Wiryono Kena Santet?

1133 Kata
            Bu Wiryono menduga suaminya terkena teluh atau santet. Ketika Pak Mantri kesehatan datang, beliau tak bisa berbuat banyak. Dia hanya bisa memberikan suntikan penenang untuk meredakan rasa sakit yang diderita Wiryono. Sementara itu Rahman yang datang bersama temannya segera membacakan surat Al Fatehah dan doa-doa. Suasana jadi tegang dan mencekam. Wiryono dibaringkan di tengah ruangan, sementara Rahman dan dua orang rekannya duduk di hadapannya membacakan ayat-ayat suci Al Qur’an. Rahman lalu meminumkan segelas air putih pada Pak Wiryono yang telah dibacakan doa tertentu. Indah, Bu Wiryono, Widyanto, dan beberapa tetangga yang datang menonton di sudut ruangan hanya diam membisu.             Setelah meminum air putih dari Rahman, tiba-tiba Wiryono muntah-muntah dan mengeluarkan darah segar dari mulut dan hidungnya.. Semua yang memandangnya jadi tertegun, bahkan Bu Wiryono sampai pingsan. Wajah Indah pucat pasi. Selanjutnya Rahman meminta Pak Mantri mengobati Wiryono. Orang tua itu sendiri sudah tak sadarkan diri. Indah tak kuasa menyaksikan semua itu. Dia berjalan terhuyung ke serambi rumah. Dia lalu muntah-muntah. Tubuhnya jadi lemas. Indah terduduk di kursi. Tak lama muncul Rahman menghampirinya. Pemuda itu memandanginya dengan wajah cemas.             “Kamu tidak apa-apa, Ndah?” tanya Rahman.             “Aku baik-baik saja, Man. Aku hanya shock dan merinding melihat kejadian tadi. Bagaimana hal ini bisa terjadi pada Bapak?” ujar Indah.             “Sudahlah, kamu tak usah memikirkannya. Yang penting sekarang bapakmu sehat!”             “Tapi bagaimana keadaan bapakku? Benarkah dia terkena santet?”             “Aku tak tahu pasti. Namun yang jelas, telah terjadi sesuatu pada ayahmu. Mungkin dia keracunan atau salah makan..."             “Keracunan?" Indah terbelalak. Rasanya tak mungkin ayahnya keracunan. Kalau memang beliau keracunan makanan, tentu semua anggota keluarga ini ikut terkena. "Sepertinya tidak mungkin kalau bapakku keracunan makanan, soalnya..."             "Yang namanya keracunan bukan selalu dari makanan, tapi bisa dari polusi udara yang dihirup, obat-obatan, atau jamu!" tukas Rahman.             "Jamu...?" Tiba-tiba Indah ingat, beberapa waktu lalu ayahnya menerima kiriman jamu dari seorang kawan dekatnya lewat seorang kurir. Sayang, Indah tak menanyakan lebih jauh siapa kawan dekat ayahnya itu. Dia pun tak tahu siapa nama sang kurir dan dari mana asalnya.             "Mungkin benar juga. Soalnya kemarin bapak sempat meminum jamu kiriman dari seseorang yang mengaku kawan dekat," cetus Indah.             "Coba, bawa ke sini bekas bungkus atau sisa jamunya. Biar nanti diserahkan pada Pak Mantri untuk diteliti di laboratorium," kata Rahman.             "Wah, sayang. Bungkus dan sisa jamunya sudah dibuang..."             "Ya, sudah. Besok lagi kalau menerima kiriman dari seseorang diteliti dulu."             "Aku jadi penasaran, siapa orang yang mengirim jamu itu. Apa maksudnya hendak meracuni bapak?” desis Indah geram.             “Sudahlah, Ndah. Tak usah dicari-cari. Biar Allah yang memberi balasan pada orang yang berniat jahat itu. Yang penting sekarang kamu dan keluargamu harus lebih berhati-hati. Jaga kesehatan ayahmu. Jangan lupa, banyak berdoa kepada Allah. Karena hanya Allah yang bisa memberikan perlindungan dari segala segala bentuk kejahatan manusia, jin, atau syetan!"  kata Rahman memberi nasehat.             Indah tercenung. Kata-kata Rahman cukup menentramkan hatinya. ***             Pagi-pagi sekali Bagus datang ke rumah orang tuanya dengan wajah tampak meradang. Sepertinya ia marah karena semalam tidak diberitahu kalau ayahnya sekarat diserang ilmu santet.             “Siapa yang telah menyantet Bapak? Biar aku hajar dia!” serunya gusar.             “Jangan teriak-teriak, Gus! Bapakmu masih beristirahat!” ujar Bu Wiryono menenangkan putranya.             “Kenapa semalam saya tidak diberitahu, Bu? Kenapa?!!”             “Kami dalam keadaan panik, jadi tak sempat memberitahu kamu. Lagi pula sudah tengah malam.”             “Itu bukan alasan. Pasti Indah lagi yang melarang aku diberitahu!”             Tiba-tiba Indah muncul dari kamar. Dia mendengar suara ribut-ribut kakaknya di ruang tengah.             “Ada apa ini? Kok pagi-pagi sudah ribut?” tanyanya heran.             Bagus mendekati adiknya dan melotot marah. “Kenapa semalam tidak ada yang memberitahu aku kalau Bapak diserang santet?” ujarnya marah.             “Maaf, Mas. Kami tidak kepikiran ingin memberitahu Mas Bagus. Soalnya sudah tengah malam. Lagi pula keadaan Bapak sudah membaik.Beliau tidak terkena santet.," jelas Indah.             "Tidak terkena santet? Siapa bilang? Semua orang tahu, bapak terkena santet. Mereka melihat dengan mata kepala sendiri!"             "Ya, itu cuma dugaan saja. Rahman bilang..." Belum selesai Indah bicara, kakaknya sudah memotong.             "Rahman? Memang apa yang telah dilakukan anak itu?”             Bu Wiryono yang menjawab, “Dia yang menolong Bapak, Gus! Dia membantu membacakan doa-doa, sehingga bapak sembuh dari sakitnya!”             Bagus mendengus pendek. Wajahnya terlihat masih gusar. Indah dan ibunya saling pandang. Mereka sepertinya tak mengerti, kenapa Bagus akhir-akhir ini suka sekali marah-marah.             “Aku jadi penasaran siapa yang berani menyantet Bapak?” cetus Bagus dengan nada masih emosi.             "Sudahlah, Mas. Tidak usah bersu'uzon! Bapak bukan terkena santet!" bantah Indah.             "Kalau bukan kena santet lalu kena apa?"             "Ada kemungkinan bapak diracun..."             "Diracun? Siapa yang telah meracun bapak! Cepat katakan! Biar aku hajar dia sampai mampus!" desis Bagus dengan sangat gusar.             “Yang jelas orang yang tidak suka pada Bapak!” balas Indah.             “Mereka pasti Kardi dan Usman?” cetus Bagus menduga.             “Itu tidak mungkin! Mereka sudah berdamai dengan Bapak!”             “Tapi bisa saja mereka masih menyimpan dendam pada Bapak…?”             “Kukira tidak! Aku malah curiga Pak Citro yang melakukan ini!”             “Apa? Kamu menuduh Pak Citro?” Bagus tercengang.             “Ya! Pak Citro punya alasan untuk melakukan itu, karena dia pernah dikecewakan oleh Bapak. Bapak tidak menyetujui pernikahanku dengan Irawan. Orang licik seperti Pak Citro bisa berbuat apa saja!” tegas Indah.             “Aku tak yakin Pak Citro yang melakukannya! Kamu jangan memfitnah!”             “Aku tidak memfitnah, Mas. Kenyataannya hanya Pak Citro yang saat ini memiliki masalah dengan Bapak. Pak Citro mungkin menyimpan dendam dan sakit hati pada Bapak atas penolakan perjodohanku dengan Irawan!”             “Semua ini juga gara-gara kamu! Kalau kamu tidak menolak pinangan Irawan, tentu tak akan begini kejadiannya!” desis Bagus kesal.             “Kok aku yang disalahkan! Aku memang tak menyukai Irawan, untuk apa dipaksa!” balas Indah tak kalah sengit.             “Tapi kamu harus tahu bahwa selama ini keluarga Pak Citro telah banyak membantu kita. Dimana rasa hutang budi kita pada mereka? Kamu jangan sok angkuh dan gengsi!”             “Aku tidak angkuh dan gengsi, Mas. Aku cuma ingin punya pendirian tegas. Aku tahu, Pak Citro pernah meminjamkan uang pada Bapak dan telah menerima Mas Bagus sebagai pegawainya. Tapi hal itu tidak harus dibalas dengan menjodohkan aku dengan Irawan. Itu namanya pikiran yang kolot dan kuno! Aku tidak mau dijadikan barang gadean atas kebaikan mereka!”             “Kamu memang keras kepala! Tak ada gunanya kamu disekolahkan tinggi-tinggi kalau akhirnya hanya ingin membantah dan menolak keinginan orang tua! Menjadi anak durhaka! Di mana rasa baktimu sebagai anak?!” kecam Bagus tajam.             "Sudah, sudah! Kenapa kalian jadi bertengkar. Lihat, ayah kalian sedang sakit!" tukas Bu Wiryono menengahi pertengkaran kedua anaknya yang semakin merunding.             Indah dan Bagus pun terdiam. Mereka tak lagi berkata-kata. Bagus lalu memasuki kamar ayahnya untuk menengok keadaannya. Bu Wiryono menatap Indah, tapi Indah hanya diam saja. Wajah keduanya tampak menyiratkan keprihatinan.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN