Pak Citro mulai gelisah. Duduknya tidak tenang.
“Jadi pada intinya, Pak Wiryono dan Ibu Wiryono belum bisa memutuskan menerima lamaran kami ini, begitu?” cetus Pak Citro dengan nada penuh kecewa. Keceriaan dan kehangatan yang tadi terpancar dari wajahnya kini berubah menjadi awan kelabu.
“Ya, saya mohon maaf sebesar-besarnya, Pak Citro. Bukan maksud saya untuk menolak, tetapi alangkah baiknya kita menunggu Indah. Insya Allah, jika nanti Indah sudah pulang kita bisa bicarakan hal ini lagi,” kata Wiryono meminta pengertian.
Pak Citro menarik napas dalam. Dia menoleh pada istri dan anaknya. Irawan dari tadi hanya diam membisu. Bu Citro kemudian angkat bicara.
“Ya, sudah, Pak. Kalau urusan lamaran ini tidak bisa diputuskan, saya akan pulang. Bapak tinggal saja dulu di sini membicarakan urusan utang piutang dengan Pak Wiryono!” ujarnya seraya beranjak dari tempatnya.
“Ayo, Wan. Antarkan ibu pulang!”
“Tapi, Bu…,” Irawan hendak membantah, tapi melihat mata ibunya yang melotot ia tak bisa berkutik. Dia ikut berdiri dari kursi.
“Lho, kok terburu-buru, Mbakyu. Tidak dicicipi dulu makanannya?” cetus Bu Wiryono.
“Tidak usah, Jeng. Di rumah saya banyak makanan enak. Lagi pula apa yang mesti dibicarakan? Ini sudah urusannya laki-laki, urusan bisnis!” tandas Bu Citro seraya melangkah keluar diikuti oleh Irawan.
Bu Wiryono hanya tertegun. Batinnya serasa ditusuk duri mendengar ucapan sinis Bu Citro tadi.
Setelah Bu Citro dan Irawan pergi, kini tinggal Pak Citro berhadapan dengan Wiryono dan istrinya. Sejenak suasana hening. Pak Citro dan Wiryono saling membisu. Tiba-tiba Wiryono memandang ke arah istrinya dan mengisyaratkan dengan kedipan matanya. Bu Wiryono baru sadar kalau kehadirannya tak diperlukan lagi. Dia segera beranjak dari tempatnya dan berpamitan pada Pak Citro.
“Maaf, Pak. Saya ke belakang dulu.”
Pak Citro hanya mengangguk.
Setelah Bu Wiryono menghilang ke ruang dalam, Pak Citro baru angkat bicara.
“Tampaknya urusan diantara kita akan menjadi semakin rumit…?”
“Maksud Pak Citro?” tanya Wiryono dengan kening berkerut.
“Saya jadi tak mengerti, kenapa urusan perjodohan ini menjadi begitu sulit. Saya lihat ada tanda-tanda penolakan dari Indah…?”
“Yaah, mungkin ini memang butuh waktu, Pak Citro. Maklumlah, anak-anak muda zaman sekarang perlu diberi kesempatan mengenal pasangannya dulu sebelum mengambil keputusan!”
“Tapi kukira sudah banyak waktu yang telah diberikan. Irawan bilang setiap kali dia mendekati Indah dan mengajaknya kencan, gadis itu selalu menolak. Irawan sudah cukup bersabar dan menunggu kesempatan ini. Jika memang Indah tidak bersedia, tak jadi soal. Namun urusan piutang kita akan menjadi lebih jelas posisinya. Saya sudah menyiapkan draf perjanjian hutang piutang diantara kita. Dan itu bisa dihitung sejak saya memberikan uang itu pada Pak Wiryono!”
“Apakah ini sebuah bentuk ancaman dari Bapak?”
“Bukan. Siapa sih yang berani mengancam mantan Kades seperti Pak Wiryono? Saya hanya ingin bertindak fair saja. Saya seorang pedagang, Pak Wir. Saya tidak mau rugi!”
“Baik! Jika Pak Citro menginginkan hutang saya diletterkan, silahkan. Saya akan kembalikan beserta bunganya sekalian! Tapi saya mohon, beri waktu dua tahun lagi untuk saya bisa kembalikan!” pinta Wiryono.
“Boleh saja! Tapi mungkin perlu saya beri keterangan berapa besar jumlah uang yang harus Bapak kembalikan bersama bunganya. Setelah saya kalkulasi, jumlahnya sekitar seratus limapuluh juta rupiah!” tandas Pak Citro.
Wiryono ternganga kaget. “Masya Allah! Besar sekali. Kenapa bunganya sampai lebih dari sepuluh persen, Pak Citro. Ini sama juga pemerasan!” ujarnya berang.
“Pak Wiryono keberatan? Oke, tak apa-apa. Kalau begitu, tolong hari ini juga Bapak kembalikan uang sebesar limapuluh juta rupiah itu ditambah bunga satu persen saja. Jadi total enampuluh dua juta rupiah! Jika Bapak tidak bisa mengembalikan, maka urusannya menjadi perdata!” tegas Pak Citro.
Wiryono tercenung kelu. Wajahnya tampak meradang dihiasi kemarahan, namun dia mencoba menahan diri untuk tidak emosional. Dia hanya bisa menggerundel dalam hati. Dasar lintah darat! Kalau tahu begini, tak sudi aku menjilat kebaikanmu! Dasar anjing!
“Oh, ya satu hal lagi perlu kusampaikan. Soal gugatan warga desa itu, aku tak mau dilibatkan lagi. Itu bukan urusanku. Jika namaku sampai disangkutpautkan, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan sewa pengacara paling top. Aku bukan hanya akan menuntut balik para warga itu, tapi juga sampeyan!” cetus Pak Citro dengan nada tajam.
“Saya tahu sekarang, sebenarnya gugatan warga itu lebih pantas ditujukan pada Bapak. Saya merasa telah dibohongi. Saya juga tidak akan tinggal diam. Saya akan beberkan kebenarannya!” tegas Wiryono.
Pak Citro jadi geram. Dia memandang Wiryono dengan sorot mata tajam. Dia menggeretakkan geraham giginya. Dia lalu beranjak dari tempatnya dan tanpa permisi keluar dari ruangan itu. Wiryono hanya memandangi bayangannya lenyap dari balik pintu. Laki-laki setengah baya itu menghela napas panjang. Tapi hal itu tidak lantas melonggarkan rongga dadanya dari himpitan beban. Justru sekarang himpitan itu terasa semakin menjepitnya. Wiryono sadar telah mengibarkan bendera peperangan dengan koleganya itu.
Indah pulang dengan wajah tampak letih. Dia menghempaskan badannya di sofa sambil menghembus nafas panjang. Tiba-tiba muncul Bu Wiryono menghampirinya. Terpancar sebuah harapan di wajahnya.
“Bagaimana, Ndah? Kamu berhasil?” tanya Bu Wiryono.
“Belum, Bu. Panggilan interview itu sudah terlambat. Tapi saya sudah memasukkan lamaran di tiga perusahaan sekaligus. Saya harus menunggu dua minggu lagi. Jika dalam waktu dua minggu ini tak ada surat panggilan, berarti usaha saya gagal,” jawab Indah terus terang.
Wajah Bu Wiryono yang tadi penuh harapan kembali meredup. Dia mendesah pendek.
“Bagaimana Bapak, Bu? Sudah baikan?” cetus Indah bertanya.
Kembali Bu Wiryono mendesah nafas panjang. Raut wajahnya semakin diliputi awan kelabu.
“Tadi Pak Citro dan Bu Citro datang ke sini,” ucapnya lirih.
“Oh ya? Ada apa mereka kemari?” ujar Indah tercekat.
“Yaah… apalagi kalau bukan hendak melamar kamu…”
“Lalu, apa jawaban Bapak?”
“Beliau belum bisa memutuskan. Bapak hanya bilang menunggu keputusan dari kamu!”
“Kenapa Bapak tidak bilang kalau saya menolak perjodohan itu?”
“Bapak masih ragu. Bapak tidak berani mengatakannya. Tapi tampaknya mereka sudah tahu kalau kamu bakal menolak. Mereka kelihatan kecewa dan marah….”
“Mereka marah?”
“Ya, kelihatannya begitu. Karena tak mendapat jawaban pasti dari kami, Pak Citro lalu menegaskan hutang piutang dengan Bapak. Dia meminta Bapak segera melunasi hutangnya hari ini juga sebesar enampuluh dua juta rupiah. Karena Bapak meminta waktu dua tahun, Pak Citro lalu mematok bunga sekitar sepuluh persen perbulan!”
“Gila! Itu namanya pemerasan! Dasar, lintah darat!” desis Indah gusar.
“Yaah, apa pun yang mau dikatakan, kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kita harus segera melunasi hutang itu bila tak ingin dihimpit beban yang makin berat…”
Indah tercenung. Dadanya yang penat jadi semakin bertambah berat menghadapi kenyataan ini.