Indah tak bisa menutupi rasa marahnya mendengar pernyataan Irawan.
“Apa kamu bilang? Kita akan menikah? Jangan sembarangan bicara! Siapa yang mau menikah denganmu?!” desis Indah marah.
“Lho, bukankah kedua orang tua kita sudah sepakat akan menjodohkan kita? Ayahmu sudah setuju kita akan menikah setelah kamu lulus kuliah…”
“Tidak! Aku tidak pernah setuju dengan perjodohan itu. Kamu jangan bermimpi bisa menikahi aku. Kamu pikir aku gadis bodoh yang mudah menurut pada kehendak orang tua?” dengus Indah sambil melepaskan cekalan tangan Irawan.
Dengan langkah lebar gadis itu lalu mendekati sepeda motornya dan menstarternya. Dia tak mempedulikan panggilan Irawan. Dia melarikan sepeda motornya keluar dari halaman rumah keluarga Citro. Sementara Irawan hanya berdiri terpaku di tempatnya. Wajahnya menyiratkan rasa kecewa dan marah. Geraham giginya mengatup rapat. Kedua tangannya terkepal keras. Sorot matanya menyimpan dendam kesumat yang membara.
“Kau akan menerima balasan atas keangkuhanmu itu,” gumamnya seolah bicara pada diri sendiri.
Indah kembali pulang. Di beranda depan sudah menunggu Bagus, kakaknya. Wajah Bagus terlihat kusut, seolah ada masalah menggayuti benaknya.
“Ada apa, Mas?” tanya Indah begitu sampai di hadapan kakaknya.
“Apa yang kamu lakukan semalam sampai Bapak kembali jatuh sakit?!” bukannya menjawab Bagus malah ganti bertanya dengan nada tajam.
“Aku tidak berbuat apa-apa, Mas. Aku hanya menanyakan soal kebenaran kasus yang dihadapi Bapak itu. Karena setelah kuselidiki ternyata memang Bapak yang bersalah. Bapak telah mengakali atau tepatnya menipu para warga desa itu!” jawab Indah terus terang.
“Apa kamu bilang? Bapak menipu mereka? Kamu jangan asal omong, Ndah!”
“Aku tidak asal omong, Mas. Aku mendengar sendiri keterangan dari orang yang melakukan gugatan pada Bapak….!” Indah lalu menceritakan semuanya yang didengarnya dari Kardi. Juga pembicaraannya dengan Rahman. Dari keterangan mereka Indah bisa menarik kesimpulan bahwa ada persekongkolan yang dilakukan oleh Pak Citro, Pak Tarmo, dan ayahnya. Indah melihat kejanggalan dan keanehan dari proses pembelian tanah warga yang kemudian ditukarkan dengan tanah milik Pak Citro.
“Omong kosong! Itu semua hanya bualan mereka. Kamu tahu kalau mereka menggugat Bapak karena masalah ketidaksahan proses jual beli. Padahal dalam surat perjanjian itu sudah jelas tertulis bahwa jual beli itu dilakukan dengan sukarela tanpa paksaan pihak manapun! Harga yang dipatok dalam surat itu juga telah dibayar lunas. Jadi omong kosong kalau Bapak dituduh menipu. Mereka hanya ingin mencari kesempatan mumpung Bapak sudah tidak lagi menjabat kepala desa. Karena Bapak sekarang sudah tidak punya kekuatan atau kekuasaan lagi. Mereka terhasut oleh provokasi orang lain. Mereka terpengaruh omongan orang yang tidak bertanggung jawab!” cerocos Bagus dengan suara berapi-api.
Rasanya baru kali ini Indah melihat kakaknya begitu gusar dan murkanya. Bagus tidak rela ayahnya dihujat dan disalahkan.
“Pada mulanya aku juga berpikiran begitu, Mas. Mereka terhasut omongan orang lain. Tapi setelah mendengar sendiri cerita mereka, aku tak yakin mereka dihasut. Kalau pun ada yang mendorong mereka untuk menggugat, itu karena mereka sadar hak mereka telah dirampas. Mereka ingin menuntut keadilan!”
“Tapi apa buktinya kalau mereka ditipu?”
“Janji dari Pak Citro dan Pak Tarmo. Sebelum akad perjanjian itu mereka bilang akan membayar tanah para warga dengan harga tinggi, tapi kenyataannya hal itu tidak dipenuhi. Mereka sengaja melakukan penipuan!”
“Tapi surat perjanjian itu jelas-jelas menyebutkan nilai tanah yang telah diterima dan lagi mereka sendiri mau menandatanganinya?”
“Mereka semua buta huruf, Mas. Mereka tidak bisa membaca isi surat perjanjian. Mereka terlalu percaya bahwa isinya sama dengan pernyataan Pak Citro maupun Pak Tarmo.”
“Tapi kan ada saksi-saksinya?”
“Semua saksi itu telah dibayar oleh Pak Citro. Jadi sudah jelas kalau ada persekongkolan untuk menipu warga desa. Dan aku yakin, Bapak tahu semua ini. Makanya aku ingin meminta kejujuran Bapak. Tapi Bapak malah membela rekan-rekannya dan menganggap semuanya sudah benar sesuai prosedur. Bapak menuduh warga desa itu yang bodoh dan cari perkara! Aku tak mengerti, kenapa Bapak tidak mau mengakui kesalahannya!” desis Indah sambil mendesah napas panjang.
“Jadi kamu menginginkan Bapak mengakui kesalahannya dan kemudian dimasukkan ke penjara?! Kamu ingin Bapak kita dipermalukan di depan khalayak ramai dan dicap sebagai perampok tanah warga, begitu?!” ucap Bagus dengan nada kesal.
“Bukan begitu, Mas. Pada prinsipnya masalah ini tidak perlu diteruskan ke pengadilan bilamana ada itikad baik dari Pak Citro sebagai pihak pembeli yang sebenarnya. Warga sendiri hanya meminta hak mereka diberikan sesuai yang dijanjikan. Mereka mau diajak berdamai dan membicarakan masalah ini secara kekeluargaan asalkan tuntutan mereka dipenuhi!” tandas Indah.
Bagus mendengus keras. Kata-kata Indah itu terasa memojokkan ayah mereka. Indah bukan lagi menjadi pembela sang ayah, tapi malah ganti melawan dan berpihak pada orang lain. Bagus jadi kecewa. Tiba-tiba Bu Wiryono muncul dari ruang dalam. “Kalau mau bicara masalah penting jangan di luar, ayo masuk ke dalam. Nanti didengar orang-orang!” ujar wanita itu mengingatkan.
Bagus dan Indah menuruti kata-kata ibunya. Mereka masuk ke dalam rumah. Indah duduk di sofa, sementara Bagus hanya berdiri di sudut sambil memandang keluar jendela. Bu Wiryono duduk di sebelah Indah.
“Sebenarnya Ibu tak ingin ikut membicarakan masalah ini, tapi Ibu rasakan lama-lama kedamaian di rumah ini jadi hilang. Kalian terus bersitegang soal kasus Bapak. Sementara kondisi kesehatan Bapak makin menurun akibat memikirkan persoalan ini!” cetus Bu Wiryono dengan wajah prihatin.
“Saya sebenarnya tak berniat membuat sakit Bapak tambah parah, Bu. Saya justru ingin membantu Bapak melepaskan duri yang menyiksa batinnya sendiri. Selama ini dalam perjalanan karirnya Bapak tak pernah menghadapi masalah demikian berat seperti kali ini. Bapak ingin menjaga reputasinya sebagai pemimpin yang bersih dan dihormati. Tapi Bapak tidak sadar bila dalam hidup ini kita kadang bisa melakukan sebuah kesalahan sekecil apa pun. Mungkin kasus yang dihadapinya ini merupakan ujian terberat bagi Bapak dalam mempertahankan reputasinya itu. Sayangnya, Bapak tak mau mengakui dengan besar hati kesalahannya itu. Bapak terlalu gengsi dan tinggi hati untuk mengakui kekurangannya. Padahal seperti kita tahu, di luar sana orang-orang sudah kehilangan kepercayaan dan rasa hormatnya pada Bapak!” ujar Indah mengungkapkan pendapatnya.
“Jadi kamu ingin Bapak mengaku bersalah dengan begitu orang-orang akan menghormatinya? Omong kosong! Dimana-mana orang yang bersalah akan dianggap rendah dan hina!” sahut Bagus dengan sinis.
“Tidak selamanya sikap mengakui kesalahan akan dipandang rendah dan hina. Justru pengakuan salah yang keluar dari lubuk hati dalam merupakan sikap ksatria. Banyak orang besar mengakui kesalahan atau kekeliruannya dan hal itu tidak mengurangi kehormatan dirinya. Justru masyarakat akan bersimpati dan menaruh rasa hormat yang tinggi. Di tengah hiruk pikuk kehidupan yang penuh kepalsuan, kemunafikan, dan kebobrokan moral ini sikap rendah hati dan kejujuran merupakan barang mahal. Sayangnya, kita sulit untuk jujur pada diri kita sendiri, apalagi pada orang lain! Kita terlalu mengagungkan kehormatan dan harga diri kita yang sebenarnya tidak ada artinya lagi. Derajat kita akan rendah di mata Tuhan jika tidak mau mengakui dosa atau kesalahan kita!” tandas Indah mengemukakan pendapatnya.
Bagus dan Bu Wiryono hanya diam tercenung mendengar ucapan Indah. Mereka seakan sedang merenungi kata-kata Indah. Untuk sesaat suasana di dalam ruangan itu diliputi kebisuan.