Kemarahan Wiryono

1123 Kata
            Pak Wiryono meradang. Wajahnya berubah gusar.             “Kurang ajar! Kamu menuduh bapakmu ini penipu. Dasar, anak tak tahu diri. Rupanya begini pembalasanmu pada Bapak setelah kamu berhasil meraih gelar Sarjana. Kamu menjadi sarjana cuma untuk menjelek-jelekkan orang tuamu sendiri!" desis Wiryono meledak kemarahannya.             “Saya tidak hendak menjelekkan Bapak. Saya cuma ingin mengingatkan pada Bapak bahwa apa yang dilakukan Bapak salah. Kenapa Bapak tidak mau mengakuinya dan meminta maaf pada mereka? Yang mereka tuntut hanyalah komitmen dan tanggung jawab. Mereka tidak berniat menghancurkan atau merusak nama baik Bapak. Seharusnya Bapak tahu hal itu!”             “Aku tahu mereka cuma ingin cari perkara. Dulu Bapak sudah bilang pada mereka bahwa tanah yang dibeli itu harus disesuaikan dengan harga taksiran secara umum. Mana ada tanah seharga limajuta rupiah dihargai duapuluh juta rupiah. Itu namanya pemerasan. Logika apa yang dipakai?”             “Tapi Pak Citro sendiri bilang…”             “Waktu itu Pak Citro memang bilang harga tanah itu bisa mencapai duapuluh juta rupiah jika sudah disertifikatkan dan dibangun pabrik. Pak Citro tidak bilang akan membeli seharga itu!”             “Kalau memang begitu, kenapa warga desa mau melepaskan juga?”             “Itu karena kebodohan mereka sendiri!”             “Mereka memang bodoh dan buta huruf, tapi bukan berarti Bapak bisa bertindak sewenang-wenang pada mereka. Di mana tanggung jawab moral Bapak sebagai seorang pemimpin? Bapak lebih mengutamakan kepentingan Pak Citro yang kaya raya dari pada warga desa yang miskin. Atau jangan-jangan Bapak memang sengaja membodohi mereka. Bapak mau diperalat oleh Pak Citro untuk memenuhi kepentingannya? Bapak menurut pada keinginan Pak Citro karena Bapak berharap bisa berbesanan dengannya. Itu kan yang sebenarnya terjadi?!” tandas Indah tajam.             “Kurang ajar! Mulut kamu lancang! Kamu…. !” Wiryono tak melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba dia merasakan dadanya sesak.             Bu Wiryono kaget. Dia langsung menjerit. “Paaak…!”             Wanita itu segera menangkap tubuh suaminya, seolah takut akan jatuh pingsan. Tapi Wiryono tampaknya masih cukup kuat berdiri. Indah yang duduk tak jauh darinya sempat tercekam. Perasaannya jadi ngilu. Dia menyesal membuat ayahnya marah dan emosi. Indah hanya bisa terpaku memandang ayahnya yang tampak tersengal-sengal. Bu Wiryono lalu membantu suaminya masuk ke dalam kamar dan membaringkannya di atas ranjang.             Indah masih termangu di tempatnya. Bu Wiryono kembali keluar dari kamar dan menghampiri Indah.             “Kamu kan tahu kalau bapakmu sedang dalam kondisi tidak sehat, kenapa kamu ajak dia berdebat. Jangan pancing kemarahannya dengan persoalan yang bisa menyinggung perasaannya. Sebaiknya kamu tak usah membicarakan soal itu lagi!” ujar Bu Wiryono memperingatkan dengan keras.             “Saya hanya ingin Bapak bicara jujur, Bu. Sepahit apa pun kejujuran itu harus diakui, karena ini menyangkut kehormatan Bapak juga. Ibu mungkin tidak tahu, kalau di luar sana banyak warga yang sudah kehilangan simpati dan rasa hormatnya pada Bapak karena beliau tidak mau lagi bertindak jujur. Bapak lebih mengutamakan kepentingan rekannya sendiri daripada kepentingan orang banyak. Padahal saya tahu Pak Citro cuma ingin memanfaatkan Bapak dan menarik keuntungan bagi dirinya sendiri!” tegas Indah.             “Sudahlah, Ibu tak mau tahu soal itu. Ibu tak mau peduli. Yang ibu tahu sekarang adalah kesehatan Bapakmu. Ibu minta kamu jangan lagi menekan Bapak. Biarkan bapakmu menikmati ketenangan dan kedamaian di hari tuanya ini. Kamu mau kan, Ndah, tidak membicarakan persoalan ini lagi?”             Indah diam tercenung. Dia mengerti dengan permintaan ibunya. Wanita yang melahirkannya itu memang tidak pernah mau tahu dengan urusan di luar. Selama ini beliau lebih banyak berperan di rumah. Ibu adalah tipe wanita tradisional yang patuh, berbakti, dan tidak banyak menuntut. Ibu perempuan berhati lembut, jujur, dan tidak neko-neko. Beliau tidak pernah mencampuri pekerjaan atau urusan suaminya di luar. Sebagai seorang istri beliau sangat setia dan menurut pada suami. Indah bisa memahami sikap ibunya itu, meski sebenarnya ia tidak setuju jika seorang perempuan membiarkan hidupnya dalam bayang-bayang kekuasaan laki-laki!             Indah tak ingin membuat hati ibunya jadi sedih. Dia lalu menganggukkan kepalanya sekedar menenangkan ibunya.             Sejak peristiwa malam itu hubungan Indah dengan ayahnya menjadi kaku dan dingin. Wiryono tak mau lagi bicara dengan anak gadisnya. Bahkan dia tak mau makan bersama Indah. Perasaan Indah jadi tidak enak didiamkan oleh ayahnya. Dia agak menyesal karena niatnya semula ingin menyadarkan ayahnya justru menjadi bumerang. Dirinya dimusuhi oleh ayahnya. Tapi hal ini tak membuat Indah surut dari keinginannya mencari kebenaran atas kasus yang dihadapi ayahnya.             Siang itu Indah pergi ke rumah Pak Citro di desa sebelah. Rekan ayahnya itu tak lain adalah orang tua Irawan. Rumah Pak Citro berada di pinggiran jalan raya. Rumah keluarga Pak Citro mewah dan besar. Maklumlah, beliau termasuk orang kaya raya di seantero kecamatan. Dia memiliki pabrik tapioka, pabrik tahu tempe, dan beberapa usaha dagang di kota kecamatan. Tapi banyak orang bilang kekayaan yang diperoleh Pak Citro menggunakan cara-cara yang licik dan kotor. Beliau sering mengakali para petani dan orang-orang desa dengan jalan membeli hasil bumi mereka dengan harga murah. Beliau juga meminjamkan uang kepada orang-orang dengan bunga tinggi.             Melihat track record orang tua Irawan itu Indah jadi percaya kalau dalam perkara tukar guling tanah dua tahun silam beliau berlaku licik. Bagi seorang pengusaha seperti Pak Citro setiap usaha yang dijalankan selalu berorientasi untuk mencari keuntungan. Omong kosong bila ada pengusaha mau rugi dalam usahanya. Tapi upaya mencari keuntungan itu terkadang dilakukan dengan jalan menipu atau berbohong. Seperti dalam kasus jual beli tanah dengan warga desa Sumbersari. Dengan janji akan membayar dengan harga tinggi, tapi pada kenyataannya justru dibayar rendah.             Indah sudah sampai di halaman rumah keluarga Irawan. Tapi suasana tampak sepi. Irawan yang kebetulan ada di rumah menyambut kedatangan Indah. Pemuda itu jadi surprise melihat kehadiran Indah. Wajahnya berseri-seri. Indah tak kaget mendapati Irawan berada di rumah, karena pemuda itu memang tidak punya pekerjaan tetap. Tiap hari kerjanya hanya keluyuran dan main dengan teman-temannya. Dengan kekayaan yang dimiliki orang tuanya, Irawan memang tak perlu bersusah payah mencari uang.             “Ada angin apa tiba-tiba kamu mau datang ke sini? Kamu pasti kangen sama aku, ya?” ujar Irawan dengan ge ernya.             “Bapakmu ada? Aku mau bertemu dengannya,” kata Indah tak mempedulikan gombalan Irawan.             “Siang begini Bapak masih ada di toko. Ada apa kamu mencarinya?”             “Tidak ada apa-apa. Cuma mau ketemu saja. Kalau begitu aku pulang dulu. Nanti sore aku ke sini lagi!” Indah hendak beranjak pergi, tapi tangannya dicekal Irawan.             “Tunggu dulu, Ndah. Kenapa kamu buru-buru. Kita kan bisa ngobrol di sini. Aku ingin bicara banyak denganmu,” kata Irawan kalem.             “Maaf, Wan. Aku tidak punya banyak waktu untuk ngobrol. Aku ada keperluan lain,” tolak Indah.             “Kenapa sih, kamu tidak pernah mau kuajak ngobrol. Apa di matamu aku ini begitu menyeramkan? Bukankah kita sebentar lagi akan menikah? Jadi aku ingin kita bisa sering bertemu dan ngobrol untuk lebih mendekatkan hati kita?”             Indah tersentak mendengar ucapan Irawan. Dia lalu memandang Irawan dengan sorot mata tajam.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN