Malam itu usai makan malam Wiryono mengajak bicara istri dan anak-anaknya di ruang tengah. Dia mengungkapkan niatnya pergi ke Jakarta menemui beberapa saudara dan familinya untuk meminta bantuan. Wiryono hendak meminjam uang guna mengembalikan hutangnya pada Pak Citro.
“Mungkin nanti seminggu atau dua minggu Bapak baru kembali…” demikian rencana Wiryono.
“Apakah Bapak yakin saudara-saudara Bapak akan bisa membantu? Diantara saudara Bapak tidak ada yang kehidupannya kaya?” cetus Indah pesimis.
“Ya, Bapak tahu itu. Tapi kalau tidak dengan cara begini ke mana lagi Bapak meminta bantuan?”
“Jika saya nanti sudah bekerja, insya Allah, saya akan bantu Bapak. Saya juga akan meminta Mas Bagus membantu Bapak.”
“Sebaiknya kamu jangan meminta bantuan pada Bagus. Dia sekarang sudah punya keluarga sendiri. Apalagi istrinya sekarang sedang hamil tua. Bagus lagi banyak kebutuhan untuk menghadapi persalinan istrinya. Kamu jangan repoti dia dengan urusan Bapak. Biar Bapak mengurus sendiri urusan ini!” tegas Wiryono tak ingin melibatkan anak sulungnya itu.
“Iya, Ndah. Bagus sudah sangat repot mengurus rumah tangganya. Kita jangan menambah beban pikirannya. Biar kita saja yang menanggung masalah ini. Ibu masih punya simpanan perhiasan untuk membantu Bapak. Nanti Ibu juga bisa minta bantuan saudara-saudara Ibu yang lain,” sambung Bu Wiryono tak ingin tinggal diam.
Indah menganggukkan kepalanya, bisa mengerti permintaan orang tuanya. Bagus memang belum lama berumahtangga dan hidupnya belum mapan. Kasihan kalau dia harus dibebani dengan masalah orang tuanya. Mendengar apa yang dikatakan kedua orang tuanya tadi, semangat Indah jadi terlecut. Dia merasa terharu karena dalam kondisi sangat berat dan susah ini keluarganya justru bisa saling berbagi dan bersatu. Mereka saling mendukung satu sama lain.
Indah lalu menoleh pada Widyanto, adiknya yang masih SMA.
“Kamu juga harus membantu Bapak, Wid. Mulai sekarang kamu harus banyak berhemat dan mengurangi kegiatan yang tidak perlu. Terutama kegiatan yang membutuhkan uang banyak. Kita sekarang sedang dalam kondisi prihatin. Jangan minta macam-macam lagi sama Bapak!” ujar Indah memperingatkan.
“Saya mengerti, Mbak. Saya juga nanti akan membantu Bapak. Saya akan bekerja serabutan usai sekolah untuk nambah uang sekolah,” kata remaja enambelas tahun itu dengan mantap.
“Ya, tapi hal itu jangan sampai mengabaikan pelajaran sekolahmu. Bagaimana pun kamu harus lebih mementingkan pendidikanmu. Mbak ingin kamu lulus dengan nilai terbaik!” tegas Indah.
Widyanto mengangguk. Indah tersenyum lega.
“Oh ya, bagaimana urusan Bapak dengan gugatan warga itu?” tanya Indah ingin mengetahui pendapat ayahnya.
“Besok aku akan temui Kardi dan Usman. Bapak ingin menjelaskan hal sebenarnya sekaligus mengakui kekhilafan Bapak selama ini. Hanya dengan begitu Bapak merasa lebih tenang. Bapak tidak akan lagi dibebani perasaan berdosa. Kalau pun nanti Bapak harus dihukum penjara, Bapak siap menerimanya…,” kata Wiryono.
“Tapi, Pak?” sergah Bu Wiryono tercekat.
“Ibu tak perlu khawatir. Hukuman penjara itu tak ada artinya dibanding hukuman di alam akherat. Bapak sudah tua. Bekal apalagi yang bisa bapak bawa untuk menghadap Allah nanti jika bukan amal kebaikan dan pertobatan atas segala kesalahan yang Bapak lakukan!”
Indah terharu mendengar ungkapan hati ayahnya. Sungguh, tak pernah terbayangkan dalam benaknya ayahnya memiliki sikap yang demikian zuhud. Ayahnya sangat bijaksana, arif, dan rendah hati. Ayahnya telah menemukan kesadarannya paling tinggi, yakni kesadaran untuk sepenuhnya bersandar pada kebenaran Illahi. Beliau tak mempedulikan lagi nama baik dan kehormatan di dunia ini, karena baginya yang penting adalah nama baik dan kehormatan di akherat. Sebuah pandangan yang sangat luhur dan mulia!
***
Maka, esok paginya Indah mendampingi ayahnya menemui Kardi dan Usman di rumahnya. Sebelumnya Indah memberitahu Rahman, sebagai mediator yang akan mempertemukan Wiryono dengan para penggugatnya. Pertemuan itu diadakan di rumah Kardi. Pada mulanya ada sedikit kecanggungan dan sikap kaku saat mereka bertemu. Kardi dan Usman terlihat segan dan tak berani beradu pandang dengan Wiryono. Mungkin ada sedikit rasa takut dalam hati mereka, karena bagaimana pun Wiryono adalah mantan pemimpin mereka.
Untunglah kekakuan itu segera dicairkan oleh suara Wiryono yang lembut dan dalam.
“Kedatangan saya ke sini tak memiliki maksud apa-apa kecuali untuk meluruskan masalah sebenarnya yang pernah dialami Kardi dan Usman, termasuk dengan keluarga almarhum Kasmo. Saya menyadari ada kekeliruan yang telah terjadi. Saya mohon Kardi dan Usman bisa mengerti dengan apa yang akan saya jelaskan nanti….,” ucap Wiryono memulai pembicaraan.
Sejenak dia berhenti untuk melihat reaksi Kardi dan Usman. Karena mereka hanya diam saja, Wiryono lalu melanjutkan kata-katanya. Seperti yang pernah dikatakan di hadapan Indah, orang tua itu membuat pengakuan dengan sejujurnya atas permasalahan jual beli tanah yang merugikan warga desa itu. Wiryono mengakui kekhilafannya dan meminta maaf. Dia bersedia mempertanggungjawabkan perbuatannya. Karena pada dasarnya yang paling bersalah dalam kasus jual beli tanah ini adalah Pak Citro dan Pak Tarmo, maka Wiryono meminta mereka agar menuntut keduanya juga secara perdata. Wiryono bersedia menjadi saksi yang akan membela warga desa.
Mendengar pengakuan Wiryono itu untuk beberapa saat Kardi dan Usman tercengang. Seolah mereka tak percaya Wiryono mau mengakui kesalahan di hadapan mereka yang hanya orang kecil dan bahkan bersedia meminta maaf. Sikap Wiryono membuat mereka jadi segan dan hormat. Mereka sempat bingung, apa yang harus diucapkan. Kardi dan Usman saling pandang seolah menyuruh salah satu menanggapi pernyataan Wiryono. Akhirnya Kardi yang paling tua memberikan tanggapan.
“Sebelumnya saya juga minta maaf karena telah lancang melakukan penuntutan pada Bapak. Kami tidak bermaksud merendahkan kedudukan dan derajat Bapak. Kami hanya ingin mencari keadilan dan menuntut hak kami kembali. Dengan pernyataan dan pengakuan Bapak tadi, hati kami merasa lega. Kejujuran bapak itu bisa banyak membantu kami,” ucapnya kalem.
“Bapak sungguh berjiwa besar mau mengakui kesalahan dan bersedia bertanggung jawab. Kami jadi segan untuk menggugat Bapak,” kata Usman menambahi.
“Kalian tak perlu segan. Kalian tetap teruskan gugatan itu, karena ini menyangkut kebenaran dan keadilan. Hukum harus ditegakkan agar tidak ada yang dirugikan dan terzalimi. Tapi kalian juga harus mengajukan gugatan utama pada Pak Citro dan Pak Tarmo, karena merekalah yang sebenarnya memiliki andil kesalahan paling besar. Dalam kasus ini saya sendiri telah ditipu oleh mereka!” cetus Wiryono menegaskan.
Kardi dan Usman mengangguk-angguk. Mereka lalu menoleh pada Rahman. Pemuda itu tanggap. Dia lalu mencodongkan tubuhnya sedikit ke depan.
“Ehm… maaf, Pak. Kalau saya harus ikut bicara. Saya merasa salut dan kagum atas kebesaran jiwa Bapak untuk mengakui kesalahan yang terjadi. Pernyataan Bapak itu sangat besar artinya dan sangat membantu kami. Namun perlu saya tegaskan pula di sini sebagai wakil dari warga desa, saya pun harus memikirkan kebaikan bagi kita semua. Karena Bapak telah membuat pengakuan secara jujur berarti ada celah untuk melakukan musyawarah dan upaya damai. Mungkin nanti kami akan mencabut gugatan kami jika Pak Citro dan Pak Tarmo sebagai orang yang terlibat dalam persoalan ini mau mengakui kekhilafannya dan memenuhi tanggung jawabnya,” kata Rahman.
“Tapi saya tidak bisa menjamin, apakah mereka bersedia mempertanggung jawabkan kesalahannya?” tukas Wiryono pesimis.
“Biar kami sendiri yang akan bermusyawarah dengan mereka!”
Wiryono mengangguk setuju.