Bu Nurmala membuang pandangannya, keluar dari warung dengan tubuh sedikit gemetar. Pria paruh baya itu masih menatapnya dengan penuh kerinduan. Kemudian lelaki paruh baya itu memutar tubuhnya untuk menyusul Bu Nurmala yang hendak masuk ke dalam rumah. Secepat kilat Bu Nurmala menutup pintu rumahnya lalu menguncinya. Bu Nurmala mengusap peluhnya yang bercucuran. "Nur, buka pintunya!" ucap pria tersebut sambil menggedor kencang. Bu Nurmala bergeming, berjalan ke meja makan, menuangkan air ke dalam gelas, mencoba menetralisir rasa gugup dan takut yang bersamaan. Tandas air satu gelas menyusuri tenggorokannya. Namun tetap saja dadanya masih berdebar. Tok..tok..tok.. Sang pria masih menggedor pintunya, malah semakin kencang. "Pergi! Saya tidak ada urusan denganmu!" teriak Bu Nurmala dari d

