Wiryono Meninggal

1080 Kata
            Rombongan warga dusun Arjomulyo yang dipimpin oleh Bagus dan Irawan bergerak memasuki wilayah dusun Karangasem. Mereka ada tigapuluh orang dan kebanyakan anak-anak muda. Meski tak terlihat ada yang membawa senjata tajam, tapi sikap mereka memperlihatkan sebuah ancaman. Mereka seperti pasukan perang yang siap bertempur. Di sepanjang jalan mereka meneriakkan seruan bernada menghujat kepada Kardi, Usman, dan Rahman. Teriakan mereka yang membahana menakutkan beberapa warga. Para wanita dan anak-anak bersembunyi dalam rumah. Mereka menutup pintu dan jendela. Rombongan orang yang dirasuki rasa amarah itu sempat merusak pagar dan tanaman di sepanjang jalan yang dilalui. Mereka berniat menuju ke rumah Rahman.             Tapi baru saja mereka memasuki wilayah dusun Karangasem, di ujung jalan muncul Rahman dan beberapa pemuda Karangasem menyongsong kedatangan mereka. Bagus mengisyaratkan agar orang-orang yang bersamanya berhenti. Bagus memandang ke arah kumpulan pemuda yang dipimpin Rahman. Alis matanya berkerut saat menangkap sosok Indah berada di tengah mereka. Indah segera berlari menuju ke tempat kakaknya berdiri.             “Apa-apaan Mas ini? Kenapa Mas mengajak orang-orang untuk menyerbu dusun ini? Apakah Mas tidak sadar kalau tindakan Mas ini salah dan main hakim sendiri!” seru Indah marah.             “Kamu tak usah banyak omong. Kamu sendiri kenapa berada di tempat ini? Kamu benar-benar tidak tahu malu! Sudah tahu kalau orang-orang dusun Karangasem telah menyantet Bapak, tapi kamu malah bersama mereka! Dasar, anak tak tahu diri!” maki Bagus.             “Mas jangan sembarangan bicara! Tidak ada bukti kalau yang menyantet Bapak orang-orang dusun Karangasem. Mas jangan percaya omongannya dukun. Mas bisa dituntut balik jika sembarangan melancarkan fitnah dan merusak nama baik orang lain!”             “Buktinya sudah jelas kalau Bapak kesurupan dan mengaku bahwa yang menyantetnya adalah Kardi dan Usman. Kamu tak bisa menyangkal itu. Sudah, kamu pulang sana. Biar masalah ini kuselesaikan sendiri!”             “Tidak, Mas! Kalianlah yang harus pulang!” Indah lalu menoleh pada orang-orang di belakang kakaknya.”Saudara-saudara, kalian jangan seperti kerbau d***u yang mau dicocok hidungnya! Kalian tidak tahu apa-apa urusan ini! Aku tahu, kalian cuma dipengaruhi dan dihasut untuk melakukan p*********n. Mungkin kalian juga dibayar untuk melakukan p*********n ini! Tapi kalian tidak sadar apa resikonya kalau sampai terjadi tawuran dan jatuh korban. Kalian semua akan dipenjara…!”             “Kurang ajar kamu, Ndah! Beraninya kamu bicara seperti itu! Kutampar mulut kamu nanti!” desis Bagus geram.             “Silahkan kalau Mas berani. Ayo, tampar!” tantang Indah seraya memiringkan wajahnya seolah ingin memberikan pipinya.             Bagus terlihat geram dan geregetan. Kedua tangannya terkepal keras.             “Sudahlah, Gus! Ringkus saja adikmu itu dan bawa dia pulang. Biar kami yang menghadapi mereka!” ujar Irawan tiba-tiba menyela.             Indah menoleh pada Irawan dan menatap pemuda itu penuh kebencian. “Hei, tikus jelek! Pemuda pengangguran yang bisanya cuma menetek pada ibumu. Kamu bukan warga dusun Arjomulyo dan tidak tahu menahu persoalan ini. Kenapa kamu ikut campur? Aku tahu, kamu sengaja ingin mengail di air keruh. Kamu mencari kesempatan menjilat p****t kakakku. Orang seperti kamu mestinya kawin dengan kerbau!” maki Indah sengit.             “Plaaak!” Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Indah. Gadis itu terpekik kesakitan.             Dia kemudian menatap kakaknya dalam-dalam. Bagus yang tadi menampar adiknya terlihat jengah. Dia melengoskan pandangannya.             “Akhirnya Mas mau juga menampar aku! Jadi begini yang pernah diajarkan orang tua kita? Mas tega berbuat kasar pada perempuan! Begini cara Mas menyelesaikan masalah? Melakukan kekerasan dan pemaksaan kehendak!” seru Indah menggugat dengan suara serak. Air matanya berlinangan.             Bagus jadi serba salah. Dia hanya diam terpaku.             Indah lalu memandang kepada orang-orang di belakang kakaknya.             “Saudara-saudara semua, kalau saudara-saudara mau membuat kekacauan di sini atau mau berbuat anarkhis di sini, hadapi saya dulu! Bunuh saya, jika kalian merasa puas bisa melampiaskan amarah dan kebencian kalian! Ayo, cepat! Bunuh saya!” jerit Indah sambil menangis sesenggrukan.             Orang-orang itu jadi bingung. Mereka jadi serba salah. Tanpa ada yang mengomando, tiba-tiba satu persatu dari mereka membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi. Mereka tak meneruskan niat mereka menyerang warga dusun Karangasem. Melihat orang-orang pada pulang, Irawan jadi kebingungan.             “Hei, kenapa kalian pada pergi. Urusannya belum selesai!” serunya berniat mencegah kepergian mereka.             Tapi orang-orang itu tak menggubrisnya. Mereka terus berjalan pulang. Irawan lalu mendekati Bagus.             “Bagaimana ini, Gus? Kok jadi berantakan gini sih rencana kita?” ucapnya kecewa.             Bagus tidak menanggapi ucapan Irawan. Dia malah melangkah pergi mengikuti orang-orang itu. Irawan jadi kelimpungan sendiri. Mau tak mau dia mengikuti teman-temannya yang lain.             Sementara itu Indah duduk terpekur di tengah jalan sambil menangis sesenggrukan. Rahman dan teman-temannya menghampirinya. Mereka membimbing Indah kembali ke rumah Rahman. ***             Awan kelabu menghiasi langit desa Sumbersari. Persoalan gugatan warga desa pada Wiryono telah berkembang sedemikian rupa. Setelah Wiryono menyatakan permintaan maaf pada warga desa yang menggugatnya dan melakukan rekonsiliasi, keadaan justru semakin tak karuan. Pak Citro dan Pak Tarmo sebagai rekan dekat Wiryono mengecam keras tindakan Wiryono. Hubungan Wiryono dengan Pak Citro menjadi renggang. Mereka kini saling berseteru. Pak Citro kemudian menekan Wiryono untuk segera mengembalikan pinjamannya. Niat menjodohkan Indah dengan Irawan pun batal.             Keadaan menjadi runyam ketika kondisi kesehatan Wiryono semakin memburuk. Setelah digarap oleh Mbah Markun keadaan Wiryono bukannya menjadi lebih baik, tapi malah drop. Orang tua itu tak bisa lagi bicara dan tubuhnya menjadi lumpuh. Dia seperti orang yang terkena stroke. Mungkin ini akibat tenaganya yang terforsir hebat saat kesurupan. Atau mungkin juga karena shock yang dirasakannya mendengar anak tertuanya hendak menyerang dusun Karangasem karena menuduh Rahman dan orang-orang dusun Karangasem sebagai pengirim santet. Semua kemelut itu sangat menekan batinnya. Hal itu kemudian mempengaruhi kondisi kesehatannya.             Indah yang tak tega melihat penderitaan ayahnya segera membawanya ke Rumah Sakit. Dia tak peduli tindakannya ini ditentang oleh Bagus. Kakaknya itu lebih suka mengobatkan ayahnya ke paranormal, karena menurutnya sakit yang diderita orang tuanya akibat kiriman santet. Tapi takdir akhirnya berbicara lain. Tuhan rupanya sudah berencana mengambil nyawa Wiryono. Baru satu hari berada di rumah sakit, Wiryono tak tertolong lagi. Menurut keterangan dokter, jantung Wiryono sudah pada stadium lanjut karena mengalami komplikasi yang sangat berat. Seharusnya dia dibawa ke rumah sakit jauh hari.             Tak terlukiskan betapa sedih dan pedih hati Indah menerima kenyataan pahit ini. Dia tak kuasa menahan tangis histerisnya. Dia tak siap menghadapi kepergian sang ayah. Dia mengguncang-guncang tubuh ayahnya yang telah menghembuskan nafas penghabisan, karena tak yakin orang tua itu telah pergi. Dia terus memanggil-manggil namanya. Barulah ketika orang-orang menenangkannya Indah tersadar dan akhirnya jatuh pingsan. Sementara Bu Wiryono terlihat cukup tabah dan kuat menghadapi kematian suaminya. Dia hanya menangis lirih. Bagus dan Widyanto, kedua anak laki-laki Wiryono, berdiri terpaku dan membisu melihat ayah tercinta dipanggil Yang Maha Kuasa. Air mata menitik membasahi pipi mereka.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN