Acara pertemuan antara Wiryono dengan para penggugatnya itu bisa berlangsung lancar. Bahkan keakraban dan kehangatan terpancar dari wajah mereka. Adanya kesepahaman dan kepercayaan diantara mereka menumbuhkan saling pengertian. Setelah cukup lama berbincang-bincang, Wiryono dan Indah kemudian berpamitan pulang. Tapi sebelum beranjak pergi, Rahman sempat menahan Indah untuk bicara sebentar. Rahman mengajak Indah bicara empat mata di sudut halaman samping rumah.
“Maaf, Mbak Indah. Mungkin saya sedikit mengganggu. Sebelumnya saya minta maaf karena pernah bersitegang dengan anda. Ini tidak ada hubungannya dengan perkara bapak Anda. Saya mau meminta bantuan pada Mbak, jika mbak Indah tidak keberatan,” kata Rahman terdengar agak ragu.
“Bantuan apa?” balik tanya Indah.
“Begini. Kebetulan saya dan teman-teman punya rencana melakukan pembinaan ketrampilan dan mental spiritual pada anak-anak muda di desa ini. Kami membentuk sebuah paguyuban yang akan mewadahi semua aktivitas anak muda di desa ini. Mungkin Mbak Indah tertarik untuk ikut membantu kami?”
“Boleh! Saya bersedia membantu!”
“Terima kasih banyak. Kalau begitu nanti Mbak Indah bisa datang ke padepokan kami di dusun Karangasem, tepatnya di pendopo rumah saya!”
“Kapan?”
“Ya, kapan saja. Karena tiap hari kita punya jadwal kegiatan; mulai dari pengajian, kerajinan tangan, latihan musik, drama, dan lain-lain. Biasanya setiap jam empat sore hingga selesai.”
“Baiklah, insya Allah nanti saya akan datang!”
Rahman tersenyum senang. Indah ikut tersenyum. Untuk beberapa saat mereka saling pandang. Indah merasakan ada getar-getar dalam hatinya, dia segera melengoskan pandangannya. Indah tak tahu, apakah dirinya sudah jatuh hati pada pemuda di hadapannya ini. Di matanya Rahman seorang pemuda yang baik, berkepribadian, berdedikasi tinggi, idealis, dan memiliki kematangan bersikap. Sangat beda jauh dengan Irawan. Bahkan dengan pemuda-pemuda yang dulu pernah dekat dengan Indah.
Tapi… ah, Indah tak mau terbuai dengan perasaannya. Dia tak mau mengulangi kesalahan untuk kesekian kali karena salah memilih kekasih. Dia pernah berpacaran dengan beberapa pemuda tapi semuanya kandas di tengah jalan. Kebanyakan laki-laki suka mengingkari janji dan egoistis!
***
Rekonsiliasi antara Wiryono dengan Kardi dan Usman cukup memberikan sebuah kelegaan tersendiri dalam hati orang tua itu. Wiryono seakan telah terlepas dari sebagian beban yang menghimpit dadanya. Wajahnya terlihat lebih ceria dari biasanya. Semangat hidup pun tumbuh dalam dirinya. Indah yang melihat perubahan ini ikut senang. Mungkin inilah wujud dari solusi dalam menghilangkan beban yang menghimpit batin ayahnya. Beliau mampu melihat persoalan secara obyektif, jujur, benar, dan proporsional, walaupun hal itu harus mengorbankan kepentingannya sendiri.
Terkadang orang memang sulit untuk mengakui kesalahannya hanya demi menjaga gengsi dan kedudukannya di tengah masyarakat. Padahal dengan bersikukuh mempertahankan kebenaran diri tanpa memperhatikan kebenaran pihak lain justru akan menjadi beban yang sangat menyulitkan. Bukan saja kesulitan di dunia, tapi juga di akherat karena harus berhadapan dengan Tuhan pemilik kebenaran yang sesungguhnya. Dan hal itu tampaknya disadari benar oleh ayahnya!
Apa yang dilakukan Wiryono merupakan sikap positif bagi kecerahan hidup. Dengan mengakui kesalahan dan meminta maaf pada orang yang dirugikan tidak akan merendahkan derajatnya. Justru sebaliknya, akan menaikkan kemulyaan hidupnya, karena beliau akan dianggap sebagai pribadi yang gentlemen atau bertanggungjawab. Zaman sekarang memang jarang orang berjiwa ksatria. Di tengah kehidupan yang serba permisif, kompetitif, dan hedonis ini banyak orang berlomba meraih kedudukan dan prestise di tengah masyarakat. Namun sayangnya hal itu dilakukan dengan cara yang tidak jujur, licik, dan culas. Orang lebih suka bersembunyi di balik topeng kemunafikan dan kebohongan!
Tapi apa yang telah dilakukan Wiryono itu tampaknya tidak disetujui oleh Bagus. Ketika mendengar ayahnya mengadakan pertemuan dengan para penggugatnya itu, Bagus segera menemui ayahnya. Wajahnya tampak gusar dan kesal.
“Apa-apaan Bapak ini? Kenapa Bapak menemui Kardi dan Usman. Saya dengar Bapak juga meminta maaf pada mereka. Apakah Bapak tidak sadar bila hal itu telah merendahkan harga diri dan wibawa Bapak sebagai mantan kepala desa?” seru Bagus dengan nada tajam.
“Bapak tidak merasa merendahkan harga diri Bapak! Apa yang Bapak lakukan justru untuk kebaikan hidup Bapak. Karena Bapak tidak mungkin mengingkari kenyataan yang sebenarnya. Bapak tak mau menanggung beban dosa yang akan Bapak pikul di akherat nanti. Umur Bapak sudah tua. Apalagi yang bisa Bapak pertahankan kalau bukan kejujuran hati?” sahut Wiryono dengan tegas pula.
“Tapi apa yang Bapak lakukan itu bisa menghancurkan hidup kita semua. Apa tanggapan masyarakat nanti kalau tahu Bapak ternyata bersalah. Bapak akan semakin dihina, dihujat, dan dicemooh. Kita semua kena getahnya. Bapak juga akan berlawanan dengan teman-teman Bapak yang selama ini telah membantu Bapak, terutama Pak Citro. Boleh jadi besok dia akan memecat saya sebagai pegawainya. Tamatlah hidup saya dan hancurlah kita semua. Apakah bapak tidak berpikir sampai ke situ?!”
Wiryono tercenung mendengar kata-kata anaknya. Mungkin dia baru tersadar kalau tindakannya akan berimbas pada kedudukan Bagus, yang kebetulan bekerja di salah satu UD milik Pak Citro. Hati orang tua itu jadi kelu.
Melihat ayahnya dipojokkan Indah tak tinggal diam. Dia segera menanggapi ucapan kakaknya.
“Mas jangan menyalahkan Bapak. Apa yang Bapak lakukan sudah benar. Bapak telah menyadari kekeliruan dan kekhilafannya. Hal itu tidak akan merendahkan harga diri dan wibawa Bapak. Justru mereka salut dan menaruh hormat pada Bapak. Mas keliru kalau beranggapan kita jadi hancur karena tindakan Bapak itu. Hidup kita hancur justru oleh kelicikan dan kesewenangan Pak Citro!” ujar Indah berapi-api.
“Kamu jangan lancang, Ndah! Kuperhatikan sejak kepulanganmu, hidup kita justru jadi kacau. Kamu mempengaruhi Bapak untuk mengakui kesalahannya. Kamu juga yang mendorong Bapak untuk meminta maaf pada Kardi dan Usman. Kamu telah membuat hidup kita semua jadi kacau!” dengus Bagus kesal.
“Mas jangan memutarbalikan fakta. Justru Mas Bagus yang telah mengacaukan hidup kita. Bapak terpaksa meminjam uang pada Pak Citro untuk membiayai upacara pernikahan Mas, juga untuk membangunkan rumah dan membelikan segala perabotan. Bahkan Bapak pula yang terpaksa merendahkan diri di hadapan pak Citro agar Mas bisa diterima bekerja di tempatnya. Maslah yang telah merendahkan dan menghinakan hidup Bapak!” balas Indah sengit.
“Kurang ajar! Kuhajar mulut kamu yang lancang itu!”
“Silahkan kalau Mas berani. Selama ini Mas memang seperti parasit! Selalu menggantungkan diri pada orang tua!”
“Kurang ajar!” Bagus sudah mengangkat tangannya hendak menampar Indah, tapi Bu Wiryono berseru mencegahnya.
“Bagus!!!”
Bagus menghentikan gerakannya dan memandang ke arah ibunya segan. Wanita setengah baya itu menatap anaknya dengan sorot mata tajam. “Kamu tidak pantas memukul adikmu. Dia anak perempuan yang seharusnya kamu lindungi. Ibu tak suka kamu bersikap kasar!” ujar Bu Wiryono tegas.
Bagus mendengus kesal. Dia membalikkan tubuhnya dan bergegas pergi meninggalkan rumah orang tuanya. Tak ada yang berusaha menghentikannya. Untuk sesaat suasana menjadi hening mencekam. Tiba-tiba Wiryono memegang dadanya sambil memekik tertahan. Bu Wiryono dan Indah kaget. Mereka langsung menghambur memegangi tubuh Wiryono.
“Kenapa, Pak?” tanya Bu Wiryono.
“Dadaku sakit, Bu…,” ucap Wiryono lirih.
“Sebaiknya Bapak beristirahat di kamar. Saya akan panggilkan Pak Mantri…,” kata Indah seraya menuntun ayahnya masuk ke dalam kamar.
Setelah membaringkan ayahnya di atas ranjang, Indah lalu bergegas keluar untuk memanggil mantri kesehatan.