Laki-laki tua berusia enampuluhan tahun itu duduk di kursi malasnya sambil menyedot pipa rokok yang terbuat dari gading. Kerut-kerut di wajahnya tampak jelas menggambarkan tahun-tahun yang penuh kerja keras telah dilaluinya. Kedua rahangnya yang menonjol kokoh membiaskan keteguhan serta keyakinan yang kuat. Sementara sorot matanya yang tajam dan dingin mencerminkan sifat keangkuhan, kelicikan, dan egoisme. Sosok laki-laki tua itu memang terkenal keras dan berwibawa. Namun kewibawaan yang dibawanya terkesan menyebarkan rasa takut atau ancaman. Maklumlah, ia adalah orang terkuat, terkaya, dan dan berpengaruh di daerah ini. Dialah Pak Citro!
“Jadi kamu ingin aku secepatnya melamar anak gadis Wiryono itu?” cetusnya dengan suara dalam.
“Iya, Pak! Saya sudah tak sabar lagi menghadapinya. Dia bukannya semakin dekat dengan saya, tapi malah semakin menjauh. Dia bahkan berani menolak ketika saya ajak bicara! Dia telah merendahkan saya,” kata Irawan mengadu.
“Kurang ajar! Wiryono rupanya tidak bisa mengajar anaknya. Apakah dia tidak sadar telah banyak berhutang padaku? Dia sudah berjanji akan menyerahkan anak gadisnya setelah selesai sekolah!” dengus orang tua itu.
“Bapak seharusnya bersikap tegas pada Pak Wiryono. Sudah tahu, anak kita telah menunggu cukup lama. Kalau sampai pernikahan itu tak jadi, kan kita juga yang kena malu!” ujar Bu Citro yang duduk di seberang suaminya dengan nada kesal.
“Habis, Mas Irawan orangnya gitu, Bu. Tidak mau kerja dan tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan, jadi ya pantas aja Mbak Indah menolaknya. Coba kalau mas Irawan mau kuliah atau punya pekerjaan tetap, pasti Mbak Indah akan suka!” cetus Aryani, adik perempuan Irawan, malah mencemooh kakaknya.
“Hei, aku bukannya tidak mau kuliah atau kerja, tapi buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya jadi pengangguran. Tanpa repot-repot cari kerjaan, Bapak kan sudah cukup kaya dan punya banyak usaha. Kalau nanti Bapak pensiun aku bisa menggantikan kedudukannya. Iya kan, Pak?” tukas Irawan menepis anggapan adiknya.
Pak Citro tidak menjawab. Bu Citro malah menegur putri bungsunya yang masih duduk di bangku SMA itu.
“Kamu itu anak kecil jangan ikut campur urusan orang dewasa!”
“Tapi apa yang dikatakan adikmu itu benar, Wan. Seharusnya pemuda seusia kamu sudah punya pekerjaan. Yaah, pekerjaan apa, kek. Yang penting ada kesibukan. Biar perempuan yang melihat kamu tidak menangkap kesan kamu orang malas. Perempuan itu paling tidak suka melihat laki-laki pemalas dan pengangguran. Makanya, biar kamu tidak direndahkan lagi oleh perempuan, kamu mesti mulai belajar menangani sebuah pekerjaan. Untuk proses belajar itu kamu bisa mengelola salah satu toko Bapak,” kata Pak Citro mengingatkan putranya.
“Nanti saja, Pak, kalau saya sudah nikah. Saya masih ingin menikmati masa muda saya dulu. Masa muda itu kan tidak bakal kembali lagi, Pak. Jadi saya tidak mau menyiakannya. Soal pekerjaan, nanti akan bisa berjalan dengan sendirinya. Memang lima buah toko dan dua pabrik milik Bapak sudah mau bangkrut? Masih panjang umurnya, Pak. Pekerjaan masih bisa menunggu. Sementara nikah itu kesempatan sekali seumur hidup. Belum tentu saya bisa mendapatkan perempuan seperti Indah…” tutur Irawan berdalih.
“Iya, Pak. Biarkan anak kita menikmati kesenangannya dulu. Kita selama ini kerja keras dan cari uang untuk apa? Kan untuk menyenangkan anak-anak juga?” ujar Bu Citro membela putra sulungnya.
Pak Citro hanya mendesah napas panjang. Pandangan istrinya dan putranya memang sama saja. Pak Citro selalu tidak bisa menang bila beradu pendapat dengan mereka. Padahal sebaliknya, bila ada di luar rumah dia orang yang tidak mau dikalahkan dalam soal berargumentasi. Kata-katanya selalu diikuti oleh banyak orang, meski hal itu dilakukan dengan bantuan uang. Ucapannya mampu menekan, memaksa, sekaligus membenarkan tindakannya pada orang lain, walau hal itu disertai dengan intimidasi oleh para kaki tangannya. Pendeknya, dengan uang dan kekuasaan yang dimilikinya ia bisa memenangkan segala perkara dengan orang lain!
“Pokoknya Bapak harus secepatnya melamarkan Indah untuk saya!” desak Irawan seperti tak sabar lagi.
“Ya, ya…. ,” sahut Pak Citro mengiyakan.
***
Malam ini langit cerah. Bintang-bintang tampak bertaburan di langit. Memancarkan keindahan agung yang tiada bandingannya. Namun keindahan langit malam ini tak seindah perasaan yang dipendam Indah. Gadis itu sedang menyimpan gejolak perasaan tak menentu yang membuatnya jadi penat dan gelisah. Dia rasakan dunia jadi begitu sempit, sesak, dan gerah. Pengakuan ayahnya tentang hutangnya pada Pak Citro yang demikian besar dengan berbagai alasan keterpaksaan membuat hati Indah seperti tertimpa benda ribuan ton. Dia jadi ikut merasa bersalah atas keadaan yang menimpa ayahnya, karena sebagian uang itu untuk membayar biaya kuliah dan skripsinya.
Tiba-tiba Indah merasakan masalah yang dihadapi ayahnya lebih berat dari sekedar perkara gugatan tanah oleh para warga desa. Karena masalah ini juga menyangkut kehormatan dan harga diri keluarganya. Indah merasa terlibat di dalamnya. Dirinya secara tidak langsung telah digadaikan untuk jaminan hutang piutang itu. Karena ayahnya telah bersepakat menikahkan dirinya dengan Irawan. Padahal Indah sama sekali tidak menyukai pemuda pengangguran itu. Tapi dalam posisi seperti sekarang ini rasanya keluarganya, terutama ayahnya, tak mungkin bisa menolak perjodohan itu. Inilah yang dirasakan begitu berat oleh Indah. Dia jadi bingung, apa yang harus dilakukannya. Karena menolak perjodohan itu sama juga semakin mempersulit masalah yang dihadapi ayahnya!
“Indah…,” sebuah suara lembut mengagetkan Indah dan membuyarkan lamunannya. Gadis itu menoleh. Dilihatnya ibunya muncul dari ruang dalam menghampirinya.
Wanita itu duduk di sebelah Indah.
“Ada apa, Bu?” tanya Indah kalem.
“Kamu dipanggil Bapak.”
Indah tercenung. Dia lalu beranjak dari tempatnya. Tapi sebelum melangkah ke dalam, Bu Wiryono menahannya sejenak.
“Tolong, Ndah. Apa pun yang dikatakan Bapak, kamu harus menurut. Bapak sudah terlalu berat menghadapi masalah ini. Ibu tak mau melihatnya semakin terpuruk,” kata Bu Wiryono mengingatkan.
Indah tidak mengangguk atau pun menggeleng. Dia lalu melangkah ke dalam rumah.
Sebelum memasuki kamar ayahnya, sejenak Indah mengambil nafas dalam. Rasanya setiap kali harus bertemu dan bicara dengan ayahnya selalu ada yang mengganjal dalam hatinya. Indah sadar, ketidaksamaan pandangan maupun pemikiran antara dirinya dan ayahnya telah menimbulkan jurang ketidakserasian. Namun begitu bukan berarti Indah membenci ayahnya, begitu pun sebaliknya. Justru dengan sering berbeda pandangan dan pendapat ini semakin mempertegas ikatan batin diantara mereka. Indah merasakan kedekatan dengan ayahnya saat ia bisa bebas mengkritik, membantah, atau menolak setiap pendapat dan keinginan ayahnya. Sebuah hubungan yang cukup aneh untuk menggambarkan betapa mereka sebenarnya saling mengasihi.
“Bapak memanggil saya,” kata Indah pelan setelah berada di hadapan ayahnya yang tampak setengah berbaring sambil membaca buku.
Wiryono menurunkan bukunya dan memandang Indah untuk beberapa saat. “Duduklah, ada yang ingin Bapak bicarakan denganmu,” katanya kalem mengandung perintah.