Di ruang tamu, Pak kades sedang membicarakan sesuatu dengan istrinya. Aku berjalan menghampiri mereka.
"Pak saya mau jalan-jalan keliling kampung sebentar." Ucapku meminta izin.
"Baik nak Frangky, tapi pulang jangan terlalu malam. Sebab kampung ini sedang tidak aman.." Kata Pak Kades.
"Tidak aman bagaimana pak..?" Tanya ku.
" Belakangan ini sering terjadi kematian yang tiba-tiba. Rata-rata korban nya adalah orang yang sedang berada di luar rumah pada saat malam hari. Tidak peduli tua atau muda, gadis atau janda. Jika malam hari berkeliaran, pagi nya di temukan tidak lagi bernyawa. Ada yang mengapung di Sungai, ada yang tersandar di pohon-pohon besar, ada yang seperti gantung diri. Sehingga desa ini di selimuti ketakutan" Cerita Pak Kades.
"Awal nya masyarakat mengira kematian mereka normal. Makin kesini makin banyak. Hingga menurunkan pihak berwajib. Tapi tidak ada ciri-ciri pembunuhan. Namun ini menjadi seperti wabah penyakit saja." Lanjut Pak Kades.
"Dalam minggu ini Telah terjadi lagi dua orang yang meninggal." Ucap nya sambil menghela nafas.
"Kejadian demi kejadian memicu keresahan, sehingga masyarakat pun saat ini emosinya sedang tinggi. Memang terlihat ramah kepada orang lain. Namun ketakutan dan kecurigaan makin menjadi-jadi. Saya cemas terjadi perpecahan di Desa ini" Sambung nya.
"Apakah tidak ada penjagaan malam hari pak..?" Tanya ku.
"Ada, yang terakhir jadi korban adalah para peronda. Dari cerita kawan nya yang ikut ronda. Dia melihat ada cahaya seperti api terbang sekeliling kampung waktu itu. Hingga bisa di simpulkan, kematian mereka adalah tumbal. Tapi siapa dalang nya kami belum tahu. Di kampung ini tidak ada yang kaya mendadak." Lanjut nya.
"Apakah di sini tidak ada orang pintar atau dukun pak..?" Tanya ku.
"Ada, Hanya satu yang tersisa. Selebih nya meninggal dunia hampir bersamaan." Terang pak kades.
"Siapa yang tersisa pak..?" Tanya ku.
" Pak Kirai, Seorang dukun sakti. Yang tinggal di bukit Palo. Dia orang aneh, suka menyendiri dan tertutup. Dia juga kurang bermasyarakat" Jawab pak kades.
"Ada gak pak kemungkinan Dia adalah dalang di balik ini semua. Mana tahu saja tumbal untuk ilmunya..?" Tanya ku.
Aku memancing pak kades juga. Sejauh mana prasangka masyarakat disini kepada dukun sesat itu.
"Kami tidak berani menuduh sembarangan nak. Tapi siapapun saat ini di curigai penduduk." Ucapnya.
"Bapak berfikir akan meminta bantuan ke pak amin untuk mengatasi masalah ini. Sebab kalau di biarkan nak, Kampung ini lama ke lamaan bisa habis penduduk nya." kata pak kades.
"Siapapun dalang nya, Pasti bukan golongan manusia. Dia lebih kejam dari iblis. Lebih hina dari binatang" Ucap nya.
Jelas terlihat gusar,cemas bercampur marah di wajah nya.
"Pak hati-hati bicara, ibuk takut nanti kita kenapa-kenapa.." Buk Kades mengingatkan pak kades.
Sampai sejauh itu ketakutan mereka.
"Pak bagaimana kalau saya yang ikut membantu. Saya kan anak pak amin." Ucapku menawarkan diri.
"Maaf nak Frangky, Apakah rasanya nak Frangky sudah sanggup untuk itu..?" Kata Pak Kades.
Mungkin beliau ragu karena melihat usiaku. Ilmu seseorang tak bisa di nilai dari usia.
"Terus terang pak,Saya di utus kesini oleh guru bapak saya. Beliau sekaligus guru saya pak, Untuk mengatasi masalah ini. Sebab guru mempunyai kepekaan indra yang sangat tinggi. Beliau jadi terusik gara-gara kejadian disini." Kataku.
Aku memberi penjelasan ke pak kades. Alasan aku harus bermalam disini.
"Bapak tidak perlu cemas, Bapak lihat gambar di dinding itu." Kataku menunjuk sebuah gambar kuda yang tergantung di dinding.
"Dari sini saya akan membuat nya melayang." Kataku.
"Shiva bantu aku mengangkat gambar di dinding itu, yang gambar kuda ya." Bisik ku ke Shiva lewat jalur ghaib.
"Baik sayang" ucap nya.
"Dalam hitungan ke tiga ya" Ucap ku.
"Oke" Jawab nya.
"Sekarang perhatikan gambar kuda itu." Ucap ku.
"satu..dua tiga... sekarang Shiva." Kataku pada Shiva.
Yang di lihat pak kades, Pasti gambar itu melayang sendiri. Padahal Shiva yang lagi memainkan gambar tersebut.
"Udah atau lanjut sayang.?" Tanya Shiva.
" Sudah cukup lah. kita hanya meyakinkan pak kades" saja jawab ku.
Shiva meletak kan kembali gambar itu.
Pak kades dan buk kades hanya melongo. Kalau ada lalat yang nyasar bisa masuk kedalam mulut mereka.
"Bagaimana pak, Apakah bapak sudah yakin..?" Tanya ku.
"Ya..ya.. Bapak yakin nak. Bapak yakin." Ucap nya senang.
"Baik lah pak. Saya izin keluar dulu. Insyaallah nanti malam saya cari siapa pelaku nya." Kataku.
"Ya..ya.. nak silahkan" Ucap nya.
Aku berdiri dan melangkah keluar. Aku hidupkan motorku. Shiva ikut boncengan denganku.
Aku menemukan rumah makan.
Aku membeli nasi nya tujuh bungkus. Yang tiga beda kantong. Itu buatku dan pak kades serta buk kades. Yang empat lagi buat Shiva, Domo,Dumu dan Ki Kuntet.
Kemudian aku lanjutkan mutar-mutar sekeliling kampung. Aku membeli barang di sebuah warung cukup besar.
Aku belanja cukup banyak. Sehingga pemilik warung heran menatap ku.
"Tinggal dimana nak..?" Tanya nya.
"Saya numpang di rumah Pak Kades buk. Jawab ku.
Setelah aku membayar belanjaan ku. Aku lansung pulang menuju rumah pak kades.
Buk kades cukup kaget melihat belanjaan ku. Beras satu karung, indomi satu dus. gula,kopi,minyak goreng belum lagi yang lain nya. Aku menyerahkan belanjaan ku padanya.
Jujur bawa kesini cukup ribet. Sampai Shiva harus terbang.Tak ada lagi tempat untuk dia bonceng di motorku.
" Kenapa belanja sebanyak ini nak. Kami merasa malu menerimanya." Ucap pak Kades.
"Gak apa-apa pak, kan bapak sendiri yang bilang anggap rumah sendiri. Ya aku beli saja kebutuhan kita sehari-hari di rumah" Jawabku sekenanya.
"Aku masuk kamar dulu ya pak." Ucap ku.
Saat di kamar, Domo dan yang lain belum pulang.
"Shiva panggil Domo dan yang lainya. Kita sama-sama makan." Ucap ku.
"Ok sayang" Jawab Dhiva.
Lalu Shiva menempelkan dua jari tangan kanan nya di pelipis nya.
Sekarang dia lebih sering memanggilku sayang. Aku sih senang. Apakah aku juga harus memanggil nya sayang juga.
Ternyata benar apa yang di katakan guru.
Manusia apabila di beri kebaikan balas nya adalah kebaikan. Kalau diberi kelembutan dan kasih sayang balas nya juga sama.
Contoh nya aku, baru di panggil sayang, ingin ku balas dengan panggilan sayang. Kecuali manusia itu mempunyai hati busuk seperti iblis.
"Sedang kan manusia saja sepeti itu apalagi Tuhan. Kalau Tuhan kita dekati dengan berjalan Dia akan mendekati kita dengan berlari."
Kata ki hurib, saat aku latihan di alam perbatasan.
Tidak lama kemudian muncul juga mereka bertiga. Aku sebenar nya penasaran dengan cara mereka makan. Apakah nasi ini yang di bawa kealam ghaib. karena setiap kali Domo memakan jambu biji. Aku lihat jambunya kayaknya asli.
"Ayo kita makan" ucapku.
Lalu mereka mengambil makanan yang aku beli. Namun aneh nya. Tidak ada makanan itu yang rusak tapi di tangan mereka sudah ada makanan yang sama. Makanan yang aku beli seperti di foto kopi saja.
"Ki Kuntet buang sisa makanan ini" Ucap Shiva.
Ki Kuntet seperti menghalau nyamuk. Kejap berikutnya di depan kami, Sisa makanan sudah hilang. Sudah bersih semua.
Tok.. tok..tok..
Aku mendengar suara ketukan di pintu kamar.
" Frangky, Bisa keluar sebentar. Bapak mau bicara." Bunyi Suara di luar pintu kamar.
Itu pasti suara pak kades.
"Baik pak" Jawab ku.
'Nak Frangky tadi ada dua orang pemuda desa kesini. Pemuka masyarakat serta warga meminta kita untuk segera kekantor desa." Ucap Pak Kades.
"Ada apa ya pak.?" Tanya ku agak bingung.
"Bapak juga belum tahu nak. Mereka cuma bilang itu saja, kemudian mereka pergi." Jelas Pak Kades.
"Baik pak kita kesana. Kita pakai motor atau gimana..? Tanyaku.
"Kita pakai motor saja nak."Ucap Pak Kades.
Kami berjalan ke motor masing-masing. Shiva membonceng di belakangku sambil memeluk aku. Sementara Domo,Dumu dan Ki Kuntet terbang.
"Assalamualaikum.." Kataku dan Pak Kades saat memasuki ruang rapat.
"Waalaikum salam"Jawab mereka hampir serentak.
Pak Kades dan aku duduk di bangku yang telah di sediakan.
Saat aku berjalan ke bangku ini. Semua mata menatapku dengan tajam.
"Begini Pak Kades, kami memanggil Pak Kades kesini berhubungan dengan anak muda yang jadi tamu Pak Kades..." Ucap salah satu warga yang menurutku telah berumur enam puluh tahun.
"Maksud bapak apa..?" Tanya Pak Kades.
" Saat ini desa kita telah di landa bencana. Semua tamu yang masuk harus kita curigai dan di tanya. Apalagi tamu bapak ini, Tadi belanja cukup banyak di warung Buk Indri. Kita takut ada tujuan tertentu dia di desa kita ini. Ya misal nya nyugih dan mencari tumbal. Atau jangan-jangan dia dalang selama ini" Jelas bapak itu.
"Benar.."Jawab penduduk.
Yang hadir di rapat ini sepertinya kebanyakan pemuda.
"Astaughfirullah.. pak bapak jangan menuduh sembarangan. Tamu saya ini saya jaminan nya." jawab Pak Kades.
"Gak bisa begitu pak. Dia harus di tanya." Celetup salah satu warga.
"Benar.." Jawab yang lain.
Aku tersinggung juga mendengar tuduhan mereka.
Tapi aku melihat ada sesuatu yang janggal. Di belakang setiap orang, selain aku dan pak kades seperti menempel makhluk lain. Makhluk dibelakang mereka lebih mirip pocong. Muka mereka hitam legam, bahkan sebagian ada yang rusak.
Di sudut ruangan sebelah kanan pintu masuk, juga ada sesosok makhluk bertanduk. Mata, hidung dan mulut seperti rongga saja.
Karena aku telah biasa melihat makhluk beginian jadi tidak ada rasa kaget. Pacar ku saja makhluk astral.
"Tuan Putri itu yang di sudut sana anu nya yang di hajar anunya Dumu tadi siang"
"Anunya di hajar anu nya Dumu gimana." Tanya Shiva.
"Maksudku, wajah nya di hajar tangan Dumu." Jelas Ki Kuntet.
"Kenapa bisa begitu..?" Tanya Shiva.
"Kata Dumu, anu nya tiba-tiba di tampar makhluk itu" Jawab Ki Kuntet.
"Anu nya Dumu di tampar nya." Tanya Shiva.
"maksudku mukanya" Jelas Ki Kuntet.
"Ooh muka nya" Ucap Shiva.
"Mungkin dia bertanya, Karena Dumu tidak dengar. Dan selalu salah jawab. Dia pikir Dumu mempermain kan nya. Jadi anu nya Dumu di tampar, maksudku mukanya Dumu. Dumu merasa sakit mukanya mungkin, jadi di hajar si Dumu anunya dia, maksudku muka nya dia. Eh, malah anu nya kabur. maksudku dianya kabur." Jelas Ki Kuntet.
"Apakah aki sudah tanya Dumu..?" Tanya Shiva.
"Sudah putri, Dumu hanya jawab. Anuku di tampar nya,maksudku mukaku di tamparnya. ya ku hajar saja. Cuma itu jawab Dumu." Kata Ki Kuntet.
Aku lihat Shiva hanya geleng-geleng kepala sambil senyum.
Disisi lain perdebatan tejadi antara kepala desa dan masyarakat.
"Dia harus pergi dari kampung ini sebelum malam" Kata satu orang pemuda.
"Pak sebentar lagi magrib. Biarkan malam ini dia di rumah ku. Aku yang bertanggung jawab sepenuh nya." Jawab Pak Kades.
"Ki Kuntet, Aki punya ilmu melihat masa lalu kan. coba lihat apa yang terjadi sebenar nya." Ucapku.
"Baik Tuan." Ucap Ki Kuntet.
"Jangan panggil aku Tuan oleh siapapun, panggil saja namaku." Ucap ku.
"Itu sudah aturan nya di anu kami maksudku kerajaan kami. Anu siapa yang meng-anukan Putri Raja harus di panggil tuan. Karena dia sama dengan pangeran" kata Ki Kuntet.
"Anunya meng anukan putri raja gimana" Tanya ku.
Ribet juga bicara dengan juragan anu ini. Salah arti jadi melenceng jauh.
"Maksud ku barang siapa yang mendapatkan putri itu perintah nya wajib dilaksanakan." Jawab Ki Kuntet.
"Baik kalau itu peraturan nya. Maka perintahku jangan panggil aku Tuan." Ucapku berteriak biar Dumu dengar juga. Tapi aku bicara pakai jalur ghaib.
"Haa..." Ucap mereka serentak.
Aku lihat Shiva senyum-senyum saja melihat semuanya.
"Sudah lakukan apa yang ku minta tadi ki." Jawabku.
"Baik Frangky." Kata Ki Kuntet. Tidak berani lagi memanggil aku Tuan. sebab itu perintah ku. Aku risih di panggil Tuan.
Lalu Ki Kuntet memejam kan matanya.
"Setelah Frangky habis membayar tadi, dan pergi meninggal kan warung itu. Datang sesosok makhluk membisik kan ke pemilik warung, agar Frangki di curigai. Di saat yang sama para pocong bodoh anu nya serentak menempel di warga sini. Maksudku tubuh nya menempel di warga sini. Seperti nya ini sebuah anu maksudku pengalihan. Agar anu Frangky di usir dan di tuduh yang berbuat anu. Maksudku diri Frangky yang di tuduh berbuat jahat. Mungkin dukun yang membuat onar telah merasakan aura kita. Sehingga di buat seperti ini" Jelas Ki Kuntet.
"Lalu bagai mana ki.?" Tanyaku.
" Biar anuku yang memberihkan pocong ini." Ucap Ki Kuntet.
"Anu aki membersihkan..?" Tanya Shiva.
"Maksudku diriku" Jawabnya.
Kemudian ki kuntet bergerak sangat cepat. Menarik setiap pocong dan mengunpulkan di suatu tempat di ruangan itu.
Kejap berikut nya tubuh ki kuntet berubah sangat besar. Hingga menembus atap ruangan. bahkan atap ruangan ini hanya sepinggang nya.
Lalu kepala ki kuntet yang berubah besar muncul dari langit-langit ruangan. Disertai tangan nya yang sangat besar. Seluruh pocong di genggam nya dan di remas nya.
Saat bersamaan makhluk di sudut ruangan melepaskan sinar hijau sebesar lengan ke arah tangan Ki Kuntet yang berubah besar.
Ini akan sulit bagi Ki Kuntet untuk menghindar. Dumu menangkis pukulah sinar hijau itu dengan sinar merah yang sama besar nya.
Di saat yang sama sesosok makhluk berbulu seperti gendoruwo muncul dari dinding kanan dan menghantam Dumu dengan sinar hitam sebesar lengan.
Domo menangkis sinar hitam itu dengan sinar merah yang sama besarnya.
Di ghaib terjadi perkelahian sengit. Di dunia nyata terjadi juga debat sengit.
Duaaarrr...
Ledakan dahsyat terjadi saat pukulan itu bertemu. Di dunia manusia mungkin tidak terdengar ledakan sebesar itu. Namun terdengar seperti marcon saja.
Meskipun ledakan nya di alam manusia hanya sebesar marcon. Tapi di Alam ghaib ledakan nya sangat besar. Sehingga mengakibatkan ruangan ini bergetar hebat. Seakan terjadi gempa.
Semua orang yang berdebat terdiam. Wajah mereka ketakutan. Mungkin mereka pikir ini gempa. Aku yang bisa melihat dan mendengar di dua dunia menjadi gusar.
"Hentikan...." Teriakku.
Karena gusar, tanpa sadar aku mengeluarkan ilmu "teriakan malaikat". Sebuah ilmu yang sangat berpengaruh terhadap makhluk yang rendah tenaga dalam nya.
Orang-orang yang tadi nya medebat pak kades. Sekarang jadi mematung.
Aku melihat Shiva,Domo,Dumu dan Ki Kuntet baik-baik saja. Lawan mereka telah menghilang dari ruangan itu. Juga para pocong ikut menghilang. Ki Kuntet pun telah berubah ke bentuk asli nya. Yaitu kakek-kakek setinggi d**a orang dewasa.
"Dari tadi ku dengar bapak-bapak dan abang-abang menuduhku berbuat jahat tanpa di beri kesempatan membela diri.." Ucapku.
Ilmu Teriakan malaikat tetap aku terapkan. Agar kata-kataku berpengaruh.
"Seperti memahami saja keadaan sebenarnya yang terjadi. Aku Kesini sebenarnya di perintah untuk menyelesaikan permasalahan disini. Karena disini ada dukun sesat yang menumbalkan banyak penduduk demi ilmunya..." Lanjutku.
Semua orang terdiam dan menunduk.
"Apa semua tahu kejadian barusan. Sehingga seperti gempa lokal dan ada letusan..?" Tanyaku.
Semuanya masih terdiam tak berani menjawab.
"Di belakang setiap orang di rungan ini tadinya di tempeli sesosok makhluk seperti pocong. Dan ibuk yang punya warung sebenar nya juga di bisikan oleh makhluk lain nya." kataku.
"Mungkin apa yang aku katakan tidak bisa di percaya. Ketahuilah,aku kesini bukan sendiri. aku kesini dengan teman teman ghaibku. Merekalah yang membantu bapak-bapak di dalam ruangan ini. Mereka lah yang berkelahi demi membebaskan pengaruh negative dalam diri bapak-bapak." Jelasku.
" Mungkin masih ada yang tidak percaya. Aku bisa saja di katakan mengada-ada. Sekarang juga akan aku buktikan. Domo perlihatkan wujud asli mu." pintaku sama domo.
Domo merapatkan tangan di d**a. Kejap berikutnya dia muncul di Alam manusia.
Semua orang terlihat sangat ketakutan Melihat wujud Domo yang bertanduk merah. apalagi semua serba besar.
Bahkan ada yang terkencing di celana seking takutnya.
Hanya sekejap Domo melihatkan wujudnya. kemudian kembali ke alam ghaib. Lalu mengambil jambu biji di saku nya. Dan mengunyah jambu biji sambil ngomel.
"Aku tendang juga mereka semuanya. Masak melihat ku ada yang terkencing-kencing karena takut. Apa segitu jelek nya tampangku." Omel Domo sambil bersungut-sungut.
"Malam ini aku akan membuat perhitungan dengan dukun sesat itu. Semua orang yang ada di dalam ruangan ini di larang membicarakan tentang kejadian hari ini. Jika ada yang berani membicarakan nya. Akan berhadapan denganku. Apa semua mengerti..?" Tanya ku sambil memberikan ancaman.
Semua nya masih diam. Mungkin shock.
"Ayo jawab ngerti gak..?" Tanyaku menekan
Terkadang memang ada masanya manusia itu harus di tekan.
"Mengerti.." Jawab mereka serentak.
Laku aku berjalan menuju teko tempat air minum. Dan memegang Teko tersebu. Menanamkan mantra penenang ke dalam air nya.
" Semua orang harus minum air ini kalau tidak ingin sakit besok." Ucap ku.
Mereka semua berdiri dan meminum air dalam teko termasuk pak kades.
"Maafkan kami yang telah menuduh mu anak muda." Ucap bapak tua yang ngotot menuduh ku tadi.
Mereka semua telah menjadi manusia normal lagi.
" Ini pelajaran besar bagi kita. makanya kita harus meningkatkan ke imanan kita, memperbanyak berbuat baik. Dan biasakan berpikir positif serta selalu mendekatkan diri kepada yang maha kuasa." Aku diam sesaat menghela nafas.
" Sebenarnya tidak ada yang salah. Bapak-bapak telah memanggilku dan bertanya kepada ku secara lansung. Hanya saja caranya salah. Lain kali selidiki dulu, jangan main tuduh sembarangan..." u
Ucapku.
"Tapi karena aku anak muda yang umur masih kecil. Aku yang banyak salah. Maukah bapak-bapak memaaf kan aku..." Tanyaku.
"Mauu..." Ucap mereka serentak.
"Baiklah, karena ini sudah di anggap selesai mari kita pulang kerumah masing-masing. Dan ingat jangan ada yang cerita kejadian dalam ruangan ini." Kata pak kades.
Kami pun pulang menuju rumah pak kades. Kejadian di kantor desa tadi mengingatkan aku agar selalu hati-hati dan waspada.
Sepertinya, niat kedatangan ku disini sudah di ketahui dukun sesat itu.
Aku sangat yakin, makhluk-makhluk tadi adalah anak buah nya si dukun sesat. Dan kalau mereka benar anak buah si dukun sesat. Pasti mereka telah melapor sama si dukun.
Sidukun pasti akan mengirimkan santet ke rumah pak kades. Oleh karena itu, sesampai di rumah pak kades, aku lansung minta izin sama pak kades untuk memasang pagar ghaib di rumah nya.
"Pak, Kalau bapak berkenan, saya ingin memasang pagar ghaib di rumah bapak." ucapku menemui nya di ruang tamu.
Saat itu kami baru sama-sama sampai di rumah nya.
"Saya khawatir rumah bapak akan di serang makhluk ghaib. Jika bapak setuju. saya akan memasang nya sekarang juga."Terangku.
"Baik nak Frangky silahkan. Bapak sangat berterima kasih bila nak Frangky mau melakukan nya." Kata Pak Kades.
Aku membagi tugas dengan Shiva, Domo,Dumu,dan Ki Kuntet. Mereka masing-masing berdiri di empat sudut berbeda.
Shiva di sudut kanan depan rumah, Domo sudut kiri depan rumah, Kikuntet Sudut kiri belakang rumah, dan Dumu sudut kanan belakang rumah.
Sementara aku sendiri di tepat di tengah rumah.
Mereka harus mengerahkan ajian benteng ghaib mereka. Tapi ajian itu harus bisa di gabungkan dengan ajian yang lain. Karena ada beberapa ajian yang tidak bisa di gabungkan. Yang ada malah bentrok antar ajian.
Tapi syukur nya, setiap kami memiliki ajian itu. Dengan aba-aba dari ku pada hitungan ketiga kami sama-sama melepaskan ajian.
"Satu...dua...tiga... sekarang"Teriaku dengan keras agar dumu bisa mendengar. Aku mengumando mereka dalam jalur ghaib.
Aku dan shiva mengeluarkan cahaya putih bening, Ki Kuntet cahaya hijau, Domo dan Dumu cahaya merah.
Kami menentukan arah satu titik yaitu tengah-tengah rumah pas diatas tempat aku berdiri.
Saat ajian kami bertemu di udara mengeluarkan suara letupan kecil. Kemudian berputar seperti pusaran air. Makin lama makin besar. Dan menjadi warna pelangi.
Sinar itu menyelimuti seluruh rumah dan halamanya, seperti sebuah kubah. Mata orang awam tak akan bisa melihat nya.
"Nak Frangky tadi nya bapak agak risau. Jika makhluk itu datang kerumah setelah nak Frangky pergi..." Kata pak kades. Saat aku menemuinya, setelah melakukan pagar rumah.
"Sekarang bapak tidak perlu khawatir. Pagar ghaib ini sangat sulit di tembus pak. Bahkan manusia saja yang punya niat jahat, atau ada maling masuk kedalam rumah. Tidak akan bisa keluar pak." Ucapku.
"Namun jika terjadi zina dalam rumah ini. pagar ghaib nya akan hilang." Sambung ku.
Pak Kades hanya mengangguk tanda mengerti.
"Ayo mari kita makan malam.." Kata Buk Kades sambil berjalan membawa makanan.
"Sayang apa sayang mau makan juga...?" tanyaku pada Shiva.
"Gak sayang, Makan tadi bagi kami sudah cukup sampai besok. Sayang makan lah." Jawab Shiva padaku.
Kami makan bersama di temani Buk Kades.
"Nak Frangky kejadian di kantor desa tadi membuat bapak sangat ketakutan." Kata Pak Kades.
"Kejadian apa pak...?" Tanya Buk Kades.
Pak kades memandangku seperti meminta persetujuan untuk cerita. Karena tadi sudah berjanji untuk tidak cerita.
Aku hanya mengangguk kecil.
Lalu pak kades menceritakan dengan jelas dan detail. Buk kades nampak ketakutan muka nya jadi pucat pasi.
"Tapi sekarang kita aman buk. Nak Frangky sudah memasang pagar ghaib di rumah kita. Bahkan maling pun gak bisa masuk sekarang..." Ucap Pak Kades berusaha menenangkan Buk Kades.
" Hanya yang bapak tidak habis pikir. Apakah jelmaan makhluk yang muncul itu benar adanya, atau gimana nak Frangky...?" Tanya pak kades.
"Itu benar adanya pak. Aku kesini jumlah kami ada lima. Empat makhluk astral pak. Tapi bapak dan ibuk tidak udah khawatir dan cemas. Mereka tidak akan mengganggu, karena mereka adalah makhluk yang baik." Kataku memberikan kepastian dengan mereka. Agar mereka tenang.
"Kalau nanti malam ada suara letupan di atas atap. itu adalah serangan yang tak bisa menembus pagar gaib pak. Serangan itu pecah saat menyentuh pagar ghaib rumah ini. Jadi bapak dan ibuk tak perlu khawatir." Terangku.
"Malam ini aku akan membuat perhitungan dengan dukun sesat itu pak. Jadi aku pamit dulu untuk istirahat." Ucap ku.
"Baik nak silahkan" Ucap pak kades.
Saat aku berjalan aku memakai ilmu telinga bumi ingin mendengar apa yang mereka bicarakan tentang aku.
"Masih muda sudah berilmu tinggi ya pak. Baik hati lagi. Sayang nya anak kita tak peduli masalah ilmu kayak begitu." Ucap Buk Kades.
"Iya buk, Keinginan seseorang berbeda-beda. Sesuai jalan takdirnya. Anak kita dia lebih memilih menjadi fisikawan buk." Ucap Pak Kades.
"Kalau gitu kita buat aja adik nya malam ini, gimana buk." Kata Pak Kades.
"Ih bapak.." Jawab Buk Kades.
Aku segera melepaskan ilmu telinga bumi ku. Sambil senyum-senyum.
"Ayo ngapa senyum-senyum sendiri." Tanya Shiva padaku.
Shiva sudah duduk di kasur ku.
Domo,Dumu dan Ki Kuntet tak tahu dimana mereka.
"Sayang mau tau, Sini aku bisikin" kataku pada Shiva.
"Sayang yang kesini.." Ucap nya manja.
Lalu aku membisikan yang aku dengar di telinga Shiva.
"Iih..sayang ini" katanya sambil mencubit pahaku.
Aku melihat merah semua wajah nya. Makin cantik aja.
"Mana Domo,Dumu dan Ki Kuntet sayang." Tanyaku.
"Gak tau juga sayang, palingan di atap rumah tidur-tiduran sambil berjaga-jaga." ucap Shiva menyandarkan kepalanya ke bahuku.
"Gini amat nasib kita ya sayang, Orang pacaran nya di taman bunga. Kita pacara menentang kematian." Ucapku.
"Sayang gak boleh begitu, Justru kita ini unik. Cuma kita yang bisa pacaran seperti ini. Orang lain mana ada. Adapun mereka yang berhubungan dengan beda alam seperti sayang. Pasti di bawa ke alam ghaib. Jadi di alam nyata dia mati." Jelas nya.
"Kadang aku takut, sayang tidak bahagia."Ucapku.
"Aku sangat bahagia bisa bertualang bersama sayang. Yang tak boleh di lakukan adalah melepaskan nafsu syahwat loh. Kta belum mukhrim." katanya.
Mungkin makhluk ghaib lain mengejar nafsu. Itulah beda dengan Shiva menjaga dirinya. Aku bangga.
"Iya paham.." Kataku merebahkan diri. Dan Shiva ikut rebah di dadaku.
Aku merasa damai dan tertidur.
Rasa baru saja aku tidur, Aku di kagetkan dengan suara ledakan dahsyat di atap rumah.
Rupanya ada makhluk lain yang ingin menembus pagar ghaib. Dan akupun lupa menutup telinga ghaib saat mau tidur tadi.
Aku cepat duduk. Shiva sepertinya sudah siap. Dia duduk santai di kursi dekat meja.
"Sayang dengar suara ledakan tadi.." Tanyaku pada Shiva.
"Iya dengar sayang, Itu pocong sial yang datang, dia di perintah sepertinya, untuk membawa santet kepada kepala desa. Akhir nya membentur pagar, jadi hancur deh tubuh nya." kata Shiva.
"Sayang tahu asalnya dari mana..?" Tanya ku
"Siapa lagi kalau bukan si dukun sesat." Jawab nya.
"Domo,Dumu dan Ki Kuntet belum pulang..?" Tanyaku.
"Belum, Sebentar sayang aku panggil.
Kemudian Shiva meletakan jari di pelipisnya. Tidak lama kemudian muncul lah mereka.
"Kalian dari mana saja..? " Tanya Shiva.
"Kami pergi berkeliling putri.." Jawab Domo yang di tangan nya ada jambu biji. Jadi gak gagap.
"Kami mengintai ke bukit palo putri. Disana banyak juga penjaganya. Itu terdiri dari pocong, gendoruwo, Juga jenis lain nya." Kata Domo.
"sekarang kita kesana"ucapku.
"Karena perbuatan jahat dukun sesat itu, harus di hentikan." kataku
"Ki Kuntet adalah yang tercepat dalam perjalanan ghaib. Sekarang bawa kami kesana. Sebelum itu Aku meraga sukma dulu." Ucap ku.
Aku berjalan ke arah pintu, memastikan pintu terkunci. Agar tubuhku tidak ada yang mengganggu. Setelah itu aku merapal mantra pelindung, Kemudian aku meraga sukma.
"Ayo berangkat.." kataku.
"Baik semua pegang anuku ." Ucap ki kuntet.
"Anu ki kuntet yang mana." Tanya ku.
"Pundak ku."Ucap nya.
Kami melakukan apa yang di mintanya. Detik kemudian kami sudah berada di puncak bukit palo.
Disana kami sudah di tunggu puluhan makhluk ghaib. Yang bentuk nya macam-macam.
Bukit palo ini bentuk nya cukup unik.
Tumbuh-Tumbuhan hanya Tumbuh di pinggang bukit. Puncaknya di kelilingi bebatuan cadas setinggi lima belas meter, Rumputpun enggan tumbuh disini.
Di puncaknya padang rumput yang luas.
Di puncak ini lah dukun sesat itu tinggal, di tengah padang rumput ini.
Para penduduk jarang datang kesini. Untuk mencapai puncak nya sangat sulit. Dukun sesat ini hanya turun sesekali.
Tapi dengan cara seperti ini para penduduk bisa di tipu nya. Seakan tak membutuhkan apa-apa, padahal penduduk disini jadi tumbal ilmunya.
Para makhluk ghaib menunggu kami di padang rumput di puncak bukit palo. Di belakang makhluk itu berdiri sebuah pondok kecil dari bambu. Seperti nya tempat dukun itu tinggal.
Para makhluk itu mulai mendekati kami. ki kuntet maju kedepan kami.
Kemudian dia berubah menjadi raksasa yang sangat besar.Ki Kuntet menyapu makhluk ghaib dengan tanganya.
Sebagian terlempar ke bawah bukit. Sebagian terkapar di puncak bukit. sebagian lagi bisa mengelak.
Domo dan Dumu ikut menyerang. Sinar merah melesat silih berganti dari tangan mereka. Jerik pekik kesakitan dari makhluk itu terdengar riuh.
Tiba-Tiba tiga sinar kuning menuju kearah Ki Kuntet, Domo,dan Dumu.
Domo dan Dumu menghantam sinar kuning itu dengan sinar merah nya. Ki Kuntet juga melepaskan pukulan nya berupa sinar hijau. Ternyata sinar kuning itu cukup kuat. Hingga terjadi ledakan dahsyat.
Makhluk ghaib yan menghadang kami tadi terkapar hangus terkena ledakan tersebut.
Lalu muncul lima sosok di depan kami. Tiga sosok berbentuk manusia tapi berkepala kerbau. ketiga sangat sulit dibedakan.
Dua sosok dibelakang, satu berkepala gundul. Bermata seperti mata belut. Hidung nya mirip dengan manusia. Tapi bibir tebal. Kulit nya berwarna putih kapur tinggi setinggi manusia biasa. Mungkin ini lah Hantu gundul pikirku.
Di samping nya adalah seorang manusia. Seorang kakek-kakek berusia sekitar enam puluh tahunan. berwajah tirus. Kumis dan jenggot panjang. Rambut gimbal tak ter urus.
"Siapa kalian berani mengganggu di wilayahku.." Suara si kakek.
"Kakek siapa."Tanyaku.
"Aku adalah Ki Kirai, dukun sakti penguasa disini. Dan ini adalah sahabatku Hantu gundul" Katanya jumawa.
"Kakek bukan dukun sakti, Tapi dukun sesat, banyak mereka yang telah menjadi tumbal kakek kan. Udah deh udah tua. Malaikat maut udah ngintip tu. Cepat tobat." kata Shiva.
" Bocah kurang ajar, hajar mereka.."perintah si kakek.
Tiga makhluk manusia kerbau melangkah maju. Lalu Domo dan Dumu menghadang mereka. Ki Kuntet lansung memukul mereka dengan tangan besar nya.
Satu makhluk bergerak cepat, dan memukul mata kaki ki kuntet.
'Aaagh.." Ki Kuntet berteriak kesakitan.
Tiba-tiba tubuh nya kembali ke bentuk semula. Sepertinya mereka tahu kelemahan Ki Kuntet.
Mereka lansung menyerang. Terjadi perkelahian dahsyat antara Domo,Dumu dan Ki Kuntet dengan mereka.
Lalu hantu gundul melepaskan sinar ungu ke arah Domo. Shiva melepaskan pukulan sinar putih bening ke sinar yang di kepaskan hantu gundul.
Si kakek melepaskan pukulan sinar hijau ke shiva. Aku yang melihat nya segera menghadang pukulan dengan pukulan sinar putih dari tangan ku.
Blegar..
Ledakan dahsyat kembali terjadi. Lebih dahsyat dari tadi.
Manusia kerbau seperti nya terdesak oleh kekuatan Domo,Dumu dan Ki kuntet. Hingga suatu kesempatan pukulan mereka mendarat telak di manusia kerbau. Ada jerit kesakitan keluar dari mulut mereka. kemudian hilang tak berbekas.
Domo, Dumu dan Ki Kuntet tanpa perintah lansung menyerang hantu gundul dan kakek dukun sesat. mereka bertiga menghantamkan pukulan ke arah hantu gundul dan kakek dukun sesat.
Pukulan tersebut di sambut oleh si kakek dan hantu gundul. Seperti nya tenaga dalam mereka imbang.
Seratus jurus berlalu. Kakek dukun sesat dan hantu gundul mulai terdesak. Hingga satu ketika pukulan Domo telak mengenai titik kelemahan hantu gundul. Pas di antara matanya.
Hantu gundul berteriak kesakitan, kepalanya semakin lama mengembung seperti balon dan meledak. ceceran darah warnah biru berserakan di mana-mana.
Si kakek melihat itu semakin murka. Tapi fokus terpecah. Ki Kuntet tidak menyia-nyiakan kesempatan. Pukulan Ki Kuntet mendarat telak di d**a si kakek. Disusul pukulan Dumu di pinggang si kakek.
Sikakek berteriak kesakitan. Kemudian si kakek memukul kan tangan ke pahanya tiga kali sambil berteriak memanggil nama sesorang.
" Ki Mayit.. Nyi Bungkuk bantu hamba. Hamba Kirai muridmu..." Teriak si kakek dukun sesat.
Baru saja si kakek selesai berteriak terdengar dua suara cekikikan . Seperti suara laki-laki dan perempuan.
Aku bergetar mendengar suara itu. Sungguh tenaga dalam yang sangat dahsyat...