Rahman baru saja usai memberi pengarahan pada anak-anak remaja di pendopo depan rumahnya. Dari pintu gerbang muncul Indah dengan sepeda motornya. Rahman berdiri di depan pendopo menyambut kedatangan Indah. “Assalamualaikum…!” sapa Indah begitu turun dari motornya. “Waalaikumsalam!” balas Rahman kalem. “Maaf, Man. Baru kali ini aku bisa datang ke sini lagi. Bagaimana kabarnya anak-anak?” “Baik, Ndah. Bagaimana kabarmu sendiri?” “Baik.” Indah berjalan menuju ke tangga pendopo dan duduk di atas trap tangga. Rahman mengikuti duduk di sampingnya. Wajah Indah masih menyisakan rona kesedihan. “Aku tahu, kamu masih dalam keadaan berduka, Ndah. Kamu tidak perlu repot ke sini dulu,” kata Rahman.

