Niat Wiryono untuk pergi ke Jakarta tertunda karena kesehatannya kembali anjlok. Ini gara-gara ketegangan yang terjadi dengan Bagus. Anak tertuanya itu tampaknya tidak menyetujui tindakannya berdamai dengan pihak penggugat. Rekonsiliasi itu dianggapnya akan merugikan dan merendahkan harga diri keluarga mereka. Wiryono jadi sedih dan prihatin dengan hal ini. Bagus yang selama ini bersikap tenang dan pendiam tiba-tiba bisa bersikap keras. Bagus menunjukkan pemberontakannya pada sang ayah.
Sementara itu Indah yang mulai menjalin hubungan baik dengan Rahman terlibat dalam kegiatan yang dilakukan oleh pemuda itu. Dia mendatangi padepokan tempat Rahman dan teman-temannya melakukan aktivitas. Banyak hal yang dilakukan anak-anak muda desa di padepokan itu dan ini membuat Indah merasa kagum. Dari sini pula Indah bisa melihat jiwa kepemimpinan Rahman. Pemuda itu berhasil menghimpun puluhan pemuda di desanya untuk mau terlibat dalam kegiatan yang diselenggarakannya. Mereka pun tampak patuh dan hormat pada Rahman. Tak heran bila Rahman berniat mengajukan diri sebagai calon kepala desa untuk mengisi kekosongan jabatan yang telah ditinggalkan Wiryono.
Secara bergurau Indah sempat berkomentar soal padepokan yang didirikan oleh Rahman.
“Jangan-jangan kegiatan yang kamu rintis ini sekedar sebagai kendaraan politik kamu buat menuju kursi kepala desa?” cetusnya. Indah mulai berani beraku-kamu dengan Rahman, karena telah mulai terbiasa ngobrol dengan pemuda itu.
Rahman tersenyum kecil. Dia tidak marah oleh pernyataan Indah itu. “Sebenarnya aku tidak berambisi menjadi kepala desa. Teman-teman yang minta. Pendirian padepokan ini sendiri bukan atas inisiatifku. Ini adalah wujud idealisme kami bersama. Aku hanya jadi motivator saja. Aku dan teman-teman memiliki misi memajukan anak-anak muda di desa ini yang kebanyakan berpendidikan rendah. Dengan menularkan ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang pernah kami miliki, nantinya kami berharap mereka bisa mengembangkan potensi mereka untuk hidup mandiri. Padepokan ini nantinya juga akan dikelola dengan sistem manajemen bersama. Jadi tidak ada istilah pemimpin dan anak buah. Yang ada adalah yang sudah trampil mengajari yang belum trampil, yang berpengalaman membimbing yang belum berpengalaman. Begitu seterusnya. Pokoknya ada take and give!” tegas Rahman menuturkan.
Indah mengangguk-angguk. Dia kagum pada pemikiran Rahman.
“Tapi menurutku ada yang kurang dari padepokan ini. Yakni sarana untuk pembelajaran, literatur, atau referensi-referensi yang bersifat praksis!” ujar Indah memberi masukan.
“Ya, namanya juga masih baru. Makanya, aku minta kamu bisa membantu kami. Syukur-syukur kamu bisa mencarikan donatur atau sponsor yang bisa mendukung usaha kita ini?”
“Aku punya teman yang aktif dalam kegiatan LSM di kota. Insya Allah nanti aku akan minta bantuan mereka mendukung usaha ini!”
“Terima kasih sebelumnya, Ndah. Aku senang kamu mau membantu kami. Semoga sinergi diantara kita ini akan memberikan manfaat yang besar bagi kemajuan desa ini!”
Indah tersenyum kecil. Hatinya bangga karena bisa berbuat sesuatu untuk sesama.
Begitulah. Indah mulai aktif dalam kegiatan kepemudaan yang diprakarsai Rahman. Hubungan Indah dan Rahman juga semakin dekat. Di luar acara memberikan bimbingan ketrampilan dan kerohanian pada anggota perkumpulan, mereka sering ngobrol dan bertukar cerita. Dari sini Indah mulai tahu latar belakang kehidupan Rahman. Dia berasal dari keluarga sederhana, namun sangat taat beragama. Rahman telah menghabiskan sebagian besar waktunya dengan belajar kitab dan kegiatan formal di pesantren. Semua itu telah membentuknya menjadi pribadi yang tawaduk, rendah hati, namun juga memiliki keberanian dan tekad yang kuat. Baginya, di dunia ini tak ada yang perlu ditakuti kecuali Allah.
Indah sangat kagum pada kepribadian Rahman. Selain cerdas dan berwawasan luas, Rahman mampu menunjukkan sikap perilaku yang baik. Diam-diam hatinya terpikat pada pemuda itu. Tapi sejauh ini dia tidak berani mengungkapkan isi hatinya. Dia takut Rahman memiliki perasaan lain. Dalam soal percintaan Rahman tampaknya sangat tertutup. Dia tak pernah menunjukkan perasaan sukanya kepada seorang perempuan. Memang kadang dia suka bercanda dan bersenda gurau dengan Indah, namun hal itu bukan berarti dia menyukai Indah. Kepada siapa saja Rahman bersikap baik.
Indah malah sering dibuat senewen dan cemburu bila melihat Rahman dekat dengan gadis lain. Seperti yang belum lama terjadi. Rahman tampak akrab dengan Septiana, gadis desa yang cukup cantik. Kelihatannya Rahman begitu perhatian pada Septiana. Setiap kali ada kesempatan mereka sering terlihat ngobrol berdua. Perasaan Indah jadi panas dibakar api cemburu. Dia jadi uring-uringan sendiri. Ketika Rahman datang menghampirinya dan hendak mengajaknya bicara, Indah pura-pura cuek dan sibuk.
“Maaf, Man. Aku lagi sibuk,” demikian kata Indah dingin.
“Sebentar saja, Ndah. Aku cuma ingin tanya sesuatu. Aku….,” belum selesai Rahman bicara Indah sudah beranjak pergi. Rahman terpaksa bergegas menyusulnya.
“Tunggu sebentar, Ndah. Kok sikap kamu jadi gitu, sih? Kamu marah sama aku, ya?” ujar Rahman jadi serba salah.
“Bukan begitu, Man. Kamu lihat sendiri, aku lagi sibuk menyusun daftar buku-buku bantuan ini,” kata Indah berdalih sambil menunjuk tumpukan kardus paket bantuan buku yang baru saja diterimanya dari rekan LSM.
“Aku tahu itu, Ndah. Aku cuma ingin menyela sebentar waktumu. Aku ingin tanya, bagaimana prosedur pengajuan visa ke luar negeri. Soalnya Septiana mau mendaftar diri jadi TKI ke luar negeri.”
“Septiana mau menjadi TKI?”
“Ya. Dia sudah mendaftar pada perusahaan PJTKI. Dia memilih tujuan kerja ke negara timur tengah. Soalnya gajinya cukup besar. Dia ingin membantu ekonomi keluarganya yang miskin!”
“Tapi menjadi TKI di luar negeri sekarang sangat beresiko, Man. Jika tidak memiliki bekal ketrampilan memadai dan juga modal kemampuan berbahasa asing serta melalui jalur pengiriman resmi, bisa kena tipu. Apa dia tidak pernah baca berita tentang banyaknya TKW Indonesia yang mengalami nasib naas di negeri orang?”
“Dia sudah tahu itu, tapi dia tetap ngotot. Dia tidak melihat peluang lain. Mencari pekerjaan di sini sangat susah. Kalau pun ada upahnya sangat minim. Untuk meminimalkan resiko itu, dia telah mempelajari banyak hal, salah satunya adalah belajar bahasa Arab. Kebetulan aku bisa berbahasa Arab, jadi aku sering mengajarinya. Dia juga sudah banyak menyerap pelajaran ketrampilan di padepokan ini yang cukup berguna. Sekarang tinggal bagaimana memberikan pemahaman dan pengetahuan padanya tentang berbagai hal yang menyangkut proses pengiriman TKI ke luar negeri, prosedur keselamatan, advokasi, dan lain sebagainya untuk perlindungan dirinya nanti. Karena itu aku ingin minta bantuan kamu, soalnya lulusan sarjana sosial seperti kamu tentu tahu banyak mengenai soal ini?” tutur Rahman menerangkan.
Indah termangu. Tiba-tiba dia merasa malu pada dirinya sendiri. Dirinya telah berprasangka yang bukan-bukan pada Rahman. Dia kini semakin tahu betapa Rahman memiliki akhlak yang sangat mulia. Pribadinya luhur dan dihiasi perilaku yang bersih. Jauh dari sifat buruk!