Setelah melihat keadaan ayahnya, Bagus kemudian menemui ibu dan adiknya di ruang tengah.
“Aku yakin, bapak terkena santet, Bu. Keadaannya persis seperti orang yang terkena teluh. Aku akan carikan paranormal untuk menyembuhkan Bapak sekaligus mencari tahu, siapa yang telah menyantetnya,” cetus Bagus.
“Jangan, Mas. Keadaan Bapak sudah cukup baik. Rahman sudah berjanji akan membantu Bapak. Beliau hanya butuh istirahat dan pengobatan medis. Kita tak perlu mendatangkan paranormal. Nanti bisa jatuh dalam kemusyrikan!” tukas Indah menolak usul kakaknya.
“Alaah, kamu tahu apa soal ini. Yang namanya ilmu gaib hanya bisa dilawan dengan ilmu gaib. Paranormal yang bisa melakukannya! Aku akan menemui Mbah Markun!” sergah Bagus tak mempedulikan ucapan adiknya.
“Tapi, Mas…?”
“Sudah! Kamu jangan banyak membantah! Aku tak sudi lagi bicara denganmu!” Setelah mengucapkan kalimatnya ini Bagus kemudian melangkah pergi.
Indah hanya berdiri termangu memandangi kepergian Bagus. Hatinya menjadi kelu.
Rupanya Bagus tidak main-main meminta bantuan paranormal. Siang itu dia kembali ke rumah orang tuanya bersama Mbah Markun, seorang dukun terkenal di wilayah ini. Dengan berpakaian hitam-hitam dan memegang sebilah keris, orang tua itu terlihat sangar dan angker. Matanya yang menyorong tajam mengawasi ke setiap sudut ruangan. Indah sendiri merasa bergidik saat bertatapan dengannya. Seakan mata orang tua itu bisa menembus jantungnya. Tapi hal itu tak membuat Indah merasa yakin dengan kemampuannya. Sosok Mbah Markun tidak mengesankan orang tua yang berilmu tinggi dan bijaksana. Indah ragu orang tua itu bisa menyembuhkan ayahnya.
Tapi Indah tak mau banyak berkomentar. Dia tak mau membuat kakaknya semakin tersinggung. Indah hanya melihat saja ketika Mbah Markun mulai melakukan ritual kecil di depan pintu kamar ayahnya. Dia membakar dupa kemenyan yang menguarkan bau khas. Mulutnya komat-kamit membaca mantra. Inilah salah satu bentuk kebiasaan yang masih dilakukan masyarakat di desanya. Jika ada orang sakit, mereka mempercayakan penyembuhannya pada seorang dukun. Dan sang dukun seperti biasa membakar dupa kemenyan atau mengumpulkan kembang setaman. Mereka beranggapan bahwa sakit datangnya dari syetan atau makhluk halus.
Indah bukannya tak percaya adanya alam gaib di luar alam nyata. Namun dia tidak percaya bila semua penyakit dihubungkan dengan alam gaib. Yang namanya orang sakit tidak semuanya dikarenakan oleh pengaruh makhluk halus. Dalam pemikiran modern penyakit datang karena adanya pengaruh racun atau makhluk organisme yang menyerang ketahanan tubuh manusia. Dan itu akan lebih efektif bila disembuhkan dengan obat-obatan. Namun hal ini tampaknya belum sepenuhnya disadari oleh masyarakat di pedesaan. Mereka masih percaya bahwa penyakit datang dari makhluk gaib atau makhluk halus. Seperti kepercayaan yang masih melekat di benak Bagus, walau kakaknya itu sebenarnya lulusan SMA.
Indah pesimis ayahnya bisa disembuhkan dengan cara supranatural. Dia tak yakin keadaan ayahnya akan menjadi lebih baik. Apalagi cara dukun itu mengobati ayahnya jauh dari nilai-nilai Islami. Dengan amat jelas Indah bisa mendengar kalimat mantra yang diucapkan oleh Mbah Markun, meski menggunakan bahasa Jawa, mengisyaratkan pemujaan kepada roh halus dan penguasa alam gaib. Kalau diterjemahkan kurang lebih bunyinya seperti ini; kepada mbah Danyang penguasa jagat alam gaib, hamba bermohon kepadamu memanggil roh-roh jahat yang telah bersemayam di tubuh Bapak Wiryono. Atas nama roh-roh leluhur bebaskan jiwa raga Bapak Wiryono dari cengkeraman ilmu santet. Kami persembahkan dupa dan kembang tujuh rupa penebus pertolonganmu….”
Saat mengucapkan mantra ini Mbah Markun berdiri di depan tubuh Wiryono yang sedang berbaring di ranjang sambil menciprat-cipratkan percikan air kembang dari wadah mangkok. Sekonyong-konyong tubuh Wiryono berguncang-guncang. Indah tersentak kaget. Dia melihat ayahnya menggelinjang-gelinjang seperti cacing kepanasan, matanya mendelik, dan mulutnya mendesis mengeluarkan suara aneh. Ayahnya tampak seperti orang kesurupan. Indah tak tahan menyaksikan hal ini. Dia meloncat maju menghalangi tindakan sang dukun.
“Hentikah! Hentikan….! Jangan siksa Bapak!” seru Indah emosional.
Mbah Markun menghentikan acara ritualnya dan menatap Indah marah. Bagus yang berada di belakangnya juga tampak marah. Dia menghampiri adiknya dan mencekal lengannya keras, sehingga Indah sampai terpekik kesakitan. Bagus kemudian menyeret adiknya keluar kamar.
“Apa-apaan kamu ini? Kamu telah mengganggu acara pengobatan Bapak! Keluar kamu dari sini!” hardik Bagus berang.
“Ini namanya bukan pengobatan, Mas. Ini penyiksaan. Bapak sudah tidak apa-apa. Kenapa harus dibuat seperti itu. Lagi pula bukan begini caranya kalau memang bapak terkena santet. Kita harus banyak berdoa dan beribadah kepada Allah! Bukan meminta pertolongan pada Mbah Danyang!” tukas Indah.
“Alaah, kamu jangan banyak bacot! Keluar kamu dari sini! Jangan ganggu Mbah Markun!” bentak Bagus seraya mendorong tubuh Indah keluar dari kamar.
Setelah Indah berada di luar, Bagus segera menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Indah mencoba menggedor-gedornya.
“Buka, Mas! Bukaaa…! Jangan siksa Bapak!” seru Indah memohon.
Tapi pintu itu tak juga dibuka. Indah terduduk lesu dan menangis tersedu-sedu. Di sudut sana, Bu Wiryono hanya bisa termangu menatap dengan sedih. Dari sudut matanya mengalir air bening. Indah segera beranjak dari tempatnya dan bergegas keluar rumah. Bu Wiryono mencoba mencegahnya.
“Indah! Kamu mau ke mana?” tanya Bu Wiryono.
Tapi Indah tak menggubrisnya. Dia membawa lari sepeda motornya.
Indah menemui Rahman dan mencurahkan kepenatan hatinya pada pemuda itu. Indah merasa dirinya sudah tidak dihargai lagi oleh kakaknya. Indah juga mengungkapkan kecemasannya pada nasib ayahnya.
“Aku sudah mencegah Mas Bagus untuk tidak menggunakan dukun, tapi dia tetap ngotot. Aku jadi pesimis keadaan Bapak akan lebih baik. Mas Bagus sudah tidak percaya lagi pada Allah, tapi lebih percaya pada dukun!” ujar Indah sedih.
“Ini memang sudah menjadi kebiasaan masyarakat di desa kita, Ndah. Agak sulit bagi kita merubahnya, tapi justru di sinilah tantangannya. Sudah lama aku juga punya misi ingin merubah pandangan dan kepercayaan masyarakat desa ini yang masih mengagungkan tahayulisme. Mereka sering berpandangan irasional. Tapi merubah kebiasaan yang bertentangan dengan nilai-nilai Islami itu harus dilakukan secara perlahan. Kalau kita melakukannya secara frontal, aku khawatir masyarakat justru tidak bisa menerimanya,” kata Rahman mengungkapkan pendapatnya.
“Apakah menurutmu kebiasaan ini bisa dirubah, Man?”
“Insya Allah, pasti bisa! Tergantung bagaimana upaya kita memberikan pendidikan dan pembelajaran pada masyarakat. Kita harus mampu meyakinkan mereka bahwa kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai agama akan memberikan kemaslahatan bagi mereka. Sebab hanya dengan berpegang teguh pada Al Qur'an dan Sunnah Nabi manusia akan selamat!” ujar Rahman yakin.
Indah mengangguk-angguk. Dia setuju dengan pendapat Rahman. Manusia memang harus menyandarkan hidupnya pada kekuasan Tuhan.
“Lalu, apa yang sebaiknya kulakukan terhadap kakakku? Sebenarnya aku tak ingin berselisih dengannya, tapi aku merasakan semakin lama pertentangan diantara kami menjadi semakin tajam. Apa yang dilakukan kakakku telah jauh menyimpang. Aku tak ingin melihatnya tersesat dari nilai-nilai agama,” ucap Indah kembali mengungkapkan keluhannya.
“Kukira kakakmu berniat baik, Ndah. Dia ingin membantu ayahmu. Cuma caranya saja yang keliru. Menghadapi orang seperti dia memang butuh kesabaran dan sikap bijaksana. Kamu harus bisa meyakinkannya untuk kembali kepada ajaran tauhid. Dan itu bisa kamu lakukan dengan mengajak anggota keluargamu untuk lebih menekuni ibadah. Insya Allah, hatinya akan tergugah dan mengikuti jalan kebenaran!” tegas Rahman meyakinkan.
Indah tercenung. Dia mencoba meyakini pendapat Rahman.