Siang itu Indah baru saja keluar dari sebuah toko membeli keperluannya. Tiba-tiba di tengah jalan Rahman menghadangnya.
“Saya ingin bicara sebentar denganmu,” kata Rahman dengan nada serius.
“Bicara apa? Semuanya kan sudah jelas. Anda telah menghancurkan kehidupan orang tua saya,” jawab Indah senewen.
“Mbak jangan bersu’udzon dulu. Saya tak pernah bermaksud menghancurkan kehidupan orang tua Mbak. Saya hanya ingin menegakkan kebenaran dan mengungkap fakta sebenarnya dari kasus ini!”
“Kebenaran macam apa? Apakah surat-surat perjanjian jual beli yang telah diteken para penggugat itu bukan merupakan kebenaran? Fakta apalagi yang anda cari?!” seru Indah sengit.
“Mungkin ada satu hal yang perlu saya jelaskan di sini bahwa tuntutan warga tidak semata menggugat keabsahan proses jual beli tanah itu, melainkan kejujuran atas proses pembelian yang terjadi. Sebab, para warga itu ternyata tidak pernah dibayar sesuai dengan harga yang disepakati!” ujar Rahman menegaskan.
“Sepengetahuan saya mereka telah dibayar sesuai harga yang tercantum dalam surat perjanjian jual beli itu. Dan saat pembayaran tidak ada protes sama sekali. Kenapa baru sekarang hal itu dipersoalkan?”
“Karena warga takut. Mereka tidak mau mengalami nasib seperti Kasmo!”
“Kasmo?”
“Ya! Mungkin Mbak masih ingat dengan kasus yang menimpa Kasmo? Dia meninggal secara misterius. Mayatnya ditemukan di dasar jurang. Menurut keterangan polisi dia mati karena kecelakaan. Tapi rekan-rekannya tak yakin hal itu. Mereka menduga Kasmo mati karena dibunuh!”
“Dibunuh?!”
“Ya! Untuk membungkam mulutnya agar tidak membuka sebuah rahasia!”
“Rahasia? Rahasia apa?” Indah jadi penasaran mendengar semua penuturan Rahman. Wajahnya terlihat tegang.
“Rahasia persekongkolan antara ayahmu, Pak Citro, Pak Tarmo, dan orang-orang yang terlibat dalam proses tukar guling tanah milik desa….!”
“Stop! Omongan kamu sudah mulai ngelantur. Aku tak mau mendengarnya lagi!” potong Indah kesal seraya beranjak pergi dari hadapan Rahman.
Laki-laki itu tak menyerah. Dia menyusul Indah dan berjalan di sampingnya.
“Saya tahu, Mbak tersinggung karena saya menyebut kata persekongkolan dalam kasus ini. Tapi Mbak perlu tahu, saya tidak akan menganggap ini persekongkolan kalau Pak Wiryono mau jujur dan mengakui kejadian sebenarnya. Karena dalam persoalan ini Pak Wiryonolah yang paling bertanggung jawab. Beliau yang menandatangani sekaligus bertindak sebagai pihak pembeli dalam proses jual beli itu. Pak Wiryono pasti tahu, kalau warga telah ditipu. Dalam surat perjanjian disebutkan nilai uang tidak sesuai dengan kesepakatan!” tutur Rahman.
“Jadi maksud anda warga yang telah menyerahkan tanahnya itu tidak dibayar sesuai harga yang disepakati? Anda menganggap Bapak saya penipu, begitu?!” tukas Indah ketus.
“Ya, kalau memang Pak Wiryono sengaja melakukannya. Dari keterangan Pak Usman dan Pak Kardi, ternyata mereka hanya dibayar sepuluh persen dari harga yang pernah disepakati. Menurut Pak Citro pelunasan itu akan dilakukan nanti setelah surat perjanjian diteken, tapi kenyataannya sampai sekarang tidak diberikan. Setelah saya teliti isi surat perjanjiannya, mereka telah ditipu. Mereka tidak tahu kalau uang yang telah diberikan sesuai isi surat perjanjian. Mereka tidak membacanya, karena mereka buta huruf. Mereka hanya percaya oleh omongan Pak Citro maupun Pak Tarmo bahwa tanah mereka akan dibeli dengan harga tinggi. Itulah yang saya katakan ada unsur penipuan dalam kasus ini!” tandas Rahman penuh semangat.
Indah menghentikan langkah kakinya. Dia kaget mendengar pernyataan Rahman bahwa para warga itu buta huruf dan tidak mengetahui isi surat perjanjian. Tapi dia tidak yakin bahwa mereka tidak tahu sama sekali isi surat perjanjian itu. Kalau mereka tidak bisa membaca tentu mereka akan minta tolong saksi atau orang lain yang bisa membacanya.
“Kalau mereka memang buta huruf, kenapa mereka mau menandatangani surat perjanjian itu. Apakah tidak ada saksi atau orang lain yang memberitahu mereka?” cetus Indah tak yakin.
“Karena mereka sudah terlanjur percaya pada omongan Pak Citro maupun Pak Tarmo. Lagi pula saksi yang dihadirkan waktu itu juga sudah bersekongkol dengan Pak Citro dan Pak Tarmo!”
“Bapak saya tahu tentang hal itu?”
“Itulah yang ingin saya ketahui. Apakah Pak Wiryono tahu dengan hal ini dan sengaja menutupinya atau beliau benar-benar tidak tahu. Tapi saya yakin beliau pasti mengetahuinya!” tegas Rahman.
Indah tercenung. Ucapan Rahman itu terasa menohoknya. Ada kebimbangan menggelitik hatinya. Entah kenapa, dia jadi terpengaruh oleh kata-kata Rahman. Perasaan benci yang tadi meluap-luap dalam dadanya menghilang entah ke mana. Indah tahu, seorang lulusan pesantren macam Rahman tentu tak akan sembarangan bicara bila tidak ada bukti maupun faktanya. Tapi Indah pun tak akan begitu saja percaya sebelum melihat sendiri kebenarannya. Indah tak ingin ayahnya disalahkan oleh sesuatu yang tidak diperbuatnya. Dia ingin membuktikannya dulu.
“Baik! Saya tidak akan berdebat lagi dengan Anda. Saya akan buktikan, apakah omongan anda benar atau salah. Kalau memang anda yang benar, saya akan mempercayai anda. Tapi kalau anda salah dan hanya sekedar menyebar fitnah, seumur hidup saya akan membenci anda. Camkan itu!” ucap Indah tajam.
Gadis itu lalu melangkah pergi meninggalkan Rahman. Sementara Rahman hanya berdiri terpaku. Kali ini dia tidak berusaha mengejar Indah. Dia hanya tersenyum melihat sosok bayangan Indah lenyap di balik tikungan.
***
Indah memang ingin membuktikan kebenaran ucapan Rahman. Dia lalu menemui Kardi, salah seorang penggugat ayahnya. Indah tahu, kedatangannya ke rumah Kardi bisa menimbulkan kehebohan. Indah tak mau memancing kecurigaan orang. Karena itu dia menemui Kardi pada malam hari. Indah mengetuk pintu rumah warga desa yang sangat sederhana itu. Istri Kardi tampak kaget melihat kedatangan Indah. Wajahnya terlihat tegang.
“Assalamualaikum, Bu…,” sapa Indah kalem.
“Waalaikumsalam…,” sahut perempuan itu agak gugup.
“Bapak ada, Bu? Saya ingin bertemu dengan beliau,” kata Indah.
“E….,” Belum sempat perempuan setengah baya itu menjawabnya, tiba-tiba ada suara berat memanggilnya dari dalam.
“Siapa itu, Bune?”
Perempuan itu menyahutnya. “Ada tamu mencarimu, Pak!”
“Siapa?”
Perempuan itu tidak membalasnya melainkan menyilahkan Indah masuk ke dalam. Indah tersenyum senang. Meski dia risih melihat perempuan itu terus memandanginya, Indah segera masuk ke dalam rumah. Dia sadar, kehadirannya memang menimbulkan seribu tanda tanya dalam benak wanita itu. Sementara Kardi yang sedang duduk santai di ruang tengah juga tampak kaget melihat kedatangan Indah. Wajahnya berubah pias. Tapi dia berusaha menutupi sikap gugupnya dengan tersenyum dan berdiri menyambut dengan ramah.
“E… Mbak Indah. Tumben datang ke sini?” cetus orang tua itu sekedar basa-basi.
“Maaf, Pak. Kalau kedatangan saya menganggu ketenangan Bapak. Saya ke sini ada suatu keperluan sedikit,” kata Indah kalem.
“Ada keperluan apa, Mbak?”
“E, begini….!” Sejenak Indah mengatur sikap duduknya. Dia menyusun dulu kalimat yang ada dalam benaknya agar nanti saat diutarakan tidak membuat lawan bicaranya itu tegang. Karena ini menyangkut masalah sangat sensitif.
“Saya tahu, Pak Kardi dan beberapa warga lain sedang bersengketa dengan ayah saya. Kedatangan saya ke sini bukan hendak mempengaruhi atau membujuk Bapak, saya cuma ingin mencari kebenaran atas masalah ini. Saya ingin mendengar jawaban Bapak yang sejujurnya. Apakah Bapak tidak keberatan menjawab pertanyaan saya?” cetus Indah hati-hati.
“Dengan senang hati, Mbak. Saya akan menjawabnya dengan jujur.”
Indah merasa lega. Ternyata Kardi cukup kooperatif dan tidak bersikap keras. Mungkin karena ia petani yang lugu dan polos.