencipta yakni Tuhan yang maha tunggal. Ada jalinan ikatan yang tidak bisa terputus disini. Rasakan anugerah Tuhan melalui Hati nurani kalian yang paling bersih. Kemudian kosongkon seluruh keinginan, yang ada hanyalah pasrah. Biarkan nurani kalian menuntun gerakan padah tubuh kalin. Serahkan semua pada sang pencipta. Kalian adalah ada, dan sebenar nya tiada. Kalian adalah tiada sebenar nya tapi ada. Yang ada hanya kekuatan Tuhan sang pencipta. maka berserah diri lah lahir dan batin. Biarkan nurani menuntun." jelas Ki Hurib.
Aku melakukan semua yang di katakan nya. Aku melihat cahaya terang dalam diriku sendiri. Aku merasa sangat nyaman. Sehingga kenyamanan ini mengeluarkan air mata.
"Cukup..."Kata Ki Hurib dengan keras.
Aku tersentak dari rasa nyaman itu.
Aku melihat sekeliling menjadi porak poranda. Langit menghitam seperti badai. Didepan ku aku lihat Frangky juga habis menangis. Mungkin yang di rasakan sama dengan yang aku rasakan.
Aku juga melihat Ki Hurib penuh dengan keringat, nafas nya ngos-ngosan seperti habis melakukan pertarungan dahsyat.
"Kalian hampir saja menghancurkan tempat ini. Dan hampir juga menimbulkan badai di dunia manusia. Bahkan kalian hampir membunuhku." Ucap nya
"Apa yang terjadi ki, aku tidak merasa melakukan apa-apa." Jawab ku
"Sama Ki,aku pun tidak melakukan apapun." Kata Frangky.
Tadi nya dia diam sekarang baru bersuara.
"Kalian mungkin tidak merasa melakukan Nya. Karena kalian telah menyerahkan diri sepenuh nya kepada Sang Pencipta. Tapi tenaga yang kalian lepaskan lihat lah tempat ini hampir hancur. Bahkan goa tempat kalian latihan tadi sudah runtuh." jelasnya.
"Itulah kekuaan quantum. Namun kalian harus berlatih keras agar bisa mengendalikan nya" Ucapnya.
"Kalian telah berhasil mengaktifkan kekuatan itu. Sekarang kalian coba dengan mata terbuka. Kalian ingat apa yang kalian lakukan dan rasakan tadi..?" Tanya Ki Hurib.
"Ingat ki," Jawab kami serentak.
"Sekarang kalian lakukan hal itu tapi dengan mata terbuka. Hingga kalian menyadari apa yang terjadi." Katanya.
Aku melakukan seperti apa yang aku lakukan tadi. Memang agak terasa sedikit sulit saat mata terbuka. Tapi akhir nya aku merasakan juga yang aku rasakan tadi.
Disini bedanya, Aku melihat segala yang terjadi.
Aku melihat tubuh kami memancarkan sinar putih berkilauan ke segala penjuru.
Alam sekitar kami mulai bergetar.
Aku melihat kearah Ki Hurib. Ki Hurib membentengi dirinya dan alam sekitar dengan sinar yang sama.
Sinar dari tubuh ku dan Frangky semakin lama semakin kuat. Tangan kami pun bergerak dengan sendiri nya. Setiap gerakan yang kami buat, memberikan efek yang sangat luar biasa.
Langit yang tadi nya sudah cerah, Tiba-tiba mendung datang. Angin kencang berhembus. Guntur saling sahut bersahut. Batu-Batu berterbangan keudara seperti di lempar kekuatan raksasa.
"cukup..." Kata Ki Hurib.
"Yang kalian lakukan tadi sepuluh kali lebih besar dari ini. Sehingga aku sendiri kewalahan menjaga alam sekitar sini. Untung tempat latihan kalian ada di alam perbatasan. Sehingga dari dunia nyata. Yang mereka lihat hanya lah badai saja. Dan bagus nya tempat ini cukup jauh dari penduduk. " Jelas Ki Hurib.
"Besok kalian boleh mulai melakukan perjalanan ke desa Jambulippo. Kalain pasti tahu letak desa itu. Namun kalian akan melewati desa perbatasan Nama desanya Lawas sebelum masuk kedesa Jambulippo. Kalian bermalam lah disana. Disana sedang terjadi keributan oleh dukun sesat. yang memelihara hantu gundul. Kalian praktek kan ilmu kalin disana. Bukan untuk menyakiti orang tapi membantu orang. Kalian ingat satu hal, jangan pernah gunakan ilmu kalian untuk menzolimi orang dan jangan kalian takabur, diatas langit masih ada langit." ucap Ki Hurib.
"Baik ki" Jawab kami serentak.
*************************************
Pagi ini aku merasa segar, dan juga awal dari perjalanan panjangku. Pencarian Negeri Alang-Alang. Sebuah negeri yang memberikan harapan bagi kami untuk bersatu.
"Hai Frangky selamat pagi.." Sebuah suara mengiang di telingaku.
Aku tahu itu suara Shiva, hanya aku yang tahu kehadiran nya. Sebenarnya bapakku juga tahu sih. Tu buktinya Shiva bisa masuk. Padahal rumah ku di pagar kekuatan ghaib. Mungkin bapak telah membuka khusus buat Shiva.
"Oh, Rupanya kalian sudah berkumpul, sudah siap berangkat." Tiba-tiba bapak datang.
"Iya pak," Jawab Shiva sambil menyalami bapak.
Kalau ada tetangga yang melihat bapakku saat ini. Pasti mereka ketakutan. Karena mereka tidak bisa melihat Shiva.
"Pak, Frangky bawa motor ya pak. kan Jambulippo gak jauh dari desa kita." Ucapku memberi alasan sebelum di tanya.
"Ya, bawalah. Namun kalian
Domo,Dumu dan Ki Kuntet. Jaga mereka baik-baik" Ucap bapak.
"Baik pak" Jawab mereka serentak.
Tas ransel ku aku tarok di depan.Sementara mereka berempat tidak membawa apapun. Kalau mau pakai baju, tinggal suruh jemput sama ki kuntet. Sebenarnya mereka bisa lansung sampai di puncak bukit sayang. Aku pun juga bisa, Lewat jalur ghaib. Tapi, kata guru aku harus melakukan perjalanan seperti manusia biasa.
Aku geli saat bilang manusia biasa. Dulu aku tak percaya ada dunia lain di balik dunia kita ini. Sekarang malah aku pacaran dengan salah satu mereka. Ini membuktikan kekayaan Tuhan tiada batasnya.
"Pak aku berangkat, Assalamulaikum.." Kataku.
"Waalaikum salam" Jawab bapak.
Aku menghidupkan motorku. Shiva membonceng di belakang ku. Meski pun tidak ada orang yang bisa melihat nya, aku merasakan hangat pelukan nya. Sementara Dumu,Domo dan Ki Kuntet terbang di samping kiri dan kanan kami.
Untuk menuju desa Jambulippo kami harus melalui kota. Sebenar nya jarak nya cukup dekat kalau mau mendaki dan turun gunung. Hanya satu gunung yang memisah kan kami.
Tapi zaman sekarang. Lebih baik jalan memutar, tapi pakai kendaraan. Dari pada naik gunung kemudian turun gunung lagi. selain capek, kain juga pasti kotor di buat nya.
Saat memasuki kawasan wajib lalu lintas, terlihat beberapa polisi sedang melakukan razia. Aku punya semuanya. Surat-surat lengkap, tapi kata orang, kebanyakan polisi pasti mencari kesalahan kita nantinya.
Dan itu akan menghabiskan waktu. Target nya kami cepat sampai di desa perbatasan, yaitu desa Lawas.
Aku meminggirkan motorku kemudian mengirimkan pesan suara ke Shiva. Melalui jalur ghaib. Tapi ini juga bisa di dengar oleh Domo,Dumu dan Ki Kuntet.
Aku memakai jalur ghaib agar orang tak menganggap aku gila bicara sendiri. Seperti kata guru "Orang selalu mengandalkan kecerdasan tingkat dasar. Yaitu kecerdasan otak atau logika. Kalau seandai nya manusia seluruh nya memakai kecerdasan batin, mungkin hidup akan damai.
"Shiva disana ada razia sepertinya, bagaimana ini..?" Tanya ku
"Te..tenang saja tu..tu..an. ser..ser"Kata Domo
"Siapa yang beser" Tanya Shiva.
Si Dumu yang agak kurang pendengaran nya. Malah menggeser terbang agak menjauh.
"Hoi Dumu kenapa kau geser anu mu" Tanya ki kuntet.
"huss... gak boleh bilang begitu ki" Ucap Shiva.
"Maksud saya terbang nya" Jelas ki kuntet.
"Ayo sini anu mu" Teriak Ki Kuntet.
Si Dumu sepertinya mendengar teriakan Ki Kuntet. Lalu memegang celana nya.
"Bukan anu mu itu, tapi anu mu." Teriak Ki Kuntet.
Si Dumu malah makin erat pegang celananya.
"Aduh maksud saya terbang mu, b***k" Ucap Ki Kuntet
Aku untung pakai masker. Jadi tidak terlihat aku tertawa oleh orang lain. Shiva dan Domo terkikik.
Lalu Domo terbang ke arah polisi. Kemudian dia Mengembus mata polisi. Kejap berikutnya Domo menghembus motor ku tiga kali.
"Jangan lama-Lama hembus nya" Ucap Shiva
"Ke..ke.."
"Kedelai " Ucap Shiva
" Ke..kenapa" Tanya Domo.
"Anu mu bau jengkol" Sahut Ki Kuntet.
"Ha..." Teriak Domo kaget.
Sepertinya dia salah paham.
"Nafasmu" Jawab Ki Kuntet meberi penjelasan sambil bersungut-sungut.
Dumu sedang asyik terbang mengikuti seorang pengendara motor cewek. Aku hanya senyum saja melihat tingkah mereka.
"Ma..ma..ri tu..tuan sil..silahkan jal..jal.." Kata Domo.
"Jala "sahut Shiva
"buk..buk" jawab Domo
"Kenapa buk..buk. kena pukul"Sela Shiva.
"Buk..bukan jal..jalan."Jawab Domo.
Sebenar nya hubungan antara Shiva dengan mereka bukan berdasarkan atas dan bawahan lagi. Bukan pengawal dengan putri Raja. Tapi sudah seperti saudara sendiri. Itulah sebab nya shiva asal saja meluruskan kata-kata Domo.
Aku lanjutkan motorku. Dengan santai aku melewati mereka. Karena aku tahu. Domo adalah pengawal pilihan. Ilmu nya terbilang cukup tinggi.
Benar saja, Polisi seakan tidak melihat aku. Tapi orang lain melihat aku.
Ada seorang pemuda membawa kamera. Komplin ke polisi membiarkan kami lewat. Polisi hanya diam pura-pura gak dengar saja. Atau polisi ini berfikir pemuda itu lagi stres. Gak ada yang lewat di bilang nya ada.
Sebelum melanjutkan perjalanan. Aku menjual emas yang aku temukan di alam perbatasan saat latihan dulu. Kata guru boleh di ambil sekedar nya saja. Dan hasil nya lumayan, bisa menghidupi keluarga tujuh anak untuk waktu lima tahun.
Sekarang aku aman, duit sudah banyak di tas. Kalau mau beli mobil Pajero bisa saat ini aku beli tiga buah.
Setelah agak jauh dari toko emas. Aku minta Shiva membawa tasku ke alam ghaib, tas yang berisi uang. Tas yang ada kain nya biar aku sandang.
"Dumu bawa tas ini" teriak Shiva menyuruh Dumu yang bawa.
Kalau bicara sama Dumu harus teriak. Kalau gak, gak bakal dengar. Tapi teriakan Shiva tidak akan di dengar orang kok, Jadi aman.
Akhirnya kami memasuki desa lawas.
Aku menanyakan rumah kepala desa kepada penduduk setempat. Dan mencarinya tidak sulit.
"Assalamualaikum.." Ucapku sambil mengetuk pintu sebuah rumah cukup besar.
"Waalikum salam.." Jawab suara dari dalam rumah.
Kemudian keluar seorang laki-Laki separoh baya. Pakai kopiah menutupi uban yang sudah mulai nampak. Kumis bapak ini tebal. Badan nya tegap. Kalau di lihat menyeram kan sih, seperti penjahat-penjahat dalam film.
"Cari siapa nak" Tanya nya.
Meski tampilan nya cukup garang. kenyataan nya dia sangat ramah.
"Maaf pak. bapak Pak Madi kepala desa disini" Tanya ku.
" Benar nak, Ada yang bisa bapak bantu" Tanya nya.
"Begini pak, saya mau ke desa Jambulippo. Namun malam ini saya mau nginap di desa ini. Jika boleh tahu, di desa ini apakah ada penginapan, atau kamar yang di kontrakkan." Tanya ku.
"Anak dari desa mana..?" Tanya nya.
" Saya dari desa Siri pak" jawab ku.
"Desa Siri, Apakah anak kenal dengan pak Amin. orang pintar disana..?" Tanya nya padaku.
"Dia bapak ku pak, bapak kenal beliau." Tanya ku.
"ya bapak kenal beliau nak. silahkan masuk..silahkan masuk.." Katanya menyuruhku masuk.
Aku mengikuti langkah Pak Madi kedalam rumah. Rumah ini lumayan luas ruang tamu nya. Di dinding nya bergantung beberapa foto.
"Silahkan duduk nak." Ucap Pak kades padaku.
"Buk kita ada tamu. buatkan minum." teriak Pak Madi sama istri nya.
"Ya pak" Ucap istri nya.
"Bagaimana keadaan bapak mu sekarang...?" Tanya pak kades
"Alhamdulilah, beliau sehat pak" Jawabku.
Kemudian ponsel android ku ber bunyi. Ternyata yang nelp bapak.
"Maaf pak saya angkat telp. Bapak nelp" Ucap ku.
"Silahkan nak. Silahkan" Jawab pak madi.
"Assalamualaikum ,pak" Sapa ku di hp.
"Bagaimana Frangky kamu sudah sampai di lawas..? Tanya bapak.
"Sudah pak, ini lagi sama pak kepala desanya, katanya dia kenal bapak" Ucap ku
"Mana pak kades, berikan hp padanya." Ucap bapak.
"Assalamualaikum Pak Amin" Kata pak kades.
" Oh gak pa-pa pak, saya malah senang gak merasa terganggu kok" Ucap nya.
"Baik pak aman tu" kata pak kades.
"Ok pak ok. Nanti no bapak saya minta sama anak bapak nanti .." Ucap nya kemudian.
"Waalaikum salam.." kata pak kades mengakhiri telp.
kemudian hp di berikan padaku.
"Halo pak.." Ucapku.
Ternyata hp sudah di matikan bapak.
Tak lama kemudian dari pintu dapur terlihat ibuk-ibuk setengah baya membawa nampan. Disana terlihat ada kopi, pisang, dan kue lain nya.
Ibuk ini masih tersisa kecantikan masa muda nya. Dengan wajah sedikit lonjong, kerudung yang melilit di kepala, serta kebaya yang dia pakai, nampak dia berwibawa. Seperti nya dia istri pak kades.
"Silahkan di minum nak" Ucap nya.
kemudian duduk di samping pak kades.
" Dia anak pak amin buk. Yang dulu mengobati kita. Saat kita di guna-guna dulu. Namanya.. Aduh bapak sampai lupa nanya namanya." Kata Pak Kades sama istrinya
" Anak namanya siapa..?" Tanya Pak Kades padaku.
"Nama saya Frangky pak..." Jawab ku.
"Ayo nak di makan kue nya.." ucap buk kades.
"Iya buk " Jawabku.
"Bagaimana ceritanya pak kades bisa kenal bapak...?" Tanya ku penasaran.
Ternyata bapak bisa tenar sampai sejauh ini. Bapak ku hebat juga.
"Dulu saat bapak di tunjuk warga sini menjadi calon kepala desa. Tiba-tiba bapak sakit. Bapak merasa seluruh badan bapak panas..." Dia terdiam sejenak.
"Saking panas nya, bapak mau berendam saja. Sudah banyak rumah sakit bapak datangi. Tapi penyakit bapak tak kunjung sembuh. Malah pihak rumah sakit sampai bingung. Karena penyakitnya tidak di jumpainya ya buk."Cerita Pak Kades.
"Benar nak, Dukun dan orang pintar pun sudah banyak kami kunjungi. Tapi tak sembuh-sembuh juga. Hingga kami mendengar dari salah satu warga, ada orang yang bisa mengobati di desa siri, Namanya Pak Amin. itulah kami kesana" Kata Buk Kades.
"Sesampai disana. Pak amin memeriksa keadaan ku. kemudian beliau mengambil beberapa macam ramuan Dan menyiramkan ketubuhku. Tubuh ku sepeti mengeluarkan asap. Selang beberapa saat aku merasa segar..." Ucap nya.
"Kemudian Pak Amin menanamkan pagar ghaib di tubuh kami. Termasuk di tubuh putra kami,anak kami satu-satunya. Sekarang kuliah di jakarta." Sambung Pak Kades.
"Semenjak itu lah kami tidak merasakan sakit lagi. Apalagi beliau sangat baik hati. Di kasih uang agak banyak dia nolak ya pak. Hanya di ambil sekedar saja" Sambung Buk Kades.
"Benar buk dia orang yang paling baik yang pernah kita jumpai ya buk." Sambung Pak Kades.
Bukan aku gak percaya. Tapi rata-rata yang berobat kerumah aku pernah jumpa. Tapi bapak ini aku gak ingat.
"Maaf pak kapan kejadian nya pak..?" Tanya ku penasaran.
"Sekitar sebulan yang lalu ya buk...?" tanya Pak Kades sama istri nya.
"Ya lebih kurang lah ya pak. Bapak jadi Kades yang sah baru seminggu. Sekitar tiga atau empat minggu yang lalu lah" Jawab istri nya.
Ooh pantasan aku tak pernah lihat dia. Saat itu aku lagi di latih di alam perbatasan.
"Jadi nak Frangky mau nyari penginapan...?" Tanya Pak Kades.
"Iya pak.." Jawabku.
"Kami ada kamar kosong. nak Frangky bisa tidur disana..." Kata Pak Kades.
"Boleh juga pak. Berapa saya bayar pak...?" Tanya ku
"Gak usah bayar nak. Bapak berhutang nyawa sama Pak Amin. Anggap saja ini rumah sendiri." Jawab Pak Kades.
"Mari nak bapak tunjukan kamarnya." ucap Pak Amin.
Aku mengikutinya dari belakang.
"Kamar ini adalah kamar anak kami yang sekarang kuliah di jakarta. Sudah lama gak di tempati nak." Kata Pak Amin.
Kamar itu terletak di bagian belakang rumah nya. Tapi gak terlalu jauh dengan ruang tamu.
Pak Amin membukakan pintu kamar. Di dalam nya ada satu tempat tidur, lemari kain, kursi dan meja belajar, juga ada kipas angin di dinding.
Kamar ini tidak terlalu luas. jendela nya mengahadap ke arah rimbun pohon pisang.
"Kamar mandi di rumah ini cuma satu nak. itu dekat dapur." Katanya.
"Kalau nak Frangky mau istirahat silahkan istirahat lah" Lanjutnya.
"Baik pak, terimakasih." kataku.
"Tu..tu..tu.." Kata Domo.
"Tuak.." Sela Shiva
"Bukan tu..tuan putri. sa..sa.." Kata Domo
"Sabit" Jawab Shiva
"Saya..mau..ke..ke.liling des..desa" Jelas Domo.
"Saya ikut Domo Tuan Putri sebab anuku mau melihat anu disini" Kata Ki kuntet.
"Anu Ki Kuntet gimana..?" Tanya Shiva.
"Maksudku diriku mau lihat daerah sini" Sahut ki kuntet ber sungut-sungut.
"Kau gimana Dumu" Tanya Shiva pada si b***k Dumu.
" Semangka mana semangka Tuan Putri" Dumu salah sangka. gimana di dengar semangka. Jauh kali larinya.
"Bukan semangka. Anu mu ikut jalan gak" Jawab ki kuntet dengan keras.
"Jangan, anuku cuma satu." Ucap Dumu sambil memegang celana.
"Bukan anu mu. Maksudku dirimu ikut Keliling desa" Teriak ki kuntet kesal.
"Oh boleh. Aku ikut, Mana tahu ada cewek mau kenalan" Jawab Dumu.
Aku tersenyum mendengar mereka bicara. Jika ada cewek bunian mau kenalan pun sama Dumu, Pasti pusing dia.
"Frangky sayang. Aku keliling desa juga ya. Sambil menyelidiki Hantu Gundul. Kamu istirahat aja dulu." Ucap shiva.
"Baik lah,hati-hati sayang..." Jawabku.
Kemudian mereka menghilang dari pandangan ku.
Setelah mereka pergi, aku merebahkan diri di kasur. Rasa cukup lelah setelah perjalanan jauh membuat aku tertidur.
Rasanya belum lama tidur,aku di kagetkan oleh sebuah suara.
"Brrrrttt" Bunyi suara itu.
Pas aku buka mata. Di depan wajah ku terpampang muka mengerikan. Muka berwarna putih kapur. Wajah itu terlihat datar,mata nya hanya ada bintik kecil. Hidung nya juga hanya lubang kecil dua biji. dengan bibir seperti goresan saja.
Lidah nya menjulur ke arah ku, Diantara bibirnya yang hanya seperti sebuah garis saja. Reflek tangan ku bergerak menempar mukanya.
"Aduh.." Kata makhluk itu kesakitan.
"huu..huu...Wajah ganteng ku di tampar. rusak wajahku. Nanti aku bukan yang terganteng lagi. Huu. huu..." Ucapnya.
Aku heran, Kok ada makhkuk ghaib kena tampar aja nangis. Terus wajah kayak gitu yang paling ganteng. Gimana jelek nya.
Tidak lama berselang muncul Domo di tangan nya menggengam buah jambu biji. Disusul Dumu,Ki Kuntet dan Shiva.
"Tu.. Ada wajah lebih jelek dari ku. Tampar juga lah, hu..hu.." ucap makhluk ini menunjuk domo.
Pletak..,
Domo memukul kepala makhluk tersebut. Kayak nya Domo tersinggung.
"Aduh sakit, gak boleh yang jelek memukul yang tampan."ucap nya.
Domo mendelik kan mata kesal. Ki Kuntet dan Shiva tertawa ngikik. Aku pun ikut tertawa melihat domo. yang diam hanya Dumu, karena gak dengar kata Makhluk itu.
Domo berjalan ke arah makhluk itu mau menendang nya. Tapi makhkuk itu lari sembunyi di belakang Shiva.
"Tante cantik, tolong aku. Si jelek itu mau merusak wajah tampan ku. Iri dia kali ya" Ucap nya.
Domo semakin gusar.
"Domo cukup."Kata Shiva sambil menahan tawa.
"Kamu siapa" Tanya Shiva.
"Aku ucil tante. Aku kesini tadi mau jalan-jalan saja. Aku lihat ada sinar merah di kaki oom itu. Aku penasaran. Aku isengin aja sekalian. Malah aku di tampar." Jelas nya.
"Kamu dari mana..?Tanya Shiva.
"Aku dari bukit sayang.."Jawab nya.
Aku terkejut, bukit sayang adalah tujuan kami.
Belum sempat aku bertanya, aku dikejutkan sebuah suara.
"Disini kamu rupanya, dasar cucu bandel." Teriak sebuah suara.
"Berapa kali harus di bilang, nanti di tangkap dukun sesat. Bisa menjadi ancaman. " Lanjut suara itu.
Kejap kemudian terlihat sesosok makhluk yang di penuhi bulu lebat warna putih. Mungkin udah ubanan semua. Setinggi tiga meter, Di mulut nya ada taring bawah yang mencuat keatas. Selebih nya mirip dengan manusia.
"Apakah cucu saya mengganggu kalian..." Tanya nya.
"Tidak ki" Jawab shiva.
"Tapi oom itu menampar aku kek.."Jawab Ucil.
"Pasti kau isengi." Jawab kakek ucil.
" Aku cuma julurkan lidah. oom itu lansung nampar." Lanjut ucil.
Sesaat kakek ucil terdiam. Aku siap-siap jika dia tiba-tiba menyerangku.
"Maafkan cucuku harap maklum. Dia masih muda baru usia delapan puluh tahun." Jelas kakek ucil.
Aduh, seusia delapan puluh tahun panggil aku oom. mungkin di ghaib itu masih anak-anak kali ya usia segitu.
" Kamu sepertinya bukan manusia biasa. Kamu bisa melihat dan menampar Ucil. Saat ini kamu pasti juga bisa melihat dan mendengarku" Ucap kakek ucil melihat aku.
"Aku manusia biasa ki. Yang luar biasa hanya Sang Pencipta." Jawabku.
" Ya sudah, saya minta maaf atas perlakuan cucu saya"Kata kakek ucil. Lansung memegang tangan Ucil.
Seperti nya dia tidak mau berlama-lama lagi.
" Maaf ki, Apakah benar aki dari bukit sayang..? " Tanya ku.
" Iya lah, kami dari bukit sayang. Kakek oom itu ada cahaya merah kecil di kaki nya. tante itu juga ada" Kata Ucil.
"Dimana letak cahaya nya..? " Tanya kakek ucil.
"Oom itu di lipatan lutut kanan nya. Kalau tante itu di sebelah kiri." Jawab ucil.
Aku hanya diam saja. Aku tidak melihat cahaya di kaki Shiva.
"Siapa kalian sebenarnya.Perlu kalian ketahui. Cucuku mempunyai mata api. Sebuah tanda bisa di lihat nya." Kata kakek Ucil.
"Saya Frangky, Ini Shiva dan ini Domo,ini Dumu dan ini Ki Kuntet. Kami dari desa siri ki. Kami menuju bukit sayang. Apakah aki dari sana..?." Tanya ku.
"Saya dari bukit sayang. Apa tujuan kalian kesana..?" Tanya kakek ucil penuh selidik.
"Kami mecari pintu goa menuju negeri Alang-Alang." Jawabku tanpa ragu.
" Seperti nya ramalan itu akan terjadi" Gumam kakek Ucil.
"Aku bisa membantu kalian. Tapi ceritakan dulu semuanya padaku." Pinta nya.
Dia mancari tempat duduk, dan membatslkan kepergian nya.
Aku menceritakan semua dari awal. sebisa mungkin dan sedetail mungkin. Entah kenapa, aku merasa percaya sama kakek ini.
Kakek Ucil seperti nya serius mendengar nya.
"Baik lah. Kalian jika sudah sampai di bukit sayang. panggil namaku nanti. Namaku adalah Sang Murid. Kalian bisa memanggil ku kakek Sang Murid. Itu bukan nama asliku. Semenjak tragedi itu. Aku mengganti nama menjadi Sang Murid." Jelas nya.
Namun aku tidak tahu tragedi yang di maksud.
"Untuk memanggilku hentakan kaki ketanah tiga kali. Lalu sebut namaku. Dan masalah hantu gundul yang kalian cari di desa ini. Sebenar nya dia adalah jin jahat. Seorang dukun sesat bersekutu dengan nya.." Jelasnya.
"Dia ada di bukit palo. Kalau kau bisa meraga sukma lakukan lah nanti malam. Basmi lah dukun sesat itu. Hanya lewat alam ghaib lah kalian bisa mengalahkan dukun itu. Kalau dari alam nyata, kalian tak akan mampu melawan nya" Jelas kakek yang namanya aneh. Sang murid.
"Untuk mengalahkan dukun itu kalian harus mengalahkan dulu sumber kekuatan nya. Yaitu hantu gundul. Seperti yang aku jelaskan tadi hantu gundul adalah jin sesat. Si dukun mendapatkan jin ini. Setelah mengabdikan diri nya ke raja kegelapan ki Mayit. Dan kelemahan Hantu Gundul ada ditengah matanya." Lanjut kakek sang murid.
" Hantu gundul memiliki kesaktian sepeti punya banyak nyawa. Saat tubuh nya hancur. tak lama kemudian bangkit lagi. Kecuali tengah matanya kena pukulan kuat. Maka dia akan lenyap selamanya." Jelas nya.
"Hantu gundul memerlukan tumbal minimal sekali sebulan untuk di serah kan kepada gurunya. Tumbal nya berupa manusia. Dan dia suka menangkap sibunian untuk di jadikan bawahan nya." Ucap kakek sang murid.
" Lalu kenapa tak ada yang melawan nya ki..?" Tanya ku.
" Beberapa orang telah mencoba melawan nya. Tapi yang di terima hanya lah kekalahan telak. Dan kami tidak bisa melawan nya. Karena tidak berada dalam koridor sumpah kami. Semenjak tragedi itu, Kami bersumpah memilih diam. Kecuali empat tempat diganggu. kerajaan kobundokok, bukit sayang, bukit mambuik dan bukit kayo. Selebih nya kami menutup mata, seakan tak peduli." Jelas nya.
"Maaf ki kalau boleh tau tragedi apa yang ki maksud..?" Tanya ku
"Nanti ada masa nya kau tahu." Jawab nya.
" Saya permisi dulu." katanya kemudian hilang begitu saja.
Setelah kepergian nya. Kami terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku merasa lapar.
"Shiva aku mau belanja kamu mau ikut" Tanya ku sama sama Shiva.
"Iya aku ikut" Jawab Shiva.
"Kami berjaga-jaga disini saja tuan putri." Ucap Domo tanpa gagap. Karena sedang makan jambu biji.
Sebenarnya aku tahu ini hanya alasan mereka. Mereka pasti merencanakan sesuatu. Mungkin saja mereka akan mencari tahu tentang Hantu Gundul.