“Terima kasih sudah merawat anak saya dengan baik,” ucap Randi saat memasuki dapur.
Lantas dia menarik kursi dan menuang air putih ke dalam gelas yang sudah tersedia di meja makan.
Tubuh Nina sempat melonjak sebentar karena suara berat Randi yang tiba-tiba. Sudah dua hari Randi selalu rutin pergi pagi pulang sore, tidak seperti biasanya sebab Daffa tengah sakit.
Bocah itu masih belum pulih benar, lagi pula Randi belum mengizinkan anaknya pergi ke sekolah seperti biasa. Dia takut Daffa memakan sembarang makanan lagi, dan akhirnya akan berakhir dengan menyakiti dirinya sendiri.
Nina menoleh pelan, dia tidak biasa melihat Randi berkeliaran di rumahnya sendiri di jam-jam seperti ini. Dia sudah terbiasa dengan keheningan, jadi agak aneh bila yang punya rumah tiba-tiba berada di rumah.
“Sa-sama-sama, Tuan,” balasnya singkat.
Dia tidak bisa berbicara panjang lebar. Jantungnya selalu tidak tahan, berdegup kencang dengan keringat yang membanjiri kening. Bahkan kini tangannya tiba-tiba gemetar, dia sedikit takut. Memori di kepalanya selalu memutar adegan demi adegan mantan suaminya melempar gelas lalu mengomel tak jelas karena aduan Ibu mertua juga adik iparnya.
Dia merasa posisi duduk Randi saat ini adalah seperti mantan suaminya dulu. Karena itu, dia merasa takut jika gelas yang sedang bosnya pegang akan dilempar begitu saja ke arahnya. Meski tidak terkena lemparannya, tapi mentalnya yang sudah kena.
“Kamu kenapa?” tanya Randi dengan datar namun heran saat melihat raut wajah Nina yang tertekan. Padahal dia sedang berterima kasih, bukan mengomelinya. Tapi ekspresi wanita di hadapannya ini selalu saja seperti dia habis dimarah-marahi olehnya.
Nina menggeleng gelagapan.
Tuh kan! Selalu seperti ini. Lama-lama dia takut Randi akan menilai dia habis melakukan sesuatu yang berbahaya atau menyembunyikan barang hasil curian.
“Ti-tidak kenapa-kenapa, Pak,” lanjutnya lagi dengan cepat sembari menunduk meremas tangannya.
Randi masih memandang ART barunya itu dengan heran. Padahal dia merasa tidak begitu kejam pada orang lain, apalagi pada orang yang tak mempunyai salah seperti Nina. Tapi, sikap ARTnya membuat dia jadi ragu dengan sikapnya selama ini. Apa dia terlalu galak, atau bahkan menyeramkan? Aneh sekali.
“Ya sudah, lanjutkan saja.”
Akhirnya dia memilih untuk masuk ke kamar Daffa. Padahal tadinya dia ingin berbicara panjang lebar dengan Nina. Namun sikap wanita itu membuat dia ragu, dia jadi takut ART barunya akan mati berdiri bila terus berinteraksi dengannya.
Selama ini dia bahkan belum melihat wajah Nina dengan begitu jelas. Sebab sejak awal kedatangannya ke rumah ini, dia selalu menunduk dan meremas jari-jemarinya. Seolah dia sangat gugup dan ketakutan.
Saat melihat bagaimana cara Nina merawat Daffa kemarin, dia jadi semakin yakin jika Nina adalah orang baik yang bekerja dengan tulus. Dia sangat tahu bagaimana kelakuan anaknya yang nakal itu. Dan dia sangat yakin, Daffa sudah melakukan banyak hal untuk mengerjai Nina agar tidak betah bekerja di sini.
Namun hebatnya Nina masih bertahan, dan ada di sini ikut membantu merawat anaknya yang sudah nakal tanpa rasa kesal. Dia sungguh sangat berterima kasih padanya saat ini, ia jadi tidak perlu susah payah mencari perawat yang cocok untuk Daffa.
Sebelum Nina dia sudah berganti ART berkali-kali, mereka hanya bertahan satu sampai lima hari karena terus diganggu oleh Daffa. Ia bahkan sudah lelah menasihati anaknya ini. Tetapi dia sangat tahu, tingkah Daffa yang nakal seperti ini karena dia kekurangan kasih sayang juga perhatian.
Daffa memang hidup dengannya, tapi dia terlalu sibuk bekerja hingga sering melupakan waktu untuk menemani Daffa, sampai anaknya menjadi sering bertingkah keterlaluan pada orang baru.
Untuk itu dia sangat bersyukur dengan adanya Nina di sini yang masih bertahan dan bekerja juga melakukan semuanya dengan baik. Nina bahkan dengan telaten menyuapi Daffa hingga anaknya itu mau menghabiskan makanannya.
Ah, dia harus banyak-banyak berterima kasih padanya.
Tetapi dia kembali ingat tingkah Nina yang selalu menutup diri. Wanita yang bekerja di rumahnya ini sepertinya orang yang tertutup, terlihat dari caranya setiap kali berinteraksi.
Sudahlah, dia tidak berhak mengatur tingkah Nina padanya, yang terpenting dia bekerja dengan baik dan jujur maka semuanya selesai.
“Tumben Papa sudah pulang,” gumam Daffa menoleh pada Randi sekilas. Lantas bocah itu kembali bermain ponsel di tangannya.
Randi pun duduk di ranjang yang sama, lalu menghela napasnya pelan. Namun, semua itu dapat Daffa dengar.
Dia tidak menyangka anaknya akan berkata seperti ini karena dia ada di rumah saat sore hari. Apakah dia terlalu sering mengabaikan dan melupakan kewajibannya sebagai seorang ayah terhadap Daffa, hingga anaknya sendiri merasa heran dengan keberadaannya.
“Ini karena kamu sedang sakit,” balas Randi dengan tenang.
Dia tidak tahu jawabannya membuat Daffa sedih dan berpikiran yang tidak-tidak terhadap kesehatannya sendiri.
“Kalau begitu aku akan sakit terus-“
“Daffa! Jangan bicara seperti itu. Papa hanya bercanda, memangnya kenapa kalau Papa ada di rumah? Kamu gak suka ya?” Randi mengalihkan pembicaraan. Dia langsung tersadar dengan jawabannya barusan.
Daffa menggeleng sembari menundukkan kepalanya. Dia menaruh mematikan ponselnya, lalu menaruhnya di meja.
“Aku senang Papa ada di sini,” cicit Daffa pelan.
Randi tersenyum. Kemudian menarik tubuh kurus Daffa ke dalam pelukannya. Pelukan yang sangat Daffa rindukan selama ini. Randi terlalu sibuk hingga dia lupa jika dia masih mempunyai anak.
“Maafkan Papa ya, Nak. Setelah ini Papa akan berusaha meluangkan waktu Papa untuk menemanimu.”
Daffa melepas pelukan ayahnya, dia menoleh menatap wajah Randi. Seolah dia tidak percaya dengan perkataan ayahnya sendiri.
“Papa serius?” tanya Daffa dengan senyuman yang mulai merekah. Binar di matanya pun mulai terlihat kembali. Sudah lama rasanya Randi tidak melihat binar bahagia di mata anaknya.
Randi mengangguk, lalu mengusap rambut anaknya dengan penuh sayang. Melihat kebahagiaan di wajah Daffa, membuat dia merasa sangat bersalah. Dia yang bersih keras mengambil hak asuh Daffa pada mantan istrinya, tapi kini dia malah mengabaikan Daffa.
“Maafkan Papa, ya.” Randi kembali meminta maaf.
Daffa mengangguk cepat dengan senyuman yang lebar.
Mereka lalu terdiam saat pintu kamar Daffa di ketuk dari luar. Perlahan Nina masuk dengan wajah sungkannya. Dia tersenyum kecil, lalu kembali menundukkan kepala.
“Tuan makanannya sudah siap,” ucap Nina.
“Aku gak mau makan makanan dia, gak enak!” protes Daffa cepat dengan mulut mengerucut.
Mendengar penolakan Daffa, kepala Nina langsung terangkat menatap Daffa dengan wajah garangnya. Enak saja dibilang tidak enak, sedangkan tadi pagi anak itu makan dengan lahap!
Dia memang bocah kematian! Batin Nina sebal. Rupanya bocah itu masih menginginkan dia keluar dari rumah ini.
Nina tersenyum miring sembari menatap Daffa yang juga tengah menatapnya. Seolah mereka sedang berperang lewat pandangan. Dia tidak akan pernah keluar dari rumah ini, pikir Nina.
“Daffa tidak boleh begitu. Mbak Nina sudah susah payah masak, jadi kamu harus hargai!” Randi memperingati anaknya yang kembali mulai bertingkah.
Daffa langsung melipat tangannya di d**a. Ia menatap wajah ARTnya dengan berang, dia kesal karena ayahnya malah membela ART dibandingkan dengan dirinya.
“Aku tetap gak mau! Gak enak, tetap gak enak!” kekeuhnya.
“Tidak papa kalau tidak mau, nanti biar saya belikan dari luar Tuan,” usul Nina. Namun segera dipotong oleh Randi.
“Tidak! Makanan di luar itu tidak sehat, kamu mau dia sakit lagi! Daffa, kamu harus makan sekarang, dan tidak ada penolakan!” putus Randi pada akhirnya.
Nina tersenyum senang sembari menatap wajah Daffa yang merengut karena kalah di bela oleh ayahnya sendiri. Saat Randi sedang fokus ke arah lain, Nina menjulurkan lidahnya kecil pada Daffa. Lalu izin keluar kamar. Hal ini membuat Daffa semakin kesal pada pembantu barunya itu.