Bocah Nakal

1754 Kata
Nina menghela napas lelah sudah dua hari anak bosnya ada di apartemen ini. Sudah dua hari pula dia harus mempertebal kesabarannya menghadapi anak laki-laki itu. Ia tidak tahu kenapa anak majikan yang belum dia ketahui namanya itu senang sekali merecoki semua pekerjaannya. Di mulai dari memberantakan kamarnya sampai-sampai benar berantakan, menjatuhkan piring beberapa kali, juga membuang kulit kacang dan kuaci sembarangan di depan televisi. Ia sadar tugasnya di sini sebagai orang yang membereskan semuanya. Untuk itu dia tidak banyak mengeluh, dia hanya berharap setelah kepulangan bosnya anak itu akan sedikit diberi peringatan karena telah mengerjai dirinya sampai kewalahan seperti ini. “Maaf tuan muda mau makan apa hari ini?” tanya Nina sedikit lebih berani. Karena sepertinya anak itu semakin senang mengerjainya karena dia tidak bisa berkutik di hadapannya. Tapi sekarang sudah tidak lagi, sedikit keberanian itu muncul dari dalam dirinya untuk sedikit melawan agar tingkahnya anak laki-laki itu tidak dinormalisasikan. Lagi pula dia tidak akan melakukan hal yang di larang, dia hanya mau anak laki-laki ini mengerti pekerjaannya dan tidak mempermainkan pekerjaan orang lain. Anak laki-laki itu tak menjawab pertanyaannya. Dia masih fokus menatap layar televisi dan memainkan stick playstation di tangannya. Dia tertawa dan terus menyemangati dirinya sendiri seakan sedang bermain dengan orang lain. Lagi-lagi Nina menghela napas, mengurut d**a dan kembali bertanya. “Maaf, sekali lagi saya tanya tuan muda mau dimasakin apa? Kalau tidak saya tidak akan masak hari ini.” Tawa kembali terdengar dari mulut bocah itu. Dia tak mengindahkan pertanyaan-pertanyaan dari Nina. Dia terus mengabaikannya. Layar televisi di hadapannya pun mati. Nina menghembuskan napasnya kasar, setelah meraih remote dari meja di hadapannya. Dengan berani dia langsung menekan tombol off hingga layarnya mati. Kepala anak itu langsung menoleh cepat padanya. Biji matanya langsung melotot lebar, menatap Nina dengan tajam. Nafasnya bahkan terdengar memburu. Segera dia melempar stick game itu pada layar televisi di depannya. Suara pecahan kaca menyentak Nina. Jantungnya langsung berdebar kencang, kini keningnya kembali berkeringat. Apakah dia sudah keterlaluan? Padahal dia hanya bertanya, dan kalau dia sampai salah memasakan menu makanan yang tuan muda mau maka dia akan salah lagi. Untuk itu dia tidak mau masakannya kembali tidak di makan. “Maaf, sudah saya bilang kamu mau makan apa, tapi kamu malah mempermainkan saya. Ingat di sini saya lebih tua dari kamu, jadi kamu masih harus menghormati saya meskipun saya pelayan di rumah ini,” tegas Nina. Ia sudah tidak mau ditindas, dia akan melawan namun masih dalam batas wajar. Asalkan tidak menyakiti pisik dan mentalnya maka itu tidak masalah. Dia hanya mau bocah laki-laki di hadapannya menghormati orang yang lebih tua dan tak mengabaikan pertanyaannya. Itu saja. “Dasar pelayan tidak tahu diri! Beraninya kamu melawan aku! Awas saja ketika Papa datang, akan aku adukan padanya!” sungut bocah itu keras-keras, wajahnya sampai memerah menahan amarah. Mendengar ancaman itu, tubuh Nina sedikit gemetar. Matanya berlarian, ia panik. Bisa-bisa dia langsung di pecat saat Bos besarnya datang. Astaga apa yang harus aku lakukan? Tidak, tidak, aku tidak boleh di pecat. Bekerja di sini sangat memudahkan aku untuk menurunkan berat badanku juga membentuk lekukan yang ku mau. Kalau sampai di pecat, maka prosesku untuk membalas dendam akan lebih lama. Batinnya panik. Nina bergerak cepat. Dia bersimpuh di lantai, menunduk dan memohon maaf pada bos kecilnya. Dia tidak mau keluar dari pekerjaannya ini. “Saya minta maaf Tuan, jangan laporkan saya pada Tuan besar. Maafkan saya,” ucap Nina pelan. Hilang sudah keberaniannya beberapa menit yang lalu. Di posisinya sekarang adalah dia hanya wajib mendengarkan bosnya, bukan membantah apalagi melawan. Tapi kenakalan bocah ini sangat menguras emosi jiwa dan raga. Dia merasa geram sekali ingin mencubitnya. Andai dia adalah adik atau keponakannya maka sudah dapat dipastikan bocah itu tak akan selamat dari cubitan maut tangannya. “Cih! Biar saja aku adukan sama Papa!” “Jangan tuan. Saya mohon, saya minta maaf. Tuan boleh memerintah untuk apa saja asalkan tuan jangan adukan saya ke Bos.” Gila! Baru dua hari Nina sudah hampir gila menghadapi bocah ini. Bila begini maka sudah dapat dipastikan bocah itu akan semakin berani padanya. Ah, sepertinya dia sudah salah ucap. Nina melirik bocah di hadapannya, karena dia tidak mendengar suara anak itu lagi. Dia takut anak itu akan melakukan hal gila padanya. Senyum licik muncul pada wajah bocah tampan yang nakal itu. Di kepalanya sudah tersusun rencana untuk mengerjai pelayan baru ayahnya. Senyuman itu sangat membuat Nina ketar-ketir. Entah apa yang akan dilakukannya yang pasti dia akan terus berdoa agar bocah itu tidak berlebihan dalam memperlakukan dirinya di sini. “Oke, aku tidak akan melaporkanmu pada Papa, tapi seperti yang kamu ucapkan tadi kamu harus mematuhi semua perintahku,” cetus bocah itu dengan senyuman miring di wajahnya. Walau ragu Nina masih mengangguk. Dia ingin mengikuti permainan bocah ini, meski sedikit mengkhawatirkan tapi dia tetap harus bertahan di sini. “Baik. Tapi kamu harus janji, kamu tidak akan melaporkan saya pada Bos.” Bocah itu hanya mengangguk-angguk tak santai. Dia seperti meremehkan janjinya sendiri, melihatnya membuat Nina semakin gemas ingin mencubit hidung mancung bocah nakal itu. “Kalau begitu saya akan masak dulu-“ “Jangan masak! Aku tidak suka makanan yang dibuat sama tangan kotor kamu itu! Beli saja!” Nina mengangguk. Dia segera meraih ponsel yang diberikan Randi untuk mempermudah segala sesuatu yang mengharuskan memakai ponsel. “Jangan pesan lewat online! Aku ingin kamu membelinya langsung!” Bocah itu melemparinya dengan beberapa lembar uang berwarna merah. Nina menatap garang pada anak itu. Namun dia segera sadar, karena dia tidak bisa melakukan apapun untuk saat ini. Tetapi bila semakin keterlaluan maka dia tidak akan berdiam diri lagi. Kelakuan bocah ini sudah sangat meresahkan. “Mau pesan apa?” tanya Nina datar. “Ayam pedas, soda, beberapa permen juga es krim-“ “Tapi kamu dilarang makan itu, nanti Papamu akan marah.” “Aku gak peduli, aku ingin makan itu sekarang. Cepat pergi kalau tidak akan menelepon Papa sekarang dan mengadukan semuanya!” ancamnya lagi. Nina hanya bisa mengangguk pasrah. Meski dia takut terjadi sesuatu pada anak majikannya itu, konon bocah nakal itu tidak bisa makan pedas juga di larang terlalu banyak mengonsumsi permen juga es krim. “Cepat! Aku tidak mau menunggu lama.” *** Terburu-buru Nina mendekati kamar bocah nakal anak bosnya. Perasaan panik menggerayangi hatinya. Teringat saat anak itu memakan ayam pedasnya dengan sangat lahap meski kepedasan. Dia merasa ini bukan pertanda baik untuk dirinya. Dengan kekuatan yang masih tersisa di malam hari. Dia membuka pintu kamar itu dengan cepat. Bocah itu masih meraung keras sembari memegangi perutnya. Gerakannya sudah tidak beraturan, kakinya mendendang-nendang benda sekitarnya membuat kamarnya sangat berantakan. “Astaga, ada apa ini tuan?” Nina berkata panik. Dia segera mengecek suhu tubuh anak nakal itu, tak panas tapi anak itu berkali-kali mengerang kesakitan. Dia bingung harus melakukan apa, sedangkan di sini dia orang baru dan belum ada pengalaman menangani orang sakit seperti ini. “Papa sakit ... “ jerit anak itu. Setelah berpikir beberapa detik. Dengan cepat dia bergerak kembali ke kamarnya untuk mengambil ponsel pemberian Randi. Dia yakin di sana pasti ada nomor-nomor penting yang bisa dia hubungi ketika dalam situasi seperti ini. “Ya Tuhan semoga tidak terjadi sesuatu yang serius dengan anak itu.” Lirih dia berkata sambil terus melangkah kembali ke kamar anak bosnya. Dia segera mengecek satu persatu nomor yang ada di kontaknya. Tidak banyak, hanya saja dalam kondisi seperti ini dia harus cepat dan teliti. Matanya langsung berbinar saat menemukan nama seseorang yang ditulis dengan nama gelar dokter. Segera dia menghubunginya dan benar saja orang itu langsung mengiyakan dan bersedia ke mari dalam waktu cepat. “Tenang ya, tuan kecil. Sini saya bantu usap.” Nina menyingkirkan tangan bocah itu dan menggantikan tangannya untuk mengusap-usap perutnya yang kurus. Mencoba sedikit memudarkan rasa sakit yang di deritanya. “Ya Tuhan semoga tidak parah.” Dia terus berdoa dalam kepanikan. Sekujur tubuh bocah itu berubah dingin dipenuhi keringat. Nina jadi semakin panik, dia melakukan segala cara agar anak itu tak terlalu merasakan sakit. “Papa ... mana Papa, aku mau sama Papa ... “ lirih bocah itu dengan mata yang semakin berat untuk terpejam. Nina memukul-mukul pipinya agar anak majikannya tetap sadar. Namun sepertinya, dia sangat kesakitan hingga tak sadarkan diri. Membuat Nina kalang kabut dibuatnya. Dia takut putra majikannya ini kenapa-kenapa karena dia memberikan makanan pedas padanya. Beruntung dokter keluarga Randi datang tepat waktu. Beliau segera menanganinya dengan cepat. Nina bergerak gelisah menunggu Dokter Irwan selesai memberikan pertolongan. Jantungnya terus berdebar kuat, membuat keringat dingin terus menerus keluar dari tubuhnya. Dia sangat takut, takut terjadi sesuatu yang serius pada anak majikannya. “Bagaimana dok? Tuan muda kenapa?” tanyanya bertubi-tubi. Rasa kantung yang sangat menggelayuti kelopak matanya langsung hilang seketika. Dia menatap bocah yang terbaring itu dengan perasaan cemas. “Apakah Daffa memakan makanan pedas sebelum ini?” tanya dokter memastikan. Nina langsung mengangguk. Benar dugaannya bahwa bocah itu kesakitan karena makanan yang terlalu pedas. “Nah, karena itu dia seperti ini. Lain kali jangan beri dia makanan pedas lagi meski dia memaksa. Efeknya bisa fatal.” “Baik, Dok.” “Lalu apakah Pak Randi sudah diberitahu?” Nina menggeleng. Dia lupa untuk mengabari ayah anak itu saking paniknya. “Secepatnya akan saya hubungi, Dok. Terima kasih ya, Dok, sudah datang dekat cepat.” Dokter Irwan tersenyum. Ia menatap pegawai baru atasannya dengan pandangan penuh penilaian. “Itu sudah tugas saya melayani anggota keluarga Pak Randi. Oh ya, kamu pegawai baru di sini?” tanya Dokter Irwan memastikan. Lagi, ia mengangguk. “Pantas saja kejadian seperti ini terulang. Kamu harus tahan bila mau langgeng bekerja di sini. Bukan karena Pak Randi yang galak atau kejam, tapi karena kenakalan anaknya, Daffa. Jangan berikan makanan yang dilarang pada Daffa. Anak itu sedikit sensitif, jadi dia mudah sakit.” Nina mendengarkan dengan kepala tertunduk. Ia sangat merasa bersalah sekali karena telah memberikan makanan yang mengancam jiwa. Matanya langsung berembun, takut disalahkan dan di pecat sekarang juga bila Bosnya mengetahui hal ini. “Kamu tenang saja, Pak Randi tidak akan sejahat itu langsung pecat kamu. Dia sudah mengetahui karakter anaknya. Hanya saja dia pasti sedikit lebih cerewet soal anaknya.” “Iya, dok. Saya minta maaf, karena kelalaian saya tuan muda jadi seperti ini.” Dokter itu mengangguk, lalu memberitahunya beberapa obat yang harus diminum oleh Daffa dalam beberapa jam ke depan. Karena untuk saat ini, dokter sudah memberikan obat pereda nyeri padanya hingga dia dapat tidur dengan nyenyak. Semalaman dia menunggui anak yang ternyata bernama Daffa ini. Dia tidur di bawah tempat tidurnya karena takut bila sewaktu-waktu anak ini akan terbangun dan kembali merasakan sakit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN