Bertemu Rahman

1181 Kata
            “Mbak mencari saya?” Sebuah suara kalem membuyarkan lamunan Indah.             Gadis itu menoleh dan menatap laki-laki muda berkopiah di hadapannya dengan seksama. Ada desir lembut menggetarkan kalbunya saat beradu pandang dengan pemuda berwajah tampan dan bersih itu. Entah, apakah karena ini terbawa oleh rasa tegang dan nervousnya atau memang getar hatinya yang alami.             “E, ya… Anda yang bernama Rahman?” ucap Indah jadi agak gugup.             “Ya, benar. Saya Rahman. Mbak siapa?”             “Saya Indah, anak Pak Wiryono mantan kades!”             “O, Mbak Indah. Saya jadi pangling. Sudah lama kita tak bertemu jadi saya agak lupa-lupa ingat,” kata Rahman dengan wajah berseri-seri.             “Apakah kita pernah bertemu sebelum ini?” ujar Indah mengerutkan alis.             “Ya. Dulu waktu masih SMP kita pernah satu sekolah, tapi waktu itu saya baru kelas dua dan Mbak Indah sudah kelas tiga. Setelah lulus Mbak melanjutkan ke Solo dan saya kemudian meneruskan di pondok pesantren luar kota,” tutur Rahman menerangkan.             Sejenak Indah termenung, seakan ingin menggali ingatannya pada kenangan beberapa tahun silam. Dia memang tidak begitu ingat dengan orang-orang yang pernah menjadi teman sekolahnya dulu, terutama saat SMP. Karena setelah lulus SMP dia melanjutkan SMU di kota. Dia juga jarang pulang ke rumah, kecuali saat akhir pekan atau liburan. Lagipula Rahman adalah adik kelasnya dan melanjutkan study keluar kota. Jadi wajar mereka jarang bertemu. Indah sendiri tak begitu hapal wajah Rahman waktu remaja dulu. Tapi kini setelah memperhatikan wajahnya, samar-samar Indah mulai ingat. Dia memang pernah bertemu dengan Rahman meski tidak sering.             “Ya, saya baru ingat sekarang,” ucap Indah lirih.             “Ada perlu apa Mbak Indah mencari saya? Kelihatannya serius sekali?”             “E, begini….,” Indah jadi agak ragu mengungkapkan maksud tujuannya menemui Rahman, karena ia baru tahu kalau yang dihadapinya ternyata bekas teman sekolahnya dulu.             “Saya ingin membicarakan soal gugatan hukum warga desa yang ditujukan  kepada ayah saya. Saya mendengar informasi bahwa Andalah yang mensponsori gugatan warga desa itu?” cetus Indah akhirnya memberanikan diri.             “Ya, benar. Sayalah yang menyarankan agar warga desa itu melakukan gugatan hukum,” jawab Rahman lugas.             Indah terpana. Ternyata benar apa yang dikatakan Irawan. Hati Indah tiba-tiba tak kuasa menahan gejolak emosi.             “Kenapa Anda melakukan hal itu? Apakah Anda tidak sadar telah melancarkan fitnah dan menghasut warga desa untuk memusuhi bapak saya? Anda telah mencemarkan nama baik bapak saya? Anda tidak tahu bahwa proses jual beli tanah itu sudah melalui prosedur yang benar dan telah sah menurut hukum?!” seru Indah dengan nada tinggi karena kesal.             “Sebentar, Mbak Indah. Anda jangan emosi dulu. Anda jangan berpikiran buruk terhadap maksud baik saya….!” sergah Rahman tampak kaget melihat kemarahan Indah yang tiba-tiba.             “Maksud baik apa?! Anda hanya seorang provokator! Anda tidak tahu masalah yang sebenarnya! Anda hanya menjadikan kasus ini sebagai alat promosi anda menjadi calon kepala desa. Anda melakukan cara yang kotor dan licik untuk mendapatkan simpati warga desa. Saya benar-benar muak. Anda ternyata orang yang munafik. Anda seorang lulusan pesantren tapi perilaku Anda tak ubahnya preman!” kecam Indah berapi-rapi.             “Tunggu dulu, Mbak. Ucapan Anda telah menyinggung perasaan saya. Sebenarnya saya bisa menuntut Mbak atas ucapan Mbak itu, tapi saya bisa menahan diri. Jika Mbak memang ingin membicarakan masalah gugatan warga desa itu dengan kepala dingin, saya akan jelaskan duduk masalah sebenarnya. Saya tidak pernah bermaksud mencemarkan nama baik ayah Mbak atau memfitnahnya, tapi justru untuk menegakkan kebenaran dan keadilan!” bantah Rahman dengan nada keras.             “Anda jangan mengajari saya tentang menegakkan kebenaran dan keadilan. Anda pikir kami ini keluarga perampok dan penindas? Duapuluh tahun ayah saya menjabat sebagai kepala desa, belum pernah ada gugatan-gugatan seperti ini. Bahkan hampir semua orang di desa ini memuji keberhasilan Bapak saya. Tapi setelah Bapak pensiun, ternyata ada orang macam Anda yang tega merusak reputasi Bapak saya. Anda tega memfitnahnya sehingga orang-orang desa dalam sekejap membenci dan memusuhi ayah saya. Sungguh Anda seorang pecundang memuakkan! Saya benci Anda!” Setelah mengucapkan kalimat penuh kemarahan itu Indah lalu bergegas pergi meninggalkan Rahman.             Laki-laki itu mencoba mencegahnya. “Mbak Indah! Tunggu sebentar….!” Serunya memanggil, tapi Indah tak menggubrisnya.             Indah tak menunggu acara pengajian selesai. Dia langsung pulang ke rumah. Dia tidak sudi lagi bertemu dengan orang bernama Rahman. ***             Pengacara yang masih cukup muda itu bernama Herman Setiadi, SH. Meski masih muda, tapi dia sudah berpengalaman dalam dunia peradilan. Dialah yang ditunjuk sebagai kuasa hukum Wiryono menghadapi gugatan warga desa atas kasus jual beli tanah yang terjadi dua tahun silam. Pengacara berpakaian dandy itu datang ke rumah keluarga Wiryono untuk membahas kasus itu. Wiryono, Bagus, Indah, dan Irawan ikut hadir dalam pertemuan di ruang tamu rumah keluarga Wiryono. Dengan seksama Wiryono mendengarkan arahan dan petunjuk dari Herman. Laki-laki itu meyakinkan Wiryono bahwa kasus ini bakal dimenangkannya.             “Semua bukti-bukti dan saksi menguatkan posisi Bapak sebagai tergugat. Mereka tidak bakal menang!” tegas Herman penuh keyakinan.             “Sebenarnya saya juga punya keyakinan itu, Pak Herman. Tapi entah kenapa, perasaan saya tidak enak. Baru kali ini saya berurusan dengan pengadilan. Selama menjabat kepala desa saya berusaha bertindak jujur. Saya tidak pernah menyelewengkan jabatan saya. Buktinya, selama duapuluh tahun menjadi kepala desa tidak ada warga saya yang berani menyatakan keberatannya pada saya. Justru sekarang ini setelah saya pensiun mereka berani melawan saya. Mereka tidak menghargai pengabdian saya selama ini,” ucap Wiryono dengan nada penuh kekecewaan.             “Sudahlah! Bapak jangan terlalu keras memikirkan persoalan ini. Nanti sakit Bapak tambah parah. Semua sudah diserahkan pada Pak Herman. Percayakan semua ini pada beliau!” ujar Indah mengingatkan ayahnya. Meski beliau sekarang sudah bisa berdiri dan berjalan lagi, tapi hati Indah tetap khawatir. Kesembuhan ayahnya itu belum menjadi jaminan kesehatannya sudah pulih.              “Benar, Pak Wiryono. Bapak tak usah terlalu cemas dan risau. Percayalah pada saya!” sambung Herman.             “Bapak tak perlu khawatir. Biar nanti saya akan urus cecunguk Rahman itu. Dia perlu diberi pelajaran biar tidak macam-macam sama kita!” desis Irawan dengan wajah gusar.             “Kamu jangan bertindak gegabah, Wan. Tindakan kasarmu bisa membikin persoalan ini tambah runyam!” cetus Bagus memperingatkan Irawan.             “Habis saya kesal sekali sama Rahman, Gus!”             “Saya harap persoalan ini tetap diselesaikan lewat jalur hukum. Jangan ada tindak pemaksaan atau kekerasan!” ujar Indah ikut memperingatkan Irawan.             “Ya, kita akan selesaikan sesuai koridor hukum!” kata Herman.             “Kalau boleh saya tahu, apakah dalam kasus semacam ini jika nanti Bapak tidak terbukti bersalah ada kemungkinan melakukan tuntutan balik?” tanya Indah pada Herman.             “O, bisa! Tentu saja bisa. Tergantung apakah Pak Wiryono mau menuntut balik atau tidak?”             “Soal itu bisa dipikirkan nanti. Yang penting saya terbebas dari masalah ini. Saya ingin semuanya segera selesai!” tegas Wiryono.             Indah menatap ayahnya sesaat. Dari raut wajah orang tua itu tampak kelelahan dan kepenatan yang begitu sarat. Indah jadi prihatin. Sepertinya masalah yang dihadapi beliau telah banyak menguras pikiran dan energinya. Di hari tua yang seharusnya dinikmati dengan kedamaian dan ketenangan malah dipenuhi berbagai masalah yang berat dan menekan. Diam-diam Indah mengutuk Rahman yang telah menyebabkan malapetaka di dalam keluarganya. Indah berjanji akan membalas perbuatan Rahman.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN