“Papa ... sakit ... Papa ....” Daffa terus mengigau, membuat Nina jadi terbangun dalam tidurnya.
Dia segera mengecek kondisi Daffa. Keringat membanjiri kening juga badannya. Nina terkesiap, dengan cepat dia mengganti baju tidur Daffa dan mengelap semua keringat yang menempel di tubuhnya.
Sungguh dia tidak pernah dihadapkan dalam posisi seperti ini. Panik, cemas, kalut, juga bingung bercampur menjadi satu di dalam dirinya. Jantungnya pun seakan tak pernah berhenti berdetak kencang menghadapi kondisi yang membuat dirinya merasa kalang kabut.
Daffa masih meringis kesakitan. Dia terus memegangi perutnya, dengan keringat dingin yang terus keluar. Nina segera bergerak cepat mengambil beberapa obat dan juga segelas air.
Perlahan dia membangunkan Daffa agar dia mau meminum obatnya. Bersyukurnya, anak itu mau menurut, dia langsung meminum beberapa obat dalam sekali tegukan. Seakan sudah hafal bagaimana cara meminum obat. Apakah karena ia terlalu sering sakit?
Hati Nina meringis ngilu, tak bisa membayangkan kehidupan Daffa yang tanpa ibu ini. Dalam kondisi sakit-sakitan pula. Perasaan iba tiba-tiba muncul dari hatinya untuk anak majikannya ini. Mungkin saja, selama ini Daffa tidak mendapat perhatian penuh dari orang tuanya.
“Nah, sekarang bobok lagi, ya. Biar saya kompres perutnya agar sedikit membaik,” ucap Nina dengan suara lembut dan sedikit gemetar.
Dia terlalu takut menyakiti anak ini, takut karena Daffa anak bosnya juga karena bocah ini sedang kesakitan.
Kemudian dia keluar dari kamar dan mengambil wadah berisi air dingin juga kain kecil untuk mengompres perut Daffa. Ia hanya berharap, tindakan ini sedikit membantu sambil menunggu reaksi obat yang sudah diminum oleh Daffa.
Daffa mengangguk lemas. Dia kembali memejamkan mata dengan ringisan-ringisan kecil. Rasa dingin dari air kompresan membuat kening Daffa mengernyit, lalu berangsur-angsur kening yang terlipat itu kembali seperti semula sampai akhirnya dengkuran halus terdengar dari mulut Daffa.
Semalaman Nina terjaga untuk mengompres perutnya. Walau lelah, tapi dia merasa harus bertanggung jawab mengurus Daffa sampai bocah itu membaik. Besok Dokter Irwan akan kembali ke sini untuk mengecek keadaannya lagi, namun besok tentu saja masih lama bila dalam kondisi genting seperti ini. Semalaman terjaga menunggui orang sakit, dia jadi tahu betapa panjangnya malam hari sampai terbit fajar.
Alarm pagi hari berdering membangunkan Nina yang tertidur di samping Daffa. Dia segera mengernyit dan merenggangkan tangannya. Sejujurnya dia masih mengantuk, namun mengingat dia adalah asisten rumah tangga maka tak ada kata malas baginya.
Dia bangun dan membuka gorden tebal di kamar Daffa menyisakan gorden tipis yang masih menghalangi jendela. Semburat kemerahan dari timur sedikit membuat suasana hati Nina membaik. Dia sangat suka cuaca pagi hari.
Setelah mengecek kondisi Daffa dan memastikan semuanya baik-baik saja, dia kembali membenarkan letak selimutnya. Lalu tersenyum, dan melangkah keluar. Dia harap Daffa segera membaik.
Kakinya yang besar berjalan menuntun langkahnya untuk membuka pintu balkon. Udara segar di pagi hari langsung menyapu wajahnya yang kusut karena kurang tidur. Dinginnya udara pagi hari membuat tubuhnya merindukan kasur empuk di kamar kecilnya di apartemen ini. Rasanya dia masih ingin memejamkan mata walau satu jam saja.
Tapi tuntutan pekerjaan juga keadaan Daffa membuat dia harus melupakan semuanya. Dia segera membereskan ruangan yang sedikit berantakan, menyapu, juga memasak makanan sesuai anjuran Dokter Irwan.
Matahari sudah semakin meninggi. Selesai mandi, dia segera merapikan makanan yang sudah dia buat dan menyiapkannya dalam nampan untuk membawanya ke kamar Daffa. Dia belum mengecek Daffa kembali setelah disibukkan dengan pekerjaannya. Ia sedikit panik, takut Daffa tak bangun lagi.
Terburu-buru dia memasuki kamar anak itu. Namun, senyumnya seketika terkembang sempurna saat melihat Daffa tengah bersandar di kepala ranjang dan menatapnya dengan pandangan datarnya yang menjengkelkan. Tapi tidak apa, itu lebih baik dari pada melihat dia meringis kesakitan sepanjang malam, itu sangat membuatnya khawatir.
“Bagaimana keadaannya tuan muda, apakah masih sakit?” Nina menaruh bubur ayam buatannya di nakas samping tempat tidur Daffa. Dia tersenyum lebar saat bocah itu memalingkan wajahnya ke arah lain.
Sekali lagi tak mengapa, dia sudah sangat senang melihat Daffa kembali bersikap judes padanya.
“Makan dulu ya, setelah itu minum obat. Nanti Dokter Irwan akan datang kembali mengecek kondisimu, untuk itu mari kita isi energimu dulu,” ucapnya lembut.
Daffa merengut, dia tidak mau menoleh pada Nina. Entah kenapa, tapi karena sedang sakit jadi Nina tidak mengambil kelakuan Daffa yang memang sudah tidak aneh ini.
“Mau disuapin atau makan sendiri?” Nina kembali bertanya.
“Tuan kecil Daffa, makan dulu ya, biar cepat sembuh-“
“Berisik!” pekik Daffa kesal.
“Oke, saya gak akan berisik lagi asalkan kamu makan dulu!” Sedikit paksaan agar anak itu mau makan dan meminum obatnya.
“Gak mau!”
“Kenapa?” Nina masih sabar meladeni sikap anak bosnya ini. Ini memang hal biasa bagi anak kecil bukan, bahkan terkadang dia juga malas makan dan minum obat ketika sakit. Untuk itu Nina masih mencoba bersabar dan mengerti mau anak majikannya yang tampan ini.
“Gak mau, aku takut sakit perut lagi,” jawab Daffa pada akhirnya dengan suara melemah, padahal bau bubur ayam itu sangat menggoda hidungnya. Ia ingin makan namun takut. Inilah masalahnya.
Nina tersenyum, membawa semangkuk bubur itu ke dekat Daffa dan duduk di sebelahnya.
“Enggak dong, buburnya tidak pedas. Coba dulu ya, kalau sakit lagi gak usah dimakan, oke?” bujuk Nina dengan halus.
Daffa sedikit tertarik, dan mulai menoleh menghadap pembantu barunya yang gendut itu. Ia melihat pembantu barunya tersenyum lembut dengan sesendok bubur yang dia pegang. Ia sebetulnya, hanya saja masih takut membayangkan nyeri di perutnya nanti.
“Tidak apa-apa, dicoba dulu ya ... “ ucap Nina membuat keraguan Daffa sedikit sirna.
Bocah itu lalu mengangguk dan membuka mulutnya perlahan. Nina tersenyum senang, dan langsung menyuapinya dengan perlahan sampai bubur itu tandas.
Senyuman di wajah Nina semakin lebar, entah mengapa dia merasa bahagia melihat semangkuk bubur itu sudah habis tak bersisa. Sedangkan Daffa, dia kembali membuang mukanya tak mau melihat senyuman bahagia di wajah Nina yang menurutnya sangat menjengkelkan.
Randi terdiam di ambang pintu kamar Daffa yang sedikit terbuka itu. Sengaja dia tidak buru-buru masuk saat mendengarkan percakapan antara anaknya dengan ART barunya itu. Ia hanya ingin tahu bagaimana cara Nina menangani anaknya yang super resek itu.
Seulas senyuman kecil muncul di wajahnya yang menegang selama perjalanan untuk sampai ke rumah. Sejak Nina mengabari anaknya sakit, dia sudah tidak nyaman melakukan semua pekerjaannya dan akhirnya buru-buru mencari tiket untuk perjalanan pulang. Dia sangat mengkhawatirkan kondisi Daffa, apalagi saat ini Mamanya tidak sedang berada di rumah.
Namun saat melihat pemandangan di depannya, hatinya langsung merasa lega. Padahal sedari tadi jantungnya sangat sulit dikondisikan saking paniknya. Ternyata Nina mampu merawat Daffa dengan baik.
“Wah, tuan muda hebat!” puji Nina girang saat Daffa sudah meminum obatnya.
Pipi Daffa sedikit bersemu, segera dia memalingkan mukanya kembali karena malu. Memangnya dia anak kecil dipuji-puji seperti ini, pikir Daffa malu.
“Papa!” pekik Daffa kencang ketika melihat Randi membuka pintu kamarnya dengan senyuman kecil.
“Sayang, maaf ya Papa tidak bisa pulang cepat saat kamu kesakitan. Sekarang masih sakit gak?”
Nina tersentak, dia segera bangkit berdiri untuk memberi ruang pada Randi. Dia segera membereskan piring juga wadah tempat dia mengkompres Daffa. Dengan meminta maaf, dia izin keluar.
“Gak papa, aku sudah gak kesakitan lagi.” Daffa nyengir di hadapan ayahnya. Anak itu ternyata bisa tersenyum juga, pikir Nina sebelum benar-benar pergi dari kamar Daffa.
Melihat kepergian Nina, Daffa langsung mengubah sikapnya menjadi anak manja pada Papanya.
“Syukurlah.” Randi kembali tersenyum kecil dan mengusap rambut anak lelakinya penuh sayang. Meski dia merasa kurang memberi perhatian pada anaknya, tapi sikap Daffa padanya masih seperti dulu. Anaknya ini masih suka bermanja dengannya dengan keterbatasan waktu yang dia punya.
“Papa ada pembantu baru gak bilang aku dulu!” rajuk Daffa kesal saat dia kembali teringat dengan kehadiran Nina di apartemen Randi.
Randi terkekeh, mengacak rambut bocah laki-laki di hadapannya. Anaknya selalu saja seperti ini, padahal dia sendiri tidak bisa bila tanpa pembantu. Tapi selalu saja menolak orang yang dia pekerjakan.
“Memangnya kenapa? Papa butuh orang buat ngurus rumah dan masak buat kamu kalau lagi ada di sini,” balas Randi tenang.
“Tapi masakannya gak enak, gak seperti masakan Mama-“
Daffa langsung terdiam. Dia menggigit bibir bawahnya keras, dia keceplosan lagi di hadapan Randi. Sekarang dia takut Papanya akan marah padanya saat dia kembali mengingat Mamanya.
“Oh ya? Tapi tadi Papa lihat kamu habis memakan bubur buatan Mbak Nina.”
Di luar dugaan! Daffa segera menatap wajah Randi dengan air mata yang sudah menggenang di wajahnya. Papanya tidak marah! Ini sebuah keajaiban, pikir Daffa terkejut.
“Papa gak marah?” tanya Daffa takut-takut.
“Kenapa harus marah, kamu sudah makan dan minum obat tanpa susah payah saja Papa sudah senang,” kekeh Randi membuat Daffa tersenyum lebar, lalu tiba-tiba merengut lagi.
“Tapi aku tidak suka dia! Dia cerewet, gendut, dia suka melawan aku, Pa!” adunya.
Namun Randi tidak menghiraukan ucapan Daffa, karena dia memang suka begini ketika ada pegawai baru di rumahnya. Dia selalu saja membuat para ART yang bekerja di sini memundurkan diri karena ulah Daffa.
“Papa! Aku minta Papa pecat dia!” Daffa memekik di hadapan Randi.
Randi hanya menghela napasnya, kalau saja Daffa tidak sedang sakit maka sudah sejak tadi dia memarahi anaknya itu. Namun situasinya sekarang berbeda, dia harus bersabar dahulu menghadapi kelakuan anaknya ini.
“Daffa berhenti bersikap seperti ini! Suka atau tidak, Mbak Nina akan tetap bekerja di sini!” putus Randi sedikit kesal.
Baru kali ini ARTnya tidak berhenti dalam dua hari. Untuk itu dia harus mempertahankan Nina, selain dia bisa mengurus rumah. Sepertinya dia juga bisa menjinakkan anaknya yang malang ini.
“PAPA!” Daffa menjerit, setelah Randi menyuruhnya beristirahat kembali dan meninggalkan dia di kamarnya. Benar saja, reaksi obat itu membuat dia kembali mengantuk dan melupakan kekesalannya pada Nina dan Papanya.