Indah duduk di kursi dekat tempat ayahnya berbaring. Dia diam saja menunggu apa yang akan dikatakan ayahnya. Ditelusuri raut wajah ayahnya yang mulai dihiasi keriput. Tiba-tiba Indah merasa, betapa ayahnya telah begitu tua. Berbeda sekali saat beliau masih menduduki jabatan kepala desa. Biar pun sudah berkepala enam tapi ayahnya masih tampak tegap, gagah, dan berwibawa.
Tapi sekarang, setelah dua tahun lewat menjadi orang biasa, proses ketuaan begitu cepat berlangsung. Rambutnya yang dulu masih berwarna hitam kini didominasi warna putih, dahinya yang dulu licin mulai dipahat keriput, sementara tubuhnya yang kekar dan gemuk kini tampak kurus. Ada rasa prihatin menyengat batin Indah. Banyak persoalan membebani ayahnya di masa tua ini.
“Sebelumnya Bapak minta maaf karena telah membuatmu kecewa. Mungkin di matamu sekarang Bapak bukanlah orang tua yang baik dan bijaksana. Bapak telah banyak berbuat kesalahan,” ucap Wiryono dengan suara berat.
“Bapak jangan bicara begitu. Di mata saya Bapak tetaplah orang yang baik. Setiap manusia pernah berbuat khilaf dan salah dalam hidupnya, tapi tidak banyak orang yang langsung sadar dan menginsyafinya. Kesalahan yang Bapak lakukan juga bukan semata karena kesengajaan. Bapak melakukan semua itu demi rasa tanggung jawab Bapak sebagai kepala keluarga,” kata Indah menepis perasaan ayahnya.
“Tapi bagaimana pun Bapak telah merugikan kalian semua. Bapak tak tahu lagi, harus bagaimana menghadapi semua ini. Terutama masalah yang menyangkut perjodohanmu dengan Irawan…..”
“Apakah menurut Bapak perjodohan itu harus tetap berlangsung?”
Wiryono tidak segera menjawab. Dia menundukkan kepalanya sebentar, seolah ingin menyembunyikan kemelut dalam hatinya yang terpancar dari sepasang matanya yang dihiasi kegelisahan.
“Bapak tahu kamu tidak mencintai Irawan. Bapak sadar segala upaya untuk memaksamu hanya akan sia-sia. Bapak mengerti kamu punya harapan dan keinginan sendiri. Bapak tak ingin membuat kesalahan untuk kesekian kalinya. Karena itu Bapak meminta pertimbanganmu soal perjodohan itu. Bagaimana menurut pandanganmu?” tanyanya sambil memandang Indah seksama.
“Jika Bapak meminta pertimbangan saya, tentu saja saya tidak akan menerima perjodohan itu. Tapi saya juga tidak ingin mengecewakan hati Bapak,” jawab Indah terdengar bimbang.
“Bapak tak ingin mengorbankan kebahagiaan hidupmu, apa pun alasannya. Bapak sekarang sadar, segala hal yang dilakukan dengan jalan pemaksaan atau keterpaksaan tidak akan pernah menjadi baik di kemudian hari. Bapak tak mau bersikap otoriter lagi.”
“Lalu bagaimana dengan kesepakatan yang bapak buat dengan Pak Citro?”
Wiryono tidak segera menjawab. Beliau menarik nafas dalam sebelum kemudian angkat bicara, “Sejujurnya Bapak tak pernah menawarkan kesepakatan apa pun dengan Pak Citro. Dia sendiri yang bilang bahwa putranya menyukai kamu. Dia lalu berkeinginan berbesanan dengan Bapak. Karena waktu itu Bapak tidak berpikiran kamu akan menolaknya, jadi Bapak menerimanya. Lagi pula saat itu Bapak begitu terdesak oleh berbagai kebutuhan yang besar. Bapak diberi kemudahan meminjam uang pada Pak Citro….”
“Sepertinya secara tidak langsung saya telah dijadikan jaminan atas pinjaman uang itu?”
“Bapak tak pernah berpikiran seperti itu. Bapak justru berpikir, bagaimana agar secepatnya bisa mengembalikan pinjaman pada Pak Citro. Karena Bapak tak mau berhutang budi pada orang lain. Tapi sayang, sampai sekarang Bapak belum juga bisa mengembalikannya…. Padahal semestinya bulan lalu Bapak sudah harus melunasinya. Itulah yang membuat posisi Bapak sulit. Bapak tak tahu lagi apa yang harus diperbuat?” ujar Wiryono dengan nada putus asa.
“Mungkin Bapak perlu berbicara lagi dengan Pak Citro. Bapak bisa meminta tenggat waktu untuk mengembalikan uang pinjaman itu sehingga Bapak tidak akan merasa dipojokkan?”
“Tapi dari mana Bapak bisa mendapatkan uang limapuluh juta rupiah itu, Ndah? Bapak sekarang sudah tidak punya apa-apa lagi. Tinggal rumah ini dan sepetak sawah gantungan hidup kita satu-satunya. Bapak tak mungkin menjualnya!” tegas Wiryono.
“Saya akan bekerja untuk meringankan beban Bapak.”
“Bapak tidak ingin merepotkanmu.”
“Tidak, Pak. Ini sudah kewajiban saya sebagai seorang anak. Saya tidak akan tinggal diam melihat Bapak dalam kesulitan. Saya akan mengajak Mas Bagus bahu membahu membantu kesulitan Bapak.”
“Kamu benar-benar anak yang baik, Ndah. Bapak merasa terharu…” ucap Wiryono sambil menyunggingkan senyum bangga.
Indah hanya tersenyum. Tiba-tiba ada sebuah kelegaan terasa mengalir dalam rongga dadanya. Meski bayangan beban masalah yang demikian berat itu masih terasa menghimpit, namun dengan kesadaran ayahnya untuk mau berbagi dan membuka hati bagi kebaikan mereka bersama, membuat perasaan Indah sedikit lega. Baru kali ini Indah memiliki kesepahaman dan kesamaan pandangan dengan ayahnya.
***
Pagi itu Indah berangkat ke kota. Dia hendak memastikan undangan interview dari sebuah perusahaan ternama yang pernah diterimanya beberapa hari lalu. Undangan itu memang sudah lewat lima hari, tapi Indah berharap masih ada kesempatan diberikan untuknya. Kalau pun nanti ditolak, dia sudah berencana menemui beberapa rekannya yang punya akses ke beberapa perusahaan besar. Indah menyiapkan semua resume yang diperlukan untuk melamar pekerjaan. Dia tinggal memasukkan semua berkas lamaran itu jika diperlukan. Indah memang akan segera memulai perjuangan membantu ayahnya yang sedang dililit kesulitan besar. Indah ingin mengakhiri kemelut yang melanda hidup keluarganya.
Sementara itu selang beberapa jam setelah Indah pergi, Pak Citro dan istrinya serta Irawan datang untuk meminang Indah. Kebetulan saat itu Wiryono dan istrinya yang menerima kedatangan mereka. Kehangatan dan keakraban mewarnai pertemuan itu, karena sebelumnya mereka memang menjalin hubungan yang cukup baik. Namun ketegangan dan kerenggangan mulai muncul saat Pak Citro mengutarakan maksud kedatangannya. Tanpa basa-basi lagi Pak Citro mengungkapkan niat melamar Indah.
“Seperti Pak Wiryono ketahui, kita pernah sepakat untuk menjodohkan anak-anak kita. Irawan sudah setuju dengan perjodohan ini. Dia pun mau bersabar menunggu Nak Indah menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi. Nah, karena sekarang Nak Indah sudah lulus dan sudah kembali ke rumah, maka saya ingin segera mewujudkan rencana yang pernah kita bicarakan dulu. Dalam kesempatan ini pula saya secara resmi meminang Indah…,” kata Pak Citro.
Wiryono dan istrinya saling pandang sejenak. Wajah mereka terlihat sedikit resah dan tegang. Wiryono tidak segera menjawab kata-kata Pak Citro, melainkan menarik nafas dalam untuk beberapa saat.
“Sebelumnya saya mohon maaf, bila saya tidak bisa memberikan jawaban yang pasti atas lamaran Pak Citro. Sebab, saat ini Indah sedang tidak ada di rumah. Kami mesti meminta pendapatnya lebih dulu untuk memutuskan hal ini,” kata Wiryono dengan nada bijak.
“Kenapa harus menunggu Indah, Pak? Yang namanya anak itu kan harus menurut pada orang tuanya?” cetus Bu Citro terdengar sedikit ketus.
“Kalau zaman dulu mungkin begitu, Mbakyu. Tapi sekarang zaman sudah berubah. Anak-anak sekarang sudah berpikiran maju dan memiliki pandangan sendiri,” sahut Bu Wiryono.
“Saya tahu itu, Jeng Wiryono. Tapi dalam urusan perjodohan, anak gadis itu semestinya menurut pada pandangan orang tua. Jika anak gadis disuruh mencari pilihannya sendiri nanti malah jadi tidak karuan. Soalnya pergaulan anak muda zaman sekarang sudah demikian bebas dan tidak terkontrol lagi. Terlebih bagi Indah yang terbiasa hidup di kota. Berapa banyak anak gadis di kota yang telah terjerumus karena tak bisa menjaga kehormatannya. Mereka akhirnya mendapatkan pasangan hidup yang keliru….”
“Tapi putri saya tak mungkin akan hanyut dalam pergaulan seperti itu, Mbakyu. Indah bisa menjaga dirinya!”
“Kalau begitu berarti Indah masih perawan. Bagus itu, Irawan tak sia-sia untuk menjadikannya sebagai istri!”
Bu Wiryono menoleh pada suaminya. Hatinya agak tersinggung mendengar kata-kata Bu Citro yang terkesan angkuh dan sinis itu. Bu Citro seakan meremehkan Indah.