Begitu tiba di apartemen, Vallen baru bisa merasa lega. Seolah udara yang ia hirup sejak pagi terlalu berat untuk paru-parunya.
Konfrontasi Bianca, tekanan Damien, tatapan Shin, dan pertunjukan yang dipaksakan bersama Dokter Lee, terasa seperti beban berat yang baru saja terangkat dari dadanya.
Ia membiarkan tubuhnya merosot ke dalam bathtub porselen yang dipenuhi air hangat. Aroma bergamot dan sandalwood yang menenangkan menyebar, perlahan melonggarkan otot-ototnya yang tegang.
Saat mengangkat tangan, matanya tertuju pada pergelangan tangan kirinya, melihat bekas cengkraman Damien. Memar samar yang kini tampak kebiruan di kulit putihnya.
Hangatnya sentuhan kasar Damien masih membekas, sakitnya juga.
“Dia sangat keterlaluan,” gumamnya pelan.
Rasa sesak tiba-tiba mendera. Seakan tiba-tiba ditarik mundur pada kenangan lima tahun silam.
“Apa dia sudah banyak berubah?”
Tidak ada jawaban. Tapi dalam kepalanya teringat banyak hal, termasuk sikap lembut penuh perhatian yang ia dapatkan saat mereka masih pacaran, bahkan menikah, dulu.
“Sebenarnya, sejak kapan dia mulai dingin dan kasar?”
Hening kembali menjadi jawabannya. Vallen menghela napas berat, sebelum akhirnya menenggelamkan diri ke dalam air, mencari hening yang bisa menekan gejolak di dalam dirinya.
Setelah beberapa detik, ia menyentakkan dirinya keluar dari air. Mengeringkan diri dengan cepat, lalu melilit tubuhnya dengan bathrobes beludru, meninggalkan rambutnya yang setengah basah hanya dibungkus handuk kecil.
Ia melangkah keluar dari kamar mandi.
Namun langkahnya tiba-tiba terhenti di depan cermin besar di kamarnya. Lama ia menatap tampilan dirinya yang baru, wajah yang telah dirancang ulang dan tubuh yang ditempa oleh disiplin baru. Ia memperhatikan dengan intens, seolah ia sedang menatap orang lain, bukan dirinya.
Sebuah peringatan keras mendesis di benaknya, memutus nostalgia dan kelemahan yang ia rasakan di kamar mandi.
“Ingatlah, kau Vallen Losa, bukan Hera!”
Sekali lagi, ia menghela napas berat, mencoba mengusir keraguan dan sisa bayangan masa lalu yang masih menempel, mengukuhkan kembali identitas Vallen Losa.
Tapi sebelum ketenangannya kembali, bel pintu mendadak berbunyi. Lantang. Memotong keheningannya seperti pisau.
Vallen tersentak.
Tanpa berpikir panjang, ia melangkah ke pintu — bathrobes masih membungkus tubuhnya, handuk kecil menggantung di rambutnya yang setengah basah. Ia mengira itu hanya makanan yang dipesankan Jane. Tidak ada alasan untuk curiga.
Namun begitu pintu terbuka sedikit … tubuh Vallen langsung terdorong mundur.
Damien menerobos masuk. Tanpa bicara. Tanpa memberi kesempatan bernapas.
Bahunya mendorong pintu hingga membentur dinding dengan suara keras, dan langkahnya tegas, mendorong Vallen mundur.
Aura pria itu gelap, tatapannya seperti badai yang menunggu pecah. Vallen terhuyung, dipaksa mundur hingga punggungnya membentur dinding di lorong masuk.
“Tu-Tuan Harper?” Suara Vallen tercekat, sedikit terkejut akan kedatangan Damien yang tiba-tiba.
Tapi Damien mengacuhkan. Sebaliknya, ia semakin mendesak Vallen ke dalam, mendorongnya sampai melewati lorong menuju ruang utama. Cahaya lampu redup yang tinggal seadanya, membentuk bayangan tajam di wajahnya.
Dalam satu gerakan, Damien memojokkan Vallen ke dinding. Lengan kekarnya menahan leher wanita itu, tak cukup kuat untuk mencekik, tapi cukup untuk memperingatkan bahwa ia tak sedang main-main.
“Kau siapa?” tanyanya dengan suara berat, tanpa emosi. Napasnya bercampur aroma alkohol, sementara sorot matanya mengintimidasi tanpa kedip.
Tekanan di tenggorokannya membuat napas Vallen tersengal, namun ekspresinya tetap stabil, tatapannya tidak lari sedikit pun. Keberaniannya yang diam itu justru membuat Damien makin tersulut, seolah ketenangan Vallen telah menghina emosinya.
“Katakan!” Damien menggelegar. “Kenapa kau mengusik ketenanganku? Kenapa kau datang dan mengacaukan seluruh rencanaku? Siapa kau sebenarnya!?”
Cahaya temaram dari lampu dinding merayap menelusuri wajah Vallen, menonjolkan garis lembut kecantikannya. Ia menarik napas tipis, mencoba menilai situasi dengan cepat.
Nalarnya seolah menolak pengakuan bahwa Damien sudah mengetahui identitasnya.
Tidak.
Sebab jika pria itu tahu, maka responnya tidak akan seperti ini. Artinya, Damien belum tahu, atau, belum menemukan petunjuk apapun.
“Sa–saya tidak mengerti maksud Anda,” jawab Vallen akhirnya, suaranya masih tercekat oleh cekalan di lehernya.
“Tidak mengerti?” desis Damien, nadanya penuh tuduhan. “Pintar sekali kau berpura-pura!”
“Tuan Harper, Anda mabuk!” ucap Vallen lembut, masih berusaha menenangkan binatang buas itu.
Namun Damien justru menyeringai. Senyumnya terlihat gelap, mengabaikan seluruh protes Vallen, dan berbisik dengan suara beratnya, “Kau tidak memberiku jawaban, hmm?”
Mereka masih saling menatap. Itens. Dua tatapan yang bertabrakan keras, tapi juga saling menahan sesuatu yang sulit didefinisikan.
Ada pengakuan yang belum terucap, ada daya tarik yang terlalu kuat untuk diabaikan.
Damien tiba-tiba terdiam. Bukan mereda, namun terhenti seperti seseorang yang terpaku pada sesuatu yang tak ia mengerti.
Tatapan Vallen yang dingin, tapi justru terlihat jernih dan menyejukkan, membuat sesuatu dalam dirinya goyah. Semakin lama ia menatap, semakin dalam ia terseret ke pusaran yang tidak ingin ia akui keberadaannya.
“Baiklah,” gumam Damien, suaranya rendah, tapi terdengar berbahaya.
“Kalau begitu … aku akan memastikannya sendiri.”
Cekalan di leher Vallen perlahan mengendur.
Namun, momen kelegaan itu hanya sesaat. Bibir Damien menunduk, menyentuh bibirnya dengan brutal, lebih kasar dan buas dari yang Vallen rasakan di ruang staf beberapa minggu lalu.
Lidah Damien memaksa masuk. Tangan besarnya bergerak liar, menyentuh, meremas pinggang Vallen, lalu membelai punggungnya di balik bathrobes yang tipis.
Vallen nyaris tak bisa melawan. Tubuhnya membeku karena kejutan dan tekanan. Tapi lebih dari itu, pikirannya justru kacau.
Bukankah ini yang ia nantikan?
Bukankah ia memang sengaja menggoda pria itu dan mencari sela terkecil untuk mendapatkan petunjuk?
Tapi kenapa, hatinya resah, seolah ada sesuatu yang membelenggunya?
Bibir Damien perlahan turun, menyesap leher Vallen dengan kasar, meninggalkan jejak basah.
“Tidak ... Ah! Tuan Harper ... sadarlah!” keluh Vallen, suaranya teredam, sebuah perlawanan lemah yang ia keluarkan.
Damien reflek melepas diri, matanya menatap tajam sedikit berkilat, dipenuhi gairah dan amarah.
“Aku, sepenuhnya sadar!”
Vallen tak mampu mendorong saat bibirnya kembali dilumat, digigit, dan ditarik, menuntut respons. Tubuhnya didorong mundur hingga jatuh di atas sofa empuk.
Damien melepas ciumannya, berdiri sesaat dengan tatapan yang masih sama, seolah menilai. Namun hanya beberapa detik sampai ia melucuti dasi dan jasnya, melemparkannya ke lantai.
Dan kembali melumat bibir itu. Tangannya mengerayangi Vallen, menyentuh paha, lalu naik ke atas, menyentuh titik sensitif.
“Luar biasa, sepertinya kau juga menebak kedatanganku ya?” bisik Damien di antara ciuman, nadanya penuh kemenangan total.
“Tidak, sungguh! Menjauhlah! Aku akan melupakan ini dan tidak mengadukannya pada Nyonya Harper!” teriak Vallen, sorot matanya terlihat frustasi, mencoba menggunakan kartu terakhirnya.
Namun Damien justru lebih brutal lagi saat mendengar nama ‘Nyonya Harper’ keluar dari bibir wanita yang saat itu terlentang di atas sofa, sementara kedua kakinya menjepit tangan Damien yang sempat menyentuh inti tubuhnya.
“Jangan seperti ini, Tuan Harper! Sadarlah, bagaimana jika istri Anda tahu?”
Damien menyeringai mendengarnya.
Tanpa menjawab, ia langsung membuka paksa bathrobes yang sejak tadi berusaha dipertahankan oleh tangan kecil Vallen. Namun tetap saja sia-sia di hadapan tangan besar itu.
Bathrobes itu terlepas, menyisakan kulit halus Vallen yang terpapar cahaya temaram ruangan. Damien terpaku sejenak menatap dua bulatan di depannya, matanya menelusuri setiap lekuk dengan penilaian yang dingin dan nyaris klinis.
“Ho, lebih besar dari miliknya,” lirihnya, suaranya penuh kekaguman yang tersembunyi dan ironi. Sebuah perbandingan yang brutal.
Vallen menelan ludahnya susah payah.
Gelombang dingin menghantamnya. Ia sudah memprediksi hal ini akan terjadi setelah memperhitungkan plane B dengan matang — memanfaatkan hasrat Damien — tapi ia tak menyangka akan datang secepat ini, didorong oleh alkohol dan amarah.
“Sa-sadarlah, Tuan Harper! Jangan seperti ini! Bagaimana perasaan Nyonya Bianca Anda?”
Vallen masih berusaha menutupi dadanya dengan satu tangan, mencari pegangan moral terakhir untuk menghentikannya.
Tapi hasrat Damien sudah terlanjur naik.
Alih-alih mereda, nama Bianca justru memicu kekejaman baru.
Ia kembali melumat bibir Vallen dengan rakus, mengunci setiap protes. Jari-jarinya menggosok area terlarang di bawah sana, mengirimkan sengatan listrik yang membuat tubuh Vallen menegang.
Sementara satu tangannya mencekal tangan Vallen yang menutupi d**a.
Gelayar lama yang sudah Vallen tepis jauh kembali datang, mengundang debar jantungnya yang berdentum kencang.
Lumatan itu, masih sama. Manis, sedikit pahit dengan sisa alkohol yang tercap di lidahnya. Namun kini ciuman itu berubah liar, kasar, tapi penuh d******i.
Bibir Damien menghisap, menggigit, dan menarik, sementara tangan besarnya di bawah sana tak berhenti bergerak, menemukan titik-titik sensitif dengan mematikan.
Desah Vallen semakin frontal. Hasratnya semakin naik tak terkira, sebuah pengkhianatan total dari tubuhnya.
Dibanding dendamnya, entah kenapa ia justru merindukan sentuhan semua sentuhan pria itu.
Gelombang demi gelombang menghantamnya. Klimaks akhirnya datang, tanpa ampun. Tubuh Vallen melengkung, dan desah panjang lolos dari bibirnya, bergema di ruangan yang gelap.
Tepat pada desah panjang Vallen yang lolos, Damien melepas bibirnya. Ia menjauhkan wajahnya sedikit, menatap lurus ke mata Vallen yang kini dipenuhi air mata dan kilau kenikmatan, sebelum mendekat lagi ke telinga.
Ia berbisik lirih, suaranya serak dan berat, “Kau bertanya tentang istriku, kan?”
Vallen tersentak, hasrat yang baru saja membanjirinya langsung menghilang, digantikan oleh kengerian dingin.
“Dia sudah lama mati. Lima tahun lalu. Jadi kau tidak perlu khawatir, Vallen Losa!”
Keheningan melanda. Tubuh Vallen yang tadinya menggeliat, mendadak membeku. Kata-kata terakhir itu, membuat Vallen seolah disiram air es.
“Valen … Losa!” ulang Damien lirih. Suaranya bergema di telinga Vallen, seolah memberinya peringatan yang tak bisa ia cerna.
Dan belum sempat napas Vallen teratur. Damien sudah melepas sabuknya dengan kasar, kemejanya juga langsung ditarik paksa. Tak peduli meski kancing-kancing itu lepas, atau kemejanya rusak. Seolah ia memang sengaja.