Indah kembali ke rumah dan mempelajari dengan seksama dokumen yang diberikan oleh Pak Tarmo. Sebagai sarjana sosial ia bisa membaca frasa hukum yang termuat dalam surat dokumen. Diantara dokumen itu terdapat salinan keputusan sidang PPAT yang mengesahkan pengalihan kepemilikan tanah warga desa yang diberikan kepada kepala desa. Semua itu sah dan benar menurut ketentuan hukum. Karena itu Indah jadi heran juga, kenapa para warga masih mempermasalahkan hal ini? Mungkinkah semua ini sengaja dimunculkan oleh orang tertentu demi kepentingan pribadinya, seperti yang dikatakan ibunya. Ada oknum yang sengaja memancing di air keruh!
Jika benar ada kepentingan lain di balik kasus ini, Indah jadi ingin tahu siapa oknum tersebut? Apakah dia sendirian saja atau suatu kelompok? Pada saat ia sedang sibuk menduga-duga siapa provokator itu, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk seseorang. Ibunya memanggil dari luar kamar.
“Indah, ada tamu mencarimu,” kata Bu Wiryono.
“Siapa, Bu?” tanya Indah ingin tahu.
“Pergilah ke depan nanti kamu akan tahu sendiri.”
Ucapan ibunya itu membuatnya penasaran. Indah segera beranjak dari tempatnya dan melangkah keluar.
“Hai, Indah! Apa kabar?” sapa Irawan di ruang tamu.
Indah menyambutnya dingin. “Baik, Wan. Silahkan duduk,” balas Indah sambil duduk di sofa.
Irawan duduk di hadapan Indah. Sejenak dia mengatur sikapnya. Indah tampak tidak bersemangat menghadapi Irawan. Tapi laki-laki itu tak begitu memperhatikannya.
“Selamat ya, Ndah. Kemarin kamu sudah diwisuda menjadi sarjana. Sayang, aku tidak bisa ikut menyaksikan. Soalnya kemarin aku ada keperluan lain. Kamu pasti bahagia sekali?” cetus Irawan basa-basi.
“Ya, begitulah,” ucap Indah lirih.
“Oh ya, bagaimana dengan keadaan Bapak? Apakah sudah baikan?”
“Bapak masih beristirahat di kamar. Beliau baik-baik saja.”
“Aku ikut prihatin dengan kesehatan Bapak. Aku pernah menyarankan untuk membawanya ke rumah sakit, tapi beliau menolak. Katanya dirinya baik-baik saja.”
Kata-kata Irawan itu bertendensi menarik simpati. Indah bisa membaca hal itu. Dia heran, sejak kapan Irawan memanggil ayahnya dengan sebutan Bapak, seolah ia merasa yakin beliau akan menjadi ayah mertuanya. Indah mencemooh dalam hati. Dia tak akan begitu saja terpikat oleh kefamiliaran Irawan.
“Kamu ada perlu apa ke sini?” tanya Indah tak sabar lagi menghadapi basa-basi ini.
“E… aku mau ajak kamu keluar?”
“Ke mana?”
“Ya, ke mana saja. Sesuka kamu!”
“Sori, Wan. Saat ini aku lagi malas pergi keluar. Aku ingin di rumah saja. Aku ingin menunggui Bapak!”
“Tapi kan sudah ada Ibu yang menjaga Bapak? Barusan beliau memberi ijin aku untuk mengajakmu pergi jalan-jalan,” tukas Irawan.
“Ya, tapi aku lagi malas pergi.”
“Aku dengar kamu baru saja dari rumah Pak Tarmo. Ada urusan apa?” tanya Irawan tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
“Tidak ada urusan apa-apa, cuma silaturahmi saja,” jawab Indah berbohong.
“Apakah ada hubungannya dengan kasus yang menimpa Bapak?”
Indah terdiam sesaat. Hatinya agak keki juga karena Irawan sepertinya ingin tahu apa saja yang sedang dilakukannya. Laki-laki muda itu ingin berlagak sok pahlawan. Indah tak mau menanggapinya.
“Kenapa kamu diam saja? Berarti dugaanku benar,” lanjut Irawan merasa yakin.
“Kalau benar begitu, apa urusanmu,” sahut Indah agak ketus.
“Aku merasa ini juga urusanku, karena aku…. Yaah, kamu tahu sendiri. Orang tuamu sudah menganggapku seperti keluarga sendiri. Jadi sudah sewajarnya aku ikut berempati dengan masalah yang menimpa kalian,” kata Irawan terdengar begitu penuh kepedulian dan perhatian.
“Terima kasih kalau kamu punya empati pada kami, tapi kukira aku bisa menyelesaikan sendiri masalah ini!” tegas Indah.
“Kamu jangan angkuh, Ndah. Aku bersungguh-sungguh ingin membantu keluargamu. Jangan tampik uluran tanganku ini. Aku yakin, kamu sebenarnya tak tahu apa-apa dengan persoalan ini. Masalahnya cukup rumit. Tapi kalau kamu mau percaya, aku tahu siapa yang sebenarnya berdiri di balik tuntutan warga itu. Ada dalang dan provokator yang sengaja ingin menjatuhkan nama baik ayahmu!”
Indah tercekat. Dia menatap Irawan seksama, seolah ingin meyakinkan dirinya bahwa laki-laki itu tidak main-main.
“Kamu jangan bikin prasangka. Jangan asal main tuduh saja!” tukas Indah.
“Aku tidak sekedar berprasangka dan main tuduh saja. Aku punya beberapa bukti dan saksi yang kuat. Orang yang berdiri di balik tuntutan warga itu tak lain adalah Rahman. Dia yang menyuruh Kardi dan Usman mengajukan tuntutan atas tukar guling tanah desa. Rahman yang memprovokasi mereka!” tegas Irawan.
“Siapa itu Rahman?”
“Anak Pak Soleh, yang tinggal di dusun Karangasem. Rahman hendak mencalonkan diri menjadi kepala desa. Dia ingin menarik simpati warga dengan cara mengungkit segala kebobrokan yang pernah dilakukan oleh ayahmu!”
Indah terdiam. Geraham giginya mengatup rapat. Hatinya tiba-tiba mendidih panas mendengar keterangan Irawan. Berarti dugaannya benar, ada orang di belakang tuntutan warga itu. Dan orang itu salah satu calon Kades. Indah dibuat gusar dan geram bukan main. Rasanya dia ingin segera bertemu dengan orang bernama Rahman itu dan memakinya habis-habisan. Apakah dia tidak tahu bahwa tindakannya memprovokasi warga bukanlah tindakan simpatik. Itu namanya permainan kotor dan licik. Apa dia tidak melek hukum? Desis Indah dalam hati kesal.
***
Indah tak sabar lagi ingin menemui orang bernama Rahman. Tapi dia mesti memikirkan caranya dulu. Karena ia tahu, sebagai orang yang mengibarkan bendera peperangan dengan ayahnya, Rahman tentu menyimpan kebencian pada keluarganya. Indah ingin menyelidiki dulu, seperti apa orang bernama Rahman. Apakah dia orang yang bisa diajak bicara baik-baik atau berwatak keras. Indah tak ingin keliru mengambil langkah. Untuk itu ia mengorek keterangan pada orang-orang di sekitarnya.
Dari informasi yang berhasil dikumpulkannya Indah tahu kalau Rahman adalah pemuda lulusan pondok pesantren. Rahman juga aktivis sebuah organisasi pemuda dan takmir Masjid. Mendapat informasi seperti itu hati Indah jadi ragu, apakah benar Rahman berniat mencemarkan nama baik ayahnya? Rasanya mustahil ada muslim seperti Rahman memiliki itikad tidak baik dengan menyebar fitnah dan menghasut orang lain demi kepentingannya sendiri? Demikian pertanyaan yang muncul dalam benak Indah. Jangan-jangan apa yang disampaikan oleh Irawan itu bohong belaka. Irawan sembarangan menuduh? Tapi mungkin juga benar begitu. Terlepas dari background pendidikannya, orang yang kritis seperti Rahman memang selalu ingin mengoreksi segala bentuk ketimpangan meski hal itu masih didasari dengan asumsi yang masih dangkal.
Indah tak ingin membiarkan hatinya dipermainkan kebimbangan. Dia segera mencari waktu yang tepat untuk menemui orang bernama Rahman. Kebetulan ada sebuah acara pengajian diadakan di dusun Karangasem. Indah mendatangi acara itu bersama rombongan takmir Masjid di kampungnya. Dari bantuan seorang remaja masjid yang menjadi panitia acara, Indah akhirnya bisa bertemu Rahman. Dia harus menunggu beberapa saat di belakang bangunan Masjid karena Rahman yang bertindak sebagai ketua panitia masih sibuk mengatur acara.