PERJALANAN KE BUKIT SAYANG bagian 1

4475 Kata
Air hitam mendidih itu, nekad di terjuni Pangeran Merah. Dia tidak merasakan panas pada tubuh nya. Sedikit pun dia tidak merakan panas. "Mungkin ini karena aku telah bisa memakai tenaga inti es, sehingga air mendidih ini tidak panas aku rasakan." Ucap nya dalam hati. Air hitam itu semakin dalam semakin pekat. Sehingga tak ada apapun yang tampak oleh matanya. Semua nya hanya hitam pekat. Suara gelegak air yang mendidih. membuat telinga nya mendenging sakit. Di tambah lagi Pangeran Merah tidak bisa bernafas. "Aku harus terus menyelam, kalau tidak maka nyawaku dalam hitungan hari." Katanya pada diri sendiri dalam hati. Dengan tekad yang bulat, Pangeran Merah terus menyelam. Sampai akhir nya Pangeran Merah menyentuh dasar air. "Aku sudah sampai dasar. Dimana letak Salju Api tersebut. Jangan-jangan aku di tipu Ki Mayit sama Nyi Bungkuk." Ucap nya dalam hati. Pangeran Merah mulai meragukan ucapan Ki Mayit. Karena dia tidak menemukan apapun di dasar air. Nafas nya sudah semakin sesak. Saat ini racun dalam air bisa di tahan oleh tenaga inti es nya. Namun jika air ini sempat terminum seteguk saja. Maka habis lah riwayat nya. "Apa Ki Mayit dan Nyi Bungkuk sengaja mau membunuhku," Katanya dalam hati. Dia tetap melangkah dalam kegelapan yang pekat di dasar air itu. Bahkan telapak tangan saja tidak tampak karena gelap nya. Baru sekitar tiga langkah Pangeran Merah berjalan. Dia seperti menginjak sebuah tonjolan batu. Tepat di depan nya, Seperti ada suara batu yang bergerak. kemudian sinar terang seperti bola lampu lima puluh watt muncul di depan nya. Sinar itu berasal dari sebuah goa batu, Yang kunci nya terinjak tanpa sengaja oleh nya. "Mungkin ini goa yang di maksud Ki Mayit." Ucap nya pada diri sendiri. Pangeran Merah mengemposkan tubuh nya. Dia dengan kecepatan yang sangat hebat masuk kedalam Goa. Namum aneh nya, Air hitam tidak bisa masuk ke dalam goa. Seperti di tahan kekuatan ghaib. Goa ini hanya berbentuk persegi empat. Dinding nya adalah batu karang yang licin. Tinggi goa ini sekitar dua puluh meter. Luas nya empat kali empat meter. Di tengah rungangan ada sebuah patung laki-laki bertanduk. Memegang cawan, dari cawan itu memancar sinar putih terang. Sinar itu lah yang menerangi rungan ini. "Mungkin yang mengelilingi patung ini ular hitam yang di katakan Ki Mayit. Seperti nya dia sedang tidur."Pikir Pangeran Merah. Saat matanya melihat Ada Sesosok ular hitam pendek yang sedang melingkari patung, seakan menjaga patung itu. Ular hitam itu sebesar pohon kelapa. Tapi hanya pendek untuk ukuran badan sebesar itu. Panjang badan nya hanya sekitar tujuh meter. Jadi ular itu kelihatan bondek. Dari kepala ular itu. Memancar sinar hitam terus menerus menembus dinding. Pangeran Merah melangkah sangat hati-hati. "Sebaik nya aku memakai ilmu peringan tubuh untuk mencapai cawan itu." Pikir nya. Pangeran Merah melayang seperti burung walet ke arah patung. Dan hinggap tepat di tengan patung tanpa suara sedikit pun. "Seperti nya inilah api salju yang di katakan Ki Mayit." Kata nya dalam hati. Pangeran Merah menatap dengan teliti tiga benda dalam cawan itu. Benda pipih putih hanya sebesar kuku jari. Namun mengeluarkan cahaya terang. "Kata Ki Mayit aku harus mengambil ketiganya sekaligus." Baru saja tangan nya terjulur, Dia merasakan hawa panas dan dingin menerpa tangan nya. Kalau dia nekad melanjutkan nya, bisa celaka dirinya. "Apa yang harus aku lakukan sekarang.." Dia termenung sesaat mencari jalan keluar nya. " Dari salju api ada hawa panas dan dingin. Aku akan coba menyalurkan tenaga inti api ke tangan kanan ku, dan tenaga inti es ke tangan kiriku." Pikir nya. Setelah Pangeran Merah menyalurkan dua tenaga yang berbeda. Kemudian dia mengulurkan tangan nya ke dalam cawan. Kali ini hawa panas dan dingin tidak terasa sama sekali. Pangeran Merah mengambil ketiga benda itu. Kemudian melayang turun. Setelah tiba di lantai goa. Pangeran Merah menelan salju api satu buah. Dua lagi di simpan di kantong nya. Di saat yang bersamaan, Cahaya yang terang di dalam goa menjadi redup. Hanya tinggal cahaya yang berasal dari kantong Pangeran Merah. Goa yang tadi tenang bergetar hebat seperti gempa. Ular hitam yang tertidur, tiba-tiba menggeliat bangun, Dia menatap Pangeran Merah dengan bengis. Sinar hitam yangn keluar dari kepalanya Seperti terhenti. Pangera Merah yang baru saja menelan salju api merasa badan nya panas. Lebih panas di bandingkan saat dia semedi. "aaaah.." Pangeran Merah berteriak kepanasan. Energi panas itu seperti memberontak keluar dari tubuh nya. Pangeran Merah tanpa pikir panjang menghantamkan ke arah depan. Di depan Pangeran Merah, Ular hitam menganga mau memakan Pangeran Merah. Di saat itulah sinar merah yang sangat panas menghantam leher ular hitam. "Grrr." Suara geraman bercampur marah keluar dari mulut ular hitam. Pangeran Merah sudah tidak peduli lagi dengan ular hitam itu. Rasa panas yang Pangeran Merah rasakan, Sekarang berganti dengan dingin yang luar biasa. Energi dingin itu seakan berontak ingin keluar dari tubuh pangeran merah. Pangeran Merah kembali menghantamkan tangan nya ke depan. Sinar putih yang dingin luar biasa menghantam leher ular hitam di tempat yang sama. Kejadian itu berulang-ulang kali terjadi. Hingga Pangeran Merah tidak sanggup menahan nya lagi. Akhir nya Pangeran Merah jatuh pingsan. Di depan nya, ular hitam yang terkena pukulan Pangeran Merah ber tubi-tubi di tempat yang sama.Mengeluarkan asap hitam tebal. Setelah asap hitam itu menghilang. Ular hitam tadi sudah tidak terlihat lagi. Disana yang tergeletak hanya sebuah pedang hitam pekat sepanjang satu meter. Gagang pedang itu seperti kepala ular. Ukiran sarung nya seperti sisik ular. Tidak jauh dari pedang tergeletak satu cincin hitam. Air hitam panas di luar goa berputar kencang. Kemudian warna hitam dari air mengalir ke dalam pedang. Membentuk sebuah sinar sebesar telunjuk. Pangeran Merah tersadar dari pingsan nya. Dia merasakan badan nya lebih segar dan lebih ringan dari biasanya. "Kemana pergi nya ular hitam tadi." Ucap Pangeran Merah dalam gati. Pangeran Merah melihat sekeliling goa. Dia melihat pedang sama cincin berwarna hitam. Pangeran Merah segera mengambil pedang. Namun satu tenaga raksasa, yang keluar dari pedang menghantam nya. "Kau tidak akan bisa mengambil pedang itu anak muda. Kecuali kau memakai cincin di tangan kanan mu. Cicin hitam yang terletak di sebelah pedang itu." Ucap sebuah suara tiba-tiba terdengar. Suara Serak yang bertenaga ghaib tinggi. Menandakan pemilik nya berilmu tinggi. "Siapa kau..?" Tanya Pangeran Merah. Tanya Pangeran Merah waspada. "Aku adalah roh yang tadi menjelma menjadi ular, Sekarang aku menjadi pedang." Sahut suara itu "Roh apa kau sebenar nya..?" Tanya Pangeran Merah. "Namaku Ronggo, sekarang cepat pakai cincin itu kalau kau mau aku bersama mu." Kata suara itu yang mengaku roh dan bernama Ronggo. Pangeran Merah segera mengambil cincin itu dan memakai nya di jari manis tangan kanan nya. "Sekarang kau ambil pedang itu." Kata suara Ronggo. Pangeran Merah segera mengambil pedang. Tenaga yang menghantam tadi sudah tidak ada lagi. Sehingga begitu gampang Pangeran Merah mengambil pedang itu "Aku adalah Roh yang berusia ribuan tahun. Dulu aku di tanamkan dalam pedang ini." Kata suara Ronggo. "Kau makhluk ke dua yang mampu menguasai aku. Yang pertama adalah Raja Neraka yang menciptakan pedang ini." " Setelah di kalahkan Kiyai Mustakim, Dia menciptakan tempat untuk menyimpan aku dan salju api. Kemudian dia memberi tahu murid nya Pangeran Neraka. Namun murid nya dia larang untuk mengambil pedang atau salju api. Karena yang bisa mengambil nya hanyalah makhluk yang bisa b******a dengan gurunya di dasarkan nafsu semata dan juga harus terpilih" Lanjut suara itu. "Beberapa makhluk pernah ketempat ini. Namun mereka hancur di lebur air hitam yang berasal dari kutukan ku. Kutukan itu akan tercabut jika aku di kalahkan dalam wujud ular." Terang nya. "Dimana sekarang Raja Neraka.?"Tanya Pangeran Merah. "Ada di sungai hitam abadi, dia menunggu mu disana. Sekarang kau keluar lah dari tempat ini. Sebentar lagi tempat ini akan di penuhi air" Ucap suara itu. Pangeran Merah segera keluar. Di luar air hitam yang mendidih sekarang berganti air biasa saja. Pangeran Merah segera berenang menuju permukaan. Baru saja kaki nya menginjak batu hitam besar. Air di bawah nya seperti tersedot dan susut. Pangeran Merah mengerti, sekarang goa itu pasti telah di penuhi air. Ternyata yang menahan selama ini adalah kekuatan ghaib pedang. Ki Mayit dan Nyi Bungkuk telah berdiri di atas batu hitam itu. "Akhir nya kamu berhasil Pangeran Merah. Sekarang tugas mu ke bukit sayang. Di puncak nya ada dua goa. Yang harus kau masuki adalah goa yang curam nya. Goa itu bernama goa setan. Yang satu nya lagi jangan kau masuki. Itu bahaya bagimu.." Kata Ki Mayit. "Goa setan itu di alam nyata apa ghaib ki." Tanya Pangeran Merah. "Goa itu terletak di alam ghaib. Yang perlu kau waspadai adalah penjaganya. Kau kesana harus membawa prajurit yang cukup banyak, untuk pengalihan penghuni nya." jelas Ki Mayit. "Sekarang kamu pasti sudah tahu. bahwa penghuni sungai hitam abadi adalah guru ku sendiri, Dan hanya bisa di jelaskan tempat nya melalui cermin ajaib." Lanjut nya. "Sekarang tenaga inti api mu sudah cukup tunggi. Aku akan menurunkan beberapa ilmu pedang. Dan pukulan kerak neraka padamu." "Kau siap Pangeran Merah." ucap Ki Mayit. "Siap ki." Jawab Pangeran Merah. ************************************* Setelah acara syukuran, paginya aku mohon pamit sama Pak Kades. Sebelum aku berangkat, ternyata penduduk sudah banyak menunggu di luar rumah Pak Kades. Banyak yang membawa air minta obat untuk anaknya, dirinya, bahkan ada untuk suaminya. Agar suaminya setia. Aku agak sedikit kesal dengan mereka, apa mereka pikir aku dukun. Tapi mau bagaimana lagi. Dengan terpaksa aku layani mereka. "KiKuntet, aki bisa kan mengobati mereka.?" Tanya ku. Saat itu Ki Kuntet telah kembali dari kerajaan. " Bisa Frangky Anu Domo juga ada." Jawab Ki Kuntet. "Anu Domo gimana ki" Tanya ku. "Ilmu Domo tentang pemgobatan." Jelas Ki Kuntet. "Benar Domo." Tanya ku. "Be...be.." Kata Domo. "Belut" Ucap Dhiva. "Be..betul, betuk ak..ak..aku pun..punya il..ilmu pengobatan." Kata Domo. "Bagaimana dengan kau Dumu."Tanya ku. " Panah siapa." Tanya Dumu. "Bagaimana" Teriak Dhiva dengan keras. "Apanya." Tanya Dumu. Aduh dari tadi dia gak dengar rupanya. "Dumu, Kamu punya anu apa gak.?" Teriak Ku Kuntet. "Punya lah, emang Kenapa dengan anuku." Tanya Dumu. "Aduh bukan anu mu itu, Tapi ilmu pengobatan ada apa gak.? Teriak Ki Kuntet. "Oh itu aku ada. Siapa yang sakit.?" Tanya Dumu. "Para warga minta tolong, segera obati mereka" Teriak Shiva. "Baik tuan putri." Ucap Dumu. "Begini saja, biar cepat selesai. kumpulkan semua air putih di suatu ruangan. Tapi kita bagi masing-masing. Ini untuk sakit, ini untuk yang lain nya lah. Lalu kita bersama melakukan nya." Teriak Shiva. Agar Dumu dengar. "Ide yang bagus" kataku. Lalu aku minta pak kades untuk melakukan apa yang di minta Shiva. Pak Kades dengan sigap melakukan nya. Tidak beberapa lama kami selesai melakukan pengobatan untuk mereka. Masalah hasil itu urusan Tuhan. Tapi ada juga penduduk yang kreatif. Menyiapkan kotak agar yang minta obat mengisi kotak sedikit uang, dan uang akan di sedekah kan kepada yang membutuhkan. Aku sih setuju saja. Asal yang berobat mau. Aku paham apa yang di rasakan bapak sekarang. Kalau masalah uang, gampang bagi aku dan bapak. Tinggal main ke alam ghaib, cari emas disana. Jual di alam nyata, Jadi duit. Tapi bukan di sana inti nya. Intinya mengamalkan ilmu agar bermanfaat bagi banyak orang. Kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Jambulippo. Dari desa ini kami harus melewati jalan yang menurun sekitar seratus meter. Di ujung penurunan ada sungai yang cukup lebar. Kami harus melewati sungai tersebut. Melewati jembatan gantung. Aku memacu sepeda motorku di atas jembatan itu. Yang panjang nya sekitar lima puluh meter. Jembatan nya hanya bisa di lewati satu sepeda motor saja. Jika ada yang ber pas-pasan. Salah satu harus mengalah. Untung nya waktu itu tidak ada pengendara yang lain nya. Jembatan gantung ini, suka berayun ketika di lewati. Kiri kanan jembatan di pasang kawat setinggi leher sebagai ke amanan. Jika jatuh, tidak jatuh kesungai. Jatuh nya masih di atas jembatan. Kalau sempat jatuh kesungai. Yang ketinggian dua ratus meter dari jembatan. Kemungkinan terbesar nya Mati. Sungai itu kata Pak Kades namanya sungai Tangnamar. Selain dalam buaya nya juga banyak. Makanya penduduk jarang yang beraktifitas disungai Tangnamar. Aku memutar gas motorku pelan, dan di bantu kedua kaki, agar sampai di seberang jembatan. Sesakti apapun aku. Tetap merasa gamang. Domo,Dumu dan Ki Kuntet telah lebih dulu sampai di seberang sungai. Nampak nya mereka sedang terjadi percakapan dengan penghuni ghaib disini. Aku lihat Ki Kuntet tiba-tiba berubah menjadi raksasa. Penghuni ghaib disini lari lalu menghilang. Aku pikir, ini pasti ada kejadian. "Ada apa ki.? Tanya ku sesampai di seberang. Shiva masih terlihat tenang-tenang saja di bangku belakang motor sambil memeluk pinggang ku. "Ada makhluk preman di sini mau mencoba anuku." Kata Ki Kuntet. "Anu aki mau di coba nya." Tanya Shiva. "Bukan anu ku tapi mentalku." Lanjut nya. "Di coba gimana ki." Tanyaku. "Mereka mau minta upeti jika lewat sini. Aku gak mau kasih. Mereka marah. Jadi aku lihatkan saja anu besar ku." Kata Ki Kuntet. "Aki lihatkan anu aki.?" Tanya shiva. "Tubuh besarku maksud ku." "Aku pikir besar anu nya. ternyata kecil." jelas Ki Kuntet. "Apanya yang kecil ki" Tanya Shiva. " Mental nya." Jawab Ki Kuntet. "Ya sudah mari kita lanjutkan perjalanan." Kataku pusing dengar anu-anu nya. Setelah tiga ratus meter dari jembatan gantung, Ada muara dari sungai kecil. Disana terlihat begitu banyak nya makhluk astral. Mereka seperti berpesta ria. Jalan yang aku lalui cukup ekstrim. Di sebelah kiri ku adalah tebing bukit, Sebelah kanan jurang yang di bawah nya ada sungai kecil bermuara ke tangnamar. Jalan yang aku lalui hanya bisa di lewati oleh dua motor selisih jalan. Bergelombang dan berliku. Cukup sulit bagiku membawa motor di jalan seperti ini. Kalau saja boleh oleh guru. Bagus aku lewat jalur ghaib saja. Cepat sampai dan gak jumpa jalan seperti ini. Setelah cukup lama berjalan, Aku jumpa dengan papan nama bertuliskan. SELAMAT DATANG DI DESA JAMBULIPPO. "Shiva kita telah memasuki desa Jambulippo." Kataku sama Shiva. "Benar sayang, kita tinggal nyari gunung sayang aja lagi."ucap shiva. Sekitar lima belas menit, setelah kami melewati satu dusun. Kami menjumpai Goa. Jalan yang kami lalui harus masuk ke goa tersebut. Goa ini pendek, Ujung goa tampak jelas dari sini. Cahaya matari pun masuk ke dalam goa melalui ujung-ujung nya. Goa ini seperti gerbang di alam nyata menuju masuk ke kota raja saja. Di alam ghaib, jelas di sana gerbang kota raja. Disana terlihat penjaga ghaib sosok-sosok mengerikan, berbagai bentuk. Shiva, Domo,Dumu dan Ki Kuntet terbang kesana mendahului ku. Setelah dekat dengan gerbang. Aku menghentikan motor ku. "Siapa kalian dan apa tujuan kalian kesini?.." Kata penjaga kepada Shiva. "Aku Shiva putri dari kerajaan kobundokok."Jawab Shiva Tangan Shiva memberikan sesuatu kepada mereka. Seperti nya tanda pengenal dan bukti bahwa dia adalah benar-benar seorang putri raja. Lalu para penjaga melihat ke arah Domo,Dumu, Ki Kuntet juga aku. "Mereka bertiga adalah panglima dari kerajaan ku." Kemudian Shiva memanggil mereka bertiga. Serentak mereka mengeluarkan tanda pengenal nya. "Yang satu lagi adalah manusia yang bakal menjadi pendampingku. Aku harap jangan ada yang mengganggu nya."Shiva memberi peringatan. "Selamat datang di negeri kami Tuan putri. Kalau boleh tahu, ada keperluan apa Tuan putri ke negeri kami." Tanya penjaga. "Kami ada keperluan ke bukit sayang." Jawab Shiva singkat. "Bukit sayang jauh dari sini Putri. Kami akan beri stempel penjagaan, bahwa putri telah melalui penjagaan kami."Ucap penjaga memberikan seperti kertas warna hijau kepada Shiva. "Siapa gerangan yang putri ingin temui di bukit sayang..?" Tanya penjaga. "Kami mencari goa menuju negeri Alang-Alang. Sahabat kami menunggu disana nama beliau adalah Sang murid." Jawab Shiva. Penjaga kelihatan sangat terkejut mendengar penjelasan Shiva. Entah karena negeri Alang-Alang,entah karena nama kakek Sang Murid. "Silahkan melanjutkan perjalanan Tuan putri. " Ucap penjaga. Aku melihat Shiva terbang kearah ku. Dan duduk di atas motor. "Mari sayang kita lanjutkan pertualangan kita." Ucap Shiva. Baru saja aku melewati goa, aku melihat seorang kakek-kakek melambaikan tangan padaku. Seakan mau menompang motorku. Kakek itu terlihat sudah sangat uzur. Rambut sudah memutih semuanya. Badan nya sedikit kurus. Pakaian hitam lusuh. "Kakek itu seperti mau nompang motor. Bagaimana menurut sayang. " Kataku pada Dhiva. "Tumpang kan saja sayang. Kasihan kakek itu. Aku terbang saja di samping sayang." Jawab Shiva. Aku menghentikan motorku ku. "Kakek mau numpang.?" Tanyaku. "Iya nak." Jawab nya. "Silahkan naik kek" Kataku. Kakek naik kemotorku.Baru daja naik tiba-tiba ada suara. "Klik.." Si kakek menjentik kan jari nya. Tiba-Tiba kami sudah berada di atas bukit. Aneh nya motorku pun ikut terbawa. Bahkan aku dan kakek masih di atas motor. Begitu juga Shiva,Domo,Dumu dan Ki Kuntet. Mereka bertiga masih di posisi yang sama. Aku segera melompat dari motor. Memasang kuda-kuda. Shiva dan pengawal nya juga sudah siap menyerang si kakek. Bukan apa-apa, jelas saja kami curiga. tanpa persetujuan, kami lansung di bawa ke atas bukit. Si kakek melayang turun dari atas motor. Dan berkata. "Jangan lansung ambil tindakan seperti itu. Aku sengaja menunggu kalian di jalan tadi." Kata si kakek. "Siapa kakek ini sebenar nya?" Tanya ku masih was-was. "Sebantar aku panggil si Hurib dulu." Kata si kakek. Kemudian tangan kanan nya seperti meraup sesuatu. Detik kemudian muncul Ki Hurib di depan kami. Yang posisinya sedang megang apel. "Assalamualaikum guru, maafkan muridmu jika kurang berbakti." Ucap Ki Hurib sambil mencium tangan si kakek. Aku sangat terkejut dengan kejadian ini. Begitu juga dengan Shiva beserta Domo, Dumu dan Ki Kuntet. Sungguh kejadian yang tidak kami sangka-sangka. "Rib sekarang lihat di belakang mu." Kata si kakek. Ki Hurib berpaling ke belakang. Disana kami berdiri. Kami membungkuk hormat kepada Ki Hurib. "Kalian sudah sampai disini rupanya."Kata ki Harib. "Iya guru tadi kami di bawa kakek kesini." ucap ku. Kemudian aku menceritakan kejadian nya. "Beliau adalah guruku nama beliau Kiyai Mustakim. Beliau sudah mencapai puncak makrifah."Kata Ki Hurib "Sudah lah Rib yang punya kuasa hanya lah Tuhan yang maha besar." Kata Kiyai Mustakim. "Aku memanggil mu kesini, memastikan apakah semua nya sudah kamu ceritakan pada mereka." Kata Kiyai kepada ki Hurib. "Rasanya sudah guru." Ucap ki Hurib. "Kamu yakin tidak ada yang tertinggal." Tanya kiyai. "Yakin guru." Ucap ki Hurib. " Baiklah, bagaimana tentang pedang ular hitam dan pangeran durjana." Ucap kiyai. Ki Hurib terdiam. Aku sebenar nya heran, bagaimana kiyai bisa tahu tentang kami Apakah Ki Hurib yang menceritakan. Karena kiyai adalah guru ki Hurib berarti kakek guruku. "Kalian heran kenapa aku bisa tahu.?"Tanya kiyai, seperti memahami kebingungan ku. "Alam yang menceritakan padaku. Bukan Hurib." Sambung nya. Aku tidak mengerti bahasanya. Dan lagi bagaimana cara alam bercerita. "Aku akan menceritakan tentang pedang ular hitam dan pangeran Durjana sama kalian. Tapi selama aku bercerita, kalian di larang bicara atau bertanya. Apakah kalian paham." Tanya Kiyai. "Paham" Jawab kami serentak. Termasuk Ki Hurib. "Aku mulai dengan Pangeran Durjana. Sebenar nya Pangeran Durjana adalah sebuah aura magic. Dia bukan makhluk seperti kalian atau pun jin. Dia hanya sebentuk tenaga yang tercipta dari kesombongan dan dosa-dosa manusia masa lampau. Tenaga itu sekarang terkurung dalam batu hitam mustika setan." cerita kiyai. "Tenaga itu terkurung karena dahsyat nya bencana alam waktu itu. Masa itu dunia seperti kiamat. Bahkan manusia yang tersisa hanyalah beberapa orang saja. Saat bencana itulah Pangeran Durjana terkurung dalam sebuah batu hitam. Yaitu batu mustika setan." Lanjut Ki Hurib. "Batu itu hanyalah batu kecil. Sebesar batu cincin. Letak batu itu ada di bangunan Tua Namanya Thesaurus Bondo terletak di gunung padang." "Bagi orang atau apapun makhluk yang mampu membebaskan kekuatan batu hitam Akan menjadi sangat sakti yang tidak ada tandingan nya baik di dunia nyata ataupun manusia." lanjut kiyai. "Cuma kekuatan itu kekuatan sangat negative." Lanjut Kiyai. Kemudian Kiyai mengeluarkan dua lembar daun warna merah. "Saat kekuatan itu keluar dari batu. Kalian bisa menyegel nya dengan daun besi tapak darah ini. Hanya sebagian tenaga yang akan tersegel. Tapi itu sudah cukup melemahkan sebagian tenaga magic nya." "Kalian alirkan tenaga dalam yang bersifat alami kepada daun besi tapak darah. Dan lemparkan kepada tenaga magic yang di sebut sebagai Pangeran Durjana. Maka daun besi tapak darah akan menyedot Pangeran Durjana. Daun akan bersatu. Setelah daun bersatu, maka kalian hancurkan daun nya pakai tenaga quantum." Lalu menyerahkan kepadaku satu. Dan satu lagi kepada Shiva. "Sekarang aku ceritakan pedang ular hitam. Di sini kalian boleh bertanya. Aku akan menjawab yang kurasa penting." Kata Kiyai. "Pedang Ular hitam atau pedang mustika ular hitam, adalah pedang roh yang mampu mengeluarkan racun panas. Di samping itu yang memegang nya kebal terhadap racun. Kesaktian lain nya. Pedang itu hanya bisa di pakai oleh pemiliknya. Dan bisa membunuh dari jarak jauh. Ketika di perintahkan si pemiliknya, maka pedang itu akan terbang dengan sendirinya. Kemudian lagi pedang itu bisa diajak komunikasi oleh pemiliknya untuk mencari kelemahan ilmu lawan." Jelas Kiyai. "Pedang itu di ciptakan Raja Neraka. Dulu aku pernah bertarung dengan nya, aku berhasil mengalahkan nya.Setelah aku kalahkan dalam pertarungan itu. Raja Neraka seperti menghilang. begitu juga dengan pedangnya." ucap kiyai. "Akhir-akhir ini, aku punya firasat pedang itu akan di temukan sesosok siluman dari kerajaan merah." Ucap kiyai. Saat kiyai berkata tentang kerajaan merah. Aku lihat wajah Shiva,Domo,Dumu dan Ki Kuntet berubah pucat. Aneh memang, Dumu seakan mendengar kata-kata kiyai. Padahal kiyai bicara dengan lembut. Kiyai menatap mereka satu per satu. "Firasatku mengatakan, kalian akan berhadapan dengan nya. Tapi kalian tidak perlu khawatir. Karena pedang ular hitam masih bisa dihadapi dengan pusaka lain nya. Misal nya, Pedang Ular Putih, Keris kelok sembilan, dan keris naga emas." Ucap Kiyai. "Tapi jika salah satu senjata itu tidak berada di tangan kalian. Tamat lah riwayat hidup kalian." Jelas kiyai. "Maaf kiyai, Dimana kami bisa menemukan senjata-senjata itu." Ucap ku. Karena aku mencemaskan ayah Shiva. Jika benar yang di maksud kiyai adalah kerajaan ngaitampang. Maka ayah Shiva dalam bahaya. "Pedang ular putih dan keris kelok sembilan ada di bukik mambuik. Dan keris naga emas ada di Bukit sayang, di tangan penguasa bukit sayang." Ucap kiyai. "Dimana letak bukit mambuik itu kiyai.?" Tanya ku. "Kalian telah berada di puncaknya" Kata Kiyai. "Haa..." Kami terkejut mendengar penjelasan Kiyai. Hanya ki Hurib yang masih kelihatan tenang. "Kita sudah di bukit mambuik kiyai, Terus dimana senjata itu berada.?" Tanya ku. "Keris kelok sembilan ada di tanganku. Kalau pedang ular putih terletak di ujung Rotan tunggal itu." Ucap Kiyai. Kiyai Mustakim menunjuk ke suatu tempat. Di sana ada sebatang Rotan yang pucuk nya ke arah tebing batu. Tebing batu itu tinggi nya sekitar sepuluh meter. "Di dalam tebing itu ada sebuah goa. Dan di dalam goa tersebut. Ada seekor ular putih sedang bertapa. Kalian Harus bisa mengalah kan ular putih tersebut." Ucap Kiyai. "Namun dengan ilmu kalian sekarang, Kalian belum mampu mengalah kan nya. Meskipun kalian telah memikiki pukulan quantum. Tapi pukulan itu belum sempurna. Yang ada nanti kalian akan musnah di dalam goa itu." Lanjut kiyai. "Karena itu aku akan menyempurna kan pukulan quantum kalian. Dan Hurib latih tiga pengawal mereka." Ucap kiyai. "Baik guru." Ucap Ki Hurib. "Latih lah mereka di perbatasan alam. Aku akan melatih Frangki dan Shiva ke alam berbeda." Perintah kiyai kepada Ki Hurib. "Baik guru" ucap ki Hurib. Lalu kiyai melangkah ke arah ku dan Shiva. Tangan kami di pegang nya. Kemudian kami di bawa nya terbang. Kami Terbang malampaui awan. Sampai ada satu awan yang di lingkari cahaya pelangi. Kami di bawa nya masuk ke dalam lingkaran cahaya pelangi. Tidak berapa lama, Aku melihat ada sebuah dataran yang hanya ada batu. Kiyai melepaskan cahaya putih kemilau dari tangan nya. Cahaya itu membentuk sebuah pintu. Kami di ajak masuk ke dalam pintu itu. "Kalau tanpa pintu cahaya kita tidak bisa masuk atau keluar dari tempat ini. Jika lansung menerobos saja. Kita akan mati tercabik-cabik oleh dinding pagar ghaib nya." Ucap Kiyai Mustakim. Kemudian beliau mengambil sebongkah batu dan melemparkan ke sembarangan arah. Tiba-tiba batu itu hancur menjadi debu. Aku melihat keliling. Tempat ini tidak terlalu besar. Aku bisa melihat ujung dari tempat ini. Di ujung tempat ini, Aku melihat gambar yang berputar seperti film di tv. Ada gambar galaksi, bintang, komet. bahkan dengan jelas aku.melihat bumi mengintari matahari ketika gambar itu seperti di zoom. Aku terpana menyaksikan itu semua. "Itu replika dari alam semesta. Saat ini bukan itu yang kalian pelajari. Nanti ada masa nya kalian akan bertualang ke sana." Ucap Kiyai Mustakim. "Sekarang kalian duduk di batu putih itu. Dengar kan kataku baik-baik" Ucap nya menunjuk batu putih ber ukuran empat kali empat meter. Kami berjalan menuju kesana. Langkah ku aku rasakan sangat ringan. "Disini gravitasi bumi lebih rendah." Katanya. "Kalian duduk bersila lah, buka telapak tangan kalian, ulurkan ke depan . Akan aku sampaikan apa yang menjadi hak kalian. Dengar kan baik-baik."Kata Kiyai kemudian diam sesaat. "Barang siapa yang mengenal diri nya maka akan kenal Tuhan nya. Karena itu sebaik nya setiap makhluk meng intropeksi diri masing-masing. Agar kita tahu betapa lemah nya kita di bandingkan Tuhan semesta alam. Tapi kita akan kuat di bandingkan makhluk lain jika bersandar kepada kekuatan nya." Ucap Kiyai. Tangan nya menempel di tanganku. Aku merasakan sesuatu yang sangat sejuk masuk ke tubuhku. Perasaan ku jadi sangat tenang. "Manusia yang normal pada dasar nya terbentuk oleh tiga belas unsur terpisah. Kulit, Bulu, Darah, Daging, Otak, Benak, Urat,Tulang, pendengaran,penciuman,penglihatan,Rasa. Dan nyawa. Itu merupakan satu kesatuan. Yang di liputi Rahmad Tuhan yang maha besar lagi maha penyayang." kata Kiyai "Dan alam adalah unsur bagian dari diri kita. Dan kita juga bagian dari alam. Empat unsur alam menyatu kedalam tubuh manusia. Dimana angin menjadi urat, air menjadi tulang, Tanah menjadi daging dan Api menjadi Darah." Kata Kiyai " Tanpa empat element dasar manusia dan makhluk apapun di dunia tidak akan bisa hidup. Dan di setiap tempat dalam tubuh manusia itu semua menyatu. Menjadi suatu kekuatan yang sangat hebat jika mampu mengendali kan nya. Api adalah panas. Air adalah dingin, Angin adalah kesejukan, dan tanah adalah kekuatan." Kata Kiyai Setiap apa yang di katakannya. Aku melihat nya dalam benak ku. Saat kiyai mengatakan api. Aku melihat api yang besar dalam benakku. "Maka kalian satukan lah semua kekuatan dalam diri kalian. Maka akan muncul lah cahaya. Sebab ilmu adalah cahaya. Serahkan diri kalian kepada sang pencipta. Abdikan diri kalian hanya pada dia." Ucap Kiyai. Aku.merasa seluruh tenaga ku bergerak dengan sendiri nya. Dan perasaan ini sama seperti saat aku melakukan Ilmu quantum. "Bersatu lah.." Teriak Kiyai dengan keras. Aku merasakan seluruh kekuatan itu bersatu. Kekuatan tenaga dalam, Tenaga alam, tenaga quantum menyatu. "Buka mata kalian" Perintah Kiyai. Aku membuka mataku. Ternyata saat ini, aku,Shiva, dan kiyai sedang melayang di angkasa sambil duduk. "Lepaskan tenaga kalian ke batu yang di duduki tadi" Perintah Kiyai. Saat dia berkata seperti itu. Posisi nya sudah berada di belakang kami. Aku melepaskan tenaga yang menyatu seluruh dalam tubuhku. Begitu juga dengan Shiva. Blegar... Ledakan dahsyat terjadi. Tempat yang seperti pulau itu hilang, bahkan debu nya tidak kelihatan semua hancur musna. Sesaat kemudian tempat seperti pulau itu muncul lagi. Setelah tempat seperti pulau itu muncul. Kami melayang turun. "Ini lah kelebihan tempat ini, saat tempat ini hancur. Maka akan muncul lagi. Bagus nya kalian telah menyerap energi dari pulau ini. Dan telah menyatu dalam diri kalian ini akan menjadi benteng pertahanan tubuh kalian." Ucap nya. " Setelah latihan tadi, apakah kalian ingat bagaimana cara menyatukan seluruh tenaga kalian.?" Tanya kiyai. "Masih kiyai" Jawab kami serentak. " Ingat hal ini baik-baik. Kalian di larang melepaskan pukulan ini kecuali dalam keadaan terdesak, apakah kalian mengerti.? "Baik kiyai kami mengerti" jawab aku dan Shiva. Lalu kiyai membuka kembali pintu cahaya. Dan kami kembali ke bukit mambuik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN