Di saat Shiva dan fFrangky berangkat dari desa Siri menuju desa Lawas . Saat itu, di tempat lain Pangeran Merah sedang melakukan semedi terbalik di batu Hitam besar yang terletak di tengah-tengah air hitam yang mendidih.
Pangeran Merah tidak tahu sudah berapa lama dia bersemedi. Yang jelas, panas yang dia rasakan dari batu dan air hitam mendidih seperti membakar sekujur tubuhnya.
Kalau bukan karena dendam yang mendalam, Tidak sudi dia melakukan tapa seperti ini.
Selain tersiksa oleh rasa panas, rasa lapar dan haus juga menambah siksaan bagi nya.
Apalagi dia harus semedi terbalik. Sungguh sulit sekali melakukan nya.
Kadang Pangeran Merah ingin menyerah saja. Membayangkan kehidupan dia di istana. Apapun yang dia inginkan pasti dapat. Wanita, Uang, Semua dia punya. Dia bisa saja membayar orang untuk memerangi kerajaan Kobundokok.
Di saat lemah semangat nya, dia kembali terbayang penolakan oleh putri Shiva. Itulah yang membuat dia bertahan sejauh ini.
"Lebih baik berkalang tanah dari pada berkalang malu" katanya dalam hati.
"Aku harus berhasil, Agar kalian tahu siapa aku. Kalian akan menyesal nanti..kalian akan menyesal.." Ucap nya dalam hati berulang-Ulang.
Tiba-Tiba saja batu yang di jadikan tempat dia bersemedi memancarkan hawa dingin yang luar biasa.
Dalam sekejap yang tadi nya panas membakar, sekarang berganti dengan dingin luar biasa.
Hawa dingin itu dengan cepat memasuki tubuh nya. Dia terkejut ingin melepaskan tangan dari batu itu. Tapi tubuh nya tidak bisa bergerak.
Hawa dingin terasa makin dingin dalam tubuhnya. Pangeran Merah mengerahkan tenaga inti api yang panas keseluruh tubuh nya.
Tenaga dalam nya seakan terkunci. Bahkan jelas terasa hawa dingin itu mulai memasuki area tenaga dalam nya.
"Ini mungkin hari kematianku. Tapi aku tidak rela mati dalam keadaan seperti ini. Apa yang harus aku lakukan." Kata hati Pengeran Merah.
Hawa dingin terus menjalar dan bertemu dengan tenaga inti apinya.
Kedua tenaga itu seakan berperang memperebutkan tempat.
"Apalagi ini.." Kata Pangeran Merah .
Tenaga inti api dalam tubuh nya seakan terlepas tanpa kendali. Yang tadi nya dingin, berubah menjadi panas luar biasa.
"aaaaahhhhh..."
Pangeran Merah berteriak karena panasnya. Tapi suara nya tidak keluar. Pangeran merah berusaha menggerakan tubuh nya, tetap juga tidak bisa.
Beberapa saat berikut nya, Pangeran Merah merasakan panas di tubuh nya hilang. Dia berusaha menggerakan tubuh nya. Tapi tetap tidak bisa.
Sekarang hawa dingin menggantikan panas di tubuh nya.
"Apa kan aku di serang. Kenapa panas dan dingin bergantian begini menyerangku."
Semakin lama hawa panas dan dingin, dari dalam tubuh nya bergantian datang dengan cepat.
Semakin lama semakin cepat, Hingga di satu titik kedua hawa itu menyatu memberikan rasa sejuk yang luar biasa.
"Cukup semedi mu Pangera Merah, sekarang buka matamu." Tiba-Tiba suara yang berat mengagget kan dia.
Pangeran merah menggerakkan tubuh nya berbalik. Tubuh nya bisa bergerak, Tapi kedua kaki nya agak lemas.
Pangeran Merah menyalurkan tenaga dalam ke kakinya. Dengan ajaib rasa lemas di kaki nya hilang.
Pangeran Merah membuka matanya. Di depan nya telah berdiri Ki Mayit dan Nyi Bungkuk.
"Kamu telah berhasil mencapai titik nya. Kamu telah bisa menyatukan Dua tenaga dingin dan panas. Tapi kamu jangan senang dulu. Kamu harus memakan salju api. Jika tidak dalam seratus hari tubuhmu akan meledak." Ucap Ki Mayit.
Rasa senang di hati nya berubah menjadi rasa takut. Rasa sesal ada dalam hati nya. Kalau dia tidak melakukan semedi itu. pasti tidak apa-apa.
Pangeran Merah merasa di permainkan oleh dua makhluk di depan nya. Rasa ketakutan dan kekecewaan berubah jadi rasa marah.
"Kalau dua makhluk ini tidak mampu memberi tahu dimana salju api. Aku akan adu jiwa dengan mereka." Ucap nya dalam hati.
Tekad pangeran merah dalam hati sudah bulat. Toh dia akan mati juga. Lebih baik mati dalam bertarung. Dari pada mati menunggu hari.
"Dimana letak salju api itu Ki..?" Tanya pangeran merah.
"Di bawah batu di kaki mu, Di sana ada sebuah goa. Kau harus menyelam ke dalam air hitam itu." Jelas Ki Mayit.
"Apa...?" Kaget Pangeran Merah.
"Kau telah memiliki tenaga inti es. Walaupun sekarang masih terkurung dalam dirimu. Untuk mengaktifkan tenaga itu. Kau harus b******a dengan gurumu." Jelas Ki Mayit.
"Saat kau melakukan perbuatan terlarang, b******a dengan gurumu sendiri. Maka tenaga dalam mu akan meningkat." Jelas Ki Mayit.
"Setelah tenaga itu aktif kau harus menyalurkan ke seluruh tubuh mu. Lalu kau menyelam dalam air hitam itu. Maka kau tidak akan apa-apa." Jelas Ki Mayit.
"Namun sebelum itu kau harus melakukan sumpa setia pada kami dulu. Kau teteskan darah mu ke batu cincinku sambil bersumpah untuk setia. Jika kau melanggar sumpah mu. Kau akan terhisap dalam Cincin Penangkap Sukma ini." Jelas Ki Mayit.
Sambil menyodorkan cincin batu hitam, yang terletak di jari tengah tangan kirinya.
Pangeran Merah kaget mendengar itu semua. Tapi apa bila dia tidak melakukan nya. Maka seratus hari lagi dia akan mati. Jika dia melawan. Maka dia akan mati juga.
karena tidak ada lagi pilihan lain. Mau gak mau Pangeran Merah harus setuju.
"Baik ki.." Pangeran Merah menggigit ujung jari tangan nya. Darah hitam ke biruan mengalir dari luka di jari nya. Kemudian di teteskan ke batu hitam di tangan Ki Mayit.
"Ikuti ucapan ku" Kata Ki Mayit
"Wahai cincin sakti cincin penangkap sukma." Kata Ki Mayit.
"Wahai cincin sakti cincin penangkap sukma." Ulang Pangeran Merah.
"Dengan darah ini aku Hawi bergelar Pangeran Merah bersumpah."
"Dengan darah ini aku Hawi bergelar Pangeran Merah Bersumpah."
"Akan setia kepada Ki Mayit dan Nyi Bungkuk. Apabila aku melanggar sumpahku. Maka aku akan terkurung dalam batu cicin sakti penangkap sukma."
"Akan setia kepada Ki Mayit dan Nyi Bungkuk. Apabila aku melanggar sumpahku. Maka aku akan terkurung dalam batu cicin sakti penangkap sukma." Ulang Pangeran Merah.
Selesai mereka melakukan ritual sumpah. Sinar hitam kecil melesat dari batu cincin di tangan Ki Mayit.
Sinar hitam sebesar ujung lidi itu melesat dengan sangat cepat. Sehingga Pangeran Merah tidak sempat menghindar atau menangkis sinar itu.
Sinar itu masuk di antara dua mata pageran merah.
Pangeran Merah merasakan seluruh tubuh nya seperti di gerayangi jutaan semut. Namun itu hanya sekejap. Kemudian berubah normal lagi. Tak ada satu pun yang berubah dengan pangeran merah.
"Apa kau merasakan seperti di kerubungi semut..?" Tanya Ki Mayit.
"Benar ki." Jawab pangeran merah.
"Berarti sumpah telah berlaku dari sekarang." Jelas Ki Mayit.
"Nyai giliran mu untuk b******a dengan murid mu." Ucap ki mayit, menatap Nyi Bungkuk.
"Aku gak mau sebelum kau mengajarkan ilmu merubah wujud padanya." Jawab Nyi Bungkuk.
"Pangeran Merah kau duduk bersilah. Pejam kan matamu. Akan aku turunkan ilmu merubah wujud padamu. " Perintah Ki Mayit.
Pangeran Merah melakukan perintah Ki Mayit.
Kemudian Ki Mayit duduk di belakang Pangeran Merah. Dua tangan nya. Menempel di punggung Pangeran Merah.
Pangeran Merah merasakan hawa hangat dari tangan Ki Mayit mengalir kedalam tubuh nya.
"Aku telah menurunkan ilmu merubah wujud padamu. Kau hanya perlu membayangkan bentuk atau wajah sesuatu. Dan menahan nafas di dadamu sambil mengerahkan tenaga dalam. Lalu berkata dalam hati mu berubah sebanyak tiga kali. Maka wajah mu akan berubah." Jelas Ki Mayit.
"Sekarang kau coba praktek kan." Perintah Ki Mayit.
Pangeran Merah mencoba nya. Dia membayangkan wajah Shiva dengan bentuk tubuh laki-laki.
Ajaib nya, Wajah pangeran merah berubah menjadi wajah Shiva. Dengan tubuh laki-laki yang tegap berotot.
Ki Mayit dan Nyi Bongkok terbelalak menyaksikah nya. Sungguh wajah yang sangat manis. lembut dan tampan.
"Nyai, sekarang giliran mu berubah. Dan kau jangan ada alasan lagi." Kata Ki Mayit.
"Ganteng begini, gak di suruh pun aku mau." Ucap nyi bungkuk yang ternyata telah berubah menjadi gadis cantik jelita.
"Ki kau kesana dulu lah. Nanti aku panggil setelah selesai." kata nyi bungkuk.
"Hmmm..."Kata ki mayit. Kemudian menghilang.
Kejadian selanjut nya. Pergumulan guru dan murid terjadi. Desah nafas dam jeritan nikmat menggema dalam ruangan itu.
Setelah ritual mereka selesai. Nyi Bungkuk memanggil Ki Mayit.
"Ki Mayit.." Bisik nyi Bungkuk.
Ki Mayit tiba-tiba muncul.
"Kalian telah selesai. Peluh kalian teteskan kecawan ini." Ucap nya menyodorkan cawan.
Pangeran merah masih dalam wajah yang ganteng nyi bungkuk pin masih wajah aslinya seorang gadis jelita. meneteskan peluh nya ke cawan itu.
"Pangeran Merah. Rubah wujud mu ke wujud semula." Perintah Ki Mayit.
"Bagaimana cara nya ki.?" Tanya pangeran Merah.
" Sama seperti tadi, sekarang yang kau sebut adalah kembali tiga kali." Jelas Ki Mayit.
Pangeran Merah segera melakukan nya. Sekarang dia berubah ke wujud semula. nyi bungkuk pun melakukan hal yang sama.
"Segara kau telan air ini. Kemudian kau bersemedi dan kosongkan pikiran mu. Lalu kau rasakan tenaga dingin dalam tubuhmu. Alirkan kesuluruh tubuhmu." Jelas Ki Mayit. menyerah kan cawan di tangan nya.
Pangeran Merah segera meminum air yang hanya beberapa tetes dalam itu. Rasa asin dan amis bercampur menjadi satu. Pangeran merah memaksakan dirinya menelan air itu.
Kemudian pangeran merah melakukan semedi.
Dia merasakan hawa dingin dalam tubuh nya. Hawa dingin yang dia rasakan waktu semedi terbalik.
Dia megerahkan hawa dingin itu ke seluruh tubuh nya. Kali ini dia tidak menggigil dan kedinginan lagi. Yang dia radakan hanyalah sedikit dingin.
"Kau telah berhasil Pangeran Merah. Kau terjun lah ke air hitam itu. Di bawah batu ini ada sebuah Goa. Dalam goa itu kau akan menemukan patung yang memegang cawan. Dalam cawan ada Tiga salju sebesar kuku. Kau harus mengambil ketiga-Tiga nyanya. Kalau satu saja ka u ambil. Salju nya akan hilang." Ucap Ki Mayit.
" Namun kau hanya bisa memakan nya satu. Dua lagi kau serah kan kami. Jika kau memakan lebih dari satu kau akan mati. Tubuh ku akan menjadi abu." Jelas Ki Mayit.
"Salju itu di jaga oleh ular hitam sebesar kelapa. Kau harus bertarung dengan nya. Jika kau mampu kalah kan. Maka ular itu akan menjadi pedang. Itulah pedang Ular Hitsm, Kau paham ." Tanya ki mayit.
"Paham ki"Jawab Pangeran Merah.
"Sekarang Tejun lah." Perintah Ki Mayit.
Tanpa ragu Pangeran Merah terjun.
Saat tubuh nya menyentuh air hitam. Air itu berhenti menggelegak. Dan berubah menjadi air dingin biasa yang berwarna hitam.
Di saat yang sama Ki Mayit dan Nyi Bungkuk merasa telinga mereka tiba-tiba mendenging. Mereka mencari asal dari dengingan itu. Asal nya ternyata di bukit palo tempat salah satu murid mereka.
Lalu mereka mendengar suara.
"" Ki Mayit.. Nyi Bungkuk bantu hamba. Hamba Kirai muridmu"
"Ayo ki kita kesana." Ucap Nyi Bungkuk.
*************************************
Ternyata yang tertawa adalah sepasang makhkuk aneh. Yang laki-laki tinggi besar bertanduk. kulitnya warnah merah api. sementara yang perempuan nenek bungkuk bermuka hitam memegang tongkat kepala kambing.
"Ki Mayit.. Nyi Bungkuk terimalah hormat hamba. " Ucap dukun sesat sambil bersimpuh di depan makhluk itu.
Rupanya mereka guru dukun sesat ini.
Ki Mayit, Kalau tidak salah dia lawan guru, yang di ceritakan guru sebagai penguasa kegelapan.
Sayang nya saat itu guru belum menguasai ilmu linuwih dan belum mandi sungai ajaib.
"Mana Hantu gundup..?" Tanya si nenek.
"Maaf nyi, dia sudah meninggal" Jawab dukun sesat.
"Dasar murid tak berguna, Melawan cecenguk saja gak mampu." ucap Nyi Bungkuk sambil mengibaskan tangan nya.
Dukun sesat melayang, Dan jatuh dari puncak bukit. Makin lama teriakan nya makin hilang.
Aku terkejut, Kejam sekali nenek jelek ini. Murid nya saja mampu dia bunuh.
Domo,Dumu dan klKi Kuntet menyerang mereka secara serentak.
Seperti menghalau nyamuk saja tangan sinenek. Ketiga nya terlempar.
Domo, Dumu dan Ki Kuntet melepskan pukulan jarak jauh nya. sinar merah dan hijau mekeset kearah mereka berdua.
Dari tangan Ki Mayit meleset sinar hitam berbau anyir menghantam pukulan mereka bertiga.
Saat sinar itu bertemu di udara terjadi ledakan. Domo,Dumu dan Ki Kuntet menetes darah di sela bibirnya. seperti nya mereka terluka dalam.
Sementara ki mayit tidak apa-apa. Masih berdiri tegak dengan gagah nya.
"Ki kuntet bawa Domo dan Dumu ke rumah pak kades. Nanti kami susul." Ucap ku.
"Tapi Frangky..." Jawab Ki Kuntet.
"Itu perintah.." Jawab ku sebelum dia mengeluarkan anu-anu nya.
"Baik Frangky" ucap nya.
Kemudian dia memegang tangan Domo dan Dumu, lalu menghilang.
"Sayang kita hadapi dia dengan energi alam seperti latihan dalam goa. Sepertinya tenaga dalam kita di tambah energi alam ini bisa mengimbangi kekuatan mereka." Bisiku pada Shiva.
"Baik sayang, tapi apa nama pukulan nya.? Ki Hurib tak pernah bilang nama pukulan ini." Tanya Shiva.
Saat genting begini masih saja dia memikirkan nama pukulan. Aduh sayang ku ini benar-benar deh.
"Kita kasih nama pukulan energi alam saja." Kataku
Aku tak terlalu memikirkan namanya. Aku hanya terfokus menghajar dua makhluk di depanku.
"Baik sayang. " Katanya.
Laku aku dan Shiva menyedot energi alam di sekitar puncak bukit palo ini. Kemudian di gabungkan dengan tenaga dalam kami. Lalu melepaskan gabungan itu ke arah mereka.
Terlihat sinar putih berkilau dari tangan kami berdua. Hawa panas menyelimuti puncak bukit ini.
Ki Mayit dan Nyi Bungkuk melepaskan sinar merah membara ke arah pukulan kami. Puncak Bukit semakin panas, Seperti dalam api.
Saat bertemu di udara. Pukulan kami berbelok arah dengan pukulan mereka. Pukulan itu mengarah ke rumah dukun sesat. kemudian terjadi ledakan dahsyat.
Saking besar nya ledakan itu. Pondonk si dukun sesat seperti terangkat sepuluh meter. Kemudian pecah berhamburan.
Ternyata benturan tenaga pukulan kami ber efek ke alam nyata.
Aku dan Shiva jatuh terduduk. Dadaku terasa sesak. Aku melihat Shiva.
Muka Shiva agak sedikit pucat.
"Sayang kamu tidak apa-apa.?" Tanyaku.
"Aku gak apa-apa sayang." Jawab Shiva.
Aku kemudian melihat ke arah Ki Mayit dan Nyi Bungkuk.
Mereka seprti nya Tidak cidera.
"Kalian anak muda yang kuat. Sayang sekali harus mati hari ini. Kik...kik..kik.." Kata Nyi Bungkuk.
Kemudian mereka melakukan beberapa gerakan. Seluruh tubuh mereka berubah merah membara bersinar seperti api.
Aku cemas juga melihat semua ini.
"Sayang kita lakukan kekuatan Quantum." Ucapku pada Shiva.
"Ok sayang." Kata Shiva.
Aku dan Shiva melakukan kekuatan Quantum. Rasa nyaman aku rasakan. Seluruh rasa sakit pada tubuhku hilang lenyap begitu saja.
Aku melihat tubuh ku di bungkus sinar putih terang. Begitu juga dengan Shiva.
Batu-batu di bukit mulai berterbangan. Langit tiba-tiba menghitam. Aku mengikuti naluriku dalam doa. Agar aku bisa menghancurkan iblis ini.
"Pukulan Quantum... Nyai ayo pergi." kata Ki Mayit.
Belum sempat nyi bungkuk menjawab kata Ki Mayit. Ki Mayit sudah menarik tangan nyi bungkuk. Kemudian menghilang.
Aku dan Shiva segera menghentikan pukulan Quantum.
Langit yang tadi menghitam. Perlahan kembali seperti semula.
"Sayang seperti nya mereka sudah pergi. Ayo pulang." Kataku pada Shiva.
"Ok sayang." jawab Shiva.
Shiva menggandeng tanganku.
Kejap berikut nya kami sudah di kamar dalam rumah Pak Kades.
Disana terlihat Domo,Dumu juga Ki Kuntet dalam keadaan semedi. Mereka lagi mengobati luka dalam nya.
Aku kembali menuju ragaku.
"Sayang aku istirahat dulu ya. Biar besok bangun gak kesiangan. Malu kita sama Pak Kades." Ucap ku.
"Ok sayang." jawab nya.
"Kok jawab nya cuma ok saja, sayang gak apa-apa kan.?" tanya ku.
"Gak apa-apa sayang. Seperti nya kekutan Quantum menyembuhkan luka dalam ku." Katanya.
"Sama sayang, aku juga begitu. Trus kok jawab nya cuma Ok saja.?" kataku.
" Terus jawab nya mau di temani gitu." Ucap nya sambil senyum.
"Mau.." Kataku.
"Tapi jangan macam-macam ya. belum mukhrim." Katanya.
"Iya...cemas banget." Jawab ku.
"hm..hm.." katanya sambil senyum.
Kemudian melangkah ke arah ku. dan tidur disebalhku. Sambil menggenggam tangan ku.
Saat aku terbangun pagi nya.Shiva dan yang lain nya lebih dulu bangun dari aku.
"Pagi sayang.." Sapanya.
"Pagi juga sayang." Kataku.
"Kami mau beli makanan ke kota dulu sayang." Kata Shiva.
"Kenapa gak minta sama pak kades saja. Biar aku yang bilang."Kataku.
"Gak usah sayang. Buat dia takut nanti." Ucap Shiva.
"Kalai beli di desa sini saja gimana.?" Tanyaku.
"Jangan sayang, Nanti malah bikin hebo lagi seperti kemaren. Gak apa-apa kok sayang. Uang asli kan ada." Katanya sambil melihatkan uang penjualan emas kemaren.
"ok lah tapi jangan lama-lama." Kataku.
"Kenapa..?" Tanya nya bingung.
"Rindu.." Jawabku.
"Lebai.." Katanya sambil senyum.
"Ayo ki kita berangkat." Kata Shiva pada Ki Kuntet.
Mereka memegang punggung Ki Kuntet. Kemudian menghilang.
"Semoga saja bukan Domo,Dumu atau Ki Kuntet yang belanja." Ucap ku dalam hati sambil senyum.
Membayangkan pemilik pingsan melihat tampang mereka. Dan pasti Domo ngomel lagi.
Setelah selesai mandi. Aku berjalan menuju ruang tamu. Disana sudah ada Pak Kades.
"Nak Frangky ini kopinya diminum. Nanti keburu dingin gak enak." Ucap Pak Kades.
"Ya pak makasih." Jawabku.
Kemudian Buk Kades datang dari dapur membawa sepiring goreng pisang. Lalu meletak kan di depan kami.
"Mari nak goreng pisang nya di makan. Nanti keburu dingin." Ucap nya.
"Tadi beberapa orang warga kesini nak Frangky." Ucap Pak Kades sambil meneguk kopi nya.
"Ngapain mereka kesini pak. Mau menyidang aku lagi." Tanya ku.
Belum sempat pak kades menjawab nya. Terdengar suara ketukan pintu. Dan orang membaca salam
Tok..tok..tok..
"Assalamualaikum.."
"Waalaikum salam.." Jawab Buk Kades.
Kemudian Buk Kades berjalan ke pintu dan membuka nya.
"Mari pak buk silahkan masuk." Ucap nya.
Ada sekitar lima belas orang warga desa berdiri dekat pintu. Mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan.
"Apalagi ini, apa aku mau di sidang lagi" Ucap ku dalam hati.
Mereka lalu masuk kedalam rumah pak kades. Di antara mereka ada bapak-bapak yang ngeyel meminta aku pergi dari kampung ini.
"Pagi nak Frangky, Ini Ada sedikit terima kasih dari warga buat nak Frangky."Kata bapak itu sambil menyodorkan amplop tebal berwarna putih padaku.
"Apa ini pak.?" Tanya ku sambil menolak amplop tersebut.
"Ini titipan warga nak Frangky. Pak kades pun telah menyetujui nya. Tidak baik di tolak." Ucap nya memaksa.
"Ini ada apa sebenar nya pak.?" Tanya ku ambil menerima amplop dan meletakkan di atas meja.
" Begini nak Frangky." Kata pak kades. kemudian terdiam sesaat.
" Tadi malam warga mendengar ledakan di bukit palo. Tidak lama setelah ledakan itu, angin berhembus seperti badai. Tapi aneh nya hanya sebentar saja. Ada beberapa warga yang penasaran lalu nekad menuju kesana. Di sana mereka menemukan Ki Kirai tergeletak pingsan." Kemudian dia diam sebentar.
" Lalu warga membawa mereka ke puskesmas. Dan warga memanggil aku. Aku menuju ke puskesmas." Lanjut Pak Kades.
"Hampir seluruh warga di sekitar sini datang kepuskesmas. Mungkin mereka terbangun karena ledakan keras itu." Kata Pak Kades.
"Selang beberapa waktu kemudian, Ki Kirai siuman dari pingsan nya. Kami menanyakan apa kejadian yang terjadi di bukit palo." Ucap Pak Kades.
" Ki Kirai menceritakan semuanya.Ternyata dia lah penyebab selama ini. Dan yang menghancurkan ini adalah nak Frangky. Sesuai cerita ki kirai. Dan dia menyampaikan terima kasih sama nak Frangky. Sebab telah memutuskan mata rantai nya dengan iblis." Ucap Pak Kades.
" Lalu sekarang Ki Kirai bagaimana pak..?" Tanyaku.
" Dia telah meninggal nak." Ucap Pak Kades.
" Bagus lah dia meninggal dalam keadaan sadar. Dan lagi kalau dia tidak meninggal. Dia pasti di bunuh masyarakat. Karena dendam akan perbuatan nya selama ini." Kata Pak Kades.
"Malam itu juga kami mengubur kan mayat nya alah kadar nya. Sekedar memenuhi kewajiban agama." Lanjut nya.
.
" Kemudian tanpa di komando. Warga sini berkumpul di kantor desa. Dan mereka menitip ini padaku sebagai ucapan terima kasih sekaligus permintaan maaf sebesar-besarnya." Ucap bapak yang membawa amplop tadi. sambil menunjuk amplop.
"Tapi pak, gak perlu kayak gini juga. Saya sudah senang kalau masalah di desa ini selesai." Ucap ku.
"Ini Titipan warga nak. Kami mohon nak Frangky menerimanya. Jangan melihat dari nilai. Tapi lihat lah hati kami yang berterima kasih." Ucap bapak itu.
"Baik lah pak aku terima. Aku juga berterima kasih sama warga disini." Ucapku.
"Bawa barang di luar kedalam"kata bapak itu kepada beberapa pemuda.
Terlihat pemuda itu mengangkut barang berupa pisang, beras, indomie, minyak goreng dan banyak lagi yang lainnya. Dan barang itu di tarok di satu tempat.
"Itu ucapan terima kasih warga kepada pak kades. Dan ini tambahan nya." Ucap bapak itu memberikan amplop kepada pak kades.
"Loh kenapa di kasih sama saya pak." Kaget pak kades.
"Karena bapak telah bisa menahan nak Frangky. Kalau tidak kita masih dalam bahaya pak. Dan sekaligus permintaan maaf kami juga, yang telah salah menilai pak kades." Ucap bapak itu.
"Baiklah kalau begitu. Ibuk-Ibuk panggil ibuk-ibuk lain nya. Kumpulkan seluruh anak yatim, piatu, Janda miskin, serta keluarga yang tidak mampu." Ucap Pak Kades.
"Kita masak barang ini semuanya. Kita bagikan sama mereka. Dan amplop ini bagikan dengan mereka." Kata Pak Kades.
Semuanya melongo dan terdiam.
Buk kades datang dari dapur dan membawa makanan kecil juga minuman kopi dan teh.
"Tunggu sebentar. "Kata Pak Kades sambil berdiri.
"Ibuk ikut bapak sebentar." Kata Pak Kades sama istrinya.
"Baik pak." Jawab Buk Kades.
Tidak lama kemudian Pak Kades datang dengan amplop di tangan nya.
" Ini tambahan sedikit dari saya." Kata Pak Kades.
Meletaklan amplop di atas meja.
"Pak saya izin kekamar sebentar."Ucap ku.
Aku berjalan ke dalam kamar. Di sana sudah ada Shiva. Domo dan juga Dumu. Tapi aku tidak melihat Ki Kuntet.
"Sayang, mana ki kuntet..? tanya ku pada Shiva.
"Kekerajaan memberi laporan" Kata Shiva sambil memegang amplop.
"Sayang sudah tahu ya."Tanya ku.
"Sudah dong. Siapa dulu.Shiva pacar Frangky ne." Jawab nya.
"Jangan pacar dong." Kataku.
"Terus apa..?"Tanya nya.
"Calan ibu dari anak-anakku." Ucap ku.
"Hmm.. sayang." Katanya memeluk aku.
" Sayang kita isi berapa ne amplop nya..?" Tanya ku.
"Terserah sayang saja." Jawab nya.
" Berapa bagus nya. bingung ne." Kataku.
" Kalau gini gimana sayang. Dalam amplop sepuluh juta saja. Enam puluh juta kita titip sama pak kades untuk biaya anak yatim, piatu dan orang miskin di desa ini." Tanya ku.
" Bagus sayang. Itu keputusan bijak sana. Benarkan Domo."
"Siapa yang tenar" Sela Dumu.
"Bu..bu..kan te..tenar tap..tap..tapi be..nar" Teriak Domo.
"Ooh. " Kata Dumu seperti mengerti saja. dengar pun gak.
"Domo ambil uang nya." Kataku.
Domo melakukan beberapa gerakan. Tiba-tiba Domo sudah memegang tas. dan memberikan padaku.
Kemudian aku memasukan sejumlah uang ke dalam amplop. Dan memasukan sebagian dalam kantong kresek.
Mereka menatap ku heran membawa kantong. Kemudian aku duduk ditempat aku sebelum nya.
" Ucapan terimakasih warga sudah aku terima." Ucapku mengambil amplop di atas meja.
"Namun ini dari kami untuk acara," Ucapku
Aku mengambil amplop dari dalam kantong kresek kemudian aku tumpukan dengan amplop yang di kasih kan bapak tadi. Lalu aku mendorong nya ke tengah meja.
" Dan ini sedikit untuk biaya sekolah anak yatim piatu, dan orang tidak mampu di desa ini. Aku titip sama pak kades." Ucap ku.
Semua mata menatap ku seakan tak percaya dengan apa yang aku lakukan.
"Nak Frangky..." Kata pak kades.
"Bapak-bapak jangan menolak. Kalau bapak-bapak menolak sama dengan menutup pintu amal untuk ku." Kataku.
" Baik lah nak. Biar warga tahu, aku akan hitung uang yang untuk biaya sekolah." Ucap pak kades.
Kemudian pak kades mengeluarkan uang dalam kantong kresek dan menghitung nya.
" Uang ini berjumlah enam puluh juta. Besok kita bayarkan ke sekolah anak yatim dan warga yang tidak mampu." kata Pak Kades.
"Kapan kita mulai acara nya pak..?" kata bapak yang ngeyel, minta aku pergi kemaren di persidangan.
"Bagaimana kalau hari ini lansung kita mulai..?" Tanya pak kades.
"Setuju..." kata mereka Serentak.
"Nak Frangky sendiri bagaimana..?"Tanya zpak Kades pada ku.
"Aku ikut aja pak..." Ucap ku.
"Baik lah kalau begitu, Ibuk-Ibuk segera panggil ibuk-Ibuk yang lainnya. Dan bapak-Bapak data anak yatim, orang yang kurang mampu. Lalu undang kesini. Kalau bisa semua warga juga ikut di undang. Siap magrib ini kita mendoa." Ucap Pak Kades.
"Baik pak.." Kata mereka.
"Nak Frangky kami minta malam ini masih disini." Ucap pak kades.
"Setuju..." Kata warga kompak.
"Baik lah pak. Tapi besok saya melanjutkan perjalanan ke desa Jambulippo." Ucap ku pada mereka.
Setelah magrib. Seluruh warga datang ke rumah pak kades.
Anak yatim, Piatu dan orang kurang mampu Di beri beasiswa lansung oleh Pak Kades. Cukup untuk membiayai mereka masing-masing satu tahun sekolah gratis.
Semua nampak bahagia, semua terlihat senang. Begitu juga denganku, Shiva,Domo,dan Dumu.
Sementara Ki Kuntet masih di kerajaan memberikan laporan.