Dendam Keluarga Irawan

1278 Kata
            Sementara itu diam-diam tanpa sepengetahuan Indah, gerak-geriknya telah diawasi seseorang. Orang yang mengawasinya itu kemudian melaporkan pada Irawan. Betapa gusarnya Irawan mengetahui bahwa Indah telah menjalin hubungan dengan Rahman. Rasa cemburu dan bencinya berkobar-kobar dalam d**a. Irawan lalu membicarakan hal ini dengan orang tuanya.             “Bapak tidak boleh membiarkan semua ini berlarut begitu saja. Bapak harus menekan Pak Wiryono. Paksa orang tua itu agar mau menerima lamaran saya pada Indah!” ujar Irawan kepada ayahnya dengan nada emosi.             “Kamu jangan emosi dulu, Wan. Kamu sudah dengar sendiri kemarin kalau Wiryono tidak bisa memberi keputusan tanpa persetujuan putrinya. Jadi dalam hal ini Indahlah yang perlu dihadapi. Tapi kamu tahu sendiri, gadis itu tidak suka sama kamu!” ujar Pak Citro.             “Dia memang tidak menyukai saya, Pak. Tapi dia harus jadi istri saya. Jika dia sudah jadi istri saya, maka mau tak mau dia harus menyukai saya!”             “Tapi bagaimana dia akan bisa menjadi istrimu kalau dia tidak mau?”             “Makanya, cari cara agar dia bisa jadi istri saya. Bapak kan punya banyak kartu As untuk memaksa Indah. Bapak bisa menekan orang tuanya dengan perkara hutang piutang itu atau Bapak meminta Bagus untuk ikut memaksa Indah. Kalau Bagus tidak bisa memaksa adiknya menikah dengan saya, pecat saja dia!” tandas Irawan tajam.             “Iya, Pak! Dengan kekuasaan dan uang yang kita miliki Bapak bisa melakukan apa saja!” sambung Bu Citro mendukung putranya.             “Aku sebenarnya sudah berusaha menekan keluarga Wiryono, Bu. Tapi itu tak semudah yang kita bayangkan. Mereka punya pendirian teguh dan kuat. Mereka bukan seperti orang kebanyakan yang mudah takut pada ancaman. Mereka orang yang berpendidikan dan punya kedudukan kuat. Kita tidak bisa sembarangan menaklukkan mereka!” tegas Pak Citro.             “Kalau dengan cara halus kita tidak bisa memaksa mereka, kenapa tidak melakukan cara kasar saja, Pak?” cetus Irawan mengusulkan.             “Maksudmu?”             “Ya, kalau hanya bicara saja kita tidak mungkin bisa mengalahkan keluarga Wiryono. Kita harus intimidasi mereka dengan teror. Kita suruh orang mengancam mereka. Dengan begitu mereka tidak akan mengabaikan kita lagi!”             “Tapi itu sangat berbahaya, Wan. Nanti salah-salah kita semua masuk bui karena ketahuan menjadi dalangnya! Sudah, kamu tak perlu memikirkan soal itu. Biar nanti aku yang akan menyelesaikan semua ini. Kita punya akal harus didayagunakan, jangan cuma main otot saja!” sergah Pak Citro tak menanggapi usul anaknya.             “Tapi keadaannya sekarang sudah gawat, Pak. Apa Bapak tidak mendengar kabar kalau Pak Wiryono melakukan perdamaian dengan warga desa yang menggugatnya itu. Malah aku dengar mereka akan mengalihkan gugatannya pada Bapak. Posisi bapak terancam!” tegas Irawan mengingatkan.             “Itulah kenapa aku bilang kita tidak boleh sembarangan bertindak. Kamu jangan hanya berpikiran untuk memiliki Indah saja. Perempuan di dunia ini bukan cuma Indah. Masih banyak perempuan lain yang lebih cantik dan mau sama kamu. Urusan kita dengan Wiryono sudah berubah jadi perang terbuka. Wiryono jelas-jelas ingin melawan aku. Jadi kita harus berusaha mengalahkan dia, tapi dengan cara yang elegan. Tidak main hantam kromo saja. Kamu ngerti kan, Wan?” tandas Pak Citro.             Irawan diam saja. Tidak mengangguk atau menggeleng. Ekspresi wajahnya masih diliputi kegeraman. Dia mengepalkan kedua tangannya keras. Tapi bagi Pak Citro anaknya itu sudah bisa menerima pendapatnya. Dia lalu melanjutkan kembali kalimatnya.             “Baik. Sekarang aku minta kamu panggil Pak Tarmo kemari. Aku ingin membicarakan soal ini dengan dia,” kata Pak Citro kemudian meminta Irawan menjemput rekannya mantan sekretaris desa itu.              “Bagaimana dengan Bagus, Pak?” ujar Irawan bertanya dulu sebelum beranjak pergi.             “Aku sudah bicara dengan dia. Aku telah meminta dia membujuk ayahnya dan adiknya. Aku memberi waktu dia satu minggu untuk memaksa adiknya menerima pinanganmu!” jawab Pak Citro.             “Bagaimana kalau dia tidak berhasil?”             “Lihat saja nanti apa yang akan terjadi…” Pak Citro menyeringai memperlihatkan wajahnya yang tampak bengis dan kejam. ***              Malam itu Indah tak bisa tidur. Entah kenapa, tidak biasanya dirinya sulit memejamkan mata. Mungkin karena udara malam ini terasa gerah. Atau mungkin benaknya yang dipermainkan oleh bayang-bayang Rahman. Ya. Setiap kali akan berangkat tidur wajah Rahman yang tampan selalu menghiasi dunia khayalnya. Indah sering memikirkan pemuda itu. Terbayang kembali berbagai kejadian yang berhubungan dengan Rahman. Mulai dari sikapnya yang sempat membenci Rahman sampai ketika terjalin hubungan baik dengan pemuda itu. Indah jadi senyum-senyum sendiri bila mengenangnya.             Rasa gerah semakin mendera membuat Indah jadi tak betah. Dia lalu turun dari ranjang dan beringsut menuju jendela. Dibukanya daun jendela lebar-lebar. Dia berdiri sambil memandang keluar. Hamparan bintang-bintang di langit tampak seperti riuh semut yang sedang berpesta pora. Sungguh, keagungan Tuhan tiada tandingannya. Namun tiba-tiba dia seperti melihat ada sebuah titik merah menyerupai bintang bergerak di angkasa. Indah mengira itu adalah bintang jatuh. Dia sempat mengungkapkan sebuah harapan dalam hati. Konon, jika melihat bintang jatuh dan seseorang mengucap keinginan hatinya, maka akan segera terkabul. Indah tersenyum sendiri mengingat apa yang barusan diinginkan hatinya.             Tapi senyum di bibirnya hanya sebentar terhias, karena tiba-tiba lamunannya dibuyarkan oleh suara gedoran pintu.             “Ndah! Indah! Cepat keluar! Tolong bapakmu…!” seru Bu Wiryono di luar terdengar gugup sambil menggedor pintu.             Indah tersentak dan seketika meloncat dari ranjang. Begitu dia membuka pintu terlihat ibunya berdiri di depannya dengan wajah cemas dan ketakutan.             “Tolong, Ndah. Tolong bapak!” cetus Bu Wiryono.             “Ada apa dengan Bapak, Bu? Apa yang terjadi?” tanya Indah ikut gugup.             Bu Wiryono segera menarik tangan Indah dan menyeretnya menuju ke kamar orang tuanya. Ketika mereka sudah berada di dalam, Indah tertegun menyaksikan pemandangan menyeramkan di hadapannya. Dia melihat ayahnya menggelepar kesakitan di atas ranjang sambil memegangi perutnya, sementara matanya mendelik seperti orang tercekik.             “Masya Allah! Kenapa bisa begini, Bu?” seru Indah panik.             “Ibu tidak tahu. Tiba-tiba saja Bapak merintih mengeluh perutnya sakit. Ibu coba mengurutnya dengan minyak kayu putih, tapi tahu-tahu perutnya malah membesar. Bapak mengerang kesakitan. Ibu jadi panik dan takut bukan main!” jelas sang Ibu.             “Kalau begitu kita harus panggil mantri kesehatan. Mana Widyanto…?”             “Saya, Mbak!” sahut anak remaja itu sudah ada di depan pintu. Ketika mendengar suara ribut-ribut tadi dia segera bangun dan keluar dari kamar.             “Kamu ke rumah Pak Mantri bilang Bapak dalam keadaan gawat!” ujar Indah kepada adiknya itu.             “Kenapa dengan Bapak, Mbak?” tanya Widyanto penasaran.             “Sudah, cepat kamu berangkat!”             Widyanto tak membantah lagi. Dia mencopot sarungnya dan bergegas keluar.             “Kayaknya kita tidak cukup memanggil Pak Mantri, Ndah. Kita harus cari orang pintar!” cetus sang Ibu.             “Kenapa orang pintar, Bu?” tanya Indah tak mengerti.             “Bapakmu kayaknya kena santet…!”             “Santet???”             “Ya! Melihat tanda-tandanya Bapak kena santet!”             “Lalu, siapa yang menyantetnya?”             “Ibu tidak tahu…”             Indah tertegun. Untuk beberapa saat pikirannya dibuat bingung dan tak habis mengerti. Dia memang pernah mendengar tentang ilmu hitam yang namanya santet. Tapi dia tak pernah membayangkan hal itu akan menimpa orang tuanya. Sepengetahuannya santet adalah cara menganiaya orang secara tersembunyi. Ilmu itu sangat jahat dan kejam. Indah jadi menggigil ngeri. Dia takut sesuatu yang sangat mengerikan terjadi pada ayahnya. Tapi bagaimana menolongnya? Mencari orang pintar? Siapa?             Rahman! Tiba-tiba saja terlintas nama itu dalam benak Indah. Latar belakang Rahman sebagai lulusan pondok pesantren mungkin bisa banyak membantu menyembuhkan ayahnya. Menurutnya ilmu hitam harus dilawan dengan ilmu putih (ilmu agama). Indah bergegas keluar, menemui adiknya yang siap pergi dengan sepeda motornya. Untung Widyanto masih ada di depan.             “Tolong, Wid. Nanti kamu mampir ke rumah Mas Rahman dan bilang suruh ke sini secepatnya!” seru Indah.             “Iya, Mbak!” sahut Widyanto mantap. Remaja itu kemudian lenyap dengan sepeda motornya dari balik pintu pagar.             Indah mendesah panjang. Dia kemudian kembali ke dalam rumah.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN