Nina menjerit kecil saat tiba-tiba hewan kecil berwarna hitam menimpa kepalanya. Dia langsung menyingkir geli melihat hewan itu. Dengan panik dia mencari cara agar bisa mengusir binatang yang baginya sangat menjijikkan. Bahkan melihatnya saja bulu kuduknya sudah berdiri. Dia sangat takut.
Setelah menemukan sebuah sapu, dia segera mendorong-dorong binatang itu agar lari atau pergi dari hadapannya. Tapi tidak, binatang itu masih berdiam diri di tempatnya semula.
Nina jadi curiga. Dia melihat sekitar, lalu menghampiri binatang yang tergolek di lantai. Tidak bergerak! Itu artinya hewan ini sudah mati, atau palsu.
Lalu terdengar suara tawa cekikikan di balik pintu dapur. Seketika Nina langsung menoleh ke arahnya. Kemudian suara orang berlari terdengar di telinga. Nina langsung bernapas lega. Ini pasti ulah anak majikannya, batinnya mencoba bersabar.
Meski jantungnya hampir copot karena ulah Daffa, tapi untuk saat ini dia tidak bisa berbuat apa-apa karena ada Randi. Biasanya dia akan memberi pelajaran pada anak nakal itu meski tidak membuatnya jera. Sebaliknya anak itu malah tambah dendam padanya.
Setelah itu, dia membuang binatang palsu itu ke tong sampah dan melanjutkan pekerjaannya lagi. Sejak Randi tak sering keluar rumah lagi, dirinya jadi tidak bebas mengakses ruang olah raga milik Randi. Hingga beberapa kali dia melewatkan waktu olahraganya. Hal ini membuatnya jadi tak fokus bekerja, selain karena kepikiran proses dietnya yang terhambat juga karena ada Daffa yang selalu membuatnya kesal.
Anak itu tak membiarkan dia duduk walau sebentar. Ada saja yang dia perintah, entah itu hal yang benar-benar dibutuhkan atau ada hal lain yag tidak penting.
Seperti tadi pagi, dia sudah membersihkan kamar anak itu dua kali, dan kini dia kembali memintanya untuk membersihkan kamarnya. Lelah rasanya bila harus seperti ini terus.
Nina menghela napasnya pelan. Semua pekerjaan sudah selesai dia kerjakan, keadaan rumah pun tampak lenggang. Nina melirik ke ruangan gim yang ada di sebelah dapur, juga ke arah Daffa yang pintunya tertutup rapi. Semenjak sakit Randi sudah meminta Daffa izin cuti sekolah, dan sekarang adalah hari terakhirnya.
Mengingat hal itu Nina jadi tersenyum senang. Dia akan terbebas dari moster kecil itu untuk sementara waktu. Namun melihat keadaan rumah saat ini, dia ingin sekali berolahraga sekarang.
Rindu rasanya mengangkat benda bulat yang berat itu dengan teratur, dan juga berlari di mesin tradmill yang tersedia di sana.
Tak menyia-nyiakan waktu, Nina segera menyelusup masuk memasuki ruang olahraga. Setelah lima menit melakukan pemanasan, akhirnya dia mulai pada inti olahraga.
Namun lima menit kemudian terdengar teriakan dari arah kamar Daffa. Nina langsung berdecap kesal, dia mematikan mesin berlarinya dengan kasar.
“Anak itu mengganggu saja!”
Dengan peluh yang mulai banyak, Nina keluar dari sana dan langsung melangkah mengetuk pintu kamar Daffa dan membukanya sedikit.
“Ada apa Tuan muda?” tanya Nina mencoba tetap sopan meski kesal.
Bocah itu hanya menoleh lalu mengabaikan Nina, kembali memainkan stick playstation di tangannya.
“Maaf ada apa ya?” tanya Nina lagi dengan sedikit kesal.
“Ambilkan aku minum!” perintah Daffa layaknya seorang bos.
Nina menahan dirinya agar tak memarahi anak majikannya itu. Bagaimana tidak, air minum itu sudah tersedia di hadapannya. Di meja bersama camilan lain yang sudah disetujui Randi untuk Daffa konsumsi.
Nina masuk ke dalam kamar lalu menuangkan minuman dari botol itu ke dalam gelas. “Ini tuan muda.”
Daffa tersenyum miring. Lalu dengan sengaja menjatuhkan gelasnya, membuat isinya tumpah membasahi lantai juga sofa dan pecahan kaca itu berserak di mana-mana.
“Astaga!” pekik Nina kesal.
Hilang sudah kesabarannya kini, menghadapi bocah nakal di hadapannya ini. Matanya langsung menatap tajam bocah itu yang kini tertawa keras.
Nina langsung menghampirinya dengan tatapan tajam yang tak lepas begitu saja. Tangannya mengepal erat, ingin sekali dia menjewer kuping bocah nakal itu. Tapi tidak bisa, yang ada dia malah dipecat.
Daffa langsung terdiam melihat Nina yang terlihat begitu marah. Kini ketakutan muncul di hatinya. Namun, dia tidak mungkin menunjukkannya di hadapan Nina. Dia bosnya di sini, dan Nina hanyalah seorang pembantu. Mana mungkin wanita gendut itu berani mengganggunya, begitu batin Daffa.
“Kamu benar-benar keterlaluan!” desis Nina kesal.
Biarlah dia dianggap tidak sopan oleh bocah itu. Namun bukankah, sikap Daffa kali ini benar-benar keterlaluan. Walau bagaimana pun dia pernah menjadi orang kaya meski ujungnya habis oleh mantan suami sialannya hingga berakhir tak punya apa-apa seperti saat ini.
Dulu saat dia masih bisa menggaji orang lain untuk menjadi pekerjanya, dia tak pernah sekejam ini. Karma apa yang dia buat hingga mempunyai bocah majikan seperti ini. Rasanya dia ingin menangis saat ini juga.
Daffa hanya membuang pandangannya ke sembarang arah. Takut jika Nina berani menyakitinya. Ia sadar, dia cukup keterlaluan kali ini. Tapi memang ini yang dia inginkan. Dia mau setelah ini Nina resign dari pekerjaan di rumahnya. Hanya itu saja, seperti yang sudah-sudah.
Nina keluar dari kamar dengan langkah kasar. Setelah itu dia kembali dengan membawa alat tempurnya untuk membersihkan kekacauan yang sengaja di buat bocah nakal itu. Dengan napas menggebu-gebu, dia melakukannya dengan kesal. Sehingga salah satu jarinya tergores pecahan beling dan membuatnya berdarah-darah.
Daffa sedikit ketakutan saat melihat darah itu terus mengucur dari jari jemari Nina. Namun sepertinya Nina tidak berniat menghentikan laju darah itu dahulu. Dia fokus memunguti sisa pecahan yang tak terlihat mata.
“Hei, jarimu berdarah!” pekik Daffa ngeri.
Nina mengabaikannya. Setelah melap dan semuanya beres, dia keluar dari kamar Daffa. Meninggalkan bocah itu dengan sedikit rasa bersalah di hatinya.
Di kamar Nina menangis tersedu-sedu. Begitu sulit jalannya untuk kembali sukses seperti dulu. Entah perbuatan buruk apa yang dia perbuat hingga hidupnya jadi seperti saat ini. Tak punya harga diri meski di hadapan anak kecil, juga tak bisa membela diri meski disakiti.
Nina menangis pilu. Lelah rasanya menjalani hidup ini, sampai akhirnya dia ketiduran dan tak sadar hari sudah malam. Astaga, dia belum memasak untuk makan malam!
Pintu kamarnya di ketuk dari luar. Nina bangun dengan mengerjapkan matanya perlahan. Gelap gulita menyerang penglihatannya. Segera dia meraba nakas dan menyalakan layar ponsel.
Matanya seketika melebar saat melihat jam. Buru-buru dia bangun, meski tubuhnya hampir jatuh karena oleng.
“I-iya,” ucapnya gugup.
Pintu terbuka, di hadapannya sudah ada majikannya yang menatap dia penuh selidik juga wajah datarnya. Dengan cepat dia menundukkan kepala, siap menerima amarah dari bos besarnya. Biar saja hari ini sial sepenuhnya, batin Nina.
“Kenapa belum masak? Kamu sakit?” tanya Randi dingin.
Ia menggeleng cepat.
“Maaf tuan, saya ketiduran,” jawab Nina dengan terbata.
Terdengar dengusan napas dari Bosnya. Ia sudah bersiap menerima amukan bosnya kali ini.
“Kalau masih mau bekerja, lakukan semuanya sesuai perintah!”
“Ba-baik, Tuan.”
Lantas Randi berbalik pergi. Jantungnya hampir saja copot, setelah punggung Tuannya menghilang di balik tembok dia segera melangkah ke dapur.
“Masak yang simpel saja, jangan lambat!” ucap Randi lagi dari jauh.
Nina menyahut, lalu segera mengeksekusi bahan yang sudah dia siapkan. Beruntung semua alat di dapur ini sudah canggih hingga memudahkannya. Sampai dua pulun menit kemudian, hidangan sederhana sudah tersaji di meja makan.
Nina memanggil Tuannya yang sedang berada di ruang kerjanya juga Daffa yang berada di kamar. Saat melihat Daffa kekesalannya tiba-tiba muncul kembali. ingin sekali dia mencubit bocah itu sekarang, tapi tentu tidak bisa.
Daffa melirik Nina yang masih tampak kesal. Tak meminta maaf, bocah itu melewati dirinya dan menuju meja makan. Nina mendengkus kesal kemudian masuk kembali ke dapur setelah melakukan tugasnya. Di dalam hatinya dia terus berpikir bagaimana cara membuat anak itu jera.