Tuduhan Kepada Rahman

1245 Kata
            Hari telah sore ketika Indah pulang ke rumah. Hatinya yang tadi sempat diliputi bara amarah dan rasa kesal, kini telah mereda setelah mendapat banyak nasehat dari Rahman. Tapi saat dia memasuki rumah, dia disambut dengan wajah dingin dan angker Bagus. Rupanya kakaknya itu belum pulang. Sementara Mbah Markun sudah tidak ada.             “Dari mana saja kamu?” tanya Bagus dengan nada kesal.             Indah tidak menjawab pertanyaan kakaknya dan terus melangkah menuju kamar ayahnya. Dia berniat melihat keadaan sang ayah.             “Hei, jangan diam saja! Aku tanya, dari mana kamu?!” Bagus mengulangi pertanyaannya dengan suara melengking tajam. Urat lehernya sampai terlihat.             Indah membalikkan tubuhnya dan memandang kakaknya tajam. “Untuk apa Mas tahu ke mana aku pergi? Bukankah mas sudah tidak ingin bicara lagi denganku?” ujarnya sengit.             “Tapi kali ini aku tak bisa membiarkanmu pergi seenaknya, apalagi pergi ke rumah laki-laki bernama Rahman itu. Kini semuanya sudah jelas bahwa temanmu yang sok alim itu berada di belakang sakit Bapak. Dia pura-pura menolong Bapak padahal dia sendiri yang telah mencelakai Bapak!”             “Apa maksud Mas?” ujar Indah tak mengerti.             “Kamu ingin tahu, kenapa aku bilang Si Rahman itu mencelakai Bapak. Tadi setelah digarap oleh Mbah Markun setan yang bersemayam dalam tubuh Bapak mengaku kalau yang mengirimnya adalah Kardi dan Usman. Jadi sekarang sudah jelas siapa yang menyantet Bapak. Dua orang cecunguk itulah yang melakukannya. Tapi aku tak yakin mereka sendiri yang melakukannya. Mereka pasti dibantu oleh seseorang yang memiliki ilmu kebatinan. Dan siapa lagi orang itu kalau bukan Si Rahman. Karena saat menggugat Bapak dialah yang menjadi sponsor sekaligus membekingi mereka!” tegas Bagus.             “Tidak mungkin, Mas! Itu tidak mungkin! Mereka tidak mungkin mencelakai Bapak. Apalagi Rahman, dia bukan penyembah syetan. Dia pemuda yang alim dan rajin beribadah!” bantah Indah keras.             “Tapi kenyataannya dari mulut Bapak sendiri keluar pengakuan itu. Ibu juga ikut mendengarnya. Kalau tak percaya, tanya saja sama Ibu!”             Indah menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tak percaya dengan pernyataan Bagus. Kakaknya itu tampaknya sudah demikian benci pada Rahman dan rekan-rekannya, sehingga melancarkan tuduhan tak berdasar itu. Tapi Indah sendiri tak bisa menahan rasa penasarannya. Dia segera mencari ibunya. Dia menemukan wanita setengah baya itu duduk di samping pembaringan suaminya. Terlihat Wiryono tertidur di atas ranjang dengan wajah tampak pucat dan letih, seolah baru saja mengalami penderitaan yang panjang.             “Bu…!” panggil Indah begitu berdiri di ambang pintu.             Bu Wiryono menoleh. Ekspresi wajahnya terlihat sayu dan murung. Kedua matanya tampak berkaca-kaca. Indah bisa melihat kepedihan di sana.             “Apakah benar yang dikatakan Mas Bagus, Bu?” tanya Indah penasaran.             Bu Wiryono tidak mengangguk atau menggeleng. Tapi dari ekspresi wajahnya beliau seakan membenarkan. Indah kembali menggeleng keras.             “Tidak mungkin, Bu! Ini fitnah! Rahman tidak mungkin melakukan perbuatan keji! Mbah dukun itu telah salah! Aku tidak percaya ucapannya!” desis Indah geram.             “Ini bukan ucapan Mbah Markun, tapi ucapan Bapak kita sendiri! Dia telah dirasuki roh Mbah Dhanyang dan mengungkapkan fakta sebenarnya!” ujar Bagus tiba-tiba sudah berdiri di samping Indah.             “Aku tak percaya, Mas. Itu namanya bukan fakta. Itu ucapan orang yang sedang kesurupan. Bapak kesurupan karena Mbah Markun sengaja memasukkan roh Mbah Dhanyang untuk menunjukkan kemampuannya. Padahal yang namanya ucapan syetan tidak bisa dipercaya. Itu fitnah! Mas ini orang beragama atau bukan, sih!” bantah Indah keras.             “Jaga mulut kamu, Ndah. Kamu pikir kamu lebih pintar dari Mbah Markun. Beliau sudah berpengalaman menolong orang-orang yang terkena ilmu teluh. Kamu tidak tahu apa-apa soal ini!”             “Tapi tidak mungkin Rahman yang melakukannya, Mas!”             “Kenapa tidak mungkin? Apakah karena dia rajin sholat dan pintar mengaji lantas tidak pernah berbuat salah. Dia dan teman-temannya itu berpura-pura baik di hadapan orang, tapi sebenarnya hatinya busuk!”             “Mas! Jangan sembarangan bicara! Mas menuduh orang lain berbuat jahat tanpa bukti sama sekali! Itu fitnah namanya!”             “Terserah, kamu mau bilang apa! Tapi yang jelas, aku akan buat perhitungan dengan Rahman dan orang-orang dusun Karangasem!” tandas Bagus seraya berlalu pergi dari hadapan Indah.             Tiba-tiba Indah merasakan seluruh sendi-sendi tulangnya mau copot. Dia tak mengerti, kenapa Rahman yang dituduh sebagai pengirim santet? Ini sungguh tidak masuk akal! Mbah Markun telah membuat kesalahan! Orang tua itu hanya ingin menciptakan konflik terbuka antara keluarganya dengan orang-orang dusun Karangasem. Mungkin ada maksud tertentu dibalik semua ini? Mbah Markun sengaja menyulut api di dalam sekam?             Oh! Hati Indah jadi semakin penat dan berat saja. Dia mencemaskan sesuatu lebih gawat akan terjadi. Apalagi setelah mendengar ucapan Bagus tadi bahwa dia akan membuat perhitungan dengan Rahman! Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Indah akan mencegahnya. Dia pun bergegas menemui Rahman di rumahnya.             “Apa? Aku dituduh pengirim santet?” ujar Rahman kaget bukan main ketika dilapori Indah.             “Itulah yang membuat aku bingung, Man. Aku tak percaya dengan ucapan Mbah Markun. Pasti ini sudah dimanipulasi. Bagaimana mungkin Bapak bisa kesurupan dan roh yang merasukinya mengaku bahwa Pak Kardi dan Pak Usman yang telah menyantetnya!” ujar Indah dengan nada tak habis mengerti.             “Inilah yang kukhawatirkan dari praktek perdukunan yang dijalankan oleh Mbah Markun. Dia selalu mengatasnamakan makhluk gaib untuk pembenaran atas apa yang dilakukannya. Padahal hanya Allah yang tahu tentang hal gaib. Apa yang dikatakannya tak wajib untuk diikuti, karena hal itu bisa menggiring pada kesesatan. Itu syirik namanya. Kita tidak pantas mempercayai hal itu. Yang patut kita percayai hanya Allah!” ujar Rahman menegaskan.             “Kita tidak bisa membiarkan hal ini begitu saja, Mas. Nanti bisa menjadi masalah yang besar. Kita harus mengklarifikasi tuduhan Mbah Markun itu!” ujar Sofyan, rekan Rahman, yang kebetulan bersama mereka.              “Benar, Man. Jangan sampai kamu difitnah dan dituduh yang bukan-bukan!” cetus Pak Soleh, ayah Rahman, menambahi.             “Baik, Pak. Nanti aku akan menemui Bagus dan Mbah Markun untuk menjernihkan masalah ini. Saya juga tidak mau masalah ini menimbulkan kesalahpahaman!” sahut Rahman.             “Sebenarnya yang aku khawatirkan adalah tindakan Mas Bagus. Dia bilang akan membuat perhitungan dengan Rahman dan orang-orang dusun Karangasem. Aku takut dia merencanakan sesuatu yang berbahaya. Makanya, tadi aku cepat-cepat ke sini. Aku tidak ingin melihat sesuatu buruk akan terjadi!” ucap Indah dengan nada cemas.             “Terima kasih atas informasinya, Ndah. Kami sangat menghargai keinginan baikmu itu.”             Tiba-tiba seorang pemuda belasan tahun memasuki ruang tamu rumah Rahman dan membawa sebuah berita mengejutkan.             “Gawat! Orang-orang dusun Arjomulyo hendak menyerbu ke sini. Mereka mencari Mas Rahman!” ujarnya dengan nada gugup.             “Ya, Tuhan! Apa yang kukhawatirkan terjadi!” cetus Indah jadi pucat pasi.             Rahman dan teman-temannya saling pandang. Wajah mereka tampak tegang. Mereka segera beranjak dari tempatnya dan keluar dari rumah. Tapi Indah segera mencekal lengan Rahman menahannya pergi.             “Jangan, Man! Kamu jangan menemui mereka dulu. Biar aku yang akan datangi mereka. Pasti Mas Bagus yang telah menggerakkan orang-orang itu!” ujar Indah penuh kecemasan.             “Tidak, Ndah! Aku harus hadapi mereka. Aku akan jelaskan bahwa aku tidak bersalah. Kalau aku sembunyi, mereka malah akan mengira aku benar-benar bersalah. Sebagai muslim yang beriman aku tidak boleh takut pada siapa pun, kecuali pada Allah!” ujar Rahman menegaskan keyakinannya.             “Tapi, Man…?”             “Kamu tenang saja, Ndah. Semuanya pasti bisa diselesaikan dengan cara yang baik. Kita harus percaya Allah akan menolong hamba-Nya yang benar!”             Indah tak bisa berkata apa-apa lagi. Meski perasaannya berat dan cemas tidak karuan, ia membiarkan Rahman pergi. Dia sendiri mengikuti di belakangnya. Dia ingin memastikan tidak akan terjadi sesuatu yang buruk, apalagi pertumpahan darah. Sungguh, Indah tak menginginkan bencana menghiasi desanya. Apalagi masalah ini menyangkut keluarganya!  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN